” Mudik ” ( Postingan Lama )

sb10066722e-001.jpg

Syawal tinggal hitungan hari, ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan akan segera berakhir, ribuan bahkan jutaan orang bersiap-siap menyambut syawal dengan pulang kekampung halaman, bertemu dengan sanak famili, bertemu dengan orang-orang yang dicintai, bertemu dengan kekasih yang telah lama dinanti.

Bebagi hasil jerih payah setahun yang didapat di negeri orang agar bisa dinikmati kaum kerabat. Berpuluh-puluh tumpukan kardus tersusun rapi sebagai bekal dikampung halaman tanda suatu keberhasilan mencari rezeki di kampung orang.

Bagi yang berkemampuan maka transfortasi bukan halangan, karena akan ada banyak alternative untuk sampai ditempat tujuan , bagi yang berkeadaan pas-pasan kiranya kereta ekonomi dan bis ekonomi tidak lah mengapa asal bisa sampai juga kesana.

Kegembiraan menyambut syawal seakan melupakan kita bahwa ada juga diantara kita yang pulang “mudik” dan tidak kembali, mudik kekampung akhirat, kampung yang pasti dan pasti kita semua akan berpulang kepadanya, kampung yang seakan terlupakan dan sengaja dilupakan oleh setiap kita.

Padahal kesanalah mudik kita yang sesungguhnya, mudik untuk bertemu Sang Pencipta, bertemu untuk berjumpa dengan kekasih yang dinanti,.kekasih yang didamba oleh setiap hamba yang mengerti arti kata menghamba. Lebih didamba dari pada mudik yang kebanyakan dari kita lakukan disetiap syawal.

Kembali mudik kekampung akhirat, kampung tempat dimana hanya ada dua pilihan, bahagia selama-lamanya atau menderita selama-lamanya, sehat yang tiada sakit , hidup yang tiada kematian sesudahnya.

Suatu saat nanti kita akan mudik ke suatu alam, yang kita dikirim kesana sendirian, tidak ada yang menemani kita, kemasyuran kita tinggalkan, suami ditinggalkan, anak ditinggalkan, semua ditinggalkan, orang masuk sendiri-sendiri, hanya ditemani iman dan amal.

Saat itu yang berbicara adalah amal, yang berbicara adalah apa yang dalam hati, bagaimana selembar handuk yang dicelupkan ke dalam tinta merah ,diperas akan keluar merah, dimasukkan dalam tinta biru, diperas akan keluar tinta biru demikian pulalah apa yang dimasukkan dalam hati kita, itulah yang nanti akan diperas dan itu yang nanti akan keluar di alam kubur.

Saudaraku kita akan kembali pada-Nya. Kita datang dari tiada, datang hanya singgah sementara, untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan abadi. Tujuan kita bukan disini, bukan untuk bermegah diri dan bersusah-susah memperkaya diri. Dunia ini bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dunia ini hanyalah untuk mempersiapkan bekal , bekal yang akan kita bawa mudik keasal kita.

Bagaimana pun sengsaranya perjalanan dunia ini. betapa pun sulitnya hidup ini, masih ada tempat untuk mencari perlindungan , masih ada banyak pohon yang tumbuh. Banyak buah-buahan yang dapat dimakan, Banyak air yang dapat diminum. Banyak barang keperluan kita yang tersedia dimana-mana.

Kalau kehabisan bekal, ada teman yang dapat membantu. Kalau ditimpa musibah, ada saudara yang dapat menolong. Kalau menderita sakit, ada obat sebagai penawar dan ada keluarga sebagai penghibur. Kalau lemah tak berdaya, kalau sakit semakin parah, ada kendaraan yang akan membawa ke rumah sakit.

Wahai saudaraku yang ingin mengambil ibarat dari perjalanan ini …!

Wahai saudaraku yang pernah menderita dalam hidup ini …!

Wahai saudaraku yang pernah kelaparan …!

Wahai saudaraku yang pernah meraung-raung kesakitan…!

Wahai saudaraku yang pernah terlunta-lunta sepanjang hari…!

Betapapun sakitnya dunia ini, masih belum berarti apa-apa, bila dibandingkan dengan kesengsaraan di akhirat.

Mengapa untuk mudik kekampung halaman di dunia kita melakukan persiapan yang begitu lama bahkan kita menghabiskan gaji kita selama setahun, tetapi untuk mudik yang selama-lamanya ke kampung akhirat kita sama sekali tidak membuat persiapan, bahkan sedikit sekali persiapan yang sudah kita persiapan.

Perjalanan akhirat bukan perjalanan sejuta tahun, bukan pula satu trilyun tahun, melainkan perjalanan dalam waktu yang tak terbatas. Alangkah sengsaranya nanti, kalau kita mengabaikan keselamatan untuk perjalanan yang sesungguhnya . kita akan menangis dalam tangisan darah yang berkepanjangan yang tidak berkesudahan.

Manfaatkanlah hidup yang singkat ini dengan berbuat kebajikan! Berdoa dan terus berdoa agar Allah Swt memudahkan langkah-langkah kecil kita menuju-Nya sebagai mana telah Allah mudahkan langka para Ambiya dan para kekasih-Nya.

“Ya Allah , jangan biarkan dunia menipu kami sebagaimana ia menipu orang-orang sebelum kami, Ya Allah kami tidak pandai berdoa, apa yang Nabi saw minta itu yang kami minta , berilah kami kemulian untuk berkumpul dengan Rasulullah saw dan para sahabatnya di akhirat kelak , dan berikanlah kemuliaa pada kami untuk memandang wajah-Mu di akhirat kelak” , amien.

 

Bahan Bacaan : Menuju Perjalanan Abadi Karya H. Husen Usman Kambayang.

Iklan

6 Responses to ” Mudik ” ( Postingan Lama )

  1. Amalia hazen berkata:

    blum mau komentar..ya
    cuma mau bilang terimakasih atas doanya..
    Alhamdulillah udah baikkan…

  2. Baru aja saya pulang mudik ke Pluit
    Meski hanya memerlukan perjalanan 2 jam kurang (itu pun kalo macet)tai jarang sekali aku mudik ke sana.
    Salah satu alasannya karena “aku ga suka kota yang semrawut itu.”

  3. daeng limpo berkata:

    akhirat adalah keabadian…no time…no money…no war…no crime…no corruption…no hungry…no blogger

  4. hanggadamai berkata:

    baru aja saya mudik dari gak ngeblog
    saya cuma bisa bersyukur kepada ALLAH.

  5. lumayan mudik 3 hari 😀

  6. la mendol berkata:

    wah..kalau postingan lama ditayangkan, berarti kisah trio macan bakal diposting ulang donk.*nggak sabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: