” Keluasan Hati “

Fitrah seorang ibu adalah mengasihi anaknya, seburuk dan sehina apapun anaknya, memeluk dan memberi kehangatan tanpa diminta, memberikan bagian dari dirinya demi melindungi buah hatinya.

Hatinya terlalu luas untuk sekedar menyimpan dendam dan rasa benci atas perbuatan anak-anaknya, Rasa cintanya mencairkan suatu kebekuan, senyumnya dapat meluluhkan gunung kebencian dan dendam.

Sehingga Allah Swt memberikan kemulian dengan meletakkan surga di bawah telapak kakinya, keridhaan-Nya bersama keridhaan seorang ibu, kasih sayang-Nya bersama kasih sayang seorang ibu.

Tepat dua hari sebelum idul fitri tahun ini, saya bertemu dengan seorang teman, setelah hampir 25 menit saya menunggu, akhirnya orang yang saya nanti datang juga.

Tidak begitu banyak berubah dari dirinya, masih sama seperti tahun kemarin ketika terakhir saya bertemu, walau sekarang terlihat lebih hitam, “Gw kan sekarang buka toko jadi sering keluar siang untuk belanja “ jawabnya tentang warna kulitnya yang terlihat aga gelap.

Sudah 23 tahun usianya, berarti sudah lebaran tahun ke delapan dia meninggalkan rumah. Jiwa muda yang mengiginkan kebebasan seakan tak terima dengan aturan yang di terapkan keluarga besarnya, sehingga menghadirkan konflik-konflik yang menghantarkannya pada satu keputusan, lari dari rumah dan hidup bebas di jalan.

Menjadi anak malam yang keluar dari tempat hiburan satu ketempat hiburan lain. Karena pilihan hidupnya ini pula, ia harus meninggalkan bangku sekolah, dan dengan terpaksa menjual “sesuatu” yang seharusnya di jaga oleh setiap wanita, berpindah dari pelukan lelaki satu ke lelaki lain sudah menjadi rutinitasnya hari demi hari.

“Indri dah pulang kemarin, akhirnya ya, dia berani juga pulang ke rumahnya, tinggal gw yang gak pernah berani, gw takut gak diterima, gw dah buat mereka kecewa.” Ucapnya sambil menatap tembok rumah susun di daerah Cawang yang sudah 2 tahun ini ditempatinya, baik sebagai tempat tinggal maupun tempat usaha sebuah biro iklan , poto copy, dan menjual alat-alat tulis kantor.

“Elo mau sampe kapan??” tanya saya sambil mengambil gelas berisikan sirup Marjan, “Gw gak tahu, tapi gw pasti balik, walau gak tahu waktunya kapan” jawabnya singkat.

Ia bukan satu-satunya teman saya yang memiliki kasus semacam ini, masih banyak teman-teman saya yang lain , yang tanpa sadar mengambil sebuah keputusan yang pada akhirnya malah menyeret mereka pada kubangan lumpur yang pekat. Layaknya lumpur hidup yang setiap gerakan hanya semakin menyeret dan mengubur tubuh kita semakin dalam.

Memang hidup merupakan suatu pilihan, Andrias Harefa dalam salah satu bukunya ( Membangun Spirit Keberhasilan ) menulis, Rasa tak berdaya dan perasaan menjadi korban dari suatu keadaan bisa membuat kita “terpaksa” melakukan suatu tindakan yang tak sesuai dengan keyakinan atau nilai yang kita junjung tinggi.

Karena tak punya uang, orang merasa ”terpaksa” menjadi maling, copet atau pencuri. Karena keluarga miskin dan tak punya pendidikan formal yang memadai sejumlah perempuan remaja “terpaksa”menjadi perkerja seks komersil. Karena gaji pegawai negeri dianggap tak mencukupi , sejumlah orang “terpaksa” korupsi.

Lantas apakah ada jalan kembali bagi mereka yang telah salah arah??? Ya jelas ada, karena Allah Maha Pengampun, dimana Dia akan membuka pintunya bagi orang-orang yang mengetuk dengan penuh kerendahan.

Perubahan merupakan proses yang memakan waktu tidak sebentar, harus jatuh bangun, terluka, berdarah, layaknya seorang bayi yang belajar berjalan, yang harus jatuh bangun sehingga menghantarkan ia kepada kemampuan untuk berjalan bahkan berlari.

Layaknya sebuah bola salju yang menggelinding menuruni puncak gunung, berawal dari hanya gumpalan kecil, tetapi karena berulang kali ia berguling, jatuh, berputar menuruni lereng dan tebing , sehingga lambat laut menjadi sebuah gumpalan yang tidak bisa lagi di halangi.keberadaannya.

Begitu juga dengan manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik, harus melewati proses yang kurang lebih sama, sangat sedikit yang mampu dalam waktu sekejab dapat berubah, ini menandakan bahwa kita harus lagi dan lagi berusaha melakukan hal tersebut.

Dan sebuah perubahan sangat tergantung dengan bantuhan Allah Swt, tanpa bantuan dan kasih sayang-Nya semua jerih payah kita akan menjadi sia-sia.

Tadahkan tangan dan berdoa kepada-Nya maka Allah Swt akan menurunkan tanggannya untuk kita. Adukan segala keluh-kesah kita kepada-Nya. Perbaiki hubungan kita dengan Allah , maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan semua makluknya.

Kita bukan Tuhan , pun bukan orang suci yang tanpa dosa, tapi suatu kebahagian mana kala kehadiran kita dapat memberikan semangat kepada orang-orang disekitar untuk menjadi lebih baik, seperti cahaya lilin, walau temaran tapi dapat menjadi pembeda antara gelap dan terang.

Akhir dari suatu harapan saya yang banyak dosa ini adalah melihat para sahabat saya kembali kepada keluarga mereka, kembali kedalam dekapan hangat orang tua mereka, kembali membangun dan merajut benang-benang cinta sehingga menjadi baju yang dapat di kenakan dengan penuh cinta.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

Nona Nieke,, , antown , Eucalyptus , mutiatun , hanggadamai, indo , diana , Agus Taufiq Hidayat, alex , nuuii , cempluk

Iklan

9 Responses to ” Keluasan Hati “

  1. adikhresna berkata:

    Begitulah orang tua, yach…

  2. Totok Sugianto berkata:

    paling tidak kita masih membuka lebar dan mengulurkan tangan kepada mereka, tidak ikut menghujat atau menghakiminya. saya yakin hatinya akan luluh juga… batu yg keras saja bisa berlubang oleh tetesan air 😀

  3. lagi2 daku terpuruk 🙂

  4. diana berkata:

    keluasan hati almarhum orangtuaku untuk memaafkan kebejatan masa mudaku….. duuuhhh…. begitu menyesakkan dadaku…. sementara aku??? 😦

  5. alex berkata:

    Aslkm.

    Allah akan sangat-sangat senang dgn orang yg kembali pada-NYA, sangat senang. lebih senang dari seorang yg kehilangan barang berharganya kemudian kembali tanpa rusak sedikitpun.

    ALLAH Maha KASIH, Pintu-NYA terbuka bagi siapa saja.

  6. hanggadamai berkata:

    doa itu obat hati

  7. Yoga berkata:

    Apakah ada keterpaksaan di dunia ini?

  8. JB'lOg berkata:

    iyaa.. berubah dan berubah kearah perubahan jalan yang benar dan hakiki..
    tiada yang abadi di dunia kecuali mungkin yang abadi hanya perubahan itu sendiri…

    Salam perubahan menuju arah kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: