Sadarkah kita bahwa alam semesta Allah swt ciptakan untuk manusia sebagai ujian, sedangkan manusia Allah swt ciptakan untuk negeri akhirat , barang siapa tahu maksud dia di ciptakan maka akan sukses begitu pun sebaliknya mana kala kita tidak mengerti maksud Allah ciptakan kita maka kegagalan dari sejuta kegagalan yang akan kita terima , baik di dunia yang sementara ini maupun di akhirat yang selama-lamanya.
Allah swt ciptakan kita untuk meneruskan kerja Nabi saw, mengajak umat untuk takluk dan taat kepada Allah swt.
Sebagaimana firman-Nya : “ Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang di lahirkan untuk manusia, kalian menyeru ( berbuat ) kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah swt.”
Artinya kita adalah umat terbaik dan akan tetap menjadi umat terbaik mana kala ada ada 3 hal dari diri kita : menyeru ( berbuat ) kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan beriman kepada Allah swt. Tapi mana kala 3 hal ini tidak ada dalam diri kita maka kehancuran dan kehinaan yang akan terjadi.
Kalau kita lihat di dalam alqur’an hanya beberapa ayat saja yang berkenaan dengan ibadah ( shalat, zakat , puasa dst ) tapi ayat-ayat yang membahas tentang dakwah ( menyeru berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran ) begitu banyaknya.
Banyak ayat yang menceritakan dakwah para nabi terhadap kaumnya dan bagaimana para nabi mendapatkan kesulitan dalam berdakwah, bahkan di dalam alqur’an juga di ceritakan dakwah para binatang ( burung hud-hud dan semut pada jaman Nabi Sulaiman as ) intinya hampir keseluruhan isi alqur’an berisikan tentang dakwah dan bagaimana dakwah itu di buat.
Dakwah adalah mutiara di awal zaman dan akan tetap menjadi mutiara di akhir zaman. Allah swt utus 124.000 Anbiya sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saw hanya untuk dakwah, mereka menghabiskan waktu dan fikirnya agar bagaimana setiap hati manusia kenal dan taat kepada Allah swt.
Membentuk hati manusia merupakan hal yang sangat penting, agar sifat-sifat mulia masuk pada setiap diri manusia. Apabila sifat-sifat yang mulia ini masuk ke dalam diri manusia, mereka akan taat pada perintah Allah swt, dan akan meninggalkan seluruh larangan Allah swt. Namun kebalikannya jika hati tidak punya sifat-sifat mulia, manusia akan menjadi lebih “buas” daripada binatang.
Dahulu di kota Makkah kaum jahiliyah sangatlah buruk akhlaknya. Ditengah-tengah kejahilan kafir Quraisy, Nabi Muhammad saw dilahirkan. Sejak ia lahir sampai berusia 40 tahun tidak ada dakwah sehingga orang-orang kafir Quraisy belum berubah. Setelah berumur 40 tahun beliau diangkat menjadi Nabi. Sekembalinya dari Gua Hira , Nabi saw mulai berdakwah di kota Mekkah.
Lelaki pertama yang menerima dakwah beliau adalah Abu Bakar Shiddiq ra., Wanita yang pertama mengakui kerasulan Muhammad saw adalah istri beliau Khadijah r.ha. dan pemuda yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib.
Dengan berbagai pengorbanan , rintangan dan tantangan serta pikir, risau dan gerak Rasulullah saw dan para sahabat memulai dakwah ini. Mereka yakin dengan janji-janji Allah, menyandarkan hanya kepada Allah atas setiap permasalahan hidup. Yang pada akhirnya penduduk Mekkah dan Madina tumpah ruah masuk Islam. Suasana dan keadaan tanah Hijaz Jajirah Arab berubah menjadi sumber hidayah ke seluruh alam.
Kita lihat Bani Israil, mereka anak cucu Nabi yang berpusat di Mesir. Mereka keturunan para Nabi, tapi karena meninggalkan dakwah maka Allah swt hinakan mereka.
Kesimpulannya, jika dakwah dibuat maka akan lahir dari rahim-rahim wanita kafir para pejuang agama ( para sahabat nabi ), tapi apa bila dakwah ditinggalkan maka akan lahir dari rumah-rumah orang Islam para penentang agama.
Apabila setiap hari-hari kita buat dakwah maka akan lahir keyakinan yang sempurna terhadap Allah swt, karena sesungguhnya dakwah merupakan sarana tarbiah untuk mencapai kesempurnaan iman secara bertahap-tahap. Dengan dakwah setiap orang diharapkan :
1. Yakin / Iman mereka seperti Iman dan Yakinnya Nabi saw.
2. Risau dan Fikir seperti risau dan fikirnya Nabi saw.
3. Maksud / tujuan hidup seperti Maksud / tujuan hidup Nabi saw.
4. Mizas kecintaan seperti Mizas / kecintaan Nabi saw.
5. Tertib hidup seperti tertib hidup Nabi saw.
Ukuran kerja dakwah adalah bagaimana semakin hari para pekerja dakwah semakin dekat dengan Allah swt, Iman , amal dan hatinya hari demi hari menjadi baik. Hubungan dengan keluarga semakin baik , dengan tetangga, dengan rekan-rekan di kantor dan lain sebagainya menjadi baik. Bila kita buat dakwah hari-hari tapi Iman , amal dan hatinya tidak berubah masih sama seperti ketika kita belum buat dakwah, berarti ada yang salah dengan dakwahnya atau barang kali ada yang salah dengan niatnya ketika berdakwah.
Ukuran kerja dakwah bukan orang lain tapi diri kita, apakah diri kita ini semakin dekat dengan Allah atau tidak karena Allah swt tidak melihat hasil dari usaha kita , tapi Allah swt melihat kesungguhan dan ketaatan kita dalam menjalankan setiap perintah-Nya
Sebagai mana di ceritakan ketika Ibrahim telah menyelesaikan pembangunan ka’bah, dia berkata : ”Ya Allah, aku telah menyelesaikan pembangunan rumah-Mu yang suci.” Allah pun menjawab,”Wahai Ibrahim, serulah manusia niscaya mereka akan datang untuk mengerjakan haji .” Ibrahim as berkata,”Ya Allah, bagaimana suaraku akan sampai kepada mereka?” Allah menjawab, ”Engkau hanya menyeru perintahku, sedangkan akulah yang akan menyampaikan kepada mereka.”.
Begitu juga dengan kita hari ini , lakukan saja yang menjadi tugas kita selebihnya biar Allah yang selesaikan. Nabi Nuh as buat dakwah selama 950 tahun hanya menghasilkan 83 orang bahkan anak dan Istri Nabi Nuh menentang dakwah Nabi Nuh. Tapi Nabi Nuh tetap buat dakwah semaksimal mungkin. Masalah ada yang suka atau tidak itu bukan urusan kita , yang menjadi urusan kita kalau kita tidak buat dakwah, karena Allah pasti akan hinakan kita. Masalah orang ada yang menentang biar Allah swt yang selesaikan tugas kita hanyalah lagi dan lagi buat dakwah untuk memperbaiki diri.
Kita bisa lihat Kaum ‘Ad yang menentang Nabi Hud di hancurkan Allah dengan angin topan. Kaum Tsamud yang menentang dakwah Nabi Shalih Allah hancurkan dengan bunyi terompet Malaikat, sehingga jantung mereka copot. Begitu pun dengan Nambrut yang menentang Nabi Ibrahim as dan Fir’aun yang menentang Nabi Musa as. intinya kita lakukan apa yang Allah swt perintahkan selebihnya biar Allah swt yang selesaikan.
Semoga Allah swt gunakan harta dan diri kita untuk agamanya, menjadikan dakwah maksud hidup, hidup untuk dakwah dan mati dalam dakwah dan membangkitkan kita kelak menjadi umat baginda Rasulullah saw. amien.
Bahan Bacaan : Globalisasi Dakwah karya Ust. Abdrurahman Lubis, H. Hasanudin Sultan Bagindo.
Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :
nenyok , Wempi , zoel chaniago, sayur asem , gempur , Alex, realylife , Fiz , clusternic, economatic , indra1082



Mei 24, 2008 pukul 7:35 am |
sekali lagi jadi malu kalo sudah ketemu dengan kata dakwah.. saya mencoba bil hal aja hiks
Mei 24, 2008 pukul 8:31 am |
dakwah adalah perjalanan indah
dkwah adalah tuga penuh amanah
dakwah adalah perjalanan menuju ridho-Nya
Mei 24, 2008 pukul 8:44 am |
amin mari kita berdakwah lewat blogging
Mei 24, 2008 pukul 9:16 am |
dakwah adalah perjalanan panjang
yang penuh warna….
moga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang “berguguran” di jalan dakwah
tiap kita adalah da’i
Mei 24, 2008 pukul 8:21 pm |
taskil nya mana ?,
hampa. kosong, mudah2an nggak fruitless
Mei 25, 2008 pukul 6:53 am |
pencerahan dari dulu smp skrg tetep dakwah,,, mantabbb!!!
Mei 25, 2008 pukul 8:12 am |
Yah, ayo kita otokritik ; Perilaku dan perkataan kita adalah sarana dakwah,
bagaimana itu bisa menghasilkan, jika belum bisa disinkronkan dengan tuntunan-NYA.
Kadangkala justru integritas untuk sejalan antara perilaku dengan lisan saja belum bisa diraih, dan akhirnya membuat kita melakukan dakwah tidak dengan jalan dan sumber yang sudah diajarkan.
Maka, ayo luruskan niat, lagi dan lagi. Ibadah adalah baju besinya, ilmu adalah pedomannya.
Mei 25, 2008 pukul 8:51 am |
mari berdakwah buat semua orang
terima kasih sudah mengundang saya kembali untuk memberi koment
doakan semoga dakwah dalam bentuk kopdar blogger medan bisa terlaksana ya
Mei 26, 2008 pukul 1:16 am |
dahulu sahabat itu adalah orang2 yang jahil… tapi asbab mereka buat kerja dakwah.. maka Alloh perbaiki kehidpan mereka… BUkannya kita dulu yang jadi baik.. tapi seiring kita usaha kepada diri kita, kita juga usaha buat menghidupkan Agama dengan dakwah. bukan hanya ilmu aja yang kita cari: kalo ilmu tidak diaplikasikan dalam amal juga sama aja boong.. justru banyak ilmu dari Qur’an dan hadis menerangkan kita sebagai ummat nabi ada tugas utama medakwahkan agama Alloh SWT. jangan kita sok tau menyingkapi kalo dakwah itu harus jadi orang baik dahulu… coba buka Qur’an surat Al Ahzab ayat 70 disitu dijelaskan dengan kita buat dakwah Alloh akan perbaiki diri kita.. dan Alloh akan hapuskan dosa-dosa kita.. mudah2an sih kita bisa ketemu nih.. jadi bsa ngbrl2 lebin\h banyak, ngga cuma di dunia maya
Mei 26, 2008 pukul 3:17 am |
Test.
Mei 26, 2008 pukul 4:25 am |
Berdakwah dengan diri saya … JANJI.
Mei 26, 2008 pukul 5:57 am |
Ya Allah istiqomahkan hambamu yg dhoif ini dalam kerja da’wah…..Amin
Mei 26, 2008 pukul 7:10 am |
ass.
DAKWAH adalah KEWAJIBAN SETIAP INDIVIDU MUSLIM.
tentu dimulai dari diri sendiri TARBIYAH DZATIYAH=Membina Diri Sendiri
dan Keluarga, Masyarakat, Bangsa dan Dunia.
dan DAKWAH adalah PERUBAHAN ITU SENDIRI…….
Mei 26, 2008 pukul 9:54 am |
TFS bro!
Mei 26, 2008 pukul 2:14 pm |
ikutan dakwah ya… cara banyak macamnya tapi tujuan insya Allah satu ya…
terus berdakwah ya Lan..
Mei 26, 2008 pukul 4:56 pm |
Allah = “Just The One Goal”
Mei 27, 2008 pukul 4:01 am |
dakwah sebenernya cuma ada satu: cuma dakwah cara nabi yang diterima Alloh ta’ala.. jangan kita merasa pintar sudah merasa dakwah, udah sesuai dengan nabi belum?? dakwah bukannya mencari penghidupan pada Agama… tpi dakwah ala nabi adalah mengorbankan sesuatu demi Agama Alloh. coba nih yang sudah merasa dakwah!!! udah betul belum dakwahnya??? bukan merasa lebih baik.. ttapi emng realitanya begitu bos… (mudah2an ini jadi pemikiran gw yang bodoh ini)
Mei 27, 2008 pukul 8:56 am |
Salam
trims serasa diingatkan ternyata msh banyak kewajiban yang belum ditunaikan.
iya si De, berdakwah itu kewajiban muslim tak terkecuali untuk laki2 dan perempuan namun itu dia untuk jadi seorang hamlud dakwah yang benar2 rasanya kalau buat saya pribadi merasa tidak atau mungkin lom pantas, secara harus banyak bercermin dulu
Mei 30, 2008 pukul 3:33 am |
Sampaikan walau satu ayat.
Dakwah itu sendiri meliputi ayat kauliyah dan ayat kauniyah. Kalo Nabi adalah Rahmatan lil ‘alamin, untuk kita minimal rahmat untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan, n bangsa dulu deh… amiin
Juni 19, 2008 pukul 6:25 am |
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Terpsichorean.
Juli 14, 2008 pukul 10:15 am |
Mengapa kaum Ahmadiyah sering berdalih pada Hasits Nabi Muhammad SAW tentang akan datang Nabi Isa As., Imam Mahdi dsb. Apakah benar Nabi Isa As. dan Imam Mahdi mau datang?. Dan, apa pula perbedaan nabi dengan rasul? Karena, dengan tidak jelasnya perbedaan nabi dengan rasullah maka dijadikannya dalih masih ada Nabi Ghulam Ahmad! Mari kita coba kaji kembali!
September 10, 2008 pukul 12:47 pm |
subhanallah…………
mAHA besar hanya milik ALLAH….. KEHIDUPAN qtA HANYA SEMENTARA.
ALLAH swt berfirman “DEMI MASA. SESUNGGUHNYA MANUSIA DALAM KERUGIAN”.
MARI dekat pada ALLAH…………LEBIH dekat…….agar TUNDUK DISAAT yang lain angkuh.. Agar teguh dikala yang runtuh…. Agar tegar biarpun yang lain terLemPar……
so.. semangat para pejuang ALLAH.