” Tatapan itu “

image010.jpgAku sangat percaya pada ungkapan bahwa anak-anak akan meniru hal-hal yang dia lihat. Manakala anak-anak berkebutuhan khusus itu kita tempatkan dengan anak-anak normal atau anak kecil kita tempatkan dengan orang dewasa maka secara otomatis ia akan berusaha meniru atau memperlajari lingkungan sekitarnya, dan itu yang sedang kami usahakan dengan cara membawa Reza untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, walau sudah bisa di tebak Reza akan lebih memilih menyendiri dan tetap asik pada dunianya, setidaknya kami memberi kesempatan kepadanya dengan beberapa pilihan dan berharap suatu saat ada respon darinya dan mulai mau bergabung dengan yang lain walau kenyataan itu entah kapan adanya.

Kami juga mulai mengajak Reza mengunjungi Mal atau tempat keramaian yang berada di sekitar rumah kami walau seperti biasa ia harus “dipaksa” untuk melakukan itu. Dan seperti biasa pula bila keinginannya tidak dipenuhi ia akan mogok berjalan dan langsung jongkok, apabila kami tetap paksakan ia akan mengamuk melakukan gerakan seperti biasa, berguling-guling dan membenturkan kepalanya ke lantai. Setiap kali kejadian itu terulang biasanya ia akan kami dekap, walau kami tahu terkadang hal tersebut makin memperparah tapi sering kali pula hal tersebut terkadang menjadi solusi. Memang tidak semua anak berkebutuhan khusus merasa nyaman dengan keramaian apa lagi mendengar suara bising yang dihasilkan. Tapi hanya mengekang Reza di dalam rumah merupakan tindakan yang tidak baik untuk perkembangannya. Oleh karena itu membawa Reza “bersosialisasi” merupakan suatu keharusan bagi kami agar kelaknya Reza bisa mandiri.

Terkadang ada rasa malu ketika harus membawa Reza ke tempat-tempat umum dimana semua pasang mata menatap kami dengan sorotan menyelidik, tapi rasanya hal tersebut lebih dikarenakan ketidak tahuan mereka tentang apa yang di derita Reza. Sekarang tinggal kami selaku orang tua harus pandai-pandai menyiasatinya. Pada saat Reza masih sangat hiperaktif dan tidak betah bertamu ke rumah orang lain, aku dan suami lebih banyak di rumah. Kalaupun berkunjung ke rumah saudara selalu singkat dan penuh perasaan tidak tenang. Bila pergi ke mal atau tempat umum lain, kami sengaja memilih waktu dimana belum terlalu ramai, dan sebelum Reza menampakan ketidak sukaannya kami segera pulang meninggalkan tempat tersebut karena kami tidak ingin ia tiba-tiba mengamuk karena kelelahan. Anak-anak autis sangat peka terhadap perubahan rutinitas. Perubahan sekecil apapun dapat menyebabkan ia tantrum ( mengamuk ) pernah suatu saat karena jalan teramat macet maka suamiku mencari jalan alternative agar cepat sampai ketempat tujuan, karena Reza merasa ini bukan jalan yang biasa kami lalui maka mengamuklah ia, menangis , berteriak dan menggigit , kalau sudah seperti ini, hati kami seakan sedih melihat keadaannya.

Pernah suatu ketika aku terpaksa membawa Reza naik angkutan umum, saat itu mobil pick up suamiku di sewa untuk mengantar orang pindah rumah, dengan terpaksa aku membawa Reza ketempat terapi seorang diri , menaiki angkutan umum menjadi pilihan kami karena uang yang ada tak cukup untuk menaiki taksi. Mungkin di karena keadaan jalan yang macet dan suara klakson mobil yang saling bersautan ditambah lagi udara yang panas sehingga menimbulkan kepanikan tersendiri diri anakku. Dan tanpa menunggu lebih lama Reza mulai mengamuk, berontak dan meraung-raung, kejadian itu membuat.semua orang yang ada di kendaraan itu memperhatikan kami dengan berbagai macam ekspresi. Ada ekspresi menyalahkan karena aku sebagai seorang ibu tidak bisa mendiamkan anakku, ada ekspresi takut seakan Reza merupakan penyakit yang menular yang harus di jauhi, dan ada pula ekspresi kasihan seakan Reza merupakan pengemis yang memerlukan uluran tangan. Melihat keadaan ini batinku terpukul, sakit sekali. Aku berusaha setenang mungkin berharap ini semua segera berakhir dan jangan sampai kami diusir dari kendaraan ini, karena demi Tuhan saat ini aku tak membawa uang yang lebih karena memang kami tak punya saat ini, kalau ada sudah sedari tadi aku naik taksi tanpa harus memperburuk keadaan Reza dengan tatapan-tatapan itu. Mungkin dewi fortuna tidak berpihak pada kami hari ini sesaat kemudian kondektur datang dan menanyakan keadaan kami. Aku hanya diam membatin karena aku sendiri tak tahu dengan keadaan anakku, ia menyarankan agar Reza disuruh melihat keluar jendela barang kali dapat membuatnya diam, “ barang kali anak ibu ketakutan atau pusing “ ucapnya padahal mungkin juga kondektur tidak enak pada penumpang lain yang jadi stress mendengar tangisan anakku. Ingin rasanya memaki-maki keadaan. Ya Tuhan segala upaya sudah aku kerahkan dan Reza tidak juga mau diam, Kondektur itu datang lagi mendekat ke arahku. “ Memangnya ibu mau turun dimana ?” ucapnya dengan tatapan yang tak ramah seakan berharap aku turun pada halte berikutnya, walau ini hanya pikiranku tapi hal itu yang aku lakukan kali ini, aku turun di halte berikutnya pada hal rumahku masih teramat jauh dari tempat aku turun, aku seperti seorang pecundang yang harus dipaksa tersisih sebelum bertanding. Hanya Tuhan yang tahu betapa aku sudah berusaha sebisaku untuk mendiamkan anakku. Apakah kalian tidak mengerti begitu susahnya mendiamkan seorang anak apabila ia sendiri tidak mengerti dan mendengar nada ketakutan dan kemarahan dalam suara anda? Tolong jangan tambah lagi dengan tatapan itu , sedikitlah beramah pada kami.

Dengan penuh perjuangan akhirnya kami tiba di rumah, dan kali ini tidak hanya Reza yang menangis karena aku pun menangis, menangis karena sudah gagal dan teramat lelah dengan apa yang terjadi. Aku tak akan pernah tahu sampai kapan ujian ini akan terus berlanjut, Ya Tuhan terangilah hatiku dengan sinar-Mu. Tolonglah aku untuk melihat dan menyingkirkan perasaan-perasaan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: