“ Saya, Seorang Teman dan Keyakinan “

September 24, 2008

“Islam ini cuma satu , hanya banyak penafsiran, dan karena itu kita perlu diskusi, untuk mencari titik temu, untuk menjadikan Islam itu rahmatan bagi semua umat”

“Tapi ini sudah bukan diskusi lagi, ini sudah perdebatan tanpa ujung , dan elo mencoba menarik gw kepada keyakinan elo, bukan lagi mencari kebenaran melainkan mencari pembenaran”

“Berarti elo orang yang gak mau menerima kebenaran donk!!! Kalau Islam di amalkan dengan cara elo, kapan Islam bisa maju, selamanya Islam akan menjadi agama kampungan”

“Dalam beragama gw sih simple aja, gw berusaha sekuat mungkin melakukan apa yang Rasulullah dan para sahabat lakukan, dan gw beristighfar untuk apa yang Rasulullah saw dan para sahabatnya lakukan tetapi gw belum bisa lakukan , jadi gw menjalankan agama atas dasar keyakinan itu, bukan menurut otak dan nafsu gw, jadi percuma aja elo giring gw ke arah filsafat dan peng-angung-an otak, karena gw orang bego dan gak bakal sampai kesana”

Diatas merupakan percakapan singkat saya dengan seorang teman beberapa hari yang lalu, percakapan yang mungkin menjadi pembicaraan terakhir dengannya , karena sejak saat itu dirinya tidak lagi menghubungin saya, dan terkesan mencoba menghindari saya, walau mungkin masih suka mampir keblog ini.

Sejak awal berkenalan, dia begitu gencar mencoba menggiring saya ke arah logika dalam beragama, bahkan cenderung aga nyeleneh menurut saya, tapi saya tidak heran melihat gelagatnya, dia bukan orang pertama yang membawa paham itu ke hadapan saya, bahkan saya sudah cukup lelah menghadapi 3 dari 5 dosen agama di kampus yang cenderung berpikiran sama seperti teman saya tersebut, tidak heran memang , apalagi mereka semua merupakan lulusan universitas yang sama, jadi hal tersebut bukan barang baru untuk saya.

Saya hanya aga menyayangkan saja, teman saya ini secara kemampuan agamanya tergolong hebat, baca alqur’annya bagus bahkan dalam satu bulan bisa 6-8 kali khatam Alqur’an. Tapi sayang Jakarta dan pergaulan dengan orang-orang di “kampus itu” telah merubah pola pikirnya.

Kemarin di tengah “diskusi” saya dengannya, adzan ashar berkumandang, lantas saya ajak dirinya untuk sholat, tapi dirinya menolak dan berkata, “gw biasa sholat ashar jam 16.30”, dengan terkejut saya berkata, “Lantas kalau 5 menit lagi elo mati, berarti elo gak sholat donk”, dan dia menjawab,”Jangan suka mendramasitir, hakikat sholat itu kan mengigat Allah , bukan pada gerakannya”. Dengan keheranan saya berkata ”Kalau gitu berarti gak sholat juga gak papa donk yang penting kan kita ingat ma Allah” dan teman saya ini hanya tersenyum

Menyeramkan sekali pemahaman seperti itu , dimana kita menjalankan agama berdasarkan otak kita bukan lagi berdasarkan bagaimana dulu Rasulullah saw dan para sahabatnya mengamalkan agama. Pada hal sesungguhnya Allah swt menciptakan otak kita bukan untuk meng-otak-atik agama sehingga menjalankan agama sesuai nafsu kita, tetapi Allah swt memberi kita otak untuk berpikir, mana yang perintah Allah dan Rasul-Nya mana yang bukan perintah Allah dan Rasul-Nya. Setelah tahu maka kita berusaha menjalankan agama sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya kehendaki . bukan lagi berpikir apakah perintah itu sesuai dengan nafsu kita atau tidak. Apalagi memilih-milih dan berpikir apakah perintah Allah swt dan Rasul-Nya masih sesuai atau tidak dengan jaman sekarang, seakan-akan ingin berkata bahwa Allah swt dan Rasul-Nya tidak mengerti jaman. Nauzubillah semoga saya dan keturunan saya tidak pernah berpikir seperti itu.

Saya masih ingat ketika dosen agama saya menunjukan jarinya kearah saya, karena saya mati-matian menentang paham yang coba dia ajarkan bahwa semua agama itu sama padahal dia Dosen agama Islam,kalau semua agama sama kenapa di KTPnya agamanya islam dan dia sholat, kenapa dia tidak tulis saja agama apa gitu, berarti secara tidak langsung dia mengakui ada perbedaan dari setiap agama. Dosen saya sambil marah berkata“ Darimana kamu tahu Islam itu agama yang benar??” maka saya berkata, “Dari Allah swt melalui Rasulullah saw” , lantas dosen saya dengan wajah yang masih marah berkata, “Itu kan kata Rasulullah, kamu sendiri sudah membuktikannya belum bahwa Islam itu agama yang benar!!!” , Saya langsung terdiam, bukan karena tidak mau berdebat lebih jauh, melainkan saya sadar bahwa perdebatan ini memang tidak ada gunanya, karena kalau Rasulullah saw yang selama hidupnya baik sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul tidak pernah sekalipun berbohong dan ucapannya masih di ragukan oleh dosen saya yang S2 dan S3 itu , apalagi saya yang tidak ada seujung kuku bahkan seatomnya dari Rasulullah saw, pasti dan pasti mereka akan lebih tidak percaya lagi.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

” Azzura dan Cadar “

September 18, 2008

8 tahun yang lalu , cadar, siwak, janggut, baju gamiz dan sejenisnya merupakan sesuatu yang “haram” di keluarga saya, memakainya berarti harus siap dengan konsekwensi yang besar. Ketika untuk pertama kalinya saya mulai memanjangkan janggut maka Alm.nenek tercinta secara pribadi menemui saya, beliau dengan sedikit memaksa meminta saya memotong janggut , tidak bagus dan terlihat seperti aki-aki alasannya waktu itu, hati saya teramat sakit mendengarnya, karena itu berarti sudah begitu jauhnya agama keluar dari keluarga kami, sehingga mereka tidak tahu lagi mana yang sunah mana yang bukan, dengan lembut saya hanya berucap, bahwa Alm nenek saya boleh minta apa saja, asal jangan suruh saya memotong janggut saya, karena hal tersebut tidak akan pernah saya lakukan, saya ingin mati dengan membawa janggut saya , karena hanya janggut yang merupakan sunah Nabi yang tetap melekat dengan diri kita ketika mati.

Begitupun ketika pertengahan Oktober 2000, saat saya membawa dan memperkenalkan cadar kepada Sha ( adik saya tercinta ) dan pada tahun 2003 Sha mulai istiqomah mengenakannya, maka kembali tantangan datang bertubi-tubi, dari tetangga yang secara langsung datang kerumah dan protes kepada bunda karena merasa “terganggu” dan menuduh keluarga kami pengikut aliran sesat, pada hal kalau di pikir seharusnya lebih terganggu melihat para wanita muda yang memakai pakaian ketat dan terbuka ketimbang Sha yang memakai cadar. Belum lagi sindirian dan ejekan orang-orang di sekitar rumah karena ada “ninja” keluar di siang hari, karena pada tahun itu film ayat-ayat cinta belum keluar dan masih teramat asing orang mengenakan cadar.

Dulu pun bunda tidak pernah mau jalan keluar rumah dengan Sha andai dirinya memakai cadar, karena malu jadi tontonan orang-orang di jalan, dan terpaksa Sha mengganti cadar dengan sapu tangan, dan yang terparah dari semua itu adalah Ayah saya tidak mau menjadi wali nikah andai Sha tetap memakai cadar saat menikah, dan terpaksa Sha membuka cadarnya dengan syarat tidak ada satu pun lelaki “teman pengajian” yang di undang dan acaranya hanya akad saja bahkan Pak Rojulu yang rencananya akan memberikan bayan nikah harus batal, Sedih memang, jangan Tanya perasaan saya dan Sha saat itu, tapi kami sadar ada Allah tempat kami bergantung, dan kami teramat sadar ujian yang datang bukan karena Allah swt membenci kami tetapi karena Allah swt teramat sayang kepada kami, saya dan Sha menjadi begitu dekat satu dengan yang lainnya, setiap hari kami selalu bergantian membangunkan untuk sholat malam, sama-sama menangis dan berdoa agar Allah swt kekalkan hidayah pada diri kami, keluarga kami dan seluruh alam, agar Allah matikan kami semua dengan iman yang sempurna sebagaiman para Sahabat Nabi saw.

Baca entri selengkapnya »


” Pandangan Akhirat “

September 15, 2008

Agama adalah sebuah kesadaran seseorang untuk menjadi hamba dimata Tuhannya, oleh karena itu sudah selayaknya agama tumbuh dari sebuah kesadaran bukan atas suatu paksaan, sehingga akan melahirkan suatu perasaan, kita yang butuh atas agama , bukan agama yang butuh kita.

Lakukan semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan dalam agama dan banyak – banyak beristighfar untuk segala sesuatu yang belum bisa kita lakukan.

Kesadaran dalam beragama merupakan sesuatu yang penting yang harus di miliki setiap orang, kesadaran seperti inilah yang dahulu para sahabat Nabi miliki, sehingga di mata mereka tak ada beda emas dan tanah, kaya dan miskin , selama disana ada keridhaan Allah swt maka apapun akan mereka lakukan, karena mereka telah menjual harta dan diri mereka dengan keridhaan Allah swt.

Para Sahabat Nabi memandang dunia dengan pandangan akhirat, mereka 100% dengan ke relaan dan kesadaran bersedia hidup mereka di atur sepenuhnya oleh agama, kapan pun agama memerlukan mereka, maka mereka akan siap setiap saat mengorbankan harta dan diri mereka untuk agama.

Surga dan Neraka tampak jelas dalam kehidupan mereka , sehingga , diam dan bergeraknya mereka semata-mata hanya mengikuti perintah Allah swt dan Rasulnya, andai Rasulullah mengatakan kabah berwarna merah, maka mereka akan 100% ikut apa yang Rasulullah saw katakan tanpa berpikir apakah masuk akal mereka atau tidak. Karena pada hakekatnya hanya Rasulullah saw saja yang melihat dunia dan akhirat, sedangan kita semua adalah orang-orang yang buta, jadi kita semua akan selamat, selama kita berpegang dan mengikuti orang yang melihat. Orang buta tak akan pernah sampai kepada tujuannya mana kala yang membimbing mereka orang yang buta pula. Tapi sebaliknya mana kala orang yang membimbing adalah orang yang dapat melihat maka akan mudah bagi si buta untuk sampai ketempat tujuannya dengan selamat.

Hari ini kita disibukan dengan melihat kesalahan dan aib orang lain sampai lupa dengan keadaan diri sendiri. Orang apa bila melihat suatu kemungkaran maka yang terpikir adalah kesalahan orang lain maka secara rohani dia tidak akan naik derajatnya disisi Allah swt, tapi mana kala kita melihat suatu kemungkaran, lantas kita melihat kelemahan dan kekurangan yang ada di diri kita, sehingga timbul perasaan betapa lemahnya diri kita sehingga kemungkaran masih terjadi disekeliling kita dan kita bergerak untuk berdakwah dengan hikmah maka derajat orang seperti ini akan tinggi disisi Allah swt, kita bisa melihat apa yang terjadi dengan Rasulullah swt di Thaif, dimana Rasulullah mengalami cobaan yang begitu berat dalam berdakwah , karena bukan satu dua orang yang menentang melainkan seluruh penduduk Thaif menentang bahkan menyiksa Rasulullah saw dengan cara melempari batu kearah beliau, sampai-sampai penduduk langit bergemuruh, malaikat gunung meminta ijin kepada Allah swt untuk menghancurkan penduduk Thaif seakan tak rela melihat kekasihnya, Rasulullah saw di perlakukan seperti itu. Tapi apa yang Rasulullah saw buat atas mereka yang menentangnya. Rasulullah saw mengakat tangan berdoa, mengembalikan semua permasalah hidupnya kepada Allah swt, dengan doa yang menyayat hati, sepenuh jiwa dan raga, tanpa dendam, tanpa rasa benci, kejahatan di balas dengan sejuta kebaikan.

Hari ini agama sudah sangat jauh dari kehidupan kita, seakan agama suatu yang bersifat khayalan, yang sangat sulit untuk di jangkau apalagi untuk sekedar di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, semakin hari semakin berkurang kadar agama yang ada di diri kita, semakin mejauh dan berjarak sehingga sulit sekali hari ini melihat amalan agama hidup  dan wujud dalam kehidupan, pada hal mengwujudkan agama dalam kehidupan merupakan suatu keharusan dan merupakan hal terpenting yang harus di pikirkan setiap harinya. Kekurangan satu amal agama saja akan menyebabkan kesengsaraan yang berdampaktidak hanya didunia yang sementara melainkan akan membawa dampak kelak di kubur, masyar, mizan, sirat.

Mari, dengan bertepatan bulan suci ramadhan kita kembali memperbaiki kwalitas agama yang ada diri kita, dari hal terkecil bermula dari kembali menghapal doa-doa sehari-hari,kembali menyentuh dan membaca alquran, memperbaiki kwalitas sholat kita dan lain sebaginya, sehingga kapanpun ajal akan menjemput, kita selalu siap untuk menyambutnya.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

realylife , BigBaNG, Aristiono Nugroho , Mufti AM , achoey sang khilaf, Agus Taufiq Hidayat , irman , cenya95 , hanggadamai, Mbak Diah , Alex Abdillah , dsusetyo , sulthon, Abah Hasan , nurussadad , rhainy , dew , Frida, roe ,Muhammad Momon , arifrahmanlubis , Darkpuccino , martik