Betapa bahagianya bertemu Nabi
Bahagia didunia tiada berarti
Kumerindukan selalu , saat bertemu
Dengan mu ya Rasulullah
Itulah sepenggal lagu yang dinyanyikan Sulis dalam Album Sulis With Ochestra Cinta Rasul, syair yang menggambarkan betapa begitu ingin dan rindunya bertemu dengan manusia mulia , manusia yang dengan relanya menyerahkan diri dan waktunya untuk memikirkan bagaimana seluruh manusia sampai akhir zaman taat pada Allah swt, dan mengikuti sunnah-nya, memikirkan bagaimana seluruh manusia diseluruh permukaan bumi, mati dengan mengucapkan kalimah Laa ilaaha illallah, bagaimana setiap manusia yang dilahirkan dipermukaan bumi akan terselamat dari azab Allah baik didunia maupun diakhirat, bagaimana memikirkan setiap manusia sampai akhir zaman menjadi da’i-Nya Allah swt.
Manusia yang mulia yang dikelilingi orang-orang yang mulia pula yaitu para Sahabat Radhiyallahu Anhum dengan segala pengorbanan jiwa dan raga mereka mendampingi Rasulullah saw pada saat suka dan duka,saat lapar dan kenyang,saat sulit dan lapang, saat perang dan damai,saat menetap dan berpergian, dalam kehidupan individual maupun sosial , dalam kehidupan keluarga maupun kemasyarakatan.
Mereka meletakan tangan diatas tangan Rasulullah saw, rela mengorbankan jiwa, harta,dan keluarga, berlapang dada menghadapi kepahitan, kesulitan dan tekanan dalam menitih jalan da’wah kepada Allah. Mereka lebih mementingkan akhirat dari pada dunia, lebih mementingkan yang kekal dari pada yang fana, yang gaib dari pada yang nyata, petunjuk dari pada tradisi, mereka memiliki semangat yang tinggi dalam menyeru manusia , mengeluarkan mereka dari penyembahan berhala kepada penyembahan Allah semata,dari kelaliman berbagai agama kepada keadilan Islam, dari kesempitan dunia keluasannya.
Ali. ra pernah ditanya oleh seseorang, “Benarkah engkau mencintai Rasulullah saw, dan sejauh manakah cintamu kepada beliau?” Ali ra menjawab, “Demi Allah. Dimata kami, Rasulullah saw lebih kami cintai dari pada harta,anak,dan ibu kami, serta lebih kami cintai daripada air yang dingin ketika kami dalam kehausan.”
Sekarang bagaimana dengan kita? sejauh mana cinta kita kepada Rasulullah? sejauh mana kita menjadikan Rasulullah sebagai wali disetiap aspek kehidupan kita?, berapah banyak sunnah-nya yang sudah kita amalkan.?
Setiap ummat Islam pasti menantikan saat-saat bertemu dengan Rasulullah, tapi apa yang sudah kita persiapkan untuk pertemuan itu?
Andai Rasulullah didepan pintu rumah kita detik ini, apa yang kita perbuat?
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menahan Rasulullah dipintu rumah kita sebelum kita menurunkan semua gambar yang terpampang dirumah kita dan mengantikannya dengan kaligrafi alqur’an? berapa lama kita menahan Rasulullah didepan pintu kita demi untuk menyiapkan anak-anak kita dengan balutan busana yang menutup setiap auratnya ? berapa lama kita akan menahan Rasulullah agar tidak segera masuk kerumah kita karena kita harus mengajarkan terlebih dahulu semua anak kita membaca Alqur’an,? Dan berapa lama lagi kita menahan Rasulullah supayah tidak masuk kerumah kita agar bola matanya yang mulia tidak melihat setiap sudut ruangan dirumah kita yang sudah seperti tempat hiburan?
Berapa lama lagi??? Berapa lama lagi?? Berapa lama lagi waktu yang kita perlukan untuk menyiapakan semuanya dan memperkenankan baginda Rasulullah saw untuk masuk kerumah kita ?
Apakah kita rela kakinya yang suci menyentuh semua lantai rumah kita yang kita bangun dari hasil yang haram?, apakah kita rela Rasulullah memakan makanan yang kita hasilkan dari korupsi? Apakah kita tidak merasa malu ketika putra-putri kita tidak mengenal sedikitpun sosok yang agung itu? Dan apakah kita rela telingga Rasulullah yang mulia mendengar makian dan cacian yang keluar dari mulut-mulut putra-putri kita yang disebabkan keburukan akhlaq mereka? Apakah kita rela melakukan itu semua pada jiwa yang suci itu??? Apakah kita rela melakukannya??.
Ternyata kita belum siap untuk menerima Rasulullah dirumah kita bahkan di-diri kita sekalipun!
Tahukah anda betapa sakitnya hati Rasulullah dikubur sana melihat kita ummat yang diperjuangkan dengan segenap jiwa raga mencampakan Agama yang dijunjungnya sebagaimana mereka membuang kotoran dari dalam perutnya.
Betapa menangisnya Rasulullah disana ketika dengan susah payah beliau mengangkat derajat para wanita kepada kedudukan yang mulia, tetapi wanita pada saat ini malah menghinakan dirinya lebih hina dari pada wanita jahiliyah pada zamannya? kalau wanita jahiliyah berbuat seperti itu karena mereka tidak tahu, belum ada seorangpun yang memberi tahu sampai datangnya Rasulullah , tapi kita sekarang ? jawab pertanyaan ini dengan hati anda bukan dengan akal anda.
Betapa menangisnya Rasulullah ketika mengetahui keadaan rumah-rumah ummat Islam yang tak ubahnya seperti rumah para penyembah berhala.
Betapa menangisnya Rasulullah andai dia menyaksikan bahwa ummat ini tanpa kecuali termasuk saya didalamnya dengan sempurnanya melepaskan keyakinan terhadap ajaran yang dia bawa setiap detik , setiap menit ,setiap jam, setiap hari , setiap minggu, setiap bulan ,setiap tahun, setiap hebusan nafas bertuhankan kepada hawa nafsunya dan mati dalam kekufuran.
Betapa menangisnya Rasulullah dan para sahabatnya dikubur sana melihat kehidupan kita yang jauh dari apa yang mereka harapkan.
Mampukah kita membasuh air mata junjungan kita Rasulullah saw dan mengatakan kepadanya bahwa keadaan akan berubah seperti yang dia harapkan ?.
Mampukah setiap masing-masing kita berjanji mulai detik ini akan berjalan sesuai dengan apa yang Rasulullah dan para Sahabat ra perjuangkan?.
Mampukah kita….???, inginkah kita….???, maukah kita….??? membuat Rasulullah dan para Sahabat tersenyum disana?
Ibarat kereta , sudah tidak akan ada gerbong tambahan, kereta sudah akan berangkat, kalau tidak detik ini kita berniat dalam hati dan mengwujudkannya dalam bentuk perbuatan, kapan lagi??? Apakah kita menunggu sampai malaikat maut menjemput???.
“Ya Allah, jadikanlah fikir Nabi dan para Sahabat menjadi fikir kami , jadikanlah kerisauan Nabi dan para Sahabat menjadi kerisauan kami, jadikanlah cara hidup Nabi dan para Sahabat menjadi cara hidup kami, Ya Allah kami tidak pandai berdoa, apa yang Nabi dan para Sahabat minta itu yang kami minta , apa yang Nabi dan para Sahabat tolak itu juga yang kami tolak, kabulkanlah permohonan kami, Amien… , Amien…, Amien…”
Terimakasih atas komen dan kunjungannya :
Rozy, Gyl , Eucalyptus , theloebizz , abimanyu , ven , endangpurwanib , rnazahra , diana , Yoga , al abdillah , amicol , cewektulen , hasanah translation , Yari NK , Cabe Rawit , nexlaip , okebebeh , Santi , kakanda , nrl , siska , deteksi , Um Ibrahim , sayur asem , Rezki , anggun pribadi , Menik



Maret 20, 2008 pukul 5:17 am |
lemas saya membaca ini…
Maret 20, 2008 pukul 6:01 am |
Astaghfirullah. Tamparan yang keras buat saya. Semoga istiqomah, semoga maut belum menjemput sebelum menyelesaikan tugas mulia di dunia, semoga pintu taubat masih terbuka untuk saya yang dhoif ini, semoga bisa menginjakkan kaki di Jannah, semoga bisa mencium aroma Rasulullah dan bertemu beliau di surga, semoga proses mas Landy dilancarkan agar dapat menciptakan pejuang-pejuang Allah yang tangguh. Amin Ya Rabb Al Alamin.
Maret 20, 2008 pukul 6:41 am |
saya yang penuh dosa ini, malu untuk bertemu Beliau
Maret 20, 2008 pukul 6:59 am |
semoga kita semua termasuk golongan yg siap menyambut Rasul yah…serta mendapat keberkahan selalu amiiiin
Maret 20, 2008 pukul 7:21 am |
Dalem… dalem…
Jero… jero…
*merenung*
Maret 20, 2008 pukul 7:31 am |
apa Rasulullah mengenali diri saya , kalau saya ini adalah yang selama ini mengaku mencintai dan mengikutinya?????? : (
Maret 20, 2008 pukul 8:23 am |
Subhanallah
aku makin terpuruk
lagi2 kau mengenai hatiku
lagi2
Maret 20, 2008 pukul 10:13 am |
Amiiin…Aah… mungkin aku cuma bisa ngegombal, bilangnya paling cinta sama lelaki, nomor satu Rasulullah SAW, tapi kenyataannya Ahlak ku kepadanya …jauh…jauh dari maksimum, moga Insya’Allah dengan ingatkannya oleh tulisan ini aku bisa lebih “mencintainya” tidak hanya dimulut tapi dalam perbuatan juga…sehingga cintaku bukan cinta gombal lagi
Maret 20, 2008 pukul 12:41 pm |
kasian y Rasulullah..
aq blm bisa membiarkan Rasulullah masuki rumahku bahkan untuk bertemu denganku..
belum pantas ku..
Maret 20, 2008 pukul 1:18 pm |
Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallim…
Ya Rasulullah…
Maret 20, 2008 pukul 1:37 pm |
wogh…
sampe hari ini masih ngarep ketemu baginda Rasul SAW , tapi dalam mimpi.
Kalau bertemu di dunia nyata, wah sungguh saya tak tahu harus bicara apa.
Sebenarnya… ada bagian saling kontradiksi dalam pikiran saya. 1 sisi ingin bertemu dengan rasul SAW. sedang sisi lain merasa belum siap, sebab setelah bertemu dengan Rasullah SAW, Insya Allah kehidupan saya berubah (lebih baik)untuk selamanya. Nah, untuk berubah itulah saya belum siap. hati masih lekat dengan keduniaan. mungkin penyakit cinta dunia binti takut mati.
Maret 20, 2008 pukul 1:47 pm |
Semoga ketika RasuluLlah SAW datang,
aku bisa mengenalinya
dan siap “menjamunya”
Semoga ia tidak “marah”
(lagi siap-siap terus nih,
)
sudah 40an tahun diberi kesempatan hidup
belum juga merasa siap
Maret 20, 2008 pukul 3:43 pm |
Assalamu’alaikum Mas
Bertemu nabi? mau mau mau dong….
Wassalam
Maret 20, 2008 pukul 5:21 pm |
Sebagai tuan rumah yang baik, saya pasti mempersilakan Rasulullah untuk masuk. Saya akan perlihatkan isi rumah saya. Tak perlu saya sembunyikan. Jika ada yang kurang pas, saya menunggu beliau untuk mengoreksinya.
Karena saya sering bingung, ada yang mengatakan ini boleh ini tidak. Mudah2an, dengan mendengar langsung dari Rasulullah, semua masalah menjadi jelas dan terang.
Saya akan biarkan beliau untuk mengoreksi saya. Karena saya tahu, saya jauh dari yang diinginkan beliau. Karena apa yang saya dapati adalah dari perkataan-perkataan yang turun temurun dan sering kali membuat saya bingung.
Semoga Rasulullah mau mampir ke rumah saya, dan tidak akan saya biarkan beliau diam diluar. Saya tak perlu malu. Karena saya yakin beliau akan memperbaiki dan menunjukkan kepada saya apa yang seharusnya saya lakukan.
Maret 20, 2008 pukul 7:29 pm |
nice post.. ndy
erander.. i like your comment, walaupun kadang sulit untuk membandingkan Beliau dengan tamu “manusia” biasa..:)
Maret 20, 2008 pukul 8:41 pm |
::adakah yang pernah mendengar sebuah kisah tentang Muhammad Bin Abdullah mensosialisasikan diri Beliau sebagai seorang Rasulullah, bahasa bebasnya seperti ini “sewaktu Beliau berada diantara kawan-kawan, Beliau berkata, jika kukatakan dari balik bukit ini akan datang sekawanan domba kemari, lalu teman-teman tersebut menjawab, kami percaya…(sebab dari kecil Beliau sdh bergelar Al-Amiin)…, sekarang kukatakan kepadamu sekalian kalau aku adalah Rasulullah…” apa dampak yang diterima Beliau, cemo’ohan “Muhammad sudah gila” inilah yang disebut teman-tamannya yang notabene memberi gelar Al-Amiin, kepada Beliau…berarti sudah mengenal bahkan sangat mengenal….apakah kita memang jauh lebih hebat mengenal Beliau ketimbang teman-temannya tersebut sehingga begitu siapnya kita menerima Beliau dipintu rumah kita…, “bagaimana sih rupa Beliau…”…camkan..jangan manis di mulut…, pernah juga ada orang yang mengatakan “Aku cinta kepadamu Rasulullah, lalu Rasul menjawab hati-hati dengan ucapanmu…demikian hingga 3 kali..
“seandainya aku datang kepadamu dan mengatakan Aku Rasulullah percayakah kamu…??? bukankah Beliau mengatakan wajahnya tak dapat ditiru oleh syaitan…????”
Maret 21, 2008 pukul 1:54 am |
Maret 21, 2008 pukul 1:59 am |
….
*membaca sambil berkaca2*
Maret 21, 2008 pukul 2:11 am |
kalaupun Beliau tidak bertemu saya, saya akan berusaha menjemputnya.
kalapun Rasulullah, tidak hadir ditempat saya , saya akan berusaha merasa beliau hadir.
Kalaupun ternyata saya terlalu hina untuk bertemu Beliau, saya tidak akan berhenti berusaha dan berharap agar beliau bertemu saya.
Maret 21, 2008 pukul 2:12 am |
Setuju dengan semua!!!
*kembali ke draft fostingan baru*
Maret 21, 2008 pukul 3:14 am |
Ini postingan (buatan) Anda, pak? Maaf kalau saya terkesan su’udzhan, sebab saya pernah melihat postingan/artikel seperti ini (kalau saya tidak lupa) di dudungDOTnet.
.
Wassalam,
Maret 21, 2008 pukul 3:42 am |
Saya kangen banget sama Nabi SAW…
Maret 21, 2008 pukul 4:17 am |
artikel terapi yg bagus. mo nangis nih. hix…
Maret 21, 2008 pukul 4:26 am |
Amiiiinnnnn … nice article
http://keadilansosial.wordpress.com/
Maret 21, 2008 pukul 5:11 am |
koq ..aku akhir2 ini lagi sedih, ..eh, bukan sedih dink, yah mungkin kangen gitu ya. Yuuk, kita banyak-banyak baca Shalawat untuk beliau, dan jangan lupa untuk menjalankan perintah Allah mengikut sunnah beliau. semoga kita berada dekat rasulullah di hari Akhir nanti, AMiiiin …
Maret 21, 2008 pukul 5:28 am |
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (Al Qur’an S. Al-Ahzab ayat 56)
Maret 21, 2008 pukul 5:41 am |
jadi sedih…terimaksih artikelnya, landy….
Maret 21, 2008 pukul 7:46 am |
subhanallah semoga kita selalu tercerahkan
Maret 21, 2008 pukul 8:12 am |
Insya Allah , akan memberikan yang terbaik , karena semua butuh proses. Tak semudah membalikkan telapak tangan.
Allahumma Solli Ala sayidina Muhammad
Maret 21, 2008 pukul 8:31 am |
Saya setuju pak .. memang kita harus mempersiapkan diri. Masalahnya, banyak faktor yang menentukan. Apakah yang kita persiapkan sudah benar atau belum. Seperti yang bapak contoh kan. Ketika presiden Amerika datang ke Indonesia, kita sudah persiapan sesuai dengan protokoler kita. Tapi protokoler Amerika juga datang membantu untuk memastikan apakah semuanya sudah sesuai atau belum.
Justru saya ceritakan seperti diatas adalah .. jangan pernah membiarkan tamu menunggu diluar. Kalau memang kita sudah persiapkan sesuai dengan pemahaman kita. Mengapa harus takut?? .. saya pikir nabi adalah orang bijak. Mungkin dia tidak akan mengoreksi secara langsung. Bisa dengan perumpamaan.
Saya hanya ingin memahami apa yang ingin baginda rasullah sampaikan tanpa bias dari para penyampai-penyampai sebelumnya. Karena setiap orang memiliki persepsi berbeda-beda. Sehingga muncullah banyak mahsab-mahsab atau aliran-aliran. Mana yang pas .. ketika nabi mampir ke rumah saya. Apakah saya yakin .. ketika dirumah saya sudah sesuai dengan mahsab ini .. tapi ternyata malah keliru??
Jadi .. saya tetap menyuruh baginda masuk. Apalagi sekarang musim hujan. Saya tidak perlu takut dan berkecil hati, karena saya sudah persiapkan semuanya. Kalau pun salah, itulah saya manusia. Saya bukan malaikat atau nabi. Saya paham betul saya bukan orang suci. Tapi saya tetap menyiapkan diri saya sesuai dengan pemahaman saya.
Maret 21, 2008 pukul 8:59 am |
hhmm… begitulah.
Maret 21, 2008 pukul 10:38 am |
Hmmm … Allahu akbar … Kapan ya saat itu datang ? Sampei sekarang, mimpi aja belum pernah. Ngebayangin aja udah nggak kuat. Malu karena masih banyak dosanya … Astaghfirullah. Siiip !!!
Maret 21, 2008 pukul 11:02 am |
malu saya
Maret 21, 2008 pukul 1:41 pm |
Marhaban Ya Rosululloh
Maret 21, 2008 pukul 2:00 pm |
Alangkah indahnya hidup ini
andai dapat kutatap wajahmu
kan pasti mengalir air mataku
karna pancaran ketenanganmu…
Ya Rasulullah Ya Habiballah
tak pernah ku tatap wajahmu…
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu…
Semoga kelak kiranya beliau SAW akui kita sebagai umatnya..
Maret 21, 2008 pukul 2:20 pm |
Shallallahu ‘ala Muhammmad wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man tabi’ahum bi ihsan ila Yaumid Din.
Maret 21, 2008 pukul 2:53 pm |
:: “bahkan pada setiap orang yang mau masuk Islam pasti diwajibkan meng-ikrar-kan hal tersebut ( membaca dua kalimat syahadat Laa ilahaa illahllaah Muhammadurrasulullah, itu tandanya rasulullah saw sendiri yang mensosialisasikan dirinya sebagai rasul”
lalu nagaimana syahadatnya untuk Beliau sendiri..???
Maret 21, 2008 pukul 3:08 pm |
Memang maunya kita ini, sesuai dengan ikrarnya, Rukun Islam yang Pertama, mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.
Sayanya kita melakukan hal yang sebaliknya……..
Maret 21, 2008 pukul 11:03 pm |
Rasulullah itu raufur rahim. Beliau itu lembut lagi penyayang. Beliau itu penyabar. Itu semua adalah pancaran dari sifat Allah yang dipantulkan oleh Muhammad Rasulullah SAW. Maka fahamlah kita, bahwa sejelek apa pun tingkah-laku kita, kita masih punya harapan atas ampunan dan kasih-sayang Allah. Kita masih punya harapan atas senyuman Rasulullah SAAW.
Maret 24, 2008 pukul 12:28 am |
Hiks…
Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallim…
Hiks…Hiks…Hiks…
Aq tau… bersolawat saja tidak cukup… Harus mengamalkan sunah-sunah beliau… Semoga aq bisa melaksanakannya dengan tetap Istiqomah…
Amin…Allahumma Amin…
Makasih postingannya akh landy… Makasih dah jadi pengingat…