“ Saat Kita Menghadap-Nya “

Setiap yang bernyawa pasti mati , karena mati merupakan sesuatu yang pasti , lebih pasti dari terbitnya mentari di esok hari. Bukan datangnya kematian yang menjadi persoalan melainkan bagaimana keadaan iman kita ketika malaikat maut menjemput itu yang seharusnya kita pikirkan hari demi hari.

Kematian terindah yang pernah terjadi di keluarga besar saya adalah saat Almarhumah nenek dan sepupu saya meninggal, mereka berdua meninggal dunia dengan lisan yang masih mengucapkan Allah.

Almarhumah nenek saya meninggal di tengah-tengah anak , menantu, cucu, cicit. Di tengah iringan surat Yaasin yang belum habis suami Sha ( Adik ipar saya ) baca, dan iringan zikir dari semua anggota keluarga, Nenek saya pergi menghadap-Nya dengan sebuah senyum kemenangan , meninggalkan dunia dengan kalimat yang tidak semua orang bisa mengucapkannya. Allah ucapan terakhir yang nenek saya ucapkan, didengar oleh orang-orang yang berada si sana saat itu.

Begitu juga dengan sepupu saya, beliau meninggal di pangkuan kakak saya yang dengan sabar mentalkinkan kalimat Allah di telinganya dan kembali di ucapkan oleh sepupu saya. Akhir kehidupan yang indah, dimana setiap dari diri kita menginginkannya.

Pertanyaan besar yang sering kali terlintas di benak saya, amalan apa yang mereka lakukan sehingga Allah swt begitu sayang kepada mereka dan memudahkan lisan mereka menyebut nama-Nya, Ucapan yang tidak semua orang dapat mengucapkannya bahkan ketika hidup sekali pun.

Nenek saya terlahir sebagai wanita biasa, tidak ada amalan yang hebat yang ia lakukan, hanya nenek saya sangat gemar bersilaturahmi, mengumpulkan anak, cucu dan cicit dirumahnya. Setiap ada permasalahan besar dan kecil nenek saya selalu mengumpulkan kami, mengajak bermusyawarah mencari jalan penyelesaiannya.

Terkadang kami sering di buat kesal olehnya. Sering kali kami di minta berkumpul dan ternyata setelah berkumpul tidak ada persoalan yang penting yang ingin ia utarakan. U’wo ( Panggilan nenek saya ) hanya ingin melihat kami anak , cucu, dan cicitnya berkumpul disekelilingnya. Dan seperti kebiasaannya hanya dalam hitungan menit nenek saya akan membubarkan kami karena tidak tahan dengan ulah nakal dan suara bising cucu dan cicitnya ( 5 anak , 23 cucu , dan 16 cicit ).

“Kamu itu sudah besar, kok kelakuannya masih kaya anak kecil, gimana nanti kalau sudah menikah apa gak malu ma istri dan anak kamu “ kalimat yang sering di ulang untuk saya, karena begitu lelahnya nenek saya melihat sikaf saya yang tidak pernah dewasa , masih seperti anak kecil bahkan lebih manja ketimbang adik saya yang bontot.

Nenek saya selalu hapal apa kesukaan kami cucu-cucunya, setiap ada kue bolu dan makanan yang manis , nenek saya selalu menyisihan untuk saya mengantarkan ke rumah atau menyuruh orang untuk mengantarkannya.

Ya Tuhan saya kangen sekali dengan nenek saya. sangat beruntung Sha ( adik saya ) yang pernikahannya di hadiri oleh almarhumah, sedangkan saya !!!! bahkan ketika beliau sakaratul maut saya tidak berada disisinya, saya malah sibuk ujian di kampus, dan tiba disana ketika bendera kuning sudah terpasang di setiap gang. Pada hal sudah sejak semalam saya menjaganya sambil membaca Surat Yaasin berkali-kali, membisikan istighfar di telinganya bergantian dengan anggota keluarga yang lain, bahkan ketika pulang sholat subuh di masjid saya masih juga membacakan surat yaasin sebelum akhirnya berpamitan untuk mengikuti ujian di kampus. Tidak ada firasat akan kepergiaannya yang begitu cepat.

Perlu lebih dari 1 jam saya menangis karena menjadi satu-satunya cucu yang tidak ada di sampingnya saat itu. Sampai akhirnya Sha menyadarkan saya dan menggembirakan saya. “U’wo bilang Allah waktu mau meninggalnya, semua orang denger yang ada disana” ucap Sha dan di benarkan oleh bunda dan anggota keluarga yang lainnya. Seketika itu juga tangis saya reda. Orang yang saya sayangi ternyata juga di sayang Allah swt. sehingga Allah swt permudah perjalanan akhir hidupnya.

Ya Allah hilangkan siksa kubur darinya, ampuni segala kekhilafannya, perberatlah timbangan amalnya dan berikan ke ridhoan untuknya. Amien.

Postingan ini di buat mengenang 3 tahun wafatnya sepupu saya dan 4 tahun wafatnya nenek saya tercinta. Semoga kita semua di berikan kemudahan ketika sakaratul maut sebagaimana para kekasih-Nya.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

sluman slumun slamet , pecintalangit , hanggadamai , triplet’s mom , Agus Taufiq Hidayat , Rozy , martik , edratna , diana , zoel chaniago , Ndoro Seten , Mersapi Putih , realylife , Frida , Soni

Iklan

19 Responses to “ Saat Kita Menghadap-Nya “

  1. hanggadamai berkata:

    jadi inget nenek 😥

  2. triplet's mom berkata:

    Al Fatihah buat U’wo dan sepupu landy. Insya Allah dimudahkan kuburnya dan dilancarkan perjalanannya.

    proses sakaratul Maut yang pernah bunda hadapi adalah saat adek tantri meninggal dunia. dia menunggu hingga bisa didampingi oleh ayahbundanya dan menunggu ayahbunda untuk melantunkan talkin. Subhanallah.

  3. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    Ya Allah semoga nenek ana juga di akhir hayatnya bisa ngucapin nama Engkau ya Allah.

  4. Rozy berkata:

    Allahumma inna nas aluka husnul khatimah, wa na’udzubika min su’il khotimah..

    Allahumma inna nas aluka tawbatan qoblal mawt, warahmatan ‘indal mawt, wa maghfirotan ba’dal mawt..hawwin ‘alaina fii sakarotil mawt…Ya Allah Ya Rahiim…

    Wa sholallahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi ajma’iin..

  5. putih2_melati berkata:

    Masya Allah.. kalau begitu neneknya sudah sukses jadi da’i ya.
    menyeru kepada Allah di akhir hayatnya, mengakhiri hayat dalam menyeru kepada Allah.

    Da’i itu bukan yang sudah keluar 3 hari, 40 hari , 4 bulan, 1 tahun, tapi yang mati dalam keadaan menyeru kepada Allah.

    Semoga kita diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala khusnul Khotimah. amin..

  6. okebebeh berkata:

    Allahumma hawwin alaina fii sakarotil maut..

  7. zoel chaniago berkata:

    amin,,, moga mereka bisa tenang di alam sana

  8. arifrahmanlubis berkata:

    Allahumma amitni syahadati fi sabilik…

  9. amalia berkata:

    Semoga yang hidup akan selalu menyadari, bahwa kematian adalah pasti.
    Duh… nikmatnya jd manusia yang disayang Allah
    Moga mereka selalu berada disisi Allah

  10. Zulmasri berkata:

    enaknya kalau meninggal nanti bersama lafaz Allah. kerinduan yang lama terpendam.

  11. Wempi berkata:

    duh… inget semuanya, semoga wempi kelak bisa disayang…

  12. qanaahsholihah berkata:

    semoga qt smua bisa husnul khotimah.amin
    dear all bloggers… mhn doanya jg untk paman sy yg saat ni baru aj masuk ICU.

  13. Frida berkata:

    Smoga Allah SWT meridhoi perjalanan hidup kita sampai kita berkumpul disurga- NYA.

  14. Ya Allah
    jadikanlah saya khusnul khotimah
    Amin!

  15. nenyok berkata:

    salam
    Akhir kehidupan yang akan membawa kebahagiaan abadi, semua muslim menginginkan khusnul khotimah tentunya. Amin

  16. realylife berkata:

    Ya Allah , semoga hamba siap kala memang sudah waktunya bagi hamba tlah tiba

  17. Ndoro Seten berkata:

    saya menyebut nenek dengan biyung tuwo dan simbah putri….
    alhamdulillah keduanya masih diberikan umur panjang dn sehat wal afiat meski usia telah melewati 80an

  18. meity berkata:

    jadi inget almh. nenek dari mamah. sebelum meninggal aku sempet lapin kakinya yg basah dan saat itu kondisi beliau sudah setengah tidak sadar, dibopong dari kamar mandi ke kamar oleh kakak sepupu. almh. nenek meninggal hanya didampingi oleh 2 putrinya yang terus menerus membacakan surat yassin ketika almh. sudah ada dirumah sakit.

    semoga almh. nenek kita mendapat tempat terbaik disisi-Nya sesuai dengan amal ibadahnya … amin.

    tapi bisa engga ya kita seperti mereka?

  19. Narni Jeumpa berkata:

    aku jadi ingt mbah ketika menggal. tepat nya hari selasa pukul 22.30 Tanggal 14 Mei 2008. Gak terasa udah 1 tahun mbah menghadpNya.
    Aku ga disisi Mbah, ktika mbah pergi. Mamak, Lek – lek ku, bude – bude ku, dan sodara2 ku semua bilang. ketika mbah sakit, mbah sering panggil nama2ku. setiap yang datang kerumah, mbah sangka aku yang datang. sampai mbah dipanggil Nya, mbah masih kepengen ketemu sama aku.
    Mbah,…
    maafin aku ya,..
    aku tidak datang untuk mbah, datang untuk melihat mbah.
    aku menyesal, knapa aku tidak pulang, untuk menemui mbah….
    kenapa aku sibuk dengan pekerjaan ku.
    mbah,…
    padahal aku sudah berjajni sama mbah, sebelum dipanggilNya, aku akan nikah dihadapan mbah.
    Aku cucu kesayangan mbah, tapi belum pernah bahagiain mbah.
    inget waktu kuliah,…
    mbah selalu memberikan aku uang jika aku tidak punya uang.
    Ketika aku pergi untuk merantau, tinggal lah mbah berdua dengan adik ku cowok yang bungsu. mbah pun demikian, mbah selalu memberikan uang pada adik ku jika adik ku kekurangan mbah.
    satu pesan yang tak pernah aku lupa kan dari mbah.
    mbah meminta aku untuk mengkuliah kan adik ku. sampai adikku bisa menjadi orang yang berguna bagi agama nusa dan bangsa.
    mbah…
    hanya doa yang bisa aku hanturkan, hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk mu Mbah.
    aku kangen cabut uban mbah,
    kangen angon wedus sama mbah.
    Selamat jalan mbah, kami semua sayang mbah.semoga ALLAH SWT menerima semua amal kebaikan mbah.
    Semoga Mbah selalu disisi Nya.
    AMinn..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: