” Saatnya Wanita Berkata Tidak Untuk Kekerasan “

Ketaatan merupakan satu hal yang Allah swt tuntut dari seorang istri terhadap suaminya. Allah letakan surga seorang istri pada keridhaan suaminya. Selama suami mengajak untuk taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya maka wanita tidak mempunyai hak untuk menolak apalagi melawan apa yang suami perintahkan, tapi mana kala seorang suami sudah melenceng dari apa yang Allah swt dan Rasul-Nya inginkan maka TIDAK ada lagi ketaatan seorang istri terhadap suaminya, karena tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam mendurhakai sang Khalik.

Asiyah merupakah contoh nyata bagaimana seorang istri yang teguh terhadap keyakinannya dan menolak tegas, mana kala suaminya ( Fir’aun ) mengajak murtad dari Allah swt dan Rasul-Nya. Maka tak ayal lagi Fir’aun menyiksanya dengan cara menancapkan pasak ke bumi untuk mengikat setiap anggota badan Asiyah dengan cara di bentangkan kebumi, terlentang agar mukanya menghadap matahari. Namun dengan kekuasaan Allah swt Asiyah tidak merasakan itu semua, lantas beliau berdoa ( surat Al-Tahrim – 11 ) dan dalam sekejap itu tiba-tiba Asiyah melihat rumah yang Allah swt berikan untuk beliau di surga dan bebarengan dengan itu malaikat Izra’il mencabut nyawanya sebelum bala tentara Fir’aun melemparkan batu kearahnya sehingga Asiyah tidak merasakan sedikit pun penyiksaan itu.

Begitu juga yang terjadi dengan Ummu Hukaim Binti Harits bin Hisyam, ketika beliau selesai meminta perlindungan kepada Rasulullah saw atas suaminya ( Ikrimah ) yang saat itu masih kafir, maka pada malam harinya Ikrimah bermasud menggaulinya, namun Ummu Hukaim menolak seraya berkata, “Kau orang kafir sedangkan aku seorang muslimah. Islam menjadi penghalang antara diriku denganmu.” Akhirnya keesokan harinya bersama Ummu Hukaim, Ikrimah menuju Madina dan mengucapkan syahadat di hadapan Rasulullah saw, bahkan beliaupun telah mem-bai’at-nya.

Saya rasa masih banyak lagi contoh kisah para sahabiyah yang “berani” mengatakan tidak mana kala sang suami mengajaknya melenceng dari apa yang Allah swt dan rasul-Nya perintahkan. Para sahabiyah adalah wanita biasa, wanita yang tidak mengenal apa yang di sebut bangku sekolah , apalagi mengenyam bangku kuliah, oleh karenanya saya tak habis pikir mana kala hari ini ada wanita yang tetap melakukan aksi tutup mulut ketika sang suami mulai “melukis” tanda-tanda kekerasan pada tubuh istrinya.

Bagaimana bisa seorang wanita tetep diam ketika dia ditarik dari kopaja 614 jurusan cipulir – pasar minggu sampai tersungkur jatuh ke aspal jalan. Bagaimana bisa seorang wanita yang bergelar S2 membatalkan tuntutan atas suaminya yang telah terang-terangan membuatnya lumpuh sehingga memaksa dia memakai kursi roda, menguras seluruh harta kekayaannya dan menghamili pembantunya. Bagaimana bisa seorang wanita tetap bertahan dimana setiap hari yang dia terima hanya ucapan kasar dari sang suami “dasar pelacur “, “bangsat” , “bajingan” belum lagi tendangan dan tamparan.

Saya tidak habis pikir ketika seorang sahabat jam 10 malam menelpon saya dan mengatakan ada di kantor polisi melaporkan pemukulan yang membuat dia pingsan dan perampasan barang miliknya yang di lakukan oleh suaminya, di daerah pasar Blok A Fatmawati dan masih bertanya : “ Salah gak ya gw lapor polisi “. Ya Allah apa seh yang ada di kepala wanita-wanita itu sampai begitu rapatnya mereka menutup sesuatu yang salah dan menganggap semua itu sesuatu yang wajar. Format apa yang ada di kepala mereka sampai-sampai pikiran semacam itu tertanam dan menjadi bagian dari diri mereka.

triplet’s mom memberikan beberapa alasan mengapa para wanita lebih suka menutup mulut mereka ketimbang menyuarakan sesuatu yang salah dengan kelakuan pasangan mereka diantaranya : Takutnya wanita dengan status “Janda “ , Di masyarakat kita status janda merupakan momok yang menakutkan, status “janda” terlebih dari perceraian masih dianggap “minus”, walaupun hal itu juga terpaksa dilakukan, pandangan negatif masyarakat tentang janda itu masih kental sekali, itu salah satu yg membuat para “wanita” pada akhirnya lebih memilih, “memiliki suami” dengan kelakuan minus daripada menjadi “janda”, penyebab lain adalah “ekonomi” dengan menjadi “janda” dia harus berjuang sendiri terlebih jika ada “anak” dimana masa sekarang ini mencari pekerjaan sulit sekali.

Apapun alasannya tetap saja tindakan kekerasan terhadap wanita tidak bisa di biarkan. Kekerasan semacam ini akan terus berlangsung mana kala dari pihak wanitanya tetap merasa nyaman dan tidak mau membuat suatu perubahan.

Mungkin seluruh kaum wanita akan mengutuk semua pria yang mencampakkan wanita layaknya kotoran yang keluar lubang anus, pada hal yang harus di camkan oleh setiap wanita dan harus ada di otak setiap wanita bahwa PRIA TIDAK AKAN MENGAMBIL DARI WANITA SEBANYAK APAPUN, MELAINKAN WANITA DENGAN KERELAANNYA MEMBERIKANNYA.

Mungkin yang mengikuti tulisan saya dari awal pernah membaca tulisan saya tentang seorang wanita Pakistan yang menghebohkan negaranya dan dunia international bahkan masuk dalam daftar wanita berpengaruh majalah TIME, tentang keberaniaannya melawan ketidakadilan yang dia terima akibat dari system yang berlaku di negaranya yang mengakibatkan dia di perkosa oleh beberapa pria di saksikan ayah dan saudara laki-lakinya bahkan oleh ratusan penduduk dikampungnya hanya demi membayar kesalahan yang dituduhkan terhadap diri adik lelakinya.

Memang tidak semua wanita sehebat wanita tersebut, tapi setidaknya kesadaran tentang pentingnya meperjuangkan kehormatan dan kemuliaan diri harus tertanam dari diri wanita itu sendiri.

Dan kemuliaan dan kehormatan wanita tak akan pernah wujud tanpa hadirnya agama pada diri setiap manusia khususnya pada diri wanita. Karena 2/3 dari isi penduduk bumi diisi oleh wanita dan anak-anak dan seperti kita ketahui wanitalah yang memiliki waktu terbanyak berhubungan dengan anak-anak mereka, kita bisa bayangkan kalau wanita-wanita yang ada di muka bumi ini jauh dari agama , bagaimana nasib generasi kita kedepannya.

Wanita yang tidak hidupkan agama didalam hidupnya maka akan digunakan orang kafir untuk menghidupkan dunia sehingga nilai-nilai dunia naik, sedangkan nilai wanita menjadi rendah.

Kalau anda mau merubah dunia menjadi lebih baik , maka mulailah dari diri anda dan lingkungan sekitar anda, berusahalah sekuat tenaga yang anda punya untuk menghadirkan agama dalam kehidupan kita sebanyak yang anda bisa, dan menangislah di hadapan Allah sebanyak yang kita mampu agar Allah Swt ampuni kita dan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadirkan agama sebagaimana Allah hadirkan agama pada diri Rasulullah dan para sahabatnya. Karena hanya dengan itu saja kita akan melangkah menuju keadaan yang lebih baik.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

adikhresna , Totok Sugianto , hasanah translation , achoey sang khilaf , diana , alex

Iklan

15 Responses to ” Saatnya Wanita Berkata Tidak Untuk Kekerasan “

  1. RawkchitecT berkata:

    hmmmmm.. kekerasan dalam rumah tangga ya?? siapa yang salah?? ah.. saya belom tau jawabannya.. yah sekarang si cuma bisa berjanji kelak gak akan nyakitin anak mertua yang saya nikahi.. itu aja..

    YUP. Segala sesuatu ada aturannya , membunuh bintang saja ada aturannya , bahkan ada riwayat wanita yg menyakiti seekor kucing saja bisa masuk neraka, apalagi menyakiti manusia yang derajatnya lebih tinggi dari seekor kucing. semoga kekerasan domestik seperti ini semakin hilang dengan semakin banyaknya orang-orang kembali untuk mengamalkan agamanya.

  2. chitink berkata:

    hmmmmmmmm…kekerasan pada wanita ya ???

    Tapi laki-laki juga gak menutup kemungkinan loh mengalami kekerasan dari wanita , upssssssssss 🙂 😉 :))

  3. hanggadamai berkata:

    *berusaha memulai*

    memulai apa neh 🙂

  4. Eucalyptus berkata:

    Bener banget!!! Ayo saatnya wanita bangkit melawan KDRT… gemes saya klo baca berita2, kok mau aja ya wanita di-injak2 sama pria, kadang2 malah diperlakukan lebih dari binatang.. huhu…
    Alhamdulillah belasan tahun saya menikah, tidak pernah sekalipun suami saya melakukan KDRT, baik terhadap saya maupun anak2.

    Bapakku galak tadi dia tidak pernah “menyentuh” bunda saya 🙂 STOP KDRT

  5. Frida berkata:

    Jadi ingat lagunya tante Titi Puspa ” wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu…” mungkin sudah saatnya wanita “dibangunkan” agar lebih “kuat dan tegar” dalam menghadapi permasalahan dan untuk pria harus “diingatkan” agar memberikan yang terbaik kepada wanita sesuai yg dicontohkan Rasulullah saw

    Ayo Kita meneladani Rasulullah saw dalam setiap aspek kehidupan termasuk berumah tangga.

  6. adikhresna berkata:

    Allahumma kama ahsanta kholqi, fa hassin khuluqi

    KOK doa masuk WC 🙂

  7. diana berkata:

    do you know something, Lan? Sometimes, “Unhappy Marriage Is Better Than A Divorce”????

    maybe u will never understand this one, but if you were a wife with ‘a bad husband’…you will know…

    Inti dari sebuah pernikahan adalah bagaimana kita mendapatkan ketenangan dan bisa menjadi lebih baik dimata Allah , mana kala hal tersebut sudah tidak ada maka apa artinya sebuah pernikahan. KDRT bukan barang baru bagi GW, teman baik gw mengalami , dikampus gw sampe disembunyiin teman agar gak terjadi bentrok ma suaminya, dimana temen baik gw di tarik dari motor sampe heboh sekampus . Mungkin Buku “Janda” Karya H.A.Aziz Salim Basyarahil M.fauzil Adhim terbitan Gema Insani Press bisa di jadikan rujukan dan penyemangat bagi para wanita.

  8. Alex berkata:

    asl.

    Islam menjunjung tinggi martabat wanita, memuliakan wanita dan mengangkat derajat wanita. tapi laki-lakilah yg menghinakan mereka dan meremehkan wanita dan kadangkala juga ada wanita itu sendiri yg menghinakan dirinya.

    moga wanita-wanita di dunia hari ini bangkit dan memuliakan dirinya sebagaimana Islam telah memuliakan wanita.

    nice posting kawan. mantab

  9. KDRT jauh2 deh
    utk calon istriku dimana pun dikau berada
    percayalah
    percayalah
    takkan ada KDT di rumah kita 😀

  10. halaqahpekayon berkata:

    mnrt gw smua brawal dr proses & tujuan menikah yg disandarkan kpd selain Allah, & utk lo lan hrs istigihfar jgn pernah lg buka aib keluarga lo sndiri.

  11. arifrahmanlubis berkata:

    semoga kita mengikuti jejak Rasul.

    menjadi manusia terbaik karena paling baik memperlakukan istri kita. 🙂

  12. Rindu berkata:

    Saya TIDAK akan membiarkan diri saya dizhalimi oleh manusia lain TAPI saya TIDAK memiliki senjata untuk melawannya, hingga kembali saya kalah dan kalah lagi 😦

  13. bunda berkata:

    menjalani hidup adalah pilihan, demikian juga untuk menjadi bahagia dalam sebuah rumahtangga juga sebuah pilihan. pertanyaannya adalah; beranikah menjadi bahagia?

    Insya Allah tulisan ini menjadi barokah. barokah bagi penulis, barokah bagi pembaca.

  14. sarah berkata:

    Waaa….aku benci kekerasan…!! Ayooo kaum wanita jangan lemah..!

  15. diana berkata:

    you only see but you never feel it. FEEL it, Lan… You are the man who will lead your family. I hope you will be the nice husband for your wife.. the best father for your children. You are only the man who never feel the real one. But it’s okay. thanks for your reference…. do You know someting? I let anyone knew my problems that made me feel more depressed! Hm, Lan… If I could tell you what the matter…. But right now, I am so happy with my life… Only my life, not my love… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: