Mei 1, 2008

Sudah seharusnya jika Allah Swt, ditakuti dan diharapkan , meskipun seandainya Dia tidak menciptakan surga dan neraka. Bertaubatlah kepada-Nya, menangislah dihadapan-Nya, merendahlah kepada-Nya dengan air mata kedua mata kita dan hati kita. Menangis adalah ibadah dan sebagai bukti puncak kerendahan hati.
Sesudah melakukan dosa terkutuk itu, Daud as menangis 40 hari 40 malam. Ia bersujud dengan pasrahnya merendahkan diri dihadapan sang pencipta tanpa sedikitpun mengangkat kepalanya.
Keningnya bagaikan menyatu dan bersatu dengan tanah tempat dia bersujud, air mata meresap membasahi tanah tandus tempat dia bersujud, sehingga menumbuhkan rerumputan disekitarnya, rumput tersebut tumbuh dan seiring waktu meninggi sehingga menutupi kepalanya.
Tetapi tangisnya tak juga mereda. Allah Swt dengan kerahiman-Nya menyapa lembut melihat hambanya yang datang bertaubat kepada-Nya. Sapaan tersebut membuat Nabi Daud as semakin mengeraskan tangisnya, meraung-raung dan terguncang-guncang, sehingga menyebabkan tumbuhan yang menutupi kepalanya bergayut berdesakan satu dengan yang lainnya. Menyebabkan daun-daunya rontok karena tangisan Daud as, kayu-kayunya pun mengering, oleh duka cita dan penyesalan Daud as yang diresapinya..
Dan Allah masih juga “ menggoda “-nya : “Daud, Engkau lupa akan dosamu. Engkau hanya ingat tangismu.”
Dan sang Nabi terus berjuang dengan air matanya, Air mata kehidupan yang keluar dari bola mata sang Nabi, bagaikan sebuah samudra kehidupan, air mata keikhlasan, dimana terpancar sebuah kesungguhan dari hati sang Nabi untuk menyesali setiap dosa yang pernah dibuatnya, pertaubatan yang hakiki menembus nilai-nilai keTuhanan.
Taubat yang datang dari dalam hati sebagai bentuk kesadaran tentang sebuah kedudukan sebagai seorang hamba,
Baca entri selengkapnya »
15 Tanggapan |
Pribadi, Tulisan lama |
Permalink
Ditulis oleh Landy
Mei 1, 2008

Ketika sebuah peraturan di buat tidak di imbangi dengan niat yang kuat untuk mendukung kearah ter-wujud-nya hasil keputusan itu , maka sudah dapat dipastikan yang terjadi hanyalah pembodohan dari peraturan itu sendiri. Maka tidak salah kalau ada ungkapan ” peraturan dibuat untuk dilanggar “. Masih jelas dalam ingatan kita ketika pemerintah menerapkan peraturan tentang ruang publik yang bebas dari asap rokok. Sekarang kita bisa lihat bagaimana penerapannya ?? apa masih jalan atau…?? mungkin di sebagian tempat masih berlaku tapi di sebagian tempat yang lain peraturan itu layaknya sampah.
Salah satunya kawasan BLOK M mall, dimana di tempat tersebut secara jelas tertulis kawasan bebas asap rokok , bahkan telah dibuatkan ruang khusus bagi pencinta benda tersebut, nyatanya tempat tersebut tidak ubahnya seperti akuarium kosong tanpa penghuni, orang dengan bebasnya merokok di sembarangan tempat tanpa takut akan sangsi dari peraturan tersebut.
Ketika awal - awal peraturan tersebut di buat para petugas yang berwenang dikawasan itu berani menegur apa bila ada yang melanggar sampai - sampai Erik ( teman saya ) tidak suka kalau bertemu di tempat tersebut ” gak enak gak bisa ngerokok “ katanya. tapi sekarang putung rokok bisa di lihat disana - sini bahkan orang dengan bebasnya merokok tanpa rasa malu.
Begitu juga dengan pemberlakuan Gerbong Khusus wanita pada kereta ekonomi Bogor - Jakarta, PT KAI berinisiatif menyediakan kereta api khusus wanita, dalam setiap jadwal rangkaian berjumlah 4 atau 8 gerbong mereka menyediakan 1 sampai 2 gerbong khusus wanita. Gebrakan tersebut mendapatkan sambutan hangat dari perempuan dan lembaga aktivis perempuan, sayang dalam pelaksanaannya gerbong tersebut tetap saja dijejali para lelaki, sekarang bahkan gerbong khusus perempuan tersebut sudah hilang gaungnya. yang tersisa tinggal tulisan di gerbongnya, ” Khusus Perempuan “.
Lalu kalau sudah begini siapa yang harus di salahkan…? mencari siapa yang salah bukanlah perbuatan yang bijak, karena secara tidak langsung kita juga ikut andil didalam kesalahan tersebut. kalau dilihat dari kaca mata agama hadirnya pemimpin yang dzalim akibat dari kesalahan masyarakat itu sendiri.
Baca entri selengkapnya »
9 Tanggapan |
Pribadi, Tulisan lama |
Permalink
Ditulis oleh Landy