” Satu Menit “

74103701.jpg

Begitu rapuhnya lelaki itu, gambaran keperkasaan-nya hilang , sudut itu menjadi saksi akan kelemahannya, berulang kali Dia menyesali apa yang menimpa putri tercintanya.., sia – sia semua yang telah Dia rintis, matanya tertuju kepada selembar kertas yang ditulis buah hatinya sebelum maut menjemputnya…..

Untuk orang tuaku tercinta….,

Mungkin ketika kalian menemukan tulisan ini , semuanya sudah terlambat…

Ayah…..,

Terima kasih telah mengangkat kami dari kubangan lumpur ke istana yang hanya ada dalam dongeng dimasa kecil…, hasil jerih payahmu telah merubah sepedah butut yang biasa aku pakai ke sekolah menjadi mobil mewah yang tak pernah terbayang oleh kebanyakan orang.

Tapi bukan itu yang kami minta …, dosa kah Aku bila meminta waktumu 1 menit saja untuk mendengarkan betapa sukarnya Aku melalui semua ini… 1 menit bukan waktu yang lama …kau masih punya waktu 23 Jam 59 menit setelah di kurang 1 menit yang aku minta.

Ayah……….tamparanmu ketika aku membuat ulah dengan memakai benda haram itu terasa sejuk di hatiku berarti kau masih sayang pada ku. Tapi kebanggaan ku menjadi sirna mana kala kau kembali sibuk dengan semua bisnismu dan membuatku semakin terpuruk dengan benda haram ini.

Tahukah engkau dalam ketidak sadaranku ketika memakai benda itu, aku menemukan masa kecil yang indah saat bersamamu. Ingatkah engkau ketika siang itu kau menjahit sepatuku yang sudah tidak bisa dipakai untuk sekolah, seakan aku menemukan sosok pria idaman yang bisa melindungiku.

Masih ingatkah ayah,… Ketika aku menangis meminta kau mengajak aku ke kebun binatang, dan karena ketidak adaan uang waktu itu, kau hanya mengikat kain diantara dua buah pohon dan mengayun aku sehingga aku tertidur,.damai sekali rasanya saat itu.

Apakah kau juga masih ingat ketika kita bangun pagi dan menjemput Ibu di pasar untuk membantu membawa dagangannya pulang kerumah…?? Aku seakan melihat sosok pria perkasa di dekatku . Aku teramat bangga memiliki engkau sebagai ayahku.

Tapi mengapa semua hilang seiring dengan membaiknya ekonomi keluarga kita…?? kau jarang dirumah…kadang aku lupa bahwa aku masih mempunyai seorang ayah…

Ayah aku rindu saat – saat itu, saat kau pasangkan pita merah di rambutku. menjadikanku putri tercantik di sekolah.

Ayah aku teramat kehilangan engkau…., sangattttttttttttttt.

Ibu….

Betapa cantiknya engkau.., mulus sekali kulitmu sehingga debupun enggan singgah disana.

Ibu… jiwa sosialmu membuat orang berharap engkau sebagai ibunya . Tuturmu membuat semua terpana dan berharap banyak dengan nasihat–nasihatmu.

Tapi kau lupa ibu ada aku disini yang seharusnya lebih engkau perhatikan dari pada mereka. Aku butuh engkau untuk menghadapi perubahan diriku sebagai wanita.

Kenapa kau tidak ada disaat aku butuh itu.. Tahukah engkau betapa paniknya aku ketika darah pertama membasahi rok sekolahku. Aku perlu kau sekedar menenangkan gelisahku.

Ibu… perlu bermenit – menit untuk aku mengetahui bagaimana caranya memasang pembalut…, aku lewatkan masa – masa itu sendiri…ya seorang diri…,

Aku juga manusia bu sama seperti orang – orang yang kau bantu di luar sana… engkau begitu risaunya ketika tanaman koleksimu lupa disiram oleh m’bo ijah…
Adakah kau risau ketika satu minggu aku tak disisimu..???

Ibu aku manusia , aku anakmu, apakah tanaman dan kegiatan sosialmu lebih berharga ketimbang semenit saja bersama ku…???

Dalam kepulan asap benda laknat ini aku menemukan kedamaian, Dalam suntikan jarum tekutuk ini aku menemukan diri kalian dalam bentuk yang lain.. bentuk yang telah lama hilang , yang sangat aku dambakan.

Ayah…… Aku rindu saat aku berada di punggungmu yang kuat….

Ibu …. Aku rindu saat kau membuatkan ikatan di rambut hitam ku …

Aku rindu kalian….., Dosa kah aku meminta satu menit dari waktu kalian…??

 

 

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

kopitozie , abdulsomad , hanggadamai , rawkchitect , Rozy , nurussadad , achoey sang khilaf , my breakfast , daeng limpo , Adi Sucipto , aRya , ulie , darsini , Adi Sucipto , zukruf , Um Ibrahim , sarah , Santi

Iklan

20 Responses to ” Satu Menit “

  1. okebebeh berkata:

    tumben bisa fertamax bersoebsidih…

    Ya bisa lah , kan calon mertua lagi itikaf di markaz , jadi gak Ol internet he..he..he..

  2. 2 menit

    Udah ada kemajuan dok dek 2 menit, biasanya cuma 30 detik 🙂 berati ada juga tuh kegunaan kuku bima 😉 kalau kata buya seh sering-sering naik sepedah dek biar kuat bisa cetak 9:1 kaya Buya wakakakaka ( di gorok neh ma buya )

  3. keleponcemen berkata:

    Ibu…. aku juga rindu hadirnya dia….

    Sini nak Ibu peluk he..he..he..

  4. keleponcemen berkata:

    Pantesan.. saya betah berlama-lama membaca tulisan-tulisan disini.. rupanya .. ada sosok ibu dibelakangnya..

    hehe… benernih.. mau jadi ibu…?

    Di belakang mana ya , sambil clingak-clinguk lihat ke belakang 🙂 he..he..he..

  5. olangbiaca berkata:

    Aslkm…

    setiap edisinya sy slalu ketinggalan, rajin pisan posting boss…

    jadi inget Ibu Ayah di kampung..

    aku ingin pulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang……..

    Ini postingan lama cuma pindahin aja , postingan dari blog lama ke sini.

  6. Adi Sucipto berkata:

    Assalamu’alaikum

    Saat keberadaan, seperti ketiadaan; saat kemunculan, seperti tak tampak. Maka, rasakan saja anakku…, karena mereka sebenarnya mengungkap cinta (walau dari bentuknya yang agak berbeda). Boleh jadi, sebagian dari para orang tua menganggap bahwa pemenuhan kebutuhan jasmani putera-puterinya adalah segalanya; padahal boleh sejumput perhatian adalah yang sang anak perlukan.
    Mendekatlah anakku, pada dzat yang menguasai hati-hati ini. Dialah Rab-mu; doakan ibu-bapakmu. Kalaupun kau mencari ‘pelarian’, berlarilah pada-Nya.

    Jarang sekali saat ini, orang tua yang dengan sadar berkata, “MAA TA’BUDUNA MIMBA’DI?”

    Suqron akhi Akbar, Wassalamu’alaikum

    Amien pak ustadz 🙂

  7. Adi Sucipto berkata:

    Assalamu’alaikum (inilah misi ubsussalam)
    Khi, al fakir ini belumlah pantas berselendang ustadz. Ada rasa takut yang mendalam, tatkala seakan Allah bertanya ke ana…”apakakah kamu telah melakukan apa yang kamu katakan?” So, panggil aku Adi saja. Ana harap, deal….
    Wassalamu’alaikum

    Walaikumsalam , iya deal sambil cium tangan akihi Adi yang ganteng 🙂

  8. ven berkata:

    fffhuihh…bagaimanapun begitu berat menjadi orang tua, saat kenyataan hidup hrs memaksa untuk malang melintang ‘didunia’ yg begitu panas tp jg hrs bisa tetap menyejukkan dalam ‘surga kecil’ untuk mengenalkan bahagia bg tiap anggotanya.

    Semoga kita diberi kekuatan untuk memberikan yg terbaik buat semua anggota dari ‘surga kecil’ yg bernama keluarga. Agar tdk menjadi penghianat bagi amanah yg telah Allah limpahkan dlm kehidupan kita.

  9. cewektulen berkata:

    terimakasih untuk ibu dan ayah…

  10. rnazahra berkata:

    Kedamaian di kepulan asap benda laknat??

    Astaghfirullah…
    Mudah2an Allah slalu menjagaku dari benda2 itu…
    jauh-jauh dari nya…
    Kedamaian dengan Allah saja
    Cukup bagiku Allah… 😥

  11. norie berkata:

    o0o…
    hhmm… rindu.
    Kenapa ga dari dulu aja rindu itu ada. Rindunya malah lebih mirip penyesalan. bener ga, Mas? eh salah ya.

  12. bluestockin berkata:

    satu menit?!
    kurang kenceng tuh obatnya!

  13. realylife berkata:

    inget ayah dan ibu ,andai ada 1 menit lebih lagi kebersamaan di antara kami
    mari berdoa bersama yuk

  14. oyi berkata:

    satu menit yang tak mungkin kudapat lagi..
    semua sudah berpulang sedari dulu..

    terima kasih atas tulisannya, membuatku ingat untuk harus selalu mengucap doa untuk almarhum abi & ummi..

    jazakallah.

  15. hanggadamai berkata:

    wah sosok anak yg berbakti pada orangtuanya 🙂

  16. hlqhpky berkata:

    coba pake gantam bahagia. kata dr insan bisa lebih paten ( khusus para suami )

  17. hlqhpky berkata:

    PS : Bisa lebih dari 100 menit mungkin

  18. nurussadad berkata:

    1 menit itu 60 detik.
    60
    59
    58
    57
    56
    55
    54
    53
    52
    51
    50
    49





    3
    2
    1
    0
    habis dech

  19. warto berkata:

    Demi Waktu…. Demi Allah…. aku hidup dan mati

  20. calon_akhwat berkata:

    assalaamu’alaykum.wr.wb

    karya sendiri ya akh?
    Terimakasih, karena mengingatkan Saya akan pentingnya peranan kedua pintu syurga itu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: