“Dibatas Harapan”

Ambilkan bulan bu…
Ambilkan bulan bu…
Yang selalu bersinar di langit…

Dilangit..
Bulan benderang…
Cahyanya sampai ke bintang…

Ambilkan bulan bu…
Untuk menerangi….
Tidurku yang lelap…
Dimalam gelap….

Lagu ciptaan AT Mahmud ini menjadi lagu favorit Reza. Aku dan ayahnya sering menyanyikan lagu ini manakala ingin menidurkan Reza atau kapanpun ia suka. Walau tentunya lebih banyak kami yang bernyanyi khususnya aku ketimbang Reza sendiri. Lagu yang tentu saja sudah akrab di telinga kita. Lagu itu sepertinya abadi sepanjang masa, sama seperti cinta kami kepadanya. Selalu ada yang hangat meleleh melewati pipi manakalah Reza mulai terlelap dalam pangkuanku setiap kali aku menyanyikan lagu ini. kami berharap suatu hari Reza akan menggantikan posisi kami dimana bukan lagi kami yang bernyanyi untuknya melainkan ia yang bernyanyi untuk kami, walau entah kapan hal itu menjadi sebuah kenyataan.

Dahulu lagu ini menjadi lagu andalanku kala harus tampil dimuka kelas ketika sekolah Taman Kanak-kanak mau pun Sekolah Dasar. Aku sangat suka lagu ini seakan ada pengharapan terhadap seorang ibu untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin untuk buah cintanya, tetapi sang anak tetap yakin sang bunda akan mengabulkan segala keinginannya, sama seperti Reza saat ini, mungkin jauh di lubuk hati terdalam ia ingin meminta aku mengambilkan “bulan” untuknya, yang mana dengan “bulan” itu bisa mengwujudkan impian dan harapannya.

Harapan dari seorang anak yang telah ter”label” sebagai anak berkebutuhan khusus, “label” yang akan terus melekat entah sampai kapan, andai “label” itu berbentuk sebuah stiker tentu sudah ku klupas dari dulu dengan sekuat tenang yang kupunya, harapan dan keinginanku sempat hancur dan punah ketika “label” itu melekat pada dirinya. Dan kini aku berjuang untuk kembali membuat harapan itu menjadi kenyataan walau dengan kafasitas yang berbeda. Keinginan kami selaku orang tua dan mungkin keinginan mereka yang berkebutuhan khusus adalah bagaimana mereka bisa di terima oleh dunia tanpa intimidasi dan tatapan yang menyakitkan. Walau kami sadar tak ada harapan yang bisa terpenuhi dengan mudah begitu saja. Perlu ada perjuangan agar harapan itu bisa terpenuhi. Pasti ada keajaiban yang akan datang pada siapa saja yang tidak pernah putus asa yang datangnya dari Yang Maha Pencipta.

Dan bila saat itu tiba, akan ku buat dunia melihat buah hatiku menyanyikan lagu itu, lagu yang selalu di dengarkannya ketika dalam pelukanku, menemani setiap tidurnya, menemani tetesan air mataku. Dan bila saat itu tiba aku ingin kami berganti peran, dimana dia yang mengusap air mataku yang akan terus menetes tiada henti , tanda bertapa aku begitu bahagiannya menantikan saat itu. Entah kapan harapan itu akan terwujud, atau hanya akan mengalami nasib yang sama dengan harapan sebelumnya yang pernah aku tanamkan dalam pikiranku. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang kehilangan sebuah harapan dan berpikir pengharapan mungkin hanya omong-kosong. Walaupun nantinya semua itu tak akan pernah terwujud setidaknya aku pernah memiliki sebuah harapan, bukan menjadi seorang pecundang yang pasrah terhadap nasib dan menyerah terhadap hidup. Andai setiap kita yang di berikan Tuhan keadaan lebih baik dari anakku memberikan sedikit rasa empati, berbagi kasih, tentunya jalan kami akan lebih mudah. Anak-anak kami ada bukan untuk diasingkan. Karena ini bukan tentang dosa dan pahala, bukan juga tentang surga dan neraka. Bukankah kita semua bisa menjadikan dunia ini lebih baik setidaknya memberi ruang sedikit bagi anak-anak kami untuk menikmati mentari, berbagi sinar-Nya, berbagi cinta-Nya. Tidak ada yang salah jika memulainya dari sekarang, untuk berbagi cahaya harapan pada mereka yang mulai redup. Berbagi impian yang terus digemakan dengan mata hati jernih.

Iklan

One Response to “Dibatas Harapan”

  1. Eucalyptus berkata:

    Lan….. blog kamu yg di blogspot kok gak bisa dibuka? Kenapa? Kamu tutup ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: