Army of Roses

Juli 4, 2008

Mungkin karena perasaan ingin tahu yang sama dengan si pengarang membuat saya membeli buku tentang para pelaku bom bunuh diri yang di lakukan oleh wanita (Army of Roses ) beberapa bulan yang lalu, tidak sampai sehari buku setebal 404 halaman ini saya lahap. Victory si pengarang mengawali bukunya dengan pertanyaan, bagaimana mungkin kaum perempuan , yang merupakan pembawa kehidupan, bisa berubah menjadi mesin pembunuh, dan dunia yang membentuk mereka , dunia yang tak pernah terbayangkan oleh orang kebanyakan.

Ya, alasan di balik tindakan masing-masing perempuan ini memang bersifat sosial, dan reliqius , juga politis. Andai novel versi inggrisnya mudah di temukan pastinya novel ini sudah saya bedah untuk tugas akhir saya. Ketimbang saya harus berkutat dengan novel Burned Alive yang sama sekali tidak saya suka.

Saya tidak ingin membahas apakah boleh tidaknya melakukan bom bunuh diri , karena bukan kapasitas saya untuk membahas hal tersebut, rasa penasaranlah yang mengantarkan saya untuk lebih mengetahui alasan di balik aksi itu semua, terlebih lagi yang melakukannya seorang perempuan.

Buku jujur yang mencoba melihat dari beragam sisi, walau pada akhirnya sang penulis masih kesulitan untuk menarik kesimpulan dari aksi itu semua. Bagaimana bisa seorang mengorbankan dirinya demi sesuatu yang tidak masuk diakal” (Demi mendapatkan surga di akhirat kelak). Saya berkali-kali harus tersenyum karena sang penulis kesulitan mencerna konsep surga itu sendiri. “Teramat bodoh menyakini sesuatu yang tidak tampak, yang belum pasti benar atau tidaknya” begitu kurang lebih konsep yang ada di benak si penulis.

Mungkin karena sang penulis melihat dari sudut pandang yang berbeda, dikarena kan perbedaan keyakinan sehingga si penulis seakan menemui jalan buntu. Terlepas dari itu semua ada hal-hal yang menarik yang menjadi perhatian saya ketika membaca buku ini. saya pun tak mengerti , andai saya ada di posisi mereka ( wanita para pelaku bom bunuh diri ) apakah saya akan melakukan hal yang sama seperti mereka atau tetap bertahan hidup dengan melihat ketidak adilan yang terjadi di depan mata sendiri.

Baca entri selengkapnya »