Sebab Kemenangan Umat Islam

Desember 31, 2008

51393522

“Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih dan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan sebagai penguasa (pemimpin) di muka bumi sebagaimana orang-orang terdahulu telah berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa, Mereka tetap beribadah kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu, Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” An Nur : 55

Pertolongan Allah swt berbanding lurus dengan ketaatan hambanya, selama hamba-Nya taat maka Allah swt akan bersamanya dan Allah swt akan menangkan umat Islam diatas musuh-musuh-nya, tapi mana kala sedikit saja kemaksiatan yang di lakukan oleh ini umat, maka Allah swt berlepas diri darinya, dan Allah akan membiarkan umat Islam menjadi bahan olok-olokan umat-umat yang lain, dan apabila Allah sudah berlepas diri dari hamba-Nya, kemana lagi gerangan hamba tersebut memperoleh perlindungan sebaik perlindungan-Nya.

Demi Allah selama umat ini tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan, maka kehinaan dan kehancuran akan tetap terjadi setiap hari, jutaan umat muslim akan terus di bantai dan umat muslim akan terus berada di bawah kaki orang-orang kafir.

Kemenangan orang-orang kafir bukan di tentukan dari seberapa canggih senjata yang mereka miliki atau seberapa besar jumlah dan pintar pasukan mereka , melainkan Allah swt menangkan orang-orang kafir atas orang-orang muslim di akibatkan kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang muslim, begitupun sebaliknya kemenangan orang-orang muslim atas orang-orang kafir sejauh mana ketaatan orang-orang muslim kepada Allah swt.

Ketika Umar ra. telah melantik Atbah bin Ghazwan sebagai panglima perang pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Parsi. Pada ketika itu beliau telah memberikan perintah.

“Senantiasalah menjaga ketaqwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan apabila memberi keputusan. Kerjakan sholat pada waktu yang ditentukan dan berzikirlah memuji Allah sebanyak-banyaknya “.

Satu ketika terdapat seorang tawanan Romawi di dalam penjagaan orang-orang Islam. Terjadi satu keadaan dimana dia telah dapat meloloskan diri dan lari. Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan orang-orang Islam dengan mendalamnya supaya seluruh kehidupan mereka nampak jelas dihadapannya. tawanan ini juga melaporkan perkara yang sama dan menerangkan bahwa orang-orang itu adalah ahli ibadah diwaktu malam dan kesatria (da’i) disiang harinya. Orang-orang Islam itu juga tidak mengambil sesuatu walaupun daripada Dhimmi (orang-orang kafir yang dibawah lindungan mereka) tanpa membayar harganya dan apabila mereka berjumpa, mereka memberi dan menjawab salam. Heraklius menjawab dengan cepat dan tajam bahwasanya jikalau laporan itu benar dan tepat, maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaan Heraklius.

Heraklius mempunyai jumlah tentera yang sangat banyak sedangkan jumlah orang-orang Islam sangat terbatas. Amr bin al-’As ra. memberitahu Abu Bakar Siddiq ra. mengenai keadaan tersebut. Sebagai jawabannya Abu Bakar ra. menulis:

“Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kamu terlibat didalam dosa-dosa”.

Al-Baihaqy mentakhrijkan dari jalan Al-Waqidy, dari Abu-Hurairah ra., dia berkata, “Aku ikut dalam perang Mu’tah. Ketika jarak antara kami dan orang-orang musyrik semakin dekat, kami bisa melihat jumlah pasukan yang amat banyak, membawa persenjataan lengkap, tameng, mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas. Tsabit bin Arqam ra. berkata saat melihatku membelalakkan mata, “Wahai Abu Hurairah, sepertinya engkau sedang melihat pasukan yang besar.” “Benar”, jawabku. Dia berkata, “Engkau tidak bergabung bersama kami di Badr. Kami menang saat itu bukan karena jumlah kami yang banyak”. (Al-Bidayah 4:244, Al-Ishabah 1:190)

Baca entri selengkapnya »


Wahai Anakku!! Keluarlah Di Jalan Allah swt.

Desember 31, 2008

71255976

Wahai anakku…, Aku dan Ibumu adalah hamba yang bodoh dan pendosa, yang menjadi penyebab kelahiranmu di dunia ini, Kau lahir ditengah gelombang maksiat sebagaimana Kan’an berada di zaman banjir badai yang menggenangi seluruh dunia. Ayahmu bukan Nuh as yang mampu berteriak di tengah badai besar dengan kecepatan tinggi “Wahai anakku naiklah bersama kami …Janganlah engkau menjadi orang yang kafir “ sehingga teriakannya di abadikan dalam alqur’an.

Ayahmu lemah, jika murka Allah datang, aku tak akan sanggup selamatkan diriku apalagi… selamatkan kau dan ibumu. Aku hanyalah seorang muslim biasa yang menjadi umat baginda saw, bahteraku berbeda dengan bahtera Nuh as, Bahtera yang di warisi oleh Sayyidul Ambiya Muhammad saw untuk selamatkan umatnya. Yakni kerja dakwah ala minhajin Nubuwwah. Dengan ini aku berusaha selamatkanmu juga manusia di seluruh alam. Walau tubuhku telah berlumuran dosa dan aku berada dalam kejahiliyyaan sebelumnya tapi aku meyakini jika aku jadikan dakwah maksud hidupku Allah swt akan hapus dosaku dan perbaiki amalanku.

Wahai anakku di pilihnya seseorang dalam kerja dakwah bukan karena nasab dan kepandaian, Tetapi Allah swt pilih hamba-Nya dalam kerja dakwah ini karena kerisauan yang ada di hatinya untuk umat. Nikmat terbesar umat akhir jaman ketika dia berada dalam bahtera warisan Rasulullah saw yakni terpilih dalam kerja dakwah, tetapi dunia telah menarik hati kaum muslimin sehingga terhijab dari nikmat ini , tak ada tangisan dari mata mereka ketika tak pergi taskil, tak ada kegembiraan di hati manusia ketika jaulah mendatangi manusia untuk ajak mereka kepada Allah swt.

Banyak orang meninggalkan sholat merasa dosa dan bertobat, tetapi adakah manusia yang merasa berdosa ketika tak keluar di jalan Allah untuk berdakwah??? Padahal perintah dakwah dan kisah-kisah tentang dakwah jauh lebih banyak tertera dalam alqur’an ketimbang tentang sholat. ADAKAH MUSLIM MEMIKIRKANNYA???. Sehingga wahai anakku tanggung jawabmu adalah mengingatkan manusia akan tanggung jawab mereka mengerjakan dakwah. Teriaklah wahai anakku kepada kaum muslimin “BANGKITLAH WAHAI MUSLIMIN KALIAN ADALAH NAIB RASULULLAH SAW”

Anakku… aku melihat dunia seolah di atas kepala orang-orang yang ditipunya dan membicarakan keberhasilannya, bagi dunia kau ibarat anak kecil yang tak ada harganya pukullah ia dengan tanganmu dan katakan “ KEMULIAANKU JUSTRU KETIKA KAU MENJAUH DARIKU”.

Hari ini jika umat diberitahu kerja ini, kalian akan mulia! Mereka akan cibir kamu dan tertawa terbahak-bahak.

Ulama akan berfatwa : “Kalian butuh ilmu untuk kerja ini”

Orang kaya akan berkata: “Kalian butuh duit yang banyak untuk sebarkan agama”

Orang Politik akan berkata : “Kalian butuh kursi untuk jayakan agama sehingga dapat tegakan hukum islam.

Anakku syech Yusuf rah.a bagi tahu ; Seandainya semua orang Islam sibuk keluar di jalan Allah…. Maka WALLOHI semua yang ada pada orang kafir akan di datangkan Allah swt seluruhnya kepada orang Islam, orang kafir akan menjadi khadim bagi orang Islam.”

Allahu akbar… 35 tahun yang lalu di Thailand ketika ahli dakwah lewat dengan kompor dandang yang hitam, badan kotor berdebu , sandal jepit dsb, maka para cendikiawan katakan : “Bagaimana mungkin kalian akan jayakan Islam dengan penampilan seperti ini justru kalian telah hancurkan kehormatan agama Islam.” Tapi ahli dakwah terus buat dakwah dengan istiqomah dan Allah swt tampakan hasilnya di sana, kini dakwah dikerjakan oleh Ulama-ulama, Pegawai-pegawai kerajaan, orang-orang kaya…

Baca entri selengkapnya »


Keluar di Masjid samping Gereja

Desember 29, 2008

sb10069189k-001

Sebenarnya minggu ini bukan saatnya nisob 3 hari saya, karena saya sudah “keluar” untuk islah diri pada minggu ke-2 yang lalu, tapi berhubung pada minggu ini halaqoh kami memberangkatkan 2 jamaah ( 3 hari Masturah , 3 hari Rizal ) otomatis jumlah ”personil” aga berkurang, terlebih lagi ada pelajar yang ingin keluar pada minggu ini, dan karena fikirman di halaqoh kami meminta kesediaan waktu saya untuk menemani pelajar yang baru pertama kali keluar dan juga dikarenakan tempat “keluar” jamaah 3 hari aga dekat dengan muallah saya maka saya mencoba belajar menambah “korban” saya.

Jamaah 3 hari keluar di masjid Nurul Huda tepatnya di belakang pangkalan taksi RATAX. Masjid tersebut sudah sering kali di datangi jamaah, tapi mungkin karena korban dan risau kami yang kurang maka belum ada yang ikut keluar bersama kami, hanya baru simpatisan saja yang ada. Masjid Nurul Huda memiliki kesamaan dengan hampir kebanyakan Masjid/Mushollah di Indonesia, kosong dan hanya sengelintir orang yang sholat di tempat itu, tidak lebih dari satu shaf saat waktu sholat magrib dan isya dimana pada saat-saat itu seharusnya banyak yang sholat apalagi 90% warga di tempat itu beragama Islam, dan rata-rata sudah baligh.

Yang sangat menjadi kerisauan kami, Masjid tersebut hanya berselang 2 bangunan dari gereja, bahkan kalau kita mau menengok dari jendela tempat wudhu masjid maka halaman gereja bisa terlihat jelas ( dempet dengan Masjid ). Sebenarnya dekat atau jauhnya masjid dengan tempat ibadah lain bukan masalah andai kata masyarakat sekitar memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi sangat disayangkan hal itu justru sebaliknya ini terbukti dengan kosongnya Masjid manakala sholat 5 waktu, hanya segelintir orang yang mau sholat berjamaah di masjid. Dan keadaan ini juga diperparah dengan keadaan / kawasan pemukiman masjid tersebut yang rawan banjir dan seringkali memaksa warga mengungsi ke Gereja mana kala terjadi banjir, dan juga menurut sebagian warga, gereja sering kali mangadakan acara halabihalal mengundang warga pada saat idulfitri dengan membuat acara dan biasanya di lakukan pada saat magrib, begitupun ketika natal sering di adakan acara serupa dan mengundang warga, sepertinya pihak gereja “sangat pandai” beradaptasi dengan masyarakat sekitar terbukti dengan diterimanya keberadaan mereka oleh warga, walau kita tidak dapat menutup kemungkinan ada ‘misi-misi’ dibalik kebaikan tersebut, tapi kita tak bisa menyalahkan begitu saja pihak Gereja, karena pada dasarnya yang harus di salahkan diri kita ( kaum muslimin ) yang tidak mau ambil peduli dan masih sibuk dengan memikirkan diri sendiri dan terkadang acuh tak acuh dengan keadaan agama di dirinya maupun lingkungannya.

Jaulah hari ke-3 kami mengunjungi kawasan pemulung yang letaknya berseberangan dengan gereja, kawasan yang amat rawan karena sering kali kemiskinan di jadikan alasan untuk merubah “keyakinan”.

Ada sekitar kurang lebih 40 kepala keluarga yang menghuni kawasan itu yang kesemuanya beragama Islam, tetapi amat disayangkan walaupun hanya beberapa meter jaraknya dari masjid , hampir kesemua yang menghuni kawasan pemulung tidak pernah menginjakan kakinya di Masjid, sesuatu yang seharusnya sangat patut menjadi kerisauan dan pikir kita.

Jaulah hari terakhir itu kita gunakan untuk sepenuhnya mengunjungi para penghuni di kawasan pemulung. Kotor , bau , aga lembab, timbunan sampah yang menggunung sudah menjadi pemandangan yang biasa untuk kawasan itu dan hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang menjadi persoalan bagi kami saat berkunjung, yang menjadi persoalan besar bagi kami dan juga merupakan kerisauan adalah hampir 100% penghuni kawasan tersebut tidak melaksanakan sholat walau secara jelas tertulis di KTP mereka beragama Islam. Sedih dan hancur rasanya hati kami, ini menjadi PR besar bagi kami untuk lagi dan lagi meningkatkan korban agar menjadikan dakwah maksud hidup.

Bayangkan saja hampir sebagian besar waktu mereka habiskan untuk mengejar dunia, dari pagi sampai malam yang mereka pikirkan bagaimana mendapatkan barang-barang bekas yang bisa di jual untuk menghasilkan uang guna menopang keseharian perekonomian mereka walau untuk itu mereka harus meninggalkan perintah Allah swt. Dan yang kadang membuat saya dan beberapa rekan miris , sering kali kami dapati kebanyakan dari mereka dulunya didaerah adalah santri-santri yang mondok di pesantren yang pada dasarnya mengerti perintah agama, tapi sayangnya kadang kala sesuatu yang berhubungan dengan perut dan di bawah perut seringkali lebih kuat dari norma-norma agama tersebut. Sehingga meninggalkan perintah agama bukan masalah asalkan perut terganjal tidak kelaparan. Ironis bukan !!!

Baca entri selengkapnya »