“ IF TOMORROW NEVER COMES “

76478367.jpg

Idul fitri sering kali meninggalkan kesan tersendiri didiri saya, salah satu kejadian yang cukup meninggalkan kesan mendalam adalah pada hari kedua idul fitri, dimana hari pertama dihabiskan untuk bertemu dengan sanak saudara yang masih diatas bumi ( baca: masih hidup ), maka dihari kedua ini seperti rutinitas tahun-tahun yang lalu, saya menghabiskan satu hari penuh untuk mengunjungi saudara-saudara saya yang lebih dulu mudik kealam keabadian ( baca: kubur ).

Dari kuburan kakek, nenek sampai sepupu dan saudara lainnya saya kunjungi dalam satu hari, ada “kenikmatan” tersendiri melakukan hal tersebut, setidaknya saya diingatkan tentang satu hal, bahwa kehidupan didunia cuma pesinggahan dari banyak persinggahan yang masih harus terus saya jalani, diantaranya ; kubur, masyar , mizan, syirat sampai pada garis akhir dimana saya harus memasuki satu diantara dua tempat ; surga atau neraka, kesenangan yang selama-lamanya atau kesengsaraan yang selama-lamanya.

Ketika saya sedang asiknya membaca lembaran Al-Qur’an di atas makam kakek saya ( saya tidak menulis khusuk karena apa yang saya lakukan masih sangat jauh dari hal tersebut ) tiba-tiba saya dikejutkan dengan datangnya seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan.

Dengan ramah ia menyapa saya dan meminta saya melakukan satu hal yang membuat saya tercengang dan merasa sedih yang tak terkira, yang pada akhirnya melatar belakangi saya menulis postingan ini.

“Assalamualaikum, Maaf mas boleh minta tolong,?” tanya gadis itu kepada saya

“Walaikumsalam, minta tolong apa?” tanya saya.

“Bisa bacain surat Yassin gak untuk makam orang tua saya ?” tanyanya dengan sedikit ragu-ragu.

“Kamu mau pinjam Al-Qur’an???” tanya saya seakan tidak mengerti apa yang dia maksud.

“Bukan mas, kalau boleh saya minta tolong mas bacain surat Yassin untuk kuburan orang tua saya”

“Loh kok saya, memangnya kamu kenapa?” tanya saya dengan keheranan.

“Saya gak bisa baca Al-Qur’an, jadi minta tolong ma mas. Biasanya saya minta tolong bapak yang jaga kuburan , tapi kayanya dia sedang sibuk, jadi kalau bersedia saya minta tolong mas membacakan Yasiin untuk Almarhum orang tua saya.”

“Kamu bisa baca Al-Faatihah?? Tanya saya

“Bisa mas” jawabnya.

“Bisa baca istiqhfar” tanya saya lagi.

“Bisa” jawabnya dengan mimik bingung karena tidak mengerti maksud pembicaraan saya.

“Bacaan Al-Faatihah dan istiqhfar kamu lebih berharga bagi almarhum orang tua kamu ketimbang 30 Juz al-Qur’an yang saya baca untuk orang tua kamu” gadis itu hanya terdiam menyimak apa yang baru saja saya katakan.

“Ya udah , sekarang kamu baca Al-Faatihah dan Istiqhfar yang banyak untuk orang tua kamu, saya akan baca surat Yassin.”

Memang seringkali Allah Swt, memberikan pelajaran kepada kita melalui kejadian-kejadian yang sangat sederhana tapi bermakna besar. Saya teramat sedih dengan kejadian diatas, saya tidak bisa membayangkan kalau yang dikubur itu saya dan gadis yang berumur dua puluh tahun itu anak keturunan saya, betapa sengsaranya saya di akhirat-Nya Allah Swt , tidak ada sesuatu yang dapat meringankan saya dari kemurkaan Allah Swt, karena ternyata saya tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi anak keturunan saya, Saya telah gagal menjadi orang tua, lupa mengajarkan dan meninggalkan sesuatu yang sebenarnya sangat-sangat dibutuhkan mereka dan saya, yaitu agama, saya lupa mengajarkannya pada anak dan keturunan saya hal tersebut. Betapa hina dan sengsaranya saya kelak di akhirat.

Suatu pertanyaan besar yang saya berharap masing-masing kita merenungi dan menjawabnya, sebuah pertanyaan yang sama seperti yang ditulis Andrias Harefa dalam salah satu bukunya, “Apakah yang akan kamu tinggalkan sebagai warisan yang berguna bagi sejumlah orang dan dirimu, bila kelak diantar kepemakaman?”,

Apa yang akan kita tinggalkan jika esok kita dihantar kepemakaman ???, apa yang kiranya akan istri dan anak-anak kita lakukan sepeninggalan kita ???, apa mereka akan sibuk mengenang kita dan mendoakan kita atau malah sibuk berebut sesuatu yang hanya akan menambah siksaan kita di akhirat kelak.

Sudahkah kita berpikir hal-hal tersebut??

Ya, jika esok tak ada lagi, jika sinar mentari tak bisa ditatap lagi, jika impian sudah tidak bisa direngkuh lagi, jika harapan sudah tidak bisa diukir lagi, jika orang-orang sudah tidak bisa ditemui lagi.

Jika dan jutaan jika yang terus berkecamuk dalam batin saya, Jika saya kelak berdiri dihadapan Allah Swt untuk mempertanggung jawabkan ini semua, Jika kelak Allah Swt bertanya tentang hal tersebut, jawaban apa kira-kira yang keluar dari mulut saya. Apakah masih bisa saya berdiri tegak dihadapan-Nya atau malahan seperti Al-Hajjaj seorang pemimpin dzalim yang diakhirat seperti bangkai busuk yang tergeletak diatas abu menunggu pengadilan Tuhannya seperti yang di gambarkan Umar bin Abdul Aziz.

“ IF TOMORROW NEVER COMES “ rasanya satu hal yang perlu menjadi bahan perenungan hari demi hari, sehingga kita akan selalu berbuat sebaik mungkin agar kehadiran kita dapat dirasakan oleh siapapun yang merupakan bagian dari kehidupan kita dimanapun mereka berada.

Mulai detik ini berjanjilah dengan diri sendiri untuk memberikan yang terbaik bagi siapapun, sebelum semuanya terlambat dan berakhir. Dan sebaik-baiknya bekal bagi yang pergi dan yang ditinggalkan tidak lain adalah Agama, sudahkah hal tersebut kita lakukan???

Diakhir postingan kali ini saya mohon kepada para pembaca blog sederhana saya, agar sudi kiranya untuk mendoakan saya yang penuh dosa ini disetiap sholat anda agar Allah Swt ringankan langkah saya untuk berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak.

Wassalam

Iklan

11 Responses to “ IF TOMORROW NEVER COMES “

  1. ridu berkata:

    AMIN… Doain ridu juga yah kalo gitu..

  2. Adi Sucipto berkata:

    Assalamu’alaukum Khi
    Allahumaghfir lil mu’miniina wal mu’minat wal muslimiina wal muslimat al ahyaai minhum wal amwat. Postingan Antum mengingatkan kita akan seruan “bekerjalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati besok, dan bekerjalah kamu untuk duniamu seakan kau akan hidup selamanya”. Satu hal mendasar untuk kedua pekerjaan itu adalah, INNALLAH KATABAL IHSAANA ‘ALA KULLI SYAI IN; Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Wallahua’lam
    Wassalamu’alikum

  3. Ojat berkata:

    umur manusia ga ada yang tau kecuali illahi yang menciptakan.ughh rasanya belom banyak bekal yang saya siapkan…semangat2 ….

  4. imgar berkata:

    *sigh* udah lama gak ke kuburan bapakku.. jauh di luar kota sih..

  5. abdulsomad berkata:

    gak sekalian Ta’aruf Lan?
    he he he
    masih gadis bukan?

  6. […] Dunia ini tidak ada perkara yg tidak punya hubungan dengan Agama, karena semua isi dunia, termasuk aspek kehidupan manusia, kehidupan binatang, hewan, keadaan alam […]

  7. realylife berkata:

    wah , semoga masih bisa liat tomorrow yang will comes , bukan yang never comes

  8. Rozy berkata:

    Seorang kekasih pasti merindukan pertemuan dengan Kekasihnya…

  9. daeng limpo berkata:

    if tomorrow never comes
    thats mean I’m die today
    if yesterday never let me go
    that’s mean I’m undying
    what’s do you prepare for tomorrow my friend?
    are you logistics is enough for a long journey?

    —salam—

  10. Moerz berkata:

    ah…
    saya ingat mati….

  11. presty larasati berkata:

    assalamu alaikum…
    asatghfirullah… bener, betapa berharganya kesalehan kita untuk bekal orang tua kitaa…

    ada satu buku yang saya baca, “doktor cilik, hapal dan paham Al-Quran”…
    subhanallah,, betapa bangga orangtuanya..

    dan, memang agama merupakan hadiah kita yang paling baik untuk kita berikan kepada anak2 kita kelak. jadi klo g belajar agama dari sekarang, kapan lagi?? kasian anak2 kita juga….

    GANBATTENE!! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: