” Matahariku “

Tuhan tak harus berpikir dua kali ketika meletakkan “matahari” kecil-Nya di rahim kami, kami adalah wanita-wanita yang dipilih Tuhan untuk mengemban tugas suci, mengantar malaikat kecil-Nya mengarungi dunia. Tuhan memilih kami karena Ia menganggap kami mampu, untuk berbagi nafas, berbagi detak jantung , berbagi cinta.

Tak ada yang mustahil ketika melakukan itu semua bagi-Nya, Dia dapat menggerakan matahari dalam satu waktu dari barat ke timur, dia pun sanggup menggerakan hati kami untuk mencintai matahari-matahari kecil kami.

Terkadang kelelahan menghantui kami, karena kami juga manusia, yang juga memiliki air mata, yang juga bisa merasakan rasa sakit, yang memiliki sebuah rasa yang di sebut perasaan. tapi ketika itu semua menguak, kembali kami tersadar, kami adalah wanita-wanita beruntung yang “digunakan” Tuhan untuk menuntun malaikat kecil-Nya mengarungi dunia.

Dan untuk pertama kalinya Reza berbicara, sebuah bunyi keluar dari mulutnya, mengalun mulus dari bibirnya, Dan untuk pertama kalinya sesuatu dari diriku mendengar, mendengar suaranya memanggil namaku, lembut terasa merasuk keseluruh tubuhku, dia menyebut namaku, seperti mimpi rasanya.
“Ulangi lagi nak, bunda ingin dengar sekali lagi, ulangi nak”, pintaku sedikit mengiba, Rasanya ingin berteriak di puncak gunung tertinggi, ingin ku kabarkan kepada angin, kepada laut, kepada dunia, bahwa ia dapat menyebut namaku, Anakku dapat berbicara.

Mungkin akan terlihat konyol, dimana hal itu menjadi sesuatu yg wajar bagi anak berusia empat tahun, bahkan anak satu tahun pun sudah ada yang dapat memanggil nama ibunya, tapi aku tidak perduli, aku sudah tidak mau lagi membandingkan Reza dengan anak-anak lain seusianya, bagiku Reza sesuatu yang berbeda, yang setiap perubahan sekecil apapun akan kami syukuri sebagai sesuatu kemajuan yang berarti walau itu hanya mengucapkan kata yang susunannya tak jelas.

Keyakinan itu telah kembali, kemajuannya telah memicu semangat ku untuk tidak menyerah dan putus asa. Mungkin orang akan berpikir aku gila ketika aku berteriak dan melompat mana kala melihat matahariku mengucapkan namaku, “B……u..….aaaaaaaaaa,”, ucapkan sekali lagi nak, ucapkan walau bunda tahu ucapan itu akan terdengar aneh di telinga mereka, tapi tidak di telinga bunda. Ini hadiah terindah untuk bunda, jawaban dari sejuta tangis dan harap bunda kepada-Nya,

Silakan tertawakan aku , anggap aku gila, anggap aku hilang ingatan, silakan bilang apa saja sesukai kalian, Anakku berbicara, Ya Tuhan terima kasih, walau baru itu yang iya bisa. Tangan kecil itu memegang telapak tanganku, menuntun aku ke depan lemari pendingin, meminta aku untuk membuka pintunya, aku terperanjat dengan kejadian yang barusan aku alami, apa ini mimpi ??, apakah aku bermimpi??, berkali-kali aku mencoba meyakinkan diriku, seolah tak percaya dengan yang kualami barusan, tanpa sadar aku meneteskan air mata, Reza memulai bereaksi, mulai ada interaksi 2 arah, dia mulai mengungkapkan keingiannya, dan itu sudah cukup rasanya membuat aku kembali meneteskan air mata.

Saat ini aku hanya hidup dengan harapan dan doa, karena hanya itu yang aku bisa, menerima semua ini sebagai takdir-Nya, yang dengannya menambah kedewasaan dan kesabaran diriku dalam menghadapi hidup. Aku ingin hidup lebih lama Tuhan, agar aku bisa melihat setiap perkembangannya, setiap perubahannya, ingin kutuntun dirinya, mengenal dunia, Perubahan ini merupakan keajaiban terbesar dalam hidupku, Matahariku memancarkan sinarnya, menghembuskan nafas hidupku, memberi kekuatan dikala semangatku semakin melemah.

Oh Tuhan matahariku mulai besinar, walau sinarnya masih teramat redup, menyenandungkan kelembutan di hati ini , Tuhan jangan biarkan ia redup lagi, biarkan ia menerangi gelap gulita harapanku.

Ya Tuhan akan ku tempuh berapa pun jaraknya, walau harus melewati bara yang teramat panas, demi matahari kecilku, akan kulakukan semuanya. Terus berjalan nak walau bunda tak tahu apakah kita akan bersama-sama menembus “garis batas” itu, tapi setidaknya engkau akan selalu tahu bunda akan selalu ada di sampingmu, bukan di depanmu, bukan pula di belakangmu, tapi disampingmu, karena bunda sedang belajar hidup di “duniamu”, menjadi bagian dari dirimu agar kau tak pernah merasa sendiri. Agar suatu saat nanti ketika kau “tersadar” kita akan saling menangis dan tertawa, mengenang perjuangan kita, dan ketika saat itu tiba kau tahu nak, engkau lah yang jadi pemenangnya.

Bunda akan terus mengayuh sampan ini nak, untuk sampai kepulau impian kita, bunda tidak peduli walau ombak besar menghadang, bunda akan tetap mengayuh dan terus mengayuh, membawa mu pada “batas” itu, bunda akan lakukan itu walau seorang diri. Kelak ketika kita akan kembali mengenang ini semua, bunda pastikan tidak akan lagi ada air mata , yang akan ada hanya senyuman, bunda akan yakinkan itu, walau bunda bukan ibu yang sempurna untuk mu.

Ya Tuhan aku sadar apa yang menimpa kami saat ini merupakan keniscayaan untuk membangun kepribadian yang lebih baik yang dapat meningkatkan ketinggian dan kemuliaan di sisi-Mu, menjadi semakin matang dan kuat, serta bertawakkal sepenuhnya kepada-Mu.

Ibarat emas yang di bakar untuk memurnikannya, begitu juga ujian yang menimpa kami untuk mengetahui kualitas diri kami dimata-Mu. Kami berharap setiap panasnya mampu menguatkan jiwanya dan membersihkan dosa kami. Kau adalah rezeki dan amanat dari-Nya. Tentu ada rencana lain sehingga Dia menitipkan mu ke rahim bunda. Dan bunda merasa bangga telah di pilih-Nya. Dengan keberadaanmu dapat melatih kesabaran dan memupuk rasa bersyukur bunda dalam menghadapi segala macam episode kehidupan. Engkau lah matahari bunda yang akan terus bersinar, jangan pernah berhenti berjuang nak, teruslah menempu setiap perubahan demi perubahan hingga pada “batas” itu, jangan pernah lihat jaraknya nak, karena bunda tak akan pernah lelah memastikan kita akan mencapainya.

Kami teramat yakin Tuhan Maha Adil, Dia tak akan pernah menguji hambanya di luar batas kesanggupan, Kalau Dia meletakan matahari kecil-Nya dalam rahim ini berarti Dia percaya kami sanggup memperjuangkan hidupnya, memperjuangkan hidup matahari kecil kami, impian kami, harapan kami.

Iklan

5 Responses to ” Matahariku “

  1. la mendol berkata:

    *Augghhh….. Kirain Apel beneran..ternyata boohongan.
    Ngga mo mo lagi.

  2. la mendol berkata:

    aku komen soal headernya.
    soalnya..postingan ini sudah aku komen sebelumnya.

  3. Fakhru berkata:

    Selamat berjuang kawan… 😉

  4. ridu berkata:

    wew.. semoga postingan2 sebelumnya gak hilang yah, semoga si blogger bisa membalikkan data2 yg kemaren

  5. rey berkata:

    itu poto anak sapa lan yg lo pajang? yg bagus sih… lo kasih keterangan itu foto sapa, sapa yg motret dan anak itu sapa, misalnya: Ariel (4). Foto: Landy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: