“ Kembali Ke Titik Nol “

Agustus 20, 2008

Dalam hidup ada masa di mana iman kita naik bergitu cepatnya, seakan kita menjadi “orang-orang akhirat”, setiap detik fikir dan risau kita hanya terfokus pada akhirat, seolah surga telah nampak di depan kita , neraka di bawah kita dan malaikat maut berada di atas kepala kita. “Seperti layaknya” Hanzhalah ra, ketika berada di majelis Rasulullah saw , “ Ya Rasulullah , Jika kami hadir dihadapanmu dan engkau menceritakan kepada kami tentang surga dan neraka , maka dengan cerita tersebut seolah-olah keduanya berada di hadapan kami, sehingga hati kami menjadi lembut dan air mata pun bercucuran , seolah-olah kami melihat hakikat yang sebenarnya.”

Tapi sayangnya hal-hal seperti itu tak bisa bertahan lama dan berkesinambungan, seperti yang Nabi sabdakan kepada Hanzhalah, “ Demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika engkau setiap saat selalu dalam keadaan seperti yang engkau ceritakan ketika engkau bersamaku, maka para malaikat akan menyambutmu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan untuk berjabat tangan denganmu. Tetapi wahai Hanzhalah, keadaan seperti itu hanya terjadi kadang-kadang saja. “

Kehidupan sering kali membawa iman kita tak ubahnya seperti roller coaster , Naik-turun, jungkir-balik tidak karuan, Ada saatnya di atas, menikmati bahagia sebentar dan tiba-tiba harus dihempaskan ke bawah lagi, merangkak naik ke atas dihempaskan lagi. Bahkan yang parahnya Nabi saw sabdakan bahwa iman manusia itu tidak lagi naik dan turun melainkan keluar-masuk : “Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya fitnah, dimana fitnah itu seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pagi-pagi seorang masih beriman, tetapi di sore hari sudah menjadi kafir; dan di sore hari seseorang masih beriman, kemudian di pagi harinya sudah menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan secuil dunia.” ( Shahih Muslim, Kitab Al Iman, Bab Al hatstsu ‘Ala Mubadaratil A’mal Qabla Tazharul Fitan 2: 133 ).

Seorang sahabat pernah bicara seperti ini kepada saya : “ Hidup ini ibarat raport sekolah, gak mengapa di awal-awal masuk sekolah raport kita merah, tapi yang harus di ingat jangan sampai pas kelulusan nilai kita masih ada merahnya kalau bisa 10 semua “. Dan sahabat yang lain pernah berkata, “. Gak papa lan, ente jatuh sekarang, tapi yang harus ente ingat, ibarat kita sedang bertarung tinju, ente harus segera bangkit sebelum hitungan ke 10 ”.

Baca entri selengkapnya »


“Perjalanan Ke Medan Ijtima Serpong”

Agustus 14, 2008

Tiada kebahagiaan yang paling utama dalam hidup ini selain Allah swt hadirkan di tengah-tengah kita teman-teman yang selalu lagi dan lagi mengigatkan kita untuk dekat kepada Allah swt.

Iman kita ini masih iman suasana, dimana suasana dan keadaan masih sangat dominan untuk membuat iman kita naik dan turun, oleh karenanya penting sekali dalam hidup ini kita selalu mengkondisikan keimanan kita agar tetap stabil dengan cara mencari teman-teman yang mempunyai visi dan misi kearah perbaikan.Dan alhamdulillah Allah swt memberikan kepada saya teman-teman yang mempunyai misi ke arah itu.

Gema Ijtima serpong dalam rangkaian ijtima dunia sudah saya dengar jauh-jauh hari, persiapanpun sudah dilakukan semenjak beberapa bulan yang lalu, karena kesibukan saya yang besar terhadap DUNIA meyebabkan Allah tidak libatkan saya dalam rangkaian proses suksesnya ijtima, pada hal saya berkeinginan kuat untuk jadi petugas tandas 1 & 2 ( orang yang membersihkan toilet ) karena saya ingin sekali Allah swt lembutkan hati saya.

Seminggu sebelum berlangsungnya ijtima kondisi saya sangat-sangat tidak baik, tapi saya sudah bertekat kuat untuk hadir dalam ijtima apapun yang terjadi terlebih lagi dari hari kamis 7 Agustus Ustadz Irul yang kebetulan berada di Jakarta karena libur mengajar di pesantren Temboro, sudah menghubungi saya dan menanyakan keberadaan dan kapan saya akan hadir Ijtima, begitupun dengan mas hanaffi yang sejak kamis malam sudah tiba di Jakarta, Jum’at paginya Mas “galak” Antonseno menghubungi saya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Sabtu pagi Abror menghubungi saya dan terkejut karena saya belum juga berada di medan ijtima. Saya sempat berpikir, apa Allah sudah tak sayang lagi dengan saya sehingga ketika orang-orang sibuk di medan ijtima dalam rangka perbaikan diri, saya masih di sibukan dengan dunia.

Tepat jam 1 siang ketika jam kerja berakhir saya segera mungkin meluncur ke medan ijtima dan yang bodohnya saya lupa mencatat alamat Ijtima, yang saya ingat sebagai patokan bahwa medan ijtima berada tepat di belakang rumah sakit Islam Asshobirin, di hati saya hanya ada prasanga baik kepada Allah. Tidak mungkin Allah swt akan menghalangi hamba-Nya yang berniat memperbaiki diri. Dan pastinya akan banyak orang yang menuju tempat ijtima apalagi Istiqbal ( orang yang bertugas memberi tahu tempat ijtima ) di sebar hampir di seluruh terminal, stasiun, bahkan Bandar Udara di Jakarta. Dan benar saja ternyata tidak begitu sulit untuk mencapai tempat ijtima, karena hampir di seluruh ruas jalan serpong dapat dengan mudah di temui orang-orang yang memakai pakaian full sunah, sehingga memudahkan saya untuk mencapai medan ijtima.

Rencana awal saya akan menaiki Truck yang di sediakan panitia, tapi berhubung saya bertemu dengan rombongan dari bandung yang mengendarai bus jadi saya putuskan untuk batal menumpang truck dan menumpang bus mereka.

Saya sampai di gerbang ijtima bertepatan dengan berkumandangnya adzan ashar, walau sudah sering mendengar adzan tapi adzan kali ini terasa berbeda , mungkin suasana dan rasa takjub menyaksikan ribuan orang berkumpul yang membuat rasa ini berbeda.

Baca entri selengkapnya »


” Ijtima Serpong “

Agustus 10, 2008

“ Ketika Allah swt sayang kepada hamba-hamba-Nya yang kafir maka Allah swt perkenankan memberikan mereka hidayah untuk memeluk Islam, dan ketika Allah swt sayang kepada hamba-hamba-Nya yang muslim maka Allah swt gunakan mereka untuk menyebarkan risalah-Nya”.

Betapa bahagianya hamba yang hina ini karena masih Allah swt berikan kesempatan untuk dapat hadir bersilaturahmi dengan saudara-saudara muslim lainnya pada tanggal 8,9,10 Agustus 2008 di Serpong.

Ribuan manusia berkumpul dalam satu tempat, tidak ada maksud dan tujuan lain selain agar Allah swt berkenan memandang kami semua dengan pandangan Rahmat-Nya, sebagai mana dulu Allah swt memandang kaum Muhajirin dan Ansor pada zaman Rasulullah saw.

Disini seseorang di muliakan bukan berdasarkan seberapa banyak dunia ada di diri mereka, melainkan seberapa banyak Agama ada di diri mereka, Hatta anda seorang wakil presiden pun tidak akan mendapatkan perlakuan khusus disini, seperti yang di tulis detik.com. Anda akan mendapat perlakuan khusus mana kala ada agama di diri anda, Ketika anda seorang Ulama maka anda diperbolehkan duduk pada shaf terdepan, mendapatkan ruangan khusus, perlakuan dan pelayanan khusus, ini tak lebih hanya karena menghargai Ilmu Agama yang ada di diri anda

Sulit bagi saya untuk menggambarkan apa yang terjadi disana, ketika ribuan manusia berkumpul dengan maksud dan fikir yang sama, pada doa dan pengharapan yang sama, pada tetes air mata yang sama, agar Allah swt kekalkan hidayah-Nya dan agar Allah gunakan kami semua sebagai perantara hidayah-Nya bagi makhluk di didarat, laut, dan udara.

Saya seperti “melihat” dan “ merasakan” semangat para sahabat Nabi ada disini, ketika saya melihat lelaki tua yang sudah tak bisa berjalan dan harus di gendong atau menggunakan kursi roda dan tongkat. Saya seperti “melihat” ‘Amr bin Jamuh ra, seorang sahabat Nabi yang berkaki pincang tetapi memiliki semangat jihad yang tinggi sehingga Allah swt memberikan kemuliaan dengan kesyahidan. Begitupun ketika saya melihat santri-santri kecil yang berusia di bawah 10 tahun dengan khusyu’ nya melakukan sholat dan membaca Alqur’an, saya teringat semangat Umair ra, Rafi’ ra, Ibnu Jundub ra dalam berjihad sampai-sampai mereka harus berjuang keras agar di perbolehkan oleh Rasulullah saw untuk ikut berjihad.

Saya tiba di medan ijtima dengan nomor tiket masuk 30.911, ini menandakan saya orang yang ke 30.911 dari kurang lebih 100 ribu orang yang menghadiri ijtima di 5 wilayah Indonesia ( Jawa ( Bertempat di Jakarta ) , Bali dan Nusa Tenggara, Sumatra ( Riau), Kalimantan ( Banjarmasin ), dan Indonesia Jauh ( Sulawesi sampai Irian ).

Baca entri selengkapnya »