Army of Roses

Mungkin karena perasaan ingin tahu yang sama dengan si pengarang membuat saya membeli buku tentang para pelaku bom bunuh diri yang di lakukan oleh wanita (Army of Roses ) beberapa bulan yang lalu, tidak sampai sehari buku setebal 404 halaman ini saya lahap. Victory si pengarang mengawali bukunya dengan pertanyaan, bagaimana mungkin kaum perempuan , yang merupakan pembawa kehidupan, bisa berubah menjadi mesin pembunuh, dan dunia yang membentuk mereka , dunia yang tak pernah terbayangkan oleh orang kebanyakan.

Ya, alasan di balik tindakan masing-masing perempuan ini memang bersifat sosial, dan reliqius , juga politis. Andai novel versi inggrisnya mudah di temukan pastinya novel ini sudah saya bedah untuk tugas akhir saya. Ketimbang saya harus berkutat dengan novel Burned Alive yang sama sekali tidak saya suka.

Saya tidak ingin membahas apakah boleh tidaknya melakukan bom bunuh diri , karena bukan kapasitas saya untuk membahas hal tersebut, rasa penasaranlah yang mengantarkan saya untuk lebih mengetahui alasan di balik aksi itu semua, terlebih lagi yang melakukannya seorang perempuan.

Buku jujur yang mencoba melihat dari beragam sisi, walau pada akhirnya sang penulis masih kesulitan untuk menarik kesimpulan dari aksi itu semua. Bagaimana bisa seorang mengorbankan dirinya demi sesuatu yang tidak masuk diakal” (Demi mendapatkan surga di akhirat kelak). Saya berkali-kali harus tersenyum karena sang penulis kesulitan mencerna konsep surga itu sendiri. “Teramat bodoh menyakini sesuatu yang tidak tampak, yang belum pasti benar atau tidaknya” begitu kurang lebih konsep yang ada di benak si penulis.

Mungkin karena sang penulis melihat dari sudut pandang yang berbeda, dikarena kan perbedaan keyakinan sehingga si penulis seakan menemui jalan buntu. Terlepas dari itu semua ada hal-hal yang menarik yang menjadi perhatian saya ketika membaca buku ini. saya pun tak mengerti , andai saya ada di posisi mereka ( wanita para pelaku bom bunuh diri ) apakah saya akan melakukan hal yang sama seperti mereka atau tetap bertahan hidup dengan melihat ketidak adilan yang terjadi di depan mata sendiri.

Apakah saya akan tetap “sadar” ketika tiba-tiba sebuah rudal menghancurkan gedung sekolah yang didalamnya ada ratusan anak sedang belajar, darah dimana-mana, tubuh yang berpencar dan semua itu menjadi pemandangan yang bukan hanya sekali tapi sudah bertahun-tahun dan menjadi pemandangan yang rutin hampir setiap hari dan anehnya para pelaku ( Zionis dan sekutunya ) hanya berkilah bahwa apa yang mereka lakukan sebagai upaya untuk menyelamatkan dunia dari bahaya “TERORIS”

Apakah saya akan tetap diam bila ada di posisi mereka , manakala harus hidup dengan penerangan dan air yang sangat seadanya, peralatan medis yang tidak memadai ,dan hidup dalam keterasingan sedangkan di daerah yang tidak jauh dari situ hanya terpisah oleh kawat besi, anak-anak yang lain bebas berenang dan bermain dengan gembira.

Sangat sedih melihat anak-anak yang kehilangan masa kecil mereka, dimana mereka harus di paksa melihat dengan mata kepala sendiri apa-apa yang seandainya di tampilkan dalam sebuah pertunjukan film pasti sudah tersensor karena begitu mengerikannya.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang membuat saya tercengang hingga mengerutkan dahi dengan apa yang di tanyakan dan di temukan si penulis buku tersebut.

“ Kalau jihad dengan cara meledakan diri suatu derajat tertinggi dalam agama, seperti yang di dengung-dengungkan para pemimpin disana, mengapa para pemimpin pergerakan tidak melakukannya sendiri malah mengorbankan para wanita, bahkan para pemimpin membawa anak-anak mereka keluar dari Negara tersebut dan menyekolahkan ke negara-negara yang mereka anggap Kafir sedari mereka kecil, seakan tidak rela anak-anak mereka melihat kekerasan dan menjadi bagian dari kekerasan “

Ehm….., Pertanyaan yang teramat sulit di jawab , belum lagi intrik-intrik dan ambisi untuk berkuasa antara kelompok-kelompok tersebut yang semakin sulit saya cerna, Tetapi apapun namanya , mendapatkan kekuasaan dengan mengorbankan kehidupan orang lain yang tidak bersalah dan mengerti apa-apa adalah kejahatan kemanusiaan terbesar yang tidak bisa saya terima dengan akal saya.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

achoey sang khilaf , Anang Supermance, realylife, zoel chaniago , sofie_Ncop arifrahmanlubis , hanggadamai

Iklan

9 Responses to Army of Roses

  1. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    Politik Rasulullah hanya satu mengajak sebanyak-banyaknya umat manusia masuk syurganya Allah dan selamat dari nerakaNya.

    Semoga Allah SWT memberi keikhlasan kepada para Mujahid dan Mujahidah di Palestina.

    Amin.

  2. zoel chaniago berkata:

    ya berat banget postingannya,,, susah mo comment apa 😀

  3. realylife berkata:

    terkadang ada alasan yang kita sendiri tidak tahu , apa emang bener atau salah , tapi yang pasti doaku selalu buat mujahid dan mujahidah yang berjuang di jalan Allah , maafkan aku belum bisa berbuat sesuatu pada saudaraku yang tertindas
    semoga Allah mengampuniku dan kita semua
    amin

  4. hlqhpkyn berkata:

    Allah akan selalu beri kemenangan kpd orang2 beriman, trus brow, kenapa koq orang2 islam slalu nampak kalah atas musuhnya. apa krn orang islamnya blm beriman ? jelasin ya brow..

  5. dan keadaanlah yang membentuk kita pada umumnya

  6. sofie_Ncop berkata:

    betul kata bang zoel Chaniago… postingannya berat amat bang…
    mao komentar ap yach….. jd bingung…
    no coment dech….
    good-good-good…….

  7. Supermance berkata:

    Jihad saya sederhana aja deh, shalat tepat lima waktu … 🙂

  8. Cah Angon berkata:

    Pernyataan dari sang penulis diakhir cerita ini bener2 membuat ane miris, tapi semuanya dikembalikan pada niat dan tujuan masing-masing mujaha(hi)dah dan perspektif yang menilainya!!!!semoga para muslimin diseluruh dunia bersatu pada membela saudaranya yang tertindas di Palestin!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: