“Menghubungkan Diri”

Sebuah daun akan tetap tumbuh dan berkembang mana kala masih ada hubungan ( menyatu ) dengan ranting, begitu juga ranting akan tetap tumbuh mana kala masih ada hubungan dengan batang, dan batang ada hubungan dengan akar yang menghujam ke bumi, apabila daun tersebut mencoba memisahkan diri dari ranting, maka cepat atau lambat daun tersebut akan layu dan pada akhirnya akan mati dan membusuk.

Begitu juga dengan manusia, ia akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik, mana kala dirinya disandarkan kepada agama ( segala perintah Allah swt yang dibawa oleh Rasulullah saw ). Apabila manusia dengan akalnya mencoba memisahkan diri dari fitrahnya ( agama) maka pasti dan pasti suatu kehancuran yang akan di dapatkannya.

Kebahagiaan suatu mahluk sejauh mana ia mau mengamalkan agamannya, sedikit agama yang ada pada dirinya , maka sedikit pula kebahagiaan dan ketenangan yang akan dia dapatkan. kebahagiaan dan kejayaan bukan sejauh mana keduniaan ada pada diri kita, melainkan sejauh mana ketaatan kepada Allah swt yang ada dalam diri kita.

Qorun adalah orang yang kaya, tetapi karena tidak ada agama dalam dirinya maka Allah swt hinakan dia, begitu juga Fir’aun, kekuasaan ada di tangannya, sampai-sampai ia menganggap dirinya Tuhan, tapi karena tidak ada agama maka lagi dan lagi Allah swt hancurkan.

Sekarang kita lihat Bilal ra, dia seorang budak, berkulit gelap, bahkan dirinya sendiri dia tidak sanggup miliki, tapi karena ada agama dalam dirinya dan senantiasa menghubungan dirinya dengan agama maka Allah swt muliakan, jasadnya masih ada di bumi, tapi suara terompahnya ( sandalnya ) sudah terdengar di surga. ALLAHU AKBAR!!!.

Siapapun kita dan apapun latar belakang kita, selama di dalam diri kita ada agama dan mau menghubungkan dan rela di atur oleh agama, maka pasti dan pasti Allah swt akan berikan kemulian. Tapi sebaliknya siapapun kita dan dari keturunan siapapun hatta Nabi dan Rasul, kalau tidak ada ketaatan terhadap agama, jangan harap Allah swt akan muliakan kita bahkan Allah akan hinakan di dunia yang sementara ini dan di akhirat yang selama-lamanya.

Din ( Agama ) lebih dicintai oleh Allah Ta’ala, dengan agama keseluruhan kehidupan di dunia berjalan dengan teratur ( Matahari , bulan , bumi dsb ). Apabila Din tidak ada lagi dalam dunia ini, maka hari kiamat akan didatangkan, karena agama sudah tidak berfungsi dalam dunia ini.

Semua Nabi dan Rasul di hantar ke permukaan bumi hanya untuk usaha atas Din. Bagaimana agar umat taat kepada Allah swt dan masuk surga-Nya. Orang-orang yang mengikuti Nabi- Nabi mereka akan berjaya di dalam dunia yang sementara ini dan di akhirat yang selama-lamanya. Sedangkan orang-orang yang menentang Nabi-nya maka kegagalan yang akan mereka terima. Kaum ‘Ad yang menentang Nabi Hud as di hancurkan Allah swt dengan angin topan. Kaum Tsamud yang menentang Nabi Shalih as, Allah swt hancurkan dengan bunyi terompet Malaikat sehingga jantung mereka bercopotan. Nambrut yang terkenal besar Allah Ta’ala hancurkan dengan menggunakan seekor nyamuk betina yang masuk melalui lubang telinganya.

Segala kesuksesan dan kegagalan ada di tangan Allah swt, Allah adalah pencipta segala sesuatu dan keadaan, segala kekayaan adalah milik Allah, Apa saja yang Allah berkehendak, maka akan terjadi dengan qudrat-Nya. Allah Ta’ala tidak memerlukan pertolongan makhluk-Nya, seluruh makhluk lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa seijin Allah swt. seluruh makhluk bergantung kepada Allah Ta’ala. Allah adalah ahad dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.

Keyakinan-keyakinan seperti inilah yang seharusnya hari demi hari lagi dan lagi kita ulang, ketika kita jumpa dengan anak istri kita , kita katakan kepada mereka, “bahwa bukan ayah yang memberi makan melainkan Allah, yang memelihara dan menjaga adalah Allah sedangkan Ayah hanyalah sebuah perantara.” kita nahfikan diri kita dan kita besarkan Allah Ta’ala. sehingga keyakinan diri kita , anak dan istri kita menjadi benar, seperti keyakinan Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Kita bawa anak dan istri kita dalam suasana agama, hari-hari ahli keluarga kita duduk untuk melaksanakan taklim harian dirumah secara tetap, kita berfikir bagaimana wanita-wanita kita berusaha selekas mungkin menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga mereka dan menyibukan diri mereka dengan ibadah, dzikir dan tilawah alqur’an. bagaimana setiap ahli keluarga kita ada kefahaman dan kesadaran untuk selalu beramal m’aruf nahi mungkar dengan penuh hikmah.

Dan terakhir kita berdoa kepada Allah semoga Allah swt memberikan kepahaman terhadap perkara agama sebagaimana Allah swt beri kepahamana terhadap Rasulullah swt dan para sahabatnya. Amien

NB: Jangan Lupa untuk suksesnya Jord tangal 8.9.10 Agustus ’08 , kita kerahkan seluruh ahli keluarga kita untuk memperbanyak bangun malam, doa , nangis pada Allah , banyak-banyak puasa dan buat perngorbanan semaksimal yang kita mampu agar Allah swt pilih kita dan kekalkan kita dalam usaha agama. “Dakwah maksud hidup , hidup untuk dakwah, dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah”

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

zoel chaniago , tuansufi , Mufti AM , diana , Wempi, Jauhari, achoey sang khilaf, qanaahsholihah , realylife, arifrahmanlubis , Alex, Cah Angon

Iklan

10 Responses to “Menghubungkan Diri”

  1. zoel chaniago berkata:

    amin….. mudah²an saya masih panjang umur sampai tanggal 8,9,10 agustus tersebut dan bisa melaksanakan puasa ramadhan… 😀

    8,9,10 agustus memangnya Ramadhan????

  2. hanggadamai berkata:

    harus selalu fisabilillah menuju surgaNya ya kan mas..

    Fisabilillah untuk selalu taat kepada Allah swt mengikuti cara yang di ajarkan Rasulullah swt.

  3. setiap kita memiliki sejatinya tujuan kehidupan
    ridho Illahi dan kembali pada tempat semula yang didambakan
    Syurga
    dan seringkali apa yang kita lakukan tak sejalan dengan arah dimana syurga berada

    postinganmu selalu kembali mengingatkan kita
    karena kami kadang lupa dan tersesat

    Jazakallah akhi 🙂

  4. Menik berkata:

    Insya Allah Mas Landy…

    Diriku terus berusaha

  5. amalia berkata:

    InsyaAllah kita terus berjalan dalam penghambaan pada-Nya
    Grafikku lagi menurun… namun tidak melupakan.. doakan ya..

  6. realylife berkata:

    Setelah sekian lama , akhirnya ada lagi yang mencerahkan hidupku , terima kasih sahabat atas undangan yang selalu mencerahkan
    amin

  7. Cabe Rawit berkata:

    Assalaamu ‘alaikum. Woh… ane belum ngeh soal tanggal 8, 9, 10 agustus, ada afa dengan tanggal-tanggal tersebut? 🙄

    Bicara soal menghubungkan diri dengan agama, ane sepakat dengan ulasannya pak Kyai. Ane cuman mau sedikit menambahkan saja, bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat liar, individualistis dan tidak mau terikat sama aturan. Kecenderungan ini muncul karena manusia dibekali dengan hawa nafsu, khususnya nafsu lawwamah, dan tentu saja syaitan yang terus menerus berusaha mangasah potensi nafsu rendah manusia tersebut.

    Seandainya sifat dasar dan kecenderungan ini tidak dikekang dengan aturan atau batasan-batasan hukum (kita menyebutnya sebagai agama), maka dafat difastikan bahwa yang akan terjadi di muka bumi ini adalah kehancuran. Kehancuran yang diakibatkan oleh benturan antar hawa nafsu tiap invidu manusia. Bayangkan, dengan adanya agama atau risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul, kerusakan di muka bumi kerap terjadi, bahkan menjadi-jadi… Afalagi tanpa agama atau aturan 😦

    Ad-din atau agama adalah tata nilai dan hukum yang mengatur perilaku manusia baik dalam hubungan dengan sesama manusia, alam dan Tuhan. Aturan ini ditetapkan oleh Allah SWT bukan untuk kebaikan atau kepentingan Dzat-Nya, karena Allah tidak membutuhkan afa-afa dari makhluk. Aturan ini justeru ditetapkan demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk.

    Dalam menetapkan hukum-Nya, Allah SWT senantiasa “memperhatikan” nilai-nilai fitrah (hal-hal yang inhern dengan manusia itu sendiri) dan tidak melampauai batas kemampuan manusia atau memberatkan. Itulah sebabnya, dalam hukum-hukum Islam, kita tidak akan pernah menemukan suatu hukum baik yang berbentuk perintah maupun larangan yang berbenturan dengan fitrah kemanusiaan. Pun demikian juga kita tidak akan pernah menemukan hukum yang memberatkan. Bukankah Allah dan rasul-Nya sendiri fernah menyatakan “Yassiruu.. walaa tu’assiruu!” Mudahkan urusan-urusan (agama) kalian, dan sebaliknya jangan memberatkannya.”

    Bukti bahwa agama tidak memberatkan ummatnya, di antaranya: Hukum asal kaifiiyat (tata cara ) shalat adalah sambil berdiri, tetapi jika kemudian pada kondisi tertentu tidak mampu, boleh dilakukan sambil duduk, berbaring bahkan dengan isyarat saja. Puasa ramadhan adalah wajib bagi yang telah tertaklif secara hukum, namun jika ada alasan/halangan yang dibenarkan oleh syariat, maka hukum puasa ini bisa menjadi tetap wajib sekalipun dilaksanakan di luar bulan ramadlan (qadha) atau cukup dengan membayar fidyah. Istilah rukhsoh atau keringanan dalam hukum fikih ibadah adalah bukti bahwa agama tidak pernah memberatkan ummatnya.

    bersambung… :mrgreen:
    *dirajam fara blogger ustadz*

  8. Alex berkata:

    Ass.

    setuju dengan Ceramah mas Cabe……..hehe……#siap2 ditimpuk mas Cabe#

  9. Jauhari berkata:

    Semoga tetap Amanah dan dalam Islam yang padu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: