” Sahabat Nabi dan Kita “

965693633m.jpg

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (At taubah:100 )

Apa yang sesungguhnya dicari oleh orang-orang beriman selain keridhaan Allah Swt, dan rasanya hal tersebut telah didapatkan oleh para Sahabat Nabi saw, Allah Swt telah pilih mereka dari milyaran manusia yang lahir didunia untuk menemani perjuangan kekasih-Nya, Baginda Rasulullah saw.

Menemani setiap langkah, setiap gerak, setiap tetes air mata, dalam sebuah jalan kehidupan, Allah Swt telah mengampuni dosa orang-orang Muhajirin dan Anshar. Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang menjual diri dan harta mereka di jalan Allah serta untuk meninggikan kalimat Allah, la ilaha illallah Muhammad rasulullah.

Mereka berjihad karena Allah dengan sebenar-benarnya jihad, hingga Allah meletakan mereka di tempat tinggi . Merekalah yang keluar dari kampung halamannya dengan meninggalkannya harta, perniagaan, anak-anak dan istri untuk kepentingan agama ini. lalu mereka hijrah kenegeri yang sama sekali tidak diketahui, melarikan diri sambil membawa agama, sekalipun mereka harus menghadapi bahaya dan kesulitan.

Merekalah yang telah menegakan agama ini dengan sebenar-benarnya. Menyampaikan risalah Allah ke seluruh manusia dengan cara penyampaian yang paling baik dan menyebarkan sunnah Nabi. Mereka mempunyai sifat-sifat yang terlalu luas untuk dijabarkan satu persatu oleh hamba yang hina ini.

Sungguh teramat jauh dengan apa yang kita lakukan sekarang, para sahabat sanggup berdiri tanpa kantuk semalam suntuk, kita pun sama hari ini berdiri semalam suntuk, Sahabat menangis kitapun hari ini menangis, Sahabat berdakwah sebarkan agama kita pun sama berdakwah, tapi sayangnya perbedaan itu terlalu jauh bila dilihat dari hakikatnya.

Tangisan-tangisan kita hari ini bila dibandingkan dengan para sahabat teramat jauh, Tangisan kita hari ini karena takut kehilangan dunia , dunia lari meninggalkan kita, tangisan karena tamak penuh rasa rakus dan tidak ridha kehilangan apa yang dimiliki saat ini.

Tangisan kita hari ini karena takut berpisah dengan maksiat dan lembah dosa kepada-Allah, tangisan kita pada hari ini karena lemah dalam menghadapi kegagalan dan kekecewaan dalam menghadapi hidup , sungguh jauh bedanya tangisan kita dan tangisan mereka yang diridhai Allah.

Tangisan para Sahabat ra karena mengenang nasibnya kelak di kampung akhirat. Tangisan mereka, karena takut berpisah dengan keimanan dan kecintaannya kepada Allah. Tangisan mereka, karena dunia datang mengejar mereka. Sungguh, jauh bedanya seperti langit dan bumi dengan keadaan kita. Alangkah ruginya diri ini, jika menenteskan air mata hanya untuk sesuatu yang hina dina penuh nista.

Berdirinya para Sahabat Nabi dimalam hari yang dingin untuk bermunajat kepada Allah, untuk berdoa agar ummat seluruh alam diberi hidayah, berdirinya Sahabat dimalam hari karena membayangkan panasnya Api neraka, berdirinya mereka karena kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasulnya.

Bandingkan dengan berdirinya kita dimalam hari…? Berdirinya kita ditengah-tengah musik diskotik yang hinggar bingar memekakan telinga di tengah kepulan asap rokok, dan menyengatnya bau alkohol dalam pelukan wanita-wanita yang di laknat Allah, berdirinya kita pada malam hari untuk bermaksiat kepada Allah tanpa rasa malu.

Ya Allah…. betapa jauhnya perbedaan kami dengan para kekasih-Mu, mereka berdakwa untuk mengajak manusia mengenalmu, mengenal surga-Mu yang luasnya tak pernah terbayangkan oleh akal dan pikiran, mereka berdakwa untuk mengantarkan ummat kepada keselamatan dari murkamu, tapi apa yang kami lakukan hari ini….!, kami berdakwa demi suatu yang hina, kalau para sahabat berdakwa dengan harta dan diri berkorban habis-habisan demi agama , tapi kami ya Allah….!, kami berdakwa untuk mendapatkan dunia yang hina ini, untuk mendapat sanjungan dan pujian, kami tidak mengantar ummat ke surga-Mu melainkan kepada kemurkaan-Mu.

Ya Allah…! perbedaan itu teramat jauh, sahabat menjual dunianya untuk mendapatkan akhiratnya, sedangkan kami menjual akhirat untuk mendapatkan dunia, Ya Allah…! masih adakah surga untuk kami..?, masih berkenankah Engkau memandang kami…?, masih berkenankah Rasulullah saw meminumkan kami dengan tangannya yang mulia di telaga kausar…?

Ya Allah …! kami sudah letih dan teramat lelah dengan kemaksiatan yang kami buat, ya Allah…! masih adakah jalan kembali bagi kami yang berlumuran dosa dan maksiat ?, Ya Allah…! kini kami insafi semua itu,

Ya Allah…, Kami mohon kepada-Mu anugerahkan dua buah mata yang selalu menangis karena takut kepada-Mu, sebelum mata ini tidak lagi menemukan air matanya. Ya Allah… anugerahkan kepada kami tubuh yang kuat untuk beribadah kepada-Mu dan mengajak ummat untuk beribadah kepada-Mu.

Ya Allah pilih kami menjadi kekasih-Mu , Ridhailah kami sebagaimana Engkau ridha kepada orang-orang Muhajirin dan Anshar.

 

Terimakasih atas komen dan kunjungannya :

Adi Sucipto , Fiz

 

9 Balasan ke ” Sahabat Nabi dan Kita “

  1. langitjiwa mengatakan:

    “tulisan yg mengetuk jiwaku dimana masih tenggelam pada kumbang dosa.”

    salamku,
    langitjiwa……
    ( boleh aku taruh blognya diblogku..? )

  2. ven mengatakan:

    Berdirinya para Sahabat Nabi dimalam hari yang dingin untuk bermunajat kepada Allah, untuk berdoa agar ummat seluruh alam diberi hidayah, berdirinya Sahabat dimalam hari karena membayangkan panasnya Api neraka, berdirinya mereka karena kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasulnya.

    sementara berdiriku dimalam hari untuk permohonan akan hajat2 duniawi yg belum terpenuhi…akhh betapa jauhnya aku dg mereka yg diridloi.

    hatiku slalu campur aduk klo mampir di blog ini, makasih postingannya mas.

  3. brajadenta mengatakan:

    trima kasih atas segalanya…

  4. nexlaip mengatakan:

    akhirnya bisa menempati urutan ke empat lan….susah banget biasanya…… para shahabat mendapat lebih banyak kesulitan dalam memperjuangkan agama di banding kita

  5. dimasu mengatakan:

    salut dengan tulisannya😀

    *tak bisa komentar*

  6. Harjo mengatakan:

    Baby-nya imut banget …

  7. erander mengatakan:

    .. kami berdakwa demi suatu yang hina, kalau para sahabat berdakwa dengan harta dan diri berkorban habis-habisan demi agama , tapi kami ya Allah….!, kami berdakwa untuk mendapatkan dunia yang hina ini, untuk mendapat sanjungan dan pujian, kami tidak mengantar ummat ke surga-Mu melainkan kepada kemurkaan-Mu.

    Subhanallah .. mudah2an kita sadar tidak sesaat saja tapi untuk seterusnya. Menyadarkan diri kita bahwa masih banyak yang harus kita benahi dalam berdakwa. Membangun ukhuwah islamiyah, agar tidak terpecah belah.

    Bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Ibarat lidi, kalau berdiri sendiri, sulit membersihkan lantai yang luas. Tapi .. ketika lidi dikumpulkan jadi satu ikatan membentu sapu, insya Allah, kita dapat membersihkan lantai yang kotor.

  8. rnazahra mengatakan:

    Terkadang aq berfikir…Ingin banget hidup di jamannya Rasulullah… berjihad bersama beliau… menghunuskan pedang…😉
    Tapi… *plok* menampar diri sendiri…
    “Sadar dong… Sadar dong…skarang zahra idup di jaman apa ??!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: