” Tentang Rezeki “

Beberapa tahun yang lalu ketika saya sedang makan berjamaah ( satu nampan berisi 4-5 orang ), Seorang teman yang sangat saya hormati pernah memberi nasehat kepada saya tentang Rezeki, bahwa dalam hidup jangan pernah takut dan kawatir tentang perkara rezeki, karena apapun rezeki yang telah di tadirkan Allah, pastinya akan sampai juga kepada kita, Karena kita tak akan pernah meninggalkan dunia, melainkan karena jatah rezeki kita telah habis.

Hari ini hampir sebagian besar manusia sangat takut rezekinya diambil oleh orang lain , sehingga sering kali mereka saling sikut bahkan saling bunuh diantara sesamanya. Berapa banyak hari ini hanya karena uang yang tak seberapa manusia saling membunuh, karena merasa rezeki mereka “dimakan” oleh orang lain. Pada hal untuk perkara rezeki Allah swt telah mentakdirkan 50 ribu tahun sebelum manusia sendiri di ciptakan, jadi tak akan mungkin si fulan memakan rezeki kawannya begitu pun sebaliknya kawannya tidak akan pernah memakan rezeki si fulan, singkat kata, “ Rezeki kamu tidak akan pernah saya makan dan rezeki saya pun tidak akan pernah kamu makan”

Lantas kalau begitu kita tidak usah saja bekerja kan semuanya sudah di jamin Allah rezekinya???

Ketahuilah kita bekerja bukan niat untuk mendatangkan rezeki, kita bekerja karena niat ibadah mengikuti perintah Allah, agar kita tidak meminta-minta kepada mahluk, Rezeki itu mutlak berada di tangan Allah swt, Allah swt bisa datangan rezeki melalui pekerjaan, bisa juga mendatangkan rezeki tidak dari pekerjaan, sebagai contoh, kita bisa lihat bayi di dalam kandungan, orang gila, orang sakit di rumah sakit dan masih banyak lainnya, apakah mereka bekerja???? Itu menandakan rezeki 100 % berada di tangga Allah, Allah bisa lapangan rezeki, bisa juga sempitkan rezeki suka-suka Allah mau buat apa kepada makluk-Nya.

Ada kisah tentang Nabi Musa as, suatu ketika Allah swt meminta Nabi Musa  untuk berdakwah kepada Firaun, dan Nabi Musa pun berdalih, bahwa kalau dia pergi berdakwah lantas siapa yang akan menjamin rezeki istrinya. Seketika itu, Allah SWT memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke sebuah batu. Setelah berkali-kali dipukulkan dan batu pun terbelah, ternyata dalam pecahan batu tersebut terdapat seekor ulat yang sedang menikmati makanan berupa daun sambil bertasbih “Subhana man yaraani, wa yasma’u kalaami, wa ya’rifu maqaami, wa yarzuqunii, wa laa yansaanii ( maha suci Allah yang melihatku, mendengar perkataan-perkataanku, mengetahui kedudukanku, memberiku rizki dan tidak pernah melupakan aku )” bayangkan ulat yang di dalam batu  saja Allah swt jamin rezeki, apalagi kita manusia yang berada di luar batu.

Kebesaran Allah swt tidak akan pernah berubah baik dulu , sekarang maupun yang akan datang. Kemuliaan dan kesuksesan bukan di tentuan banyak atau sedikitnya rezeki yang ada pada diri kita, melainkan sukses dan mulia manusia di peroleh mana kala ada ketaatan kepada Allah swt dan mengikuti sunah Rasulullah saw, Walau kita miskin dan susah tapi ada ketaatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya, maka di situlah kejayaan kita yang sesungguhnya.

Mari saudara-saudara kita kembali kepada agama, biar iman dan yakin kita sempurna kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Karena apa-apa yang di kaitkan dengan Agama, Allah swt akan muliakan, tetapi apa-apa yang tidak ada kaitannya dengan agama Allah swt akan hinakan seperti halnya Alqur’an, di muliakan. Tapi kertas Koran yang tidak berkaitan dengan agama hanya sehari, pagi di baca, sorenya jadi pembungkus. Walau sama-sama kertas , kalau dikaitkan dengan agama seperti alqur’an selalu di muliakan, menyentuhnya saja dengan berwudhu dan selalu di letakan di posisi atas.

“ Ya Allah puaskanlah kami dengan apa-apa yang ada di sisi-Mu, dan jadikanlah kami sebaik-baik hamba yang bersyukur”

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

sulton , Alex , kakanda, Marwin, afwan auliyar , diana, nurussadad, alfaqir

About these ads

14 Balasan ke ” Tentang Rezeki “

  1. Abu Syahzanan mengatakan:

    Bismillahi Ta’ala
    Salam alaikum

    Saya pernah membaca suatu hadits:

    “Sesungguhnya nikmat yang paling besar adalah nikmat kekayaan atau harta. Dan nikmat yang lebih besar dari nikmat kekayaan adalah nikmat kesehatan. Dan selanjutnya nikmat yang lebih besar dari nikmat kesehatan adalah nikmat ketakwaan kepada Allah Swt”

    Dalam Islam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini wajib. Terlebih untuk menafkahi keluarga kita, anak dan istri. Saya rasa itulah jihad terbesar. Kalau hanya pasrah tanpa berusaha, berarti telah melanggar aturan al Qur’an dan sunnah.

    Islam memerintahkan kita untuk bekerja dan terus bekerja. Selain itu kita disuruh beramal, itulah ketakwaan kita. Takdir Allah tidak terwujud tanpa usaha manusia. Sudah umum dalam masyarakat, bahwa takdir itu adalah harga mati dan tidak bisa dirubah, “ah emang udah dari sananya miskin, mau diapain lagi”. Padahal jika kita mau berusaha, maka akan lain lagi takdirnya. Namun jika sudah berusaha sampai akhir hayatnya tidak berubah, itulah takdir yang sebenarnya.

    Kita tidak boleh lupa, tujuan bekerja tidak sekedar memenuhi kebutuhan hidup, tetapi untuk mewujudkan ibadah kepada-Nya. Dunia ini ladang untuk akhirat. Terkadang kita begitu sibuk bekerja, akhirnya ibadah kita amburadul.

    Jika kita bekerja keras dalam mencari rizki, kemudian Allah memberikan rizki kekayaan, sesungguhnya itulah nikmat Allah yang besar. Dengan nikmat ini, kita dapat sekolah/menyekolahkan anak, membeli atau membangun rumah, kendaraan, sedekah, zakat, haji dan berbagai ibadah lainnya. Sayang, kekayaan tidak akan banyak berarti, jika kesehatan tidak mendukung. Kita tidak bisa menikmatinya, atau bahkan akan habis untuk biaya pengobatan.

    Disinilah kita harus menyadari bahwa nikmat kesehatan itu mahal sekali dan lebih besar daripada nikmat kekayaan. Rasulullah bersabda: Ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia yaitu nikmat kesempatan dan nikmat kesehatan. Kita baru sadar bahwa nikmat kesehatan itu sangat penting, ketika datang sakit. Dan kita baru sadar bahwa nikmat kesempatan itu sangat berharga. Kesempatan sewaktu muda tidak digunakan untuk belajar, setelah pergi dan usia telah senja, kemampuan berpikir sudah “lemot”, barulah menyesal. Kesempatan ibadah disia-siakan, setelah sakit baru ada keinginan untuk beribadah. Kesempatan hidup di dunia dilalaikan, setelah di akhirat penyesalan yang tiada berarti.

    Seandainya kita mempunyai nikmat kekayaan dan nikmat kesehatan, terasa hidup serba mudah. Tetapi tidak akan berarti jika kita tidak bertakwa. Uang dimiliki untuk maksiat, tak terdengar ayat-ayat al Qur’an di rumah kita, makan dan minun yang haram dan sebagainya.

    Semua nikmat (termasuk rejeki) semua sudah diatur oleh Allah, sudah ditakar oleh Allah. Setuju sekali, JANGAN TAKUT KEHILANGAN REJEKI, tapi kita hatus mencarinya. Wallahu alam, yuk mari HAIL
    Salam kenal

  2. nurussadad mengatakan:

    Rezeki itu dari Alloh, bukan dari manusia..

  3. kishandono mengatakan:

    bener tuh, dah diatur kok rejekinya masing-masing. tapi kok masih banyak aja yang rebutan yak?

  4. diana mengatakan:

    iya betul,bro! makanya aku mah selalu bersyukur karean rejeki gak bakalan tertukar…TFS!!

  5. unduk mengatakan:

    Rezeki kita emang dijamin oleh Allah, lepas dari apakah kita bekerja atau tidak. Tapi siapa yang menjamin kehormatan kita ? bagaimanapun kita yang makan dengan rezeki yang kita dapat dari keringat sendiri tetap lebih terhormat dari pada yang dapet rezeki gretongan. Pemikiran praktis duniawi saja udah jelas, mereka yang kaya seringkali lebih dihormati orang dari pada mereka yang miskin dan hidup pas-pasan. Belum lagi kalo ngomong akhirat, mereka yang bisa bershadaqoh dan berinfaq dalam jumlah besar kalo malah engga heboh ya cuma mereka yang mau berusaha nyari duit dengan serius.
    Jadi…, teteup. Carilah duit secara serius bahkan walopun rezeki kita engga bakalan tertukar. Tentu dengan tetap memperhatikan keridhoan Allah dalam cara kita mencari rezeki.

  6. afwan auliyar mengatakan:

    dgn bersyukur, allah akan senantiasa menambha kenikmatannya pada qt

    syukur nya spt apa !?!? itu yg hsrus kita cari

  7. Alex mengatakan:

    aSS.

    RIZKI UDAH DIATUR OLEH ALLAH, SETUJU BANGET………TAPI JANGAN MENJADIKAN KITA JADI PEMALAS……..PEMALAS….

  8. lorenzo mengatakan:

    rizki itu bukan dicari tetapi dijalankan… karena rizki itu sudah ditentukan 500000000000000000 thn waktu di alam ruh…

  9. Cah Angon mengatakan:

    Orang -orang yang berlebih dan memperturutkan hawa nafsu cenderung lalai terhadap Tuhan-Nya lama2 kelamaan akan dihinggapi penyakit “wahn” membuat orang cinta dunia (harta, tahta dan wanita) dan takut kehilangan itu semua (mati) secara perlahan tapi pasti orang2 tersebut akan berani menghalalkan segala cara untuk memenuhi hawa nasfsunya termasuk dengan “mendurhakai” Tuhan-Nya” Naudzubilah min dzalik

  10. bunda mengatakan:

    rejeki memang tidak akan tertukar, dan tiap orang punya porsi masing masing apa yang sudah menjadi rejekinya. tetapi tentu alangkah baiknya jika tidak dengan cara “kasar” dan penuh dengan keluhan.

  11. Abu Fadhlan mengatakan:

    Dan dilangit rejeki kamu
    Dan apa2 yang melata dibumi pada sisi Allah Rejekinya

  12. [...] **boleh teruskan bace artikel nih dekat SINI(klik) [...]

  13. Sumiyati mengatakan:

    Alhamdullilah setelah membaca saya sedikit faham dan mengerti apa yang harus kita lakukan intinya bersabar,bersyukur,dan terus berusaha.

  14. auf mengatakan:

    kl menurut gw sih soal rejiki yg 1,dakwah sampai mati mati dlm dakwah itu rejeki yg afdhol,:)coba deh jadikan dakwah maksud hidup

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 396 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: