” Surga Para Sahabat Nabi Saw “

Rasulullah bersabda, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Saâad di surga, Saâid di surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Betapa bahagiannya para sahabat ra , jasad mereka masih di dunia tapi sudah diberitakan tentang perkara surga. Tidak tanggung-tanggung yang membicarakannya seorang yang dapat dipercaya kebenarannya, Rasulullah saw.

Lantas apa yang membuat para sahabat tersebut begitu mulia sampai-sampai Allah Swt ridha kepada mereka?, tidak lain dan tidak bukan karena mereka berkorban habis-habisan untuk agamanya, tidak hanya harta bahkan nyawa pun siap mereka korbankan.

Mereka mentaati Rasulullah saw atas dasar iman bil-ghaib. Mereka menghadapi berbagai macam kesulitan, kelaparan, kehausan, pedang dan tombak yang melukai mereka. dan berbagai macam kesulitan lainnya demi untuk menegakkan usaha mendakwahkan agama.

Walaupun berbagai halangan dan rintangan menghadang, mereka tetap menyeru manusia kepada Allah, hingga tiba suatu masa dimana mereka memberikan pengorbanan yang terakhir di Makkah Mukarramah ketika mereka dipaksa meninggalkan rumah dan keluarga mereka untuk berhijrah ke Madinah Munawwarah.

Sampai beberapa tahun berikutnya mereka tidak memiliki rumah dan harta benda. Dan tidak sampai disitu saja, mereka tetap mengalami penderitaan dan pengorbanan setelah berhijarah ke Madinah.

Bahkan bagian akhir dari kehidupan Rasulullah saw yang berkah juga dilalui dalam kesulitan. Kesulitan itu tetap mereka alami hingga kekhalifahan Abu Bakar ra. Barulah pada masa kekhalifahan Umar ra, penaklukan dimulai.

Bahkan dalam masa penaklukkan tersebut, banyak yang harus mengorbankan jiwa mereka, Dunia tidaklah ditaklukkan dengan mudah dan enak. Ribuan sahabat ra. mengorbankan jiwa mereka untuk berperang melawan kekuaran Romawi dan Persia.

Dunia baru datang kepada para sahabat ketika Mereka telah mencampakkan dunia dari hati mereka, Para sahabat ra sangat mendahulukan untuk mengusahakan iman bil-ghaib dan hakikat jannah dan jahannam telah tertanam dalam hati mereka, demikian pula hakikat hari penghisaban dan ngerinya alam kubur tergambar jelas di benak mereka.

Perkara-perkara itulah yang sehari-hari mereka bicarakan dalam setiap pertemuan. Kadangkala, mereka berbicara tentang nikmatnya surga, Kadangkala, mereka berbicara tentang beratnya penderitaan di neraka dan di padang mahsyar. Kadangkala, mereka membicarakan tentang penderitaan Nabi Nuh as dalam menghadapi kaumnya, keberhasilan Nabi Nuh as dan kehancuran ummatnya.

Kadangkala mereka membicarakan tentang Nabi Ibrahim atau Musa, Yusuf, atau Nabi Luth as, sedangkan pada kesempatan yang lain mereka membicarakan tentang Nabi Syu’aib dan Isa as, dan peristiwa-peristiwa yang di ceritakan Al-Qur’an. Dari peristiwa-peristiwa tersebut mereka dapat memahami berbagai aturan tentang asbab-asbab yang dapat menurunkan pertolongan Allah. Kemudian, mereka berusaha untuk menempuh asbab tersebut yang dapat menarik pertolongan Allah swt.

Maka sudah seharusnya apabila kita ingin memperoleh kemuliaan sebagaimana para sahabat Nabi memperoleh kemulian, kita harus menempuh cara sebagaimana mereka, yaitu menjalankan agama semaksimal yang kita mampu dan mengajak orang untuk melakuan hal yang sama. Karena hanya inilah satu-satunya hal yang dapat memperindah dan memperkokoh iman di dalam hati kita.

Mengamalkan agama dan mengajak orang untuk mengamalkan agama merupakan tugas utama Ummat baginda Rasulullah saw. karena barang siapa mengajak kepada suatu kebaikkan maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Dan yang terpenting selain itu kita juga harus senantiasa merisaukan apakah amalan kita diterima Allah Swt atau tidak dan kita selalu menyibukan diri kita dengan beristifar dan menganggap bahwa orang lain lebih baik dari kita, apabila kita melakukan kesalahan cepat-cepat meminta maaf dan apabila orang lain melakukan kesalahan kepada kita, kita segera memaafkan dan menekan kemarahan kita, maka sudah seharusnya kita mengusahakan hal-hal seperti ini pada diri kita , sehingga kita berharap semoga Allah menghiasi diri kita dengan sifat-sifat sebagai mana sahabat Nabi saw miliki. Aamiin.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

R’ Kurniawan , Eucalyptus , kaito724 , hafidzi , hanggadamai , presty larasati , Nona Nieke,,, yanti , guaaja , sluman slumun slamet , rhainy , aRuL , Menik , Mahasiswa Untuk bangsa , alisyah , Agus Taufiq Hidayat , achoey sang khilaf , ario dipoyono , Rozy , edratna , hasanah translation , diana , otakiphan , errick , realylife

Iklan

16 Responses to ” Surga Para Sahabat Nabi Saw “

  1. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    Ya Allah… pahamkanlah hamba akan usahanya para Nabi dan para Sahabat….
    Ya Allah… istiqomahkan hamba dalam usahanya para Nabi dan Para Sahabat…

    Amien

  2. hanggadamai berkata:

    diriku gak akan bosen ngeliat postingan mas Landy..
    selalu mengingatkan diriku tuk slalu bersyukur kepada Allah..
    Jazakaulahu khoiro

    Semoga dirimu tak bosan juga untuk selalu istiqomah di jalan-Nya

  3. ashardi berkata:

    Amiennn…

    Amien 🙂

  4. diana berkata:

    Semoga kelak mujahid kecilku dapat mencontoh teladan sayyidina Umar ra. amien…
    (do’a seorang ibu)

    Amien ya Allah , sebaik-baiknya contoh adalah generasi awal ( para sahabat nabi saw )

  5. Rozy berkata:

    Ya Allah,

    Bantu kami untuk memperbaiki dzikir kami, syukur kami, dan memperbagus ibadah kepada-Mu..

    Ya Allah,

    Wahai dzat Yang Maha Membolak-balikan hati, tetapkan hati kami atas agama-Mu dan dalam taat kepada-Mu..

    Ya Allah,

    Bersihkanlah hati kami dari segala sifat buruk dan tercela yang akan menghalangi kami untuk sampai kepada-Mu..

    Ya Allah,

    Dengan perantaraan Rasul-Mu, Kekasih-Mu, Baginda Rasulullah Muhammad SAW, kiranya Engkau terima permohonan kami..

    Amien , jangan lupa selalu doain aku ya bang 🙂

  6. julfan berkata:

    Subhanallah.
    apakah saya mampu seperti mereka?
    Doakan ya…

    Tuhan para sahabat nabi dengan Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sama, kalau Dia memberikan kemulian kepada sahabat nabi maka hal yang seperti itu pun akan Dia berikan kepada kita asalkan kita selalu dan selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik.

  7. Ya Allah
    pantaskah aku bersama mereka

    Setiap orang pantas dan bisa seperti mereka, karena mereka Allah swt hadirkan sebagai contoh untuk kita .

  8. subhanallah orangnya di dunia tapi namanya sudah ada disurga

    Subhanallah 🙂 hebat ya de mereka , hayooooooooo tingkatkan pengorbanan sampai tidak ada lagi yang bisa di korbankan 🙂

  9. JoEy D`JuVe berkata:

    Saya Mencoba jadi lebih baik aja dulu degh

    Yup , menjadi lebih baik setiap harinya adalah usaha yang harus di lakukan setiap muslim

  10. Eucalyptus berkata:

    Subhanallah, betapa mulianya Nabi Muhammad beserta para sahabatnya…

    Mereka adalah orang-orang yang mulia, semoga Allah berikan kemuliaan yang sama kepada kita , amien

  11. ressay berkata:

    Narated ’Abdullah: The Prophet said, ”I am your predecessor at the Lake-Fount.” ‘Abdullah added: The Prophet said, “I am your predecessor at the Lake-Fount, and some of you will be brought in front of me till I will see them and then they will be taken away from me and I will say, ‘O Lor, my companions!’ It will be said, ‘You do not know what they did after you have left.’

    Narated Abu Hazim from Sahl bin Sa’d: The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will dring from itu kautsar and whoever will drink from itu, he will never be thirsty. They will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said, “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, “I bear witness that I heard Abu Sa’id Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: “I will say: There are of me (i.e. my followers). It will be said, “You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left.” I will say, “Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.”

    Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, “O Lord (those are) my companions!” It will be said, “You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”

    Narrated Ghallan: Anas said, ”I do not (now-a-days) things as it were (practiced) at the time of the Prophet.” Somebody said, “The Prayer (Is as It was).” Anas said, “Have you not done in the prayer what you have done?

    Narrated Az-Zuhri that he visited Anas bin Malik at Damascus and foun him weeping and asked him why he was weeping. He replied, “I do not know anything which I used to know during the life-time of Allah’s Apostle except this prayer which is being lost (not offered as It should be).

    Narrated Al-Musaiyab: I met Al-Bara’ bin ‘Azib and said (to him). “May you live prosperously! You enjoyed the company of the Prophet and gave him the Pledge of allegiance (of Hudaibiya) under the Tree.” On that, Al-Bara’ said, “O my nephew! You do not know what we have done after him (i.e. his death).”

    Narrated ’Abdullah (bin ’Umar): I offered the prayer with the Prophet, Abu Bakar and ’Umar at Mina and it was two Rak’at. ‘Utsman in the early days of his caliphate did the same, but later on the started praying the full prayer.

    Narrated Abu Sa’id Al-Khudri: The prophet used to proceed to the Musalla on the days of ’Id-ul-Fitr and ’Id-ul-Adha; the first thing to begin with was the prayer and after that he would stand in front of the people and the people would keep sitting in their rows. Then he would preach to them, advise them and give them orders (i.e. khutba). And after that if he wished to send an army for an expedition, he would do so; or if he wanted to give and order he would do so, and then depart. The people followed this tradition till I went out with Marwan, The Governor of Medina, for the the prayer of ‘Id-ul-Adha or ‘Id-ul-Fitr. When we reached the Musalla, there was a pulpit made by Kathir bin As-Salt. Marwan wanted to get up on that pulpit before the prayer. I got hold of his clothes but he pulled them and ascended the pulpit and delivered the Khutba before the prayer. I said to him, “By Allah, you have changed (the Prophet’s tradition).” He replied, “O Abu Sa’id! Gone is that which you know.” I said, “By Allah! What I know is better than what I do not know.” Marwan said, “People do not sit to listen to our khutba after the prayer, so I delivered the Khutba before the prayer.”

    Narrated Shaqiq bin Salama: I was with ’Abdullah and Abu Musa; the latter asked the former, ”O Abu Abdurrahman! What is your opinion if somebody becomes Junub and no water is available?” Abdullah replied, “Do not pray till water is found.” Abu Musa said, “What do you say about the statement of ‘Ammar (who was ordered by the Prophet to perform Tayammum). The Prophet said to him: Perform Tayammum and that would be sufficient.” ‘Abdullah replied, “Don’t you see that ‘Umar was not satisfied by ‘Ammar’s statement?” Abu Musa said, “Alright, leave ‘Ammar’s statement, but what will you say about this verse (of Tayammum)?” ‘Abdullah kept quiet and then said, “If we allowed it, then they would probably perform Tayammum even if water was available, if one of them found it (water) cold.”

    Terakhir, aku kutipkan dari buku Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi Terbitan Pustaka Kautsar bahwa Khalifah Umar bin Khattab yang pertama kali melarang nikah mut’ah.

    🙂 terimakasih

  12. olangbiaca berkata:

    Aslkm..benar sekali kawan…

    yuk kita ikuti jejak mereka..

    Ayuk 🙂

  13. realylife berkata:

    amin , semoga ini harapan bagi kita semua
    semoga teladan Nabi Muhammad dan para sahabat melekat pada diri kita masing2
    amin

  14. presty larasati berkata:

    hukz.. postingan akh landy emang selalu nyejukkin…
    🙂

    semoga kita termasuk ke dalam golongan orang2 yang istiqamah menolong agama Allah….

  15. luar biasa… moga kita bisa mengambil hikmah dari sirah para salafus saleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: