“Tunggu Kami di Pintu Surga Nak..! “

Bayi adalah makluk yang paling tidak berdaya diantara manusia. Dia adalah makhluk terkecil dan termuda diantara manusia. Keberadaannya merupakan nilai yang sangat berharga bagi orangtua. Selalu didambakan, dirindukan dan dimanjakan kemunculannya di dunia ini. Orangtua yang akan mengandungnya, melahirkannya , dan mendidiknya hingga ia dewasa.

Ia merupakan amanah besar yang Allah beri kepada pasangan suami istri, keberadaan anak dapat menghantarkan ke surga-Nya atau keneraka-Nya. Sebuah jabatan yang bermuatan amanah yang sungguh mahal. Dimana orangtua di haruskan membawa anak-anak mereka ke surga-Nya dan menyelamatkan mereka dari api neraka-Nya.

Terkadang kita sebagai orangtua lupa bahwa anak merupakah titipan yang suatu saat kelak kapanpun Sang Pemilik ( baca : Allah swt ) berkeinginan mengambilnya maka kita sebagai orang yang dititipkan harus siap melepaskannya.

Rasa sedih dan hancur merupakan perasaan fitrah yang ada pada diri manusia, manakah buah hati mereka harus pergi begitu cepat kepada Pemiliknya. Bahkan Rasulullah saw pun besedih akan perkara ini.

Anas bin Malik Radhiallaahu anhu meriwayatkan ketika putra Rasulullah Ibrahim akan meninggal, ia datang menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan Ibrahim nafasnya sudah terengah-engah, maka kedua mata beliaupun berlinang air mata.

Dalam riwayat lain disebutkan beliau mengambilnya dan meletakkannya di atas pangkuan sambil berkata: “Wahai anakku! Aku tidak memiliki hak kuasa apapun yang dapat kuberikan kepadamu di sisi Allah”. Melihat Nabi menangis Abdurrahman bin Auf dan Anas radhialallhuanhu lalu bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa Anda menangis? Bukankah Anda telah melarang menangis?’ Beliau menjawab : “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang”, kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai Rabb kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat bermuram durja karena berpisah denganmu.” (HR. Al-Bukhari dan Mus-lim).

Oleh karenanya saya sangat mengerti ketika seorang ibu menangis manakalah bayi yang selama delapan bulan berada di rahimnya, berbagi makanan dan nafas yang sama , kemanapun sang ibu pergi janin itu selalu dibawa dalam perutnya, kehadirannya sangat di nanti-nanti bahkan banyak impian dan harapan yang sudah disusun , tapi tiba-tiba detaknya berhenti. Tidak ada lagi tanda kehidupan disana, Sang Pemilik begitu cepat merengkuh dari sisinya bahkan sebelum janin itu melihat indahnya dunia.

Tangis itu pecah , bersambut dengan airmata yang tanpa henti, air mata kesedihan yang mendalam, tanpa suara, hanya sebuah tangisan yang menyayat hati setiap yang mendengarnya, telah 6 tahun mereka berharap dalam doa, menanti saat-saat rahim berbuah, menantikan suara kecil menyebut nama meraka, menantikan generasi penerus silsilah. Tapi sekali lagi , kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan semua keputusan kembali kepada-Nya. Sang Pemilik begitu cinta sehingga memangginya pulang segera.

Hanya empati yang bisa saya beri, karena kita tak ada kuasa untuk merubah apa yang menjadi keputusan-Nya, yang kita bisa hanyalah menerima dan selalu berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin Allah ingin menjadikan alhmarhum anak kita sebagai “Tabungan di akhirat “, kalau boleh mengutip kata-kata seorang teman, barang kali kita sebagai orangtua dahulu kala punya “dosa besar” yang tidak akan bisa tertolong tanpa adanya “tabungan akherat” itu dan bisa jadi, kehilangan bayi mungkin itu yg terbaik , barang kali sebenarnya kondisi janin itu “jauh dari kondisi sehat”, “jauh dari kondisi normal dan Allah merasa kita sebagai orangtua tidak sanggup menghadapi ujian itu, dan jadilah rejeki kita hanyalah bisa merasakan “kehamilan” dan Insya Allah akan diberikan rejeki lain yang lebih walaupun mungkin pada akhirnya “bukan rejeki anak” dan yang harus kita ingat, janin itu merupakan tabungan orangtua di akherat.

Sekali lagi , sebagai manusia saya hanya bisa berempati semoga Allah swt menggantikan kehilangan ini dengan Keridhoan-Nya. Dan akhir kata saya hanya bisa mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Semoga kesabaran selalu menaungi anda sekeluarga.

Dibawah ini saya kutipkan sebuah surat yang saya ambil dari situs www.puterakembara.org semoga dapat membuka mata dan hati kita semua, amien.

Alif sayang…..

Kami tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Besar kecemasan kami saat menanti kehadiranmu dulu, belumlah hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena didasari oleh sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun bertemu. Setelah menanti selama 3 tahun, akhirnya Allah memberikanmu….

Saat pertama engkau hadir, kami cium dan kami peluk engkau sebagai buah cinta ayah dan bundamu…. Nak…, ternyata kami terpilih olehNYA untuk membimbing engkau, seorang anak yang berkebutuhan khusus. Sedih, pedih, dan terhempaskan rasanya saat itu, membayangkan hari-hari yang akan kita lewati. Dan dalam waktu panjang di malam-malam yang sepi, dengan linangan air mata, kami mengadu dan berserah diri di hadapan Allah.

Syukurlah, penyerahan diri kepadaNYA mencerahkan kami, dan kami yakin Allah punya rencana yang indah dengan mengirimkan engkau. Satu satunya yang kami lakukan selanjutnya adalah berikhtiar dan memohon ridhoNYA untuk memberikan yang terbaik untukmu.

Anakku,
Ternyata Allah meridhoi ikhtiar kami.Detik demi detik , hari demi hari berlalu……engkau menunjukkan kemajuan yang sangat berarti dan membanggakan bagi kami. Ketika engkau dapat berbicara, minta sesuatu, bermain dengan adik-adikmu……kami sangat bersyukur kepadaNYA..


Kami bangga kepadamu karena engkau tidak pernah mengeluh menjalani hari hari yang penuh dengan jadwal terapi dan harus diet makanan makanan kesukaanmu…
Kami sangat bangga ketika engkau menjadi juara 1 lomba pidato Isra Mi’raj 2005 untuk seluruh SD Lazuardi Global Islamic School, tempat engkau bersekolah.

Buah hatiku,

Ternyata kesempatan bersamamu , hanya diberikan Allah selama 8 tahun 8 bulan 3 minggu.
Engkau dipanggil olehNYA pada tanggal 17 Desember 2005 jam 22.30….
Tak dapat kami gambarkan kesedihan kami kehilanganmu secara tiba-tiba….
Baru 10 menit yang lalu engkau masih berbicara kepada kami, meminta digendong oleh Ayahmu ketika akan pergi ke rumah sakit….

Kami peluk dan cium jasadmu, sambil terus mengucapkan kata maaf, karena kami merasa belum memberikan semua yang terbaik untukmu Nak….

Timbul kesadaran bahwa engkau bukanlah milik kami, melainkan milik Allah yang hanya dititipkan sementara kepada Ayah dan Bunda….Tak ada hak kami untuk selalu bersamamu…..


Kami ikhlas…..Insya Allah kami tabah….

Belahan jiwaku,

Sepanjang keberadaanmu adalah masa-masa terindah dan paling kami banggakan di depan siapapun.

Engkau telah mengajarkan banyak hal agar kami menjadi lebih baik di mata Allah.
Bersamamu….kami menjadi lebih sabar, lebih kuat, lebih berserah diri kepadaNYA, lebih sering bersyukur, dan lebih menerima kekurangan kita sebagai anugerah dari Allah…


Di hadapan Allah, ketika kita sholat berlima bersama adik-adikmu, kita syukuri semua yang telah diberikan olehNYA.

Dan ketika Ayah tidak ada di rumah, engkau menjadi imam sholat bagi Bunda dan adik-adikmu….ah, kami betul betul bangga padamu. Kami bangga karena engkau telah bisa melakukan sholat….

Kami bangga karena engkau telah bisa berpuasa di bulan Ramadhan…
Kami bangga karena engkau telah dikhitan setelah Iedul Fitri 2005….
Allah memang punya rencana yang indah ketika menitipkanmu kepada kami….
Terima kasih sayang……

Akhirnya Nak…..,

Setelah 8 tahun 8 bulan 3 minggu engkau menikmati indahnya dunia, Allah menjemputmu dan menempatkanmu di surga…..

Ketika nanti semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kami dapati jarak yang amat jauh dariNYA, kami akan ikhlas karena seperti itulah amal ibadah kami di dunia.
Tapi, kalau boleh kami berharap, kami sangat ingin saat itu dapat bertemu denganmu dan bersamamu di surga, dekat dengan Allah, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…

Dari:
Ayah Apit dan Bunda Nicke yang selalu merindukanmu……

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

bunda , nexlaip , Agus Taufiq Hidayat , meitymutiara , TonKin, Rozy , Alex , yanti , gelly , adikhresna

Iklan

11 Responses to “Tunggu Kami di Pintu Surga Nak..! “

  1. TuanSUFI berkata:

    itulah salah satu lagi fakta mengapa berkeluarga itu setengah dari agama. Prosesnya sangat tergantung pada pemberian-NYA. Semua rencana bisa dibuat, tapi penentunya bukan kita. Maka sebetulnya keluarga yang dirahmati itu adalah keluarga yang rendah hati.

    So, yang sudah berkeluarga ayo luruskan niat.
    dan yang belum, (dan jika sudah mampu tentunya) berkeluargalah….

  2. hanggadamai berkata:

    innalillahi wa inna ilaihi rajiun

  3. yanti berkata:

    Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
    Ya Allah kuatkanlah… keluarga-keluarga yang mendapatkan kehilangan jiwa…
    Ijinkan mereka dapat melewati… dengan ikhlas… dan keimanan yang makin tebal… Sehingga segala rasa karena kehilangan itu… bukan hal yang sia-sia bahkan akan menjadi pembuka pintu surga mereka. Amin

  4. Alex berkata:

    Subhanallah…

    Insya Allah, mereka sudah di Surga. Mereka menanti dan merindui ayah bunda mereka.

    tulisan nan mencerahkan kawan.

  5. diana berkata:

    ya Rabb…merinding gini sih bacanya? mendadak kangen Umar….hwaaaaaa…

  6. meitymutiara berkata:

    innalillahi wa inna ilaihi rajiun

    semoga Allah memberikan tempat terbaik disisi-Nya.

  7. rahman hera berkata:

    kehilangan yang sama kami rasakan meski kebersamaan kami lebih singkat. 6 bulan 23 hari. putri kami khafifah ummah tlah mendahului kami sjk 25 september 2010 lalu….kami ikhlas dan berserah diri padaNYA

  8. Ahmad Agus Nurman berkata:

    Kehilangan yg sangat mendalam, putra pertama kami Zhafran Aulia Rahmat terlahir prematur dan hanya bertahan hidup 12 hari. Duka mendalam kami rasakan sbg orang tua bahkan berbulan setelahnya, namun Insya Allah kami ikhlas karena Allah maha tahu yg terbaik bagi kami

  9. titik mu'awanah berkata:

    Tulisan yang sangat menginspirasi para orang tua untuk menjaga amanah Allah berupa anak dengan sebaik-baiknya sebelum Sang Pemilik mengambilnya. Matur nuwun

  10. ayuarri berkata:

    Reblogged this on ayuarri's Blog and commented:
    Nabilah..bubun sangat sayang sama mbak,nak…meskipun bubun sudah ikhlas tetapi airmata ini masih belum bisa berhenti mengalir ketika mngingat dan mebdoakanmu…sayang bun..insha Allah kita bertemu dan berkumpul kembali disurga ya sayang,aamiin ya rabbal alaamiin

  11. Dinda berkata:

    berlinang air mata ini… mengingat buah hati ku yg telah berpulang kepada Allah, tetapi aku ikhlas ya Allah.. terima kasih atas kehamilan pertama yang kau berikan kepada ku walaupun putra tercintaku tak bisa melihat indah nya dunia.. dan aku bnr2 bersyukur sekali mempunyai tabungan Akhirat di mana ku berharap di Padang Masyhar nanti ku bs bertemu Putra ku sambil memberikan Ayah dan Bunda nya minuman, dan bisa memasuki surga Mu.. apalah hidup di dunia ini hanya sementara tidak bsa bertemu dengan mu, nak.. akhirat lebih kekal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: