” Azzura dan Cadar “

8 tahun yang lalu , cadar, siwak, janggut, baju gamiz dan sejenisnya merupakan sesuatu yang “haram” di keluarga saya, memakainya berarti harus siap dengan konsekwensi yang besar. Ketika untuk pertama kalinya saya mulai memanjangkan janggut maka Alm.nenek tercinta secara pribadi menemui saya, beliau dengan sedikit memaksa meminta saya memotong janggut , tidak bagus dan terlihat seperti aki-aki alasannya waktu itu, hati saya teramat sakit mendengarnya, karena itu berarti sudah begitu jauhnya agama keluar dari keluarga kami, sehingga mereka tidak tahu lagi mana yang sunah mana yang bukan, dengan lembut saya hanya berucap, bahwa Alm nenek saya boleh minta apa saja, asal jangan suruh saya memotong janggut saya, karena hal tersebut tidak akan pernah saya lakukan, saya ingin mati dengan membawa janggut saya , karena hanya janggut yang merupakan sunah Nabi yang tetap melekat dengan diri kita ketika mati.

Begitupun ketika pertengahan Oktober 2000, saat saya membawa dan memperkenalkan cadar kepada Sha ( adik saya tercinta ) dan pada tahun 2003 Sha mulai istiqomah mengenakannya, maka kembali tantangan datang bertubi-tubi, dari tetangga yang secara langsung datang kerumah dan protes kepada bunda karena merasa “terganggu” dan menuduh keluarga kami pengikut aliran sesat, pada hal kalau di pikir seharusnya lebih terganggu melihat para wanita muda yang memakai pakaian ketat dan terbuka ketimbang Sha yang memakai cadar. Belum lagi sindirian dan ejekan orang-orang di sekitar rumah karena ada “ninja” keluar di siang hari, karena pada tahun itu film ayat-ayat cinta belum keluar dan masih teramat asing orang mengenakan cadar.

Dulu pun bunda tidak pernah mau jalan keluar rumah dengan Sha andai dirinya memakai cadar, karena malu jadi tontonan orang-orang di jalan, dan terpaksa Sha mengganti cadar dengan sapu tangan, dan yang terparah dari semua itu adalah Ayah saya tidak mau menjadi wali nikah andai Sha tetap memakai cadar saat menikah, dan terpaksa Sha membuka cadarnya dengan syarat tidak ada satu pun lelaki “teman pengajian” yang di undang dan acaranya hanya akad saja bahkan Pak Rojulu yang rencananya akan memberikan bayan nikah harus batal, Sedih memang, jangan Tanya perasaan saya dan Sha saat itu, tapi kami sadar ada Allah tempat kami bergantung, dan kami teramat sadar ujian yang datang bukan karena Allah swt membenci kami tetapi karena Allah swt teramat sayang kepada kami, saya dan Sha menjadi begitu dekat satu dengan yang lainnya, setiap hari kami selalu bergantian membangunkan untuk sholat malam, sama-sama menangis dan berdoa agar Allah swt kekalkan hidayah pada diri kami, keluarga kami dan seluruh alam, agar Allah matikan kami semua dengan iman yang sempurna sebagaiman para Sahabat Nabi saw.

Banyak hikmah yang saya dan Sha rasakan, dan dampaknya baru kami rasakan sekarang ini. Sekarang hal-hal tersebut ( cadar, siwak, janggut, baju gamiz dan sejenisnya ) bukan sesuatu yg asing lagi bagi keluarga kami, di dekat tempat wudhu rumah kami akan sangat mudah ditemukan siwak tersandar di tembok, bahkan Jagoan ( 10 Th ) hampir setiap berwudhu bersiwak terlebih dahulu, begitupun dengan kakak wanita saya,  baju gamiz pun menjadi sesuatu yang biasa di kenakan, Jagoan teramat bangga kalau mengenakannya pada hari jum’at ke sekolah, dan yang menakjubkan Azzura ( 3 th putri pertama Sha ) sudah minta di belikan cadar,  dan sering Azzura bermain keluar dengan mengenakannya, walau bukan suatu kewajiban dan tidak pernah kita paksakan, bahkan Aulia ( 1,5 th Putri kedua Sha) meminta hal yang sama seperti yang Azzura kenakan. Dan yang Ajib hal tersebut tidak lagi menjadi pertentangan di keluarga kami , bahkan kami semua tersenyum ketika melihat Azzura ( 3 Th ) dan Aulia ( 1,5 Th ) dengan tingkah anak-anaknya mengenakan cadar. “Kok kaya Setan“ ucap bunda sambil disambut tawa seluruh anggota keluarga yang lain ketika melihat Azzura mengenakan cadar.

Bahagia rasanya, perjuangan yang dulu saya dan Sha rintis sedikit demi sedikit sudah membuahkan hasil, walau kami paham kami masih teramat jauh dari apa yang Allah dan Rasul-Nya inginkan dan kami sangat berharap kedepannya agama benar-benar hidup di keluarga kami dan keluarga muslim lainnya di seluruh alam dengan sempurna amien.

Ya Allah jadikan rumah kami bercahaya sebagaimana rumah para Sahabat Nabi, dan jadikan keluarga kami sebagaimana keluarga mereka.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

Agus Taufiq Hidayat , achoey sang khilaf , tren di bandung , adikhresna , nurussadad, realylife , Wempi

Iklan

44 Responses to ” Azzura dan Cadar “

  1. herr berkata:

    assalamu’alaykum,,,

    subhanallah,, semoga keluarga antum senantiasa dilimpahkan keistiqomahan dalam melaksanakan sunnah Nabi-Nya…

    • zulhamzah berkata:

      alhamdulillah itu semua berkat kerisauan dan pengorbanan antum, Allah kuasa boleh berbuat apa saja yang ia kehendaki amin.

    • zulhamzah berkata:

      tolong doakan saya dan teman teman yang lain agar bisa mengamalkan agama dengan sempurna dan meningkatkan pengorbanan

  2. sayur asem berkata:

    sip, keep istiqamah Abi.. semoga selalu dapet yang terbaik dari-Nya, Amin.

  3. Subhanallah
    Perlu motivasi dan kekuatan 🙂

  4. sulthon berkata:

    btw tuh cadar yg beli di ijtima ya, hehehe, gimana kabar nt lan?

  5. nurussadad berkata:

    Amin…
    Wew, temen pas di SMA, pas belum terbiasa pake cadar, Dirinya memakai sapu tangan..

  6. afwan auliyar berkata:

    semoga allah slalu melimpahkan hidayah kepada bangsa ini umumnya 🙂

    memang utk menumbhkan itu semua perlu motivasi & sabar

  7. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    Tinggal “menyempurnakan” saja…. 😉

  8. Iko berkata:

    Subhanallah…..

    Gw jadi malu sama diri gw sendiri, om… lihat Azzura yang seperti sekarang ini.

  9. afin berkata:

    barakallah, landy, semoga sampeyan dan adik diberi berkah
    saya mengerti apa dasar penggunaan cadar itu, tapi saya juga mengerti ketakutan orang tua seperti yang kamu bilang.
    dua jempol untuk perjuangan kalian hingga gamiz dan cadar tak lagi jadi something yang asing
    saya sendiri masih menggunakan jilbab biasa, bercelana jeans, dan ndableg banget for moslem women.
    hehehehe (ketawa…gimana sih?!)

    see ya landy, salam untuk sha…

  10. ina berkata:

    berkaca-kaca melihat fotonya azzura..

    Subhanallah, ingin rasanya berjuang seperti apa yang dialami Ka landy dan Mba Sha.
    Na saat ini baru mulai dengan menggunakan gamis dan jilbab yang agak gedean dikit dari yang biasanya. Siwak pun juga baru mulai merintisnya (tp suka kesulitan utk stok.. masih nitip temen utk membelikan siwak.. apa Ka landy tau dimana toko yg menjual siwak?)
    Ingin melangkah lebih lanjut untuk bercadar. Semoga azzura menjadi penyemangat bagiku ^^

  11. Mbak Diah berkata:

    Assalamualaykum wr.wb

    Selamat ya untuk adik Landy ( Sha ), semoga dimudahkan dalam menjalankannya. Mbak sendiri, belum mampu untuk melangkah seperti Sha, mohon doanya yah…

    wassalam,
    mbak diah

  12. bayu200687 berkata:

    senang sekali membaca postingan ini…

  13. faqir ilaLlah berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Izin save artikel yg ad d blog ini Bro. Jzk.

  14. amrullah bin m.ischak berkata:

    masyaAlloh…..

  15. abu abdillah berkata:

    Assalamu’alaykum…
    subhanallah… barakallahufiikum…
    hati ini berdesir-desir membaca kisah antum sekalian…
    semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada keluarga antum dan ana…

    ^_^

  16. Abdurohman berkata:

    Ya Allah, brikanlah hidayah ke kluarga ku untuk mengamalkan sunah dngn ihlas

  17. wlwpun udjian,tjobaan & fitnah djang adik terima berbahagialah karna tdk semua muslimah Alloh kuatkan imanX seperti iman adik> do’akan pula keluarga kami.

  18. 'N berkata:

    Subhaanallah… doakaan ana juga yah… Insya Alloh setelah menikah nanti ana bisa mewujudkan itu dibulan Mei 2009 ini…….

  19. sandhi berkata:

    Ternyata NU mewajibkan cadar, berikut isi fatwanya :

    MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
    Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933
    Tentang
    HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN
    TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi – penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.

    Keterangan :

    (a) Kitab Maraqhil-Falah Syarh Nurul-Idlah (yang membolehkan):

    (وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إلاَّ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا). بَاطِنَهُمَا وَظَاهِرَهُمَا فِيْ اْلأَصَحِّ وَهُوَ الْمُخْتَارُ. وَ ذِرَاعُ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ فِيْ ظَاهِرِ الرِّوَايَةِ وَهِيَ اْلأَصَحُّ. وَعَنْ أَبِيْ حَنِيْفَةَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ (وَ) إِلاَّ (قَدَمَيْهَا) فِيْ أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ بَاطِنِهِمَا وَظَاهِرِهِمَا الْعُمُوْمِ لِضَرُوْرَةِ لَيْسَا مِنَ الْعَوْرَةِ فَشَعْرُ الْحُرَّةِ حَتىَّ الْمُسْتَرْسَلِ عَوْرَةٌ فِيْ اْلأَصَحِّ وَعَلَيْهِ الْفَتَوَي

    Seluruh anggota badan wanita merdeka itu aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, baik bagian dalam maupun luarnya, menurut pendapat yang tersahih dan dipilih. Demikian pula lengannya termasuk aurat. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang tidak menganggap lengan tersebut sebagai aurat. Menurut salah satu riwayat yang sahih, kedua telapak kaki wanita itu tidak termasuk aurat baik bagian dalam maupun bagian luarnya. Sedangkan rambutnya sampai bagian yang menjurai sekalipun, termasuk aurat, demikian fatwa atasnya.

    (b) Kitab Bajuri Hasyiah Fatchul-Qarib Jilid. II Bab Nikah (yang mengharamkan) :

    (قَوْلُهُ إِلىَ أَجْنَـبِّيَةِ) أَي إِلىَ شَيْءٍ مِنْ اِمْرَأَةٍ أَجْنَـبِّيَّةٍ أَي غَيْرِ مَحْرَمَةٍ وَلَوْ أَمَةً وَشَمِلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا وَلَوْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ أَوْ خَوْفٍ فِتْنَةٍ عَلىَ الصَّحِيْحِ كَمَا فِيْ الْمِنْحَاجِ وَغَيْرِهِ إِلىَ أَنْ قَالَ وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ” وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا” وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَالْمُعْتَمَدُ اْلأَوَّلُ. وَلاَ بَأْسَ بِتَقْلِيْدِ الْـثَانِيْ لاَسِيَّمَا فِيْ هَذَا الزَّمَانِ الَّذِيْ كَثُرَ فِيْهِ خُوْرُجُ النِّسَاءِ فِيْ الطُّرُقِ وَاْلأَسْوَاقِ وَشَمِلَ ذَلِكَ أَيْضًا شَعْرَهَا وَظَفْرَهَا.

    (PENDAPAT PERTAMA) (Perkataannya atas yang bukan mahram / asing) yakni, pada segala sesuatu pada diri wanita yang bukan mahramnya walaupun budak termasuk wajah dan kedua telapak tangannya, maka haram melihat semua itu walaupun tidak disertai syahwat ataupun kekhawatiran timbulnya adanya fitnah sesuai pendapat yang sahih sebagaimana yang tertera dalam kitab al-Minhaj dan lainnya. PENDAPAT LAIN (KEDUA) menyatakan atau dikatakan (qila) tidak haram sesuai dengan firman Allah “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya” (QS.An-Nuur : 31).
    PENDAPAT PERTAMA (yang mengharamkan) LEBIH SAHIH, dan tidak perlu mengikuti pendapat kedua (yang tidak mengharamkan) terutama pada masa kita sekarang ini di mana banyak wanita keluar di jalan-jalan dan pasar-pasar. Keharaman ini juga mencakup rambut dan kuku.

    Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), h.123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007

    Catatan : Istilah “qila” ( = dikatakan) dinyatakan dengan bentuk kalimat pasif biasa digunakan oleh para ulama ahli hadits untuk menunjukkan bahwa riwayat dan pendapat itu lemah.

  20. ummu aisyah hammam berkata:

    subhanalloh … semoga Alloh kuatkan istiqomah pada kita yg berusaha hidup diatas sunnah.

  21. Vby berkata:

    Kisah nt,kurg lbh kyk ana,tp alhamdulillah pa2&adek dh mau pke gamiz wlp bru 5wkt k msjd.ya ALLAH trnkn hdyh sluruh alam ila yaumil qiamah.Amin

  22. moh.utsman berkata:

    Mohon doanya untuk keluarga kami…. senang sekali bertemu dengan org-org soleh… jazakalloh..

  23. Aisyah ILyas berkata:

    subahanaAllah..ketika qu baca kisahnya,air mata ku tak tertahan. jd tambah yakin untuk memutuskan memakai cadar apalagi liat azzura kecil yang memakai..

  24. sunflo berkata:

    alhamdulillaah, setelah melalui perjuangan bertahun-tahun, akhirnya keluarga kita menerima syiar2 islam yang dianggap asing oleh kebanyakan manusia saat ini. Beruntunglah para ghuraba…

  25. jungle berkata:

    sungguh mulia perjalanan hidup antum.
    tapi menurut ane pake cadar tu ga wajib, yang penting aurat tertutup, karena bisa juga jadi fitnah apalagi hari gini banyak terorist..
    wallahu a’lam…

  26. Abu Annisa berkata:

    apa yang terjadi pada keluarga anda, insya Allah akan menjadi sebuah contoh yang baik bagi keluarga saya. Semoga Allah selalu melindungi anda dan keluarga.

  27. arsant berkata:

    subhanalloh…. perjuangan antum sungguh berat … saya berharap bs sprt antum nantinya… memang kl liat masyarakat kita masih awam dengan yg spt antum sebutkan ( sunnah rosul ) apalagi kl d daerah..

  28. izul albantani berkata:

    subhanallah,, barokallohufikum akh,,
    mudah2an antum G keberatan klo kisah nyata perjuangan antum ane share ma temen2 ana d FB,, smoga saja bsa mnjadi IBROH dan motivasi,,,
    syukron,,
    dan afwan ana lancang udah copy smuanya tnpa mnunggu izin antum,,afwan jiddan..mohon k ikhlasannya,, mudh2n allah jdikan asbab hidayah,,, ^__^ ikhlasin y kang,,,hehe

  29. The Reborned God berkata:

    assalamualaikum
    klo ada yang menentang ukhti untuk istiqomah di jalan Allah,langsung ajak perang aja
    nti saya berdiri di garis depan utk membunuh mreka.

  30. Ridwan Akbar berkata:

    terlalu berlebihan jika wajah dan telapak tangan wanita itu adalah aurat dan yang mengatakan wajibnya bercadar berarti telah mengharamkan yang halal dan itu sungguh dosa besar! Apabila dilihat dari salah satu Dalil yaitu;
    “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
    mereka.” (TQS al-Ahzâb [33]: 59)
    Ayat tersebut dilihat dari sisi manapun sama sekali tidak menunjukkan kepada (kewajiban) menutup wajah, baik secara tekstual (manthûq) maupun secara kontekstual (mafhûm). Di dalamnya tidak terdapat satu lafazh pun, baik secara lepas maupun integral di dalam kalimat, yang menunjukkan kewajiban menutup wajah, berdasarkan asumsi sahihnya sabab an-nuzûl. Ayat tersebut mengatakan “yudnîna ‘alayhinna min jalâbîbihinna”, maknanya adalah hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Kata min dalam ayat ini bukan untuk menunjukkan sebagian (li at-tab‘îdh), melainkan untuk menunjukkan penjelasan (li al-bayân), yakni “yurkhîna ‘alayhinna jalâbîbihinna (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka)”. Arti kata adnâ as-satr adalah arkhâhu (mengulurkannya hingga ke bawah). Adnâ ats-tsawb (menurunkan pakaian) maknanya adalah arkhâhu (mengulurkan pakaian itu sampai ke bawah). Dan makna yudnîna adalah yurkhîna (mengulurkan sampai ke bawah).

    pendapat yang dilontarkan oleh sebagian mujtahid bahwa, cadar disyariatkan kepada wanita karena adanya kekhawatiran akan munculnya fitnah. Mereka menyatakan bahwa wanita dilarang menampakkan wajahnya di tengah-tengah kaum pria bukan karena wajah itu aurat, tetapi karena kekhawatiran akan muncul fitnah. Pendapat semacam ini batil ditinjau dari berbagai sisi. Pertama, tidak ada nash syara’ menyatakan pengharaman menampakkan wajah disebabkan adanya kekhawatiran akan muncul fitnah, baik itu dalam al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, ataupun ‘illat syar‘iyyah yang masalah ini dapat di-qiyâs-kan (dianalogikan) kepadanya. Karena itu, pendapat secara syar’i tidak ada nilainya dan tidak bisa dinilai sebagai hukum syara’. Sebab, hukum syara’ adalah seruan asy-Syâri‘ (Sang Pembuat Hukum). Sementara pengharaman untuk menampakkan wajah karena kekhawatiran akan muncul fitnah tidak dinyatakan di dalam seruan asy-Syâri’. Jika telah diketahui bahwa dalil-dalil syariah telah datang dalam bentuk yang betul-betul bertolak belakang dengan pendapat tersebut. Ayat-ayat al-Quran dan hadits – hadits Rasul SAW membolehkan secara mutlak untuk menampakkan wajah dan kedua telapak tangan dan tidak membatasinya dengan sesuatupun. Nash-nash tersebut juga tidak mengkhususkan satu kondisi tertentu. Maka pengharaman menampakkan wajah dan mewajibkan untuk menutupinya, merupakan pengharaman atas apa yang telah dihalalkan oleh Allah SWT, dan mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Rabb semesta alam. Dengan kata lain, pendapat yang mengharamkan menampakkan wajah dan mewajibkan untuk menutupnya, selain tidak bisa dinilai sebagai hukum syara’, hal itu juga berarti membatalkan hukum-hukum syara’ yang telah ditetapkan dengan pernyataan nash secara gamblang.
    Kedua, sesungguhnya menjadikan kekhawatiran akan munculnya fitnah sebagai ‘illat pengharaman menampakkan wajah dan mewajibkan menutupinya, tidak terdapat nash syar’i yang menyatakannya, baik secara jelas (sharâhatan), melalui penunjukan (dilâlatan), lewat proses penggalian (istinbâthan), maupun melalui analogi (qiyâsan). Karenanya ’illat tersebut (berupa kekhawatiran akan munculnya fitnah) bukan merupakan ‘illat syar‘iyyah, akan tetapi merupakan ’illat aqliyah (’illat yang bersumber dari akal). Padahal, ‘illat ‘aqliyyah tidak ada nilainya di dalam hukum syara’. ’Illat yang diakui di dalam hukum syara’ hanyalah ‘illat syar‘iyyah, bukan yang lain. Walhasil, kekhawatiran akan munculnya fitnah tidak ada bobotnya dalam pensyariatan haramnya menampakkan wajah dan wajibnya menutupinya, karena tidak dinyatakan di dalam syara’.
    Ketiga, bahwa kaidah “al-wasîlah ilâ al-harâm muharramah (sarana yang dapat mengantarkan kepada sesuatu yang haram, hukumnya adalah haram) tidak bisa diterapkan atas pengharaman menampakkan wajah dengan alasan khawatir akan terjadi fitnah. Sebab, kaidah ini mengharuskan terpenuhinya dua hal: pertama, sarana yangdimaksud (minimal) berdasarkan dugaan kuat akan mengantarkan kepada sesuatu yang haram. Kedua, keharaman yang diakibatkan oleh sarana itu harus ada nash yang menyatakan keharamannya dan bukan sesuatu nyang diharamkan oleh akal. Kedua hal tersebut tidak terdapat dalam topik haramnya menampakkan wajah karena kekhawatiran akan munculnya fitnah. Atas dasar ini, masalah haramnya menampakkan wajah karena khawatir akan muncul fitnah tidak sesuai dengan kaedah pengharaman sesuatu yang menjadi wasilah yang mengantarkan kepada suatu keharaman –dengan asumsi bahwa fitnah itu secara syar’i haram atas orang yang terfitnah–. Karena menurut dugaan kuat menampakkan wajah itu tidak menyebabkan terjadinya fitnah. Apalagi kekhawatiran munculnya fitnah itu tidak terdapat satu nash pun yang menyatakannya sebagai sesuatu yang haram. Bahkan, syara’ (dalam konteks ini) tidak mengharamkan fitnah itu sendiri atas orang yang membuat fitnah terhadap orang-orang (dalam hal ini, wanita yang
    menampakkan wajahnya, pen). Syara’ mengharamkan fitnah itu atas orang yang memandang wanita dengan pandangan yang akan menimbulkan fitnah bagi dirinya. Sebaliknya syara’ tidak mengharamkan hal itu atas orang yang dipandang. Imam al-Bukhârî telah meriwayatkan dari Abdullâh ibn ’Abbâs RA, ia berkata: “Suatu ketika, al-Fadhl ibn ‘Abbâs membonceng Nabi SAW, lalu datang seorang wanita dari Khats‘am. Al-Fadhl lantas memandang wanita itu dan wanita itu pun memandangnya. Maka Rasulullah memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain.” Yakni Rasulullah SAW memalingkan wajah al-Fadhl dari memandang wanita itu. Hal itu sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam riwayat yang lain: “Maka Rasulullah SAW memegang al-Fadhl dan memalingkan wajahnya ke arah yang lain.” Kisah ini diriwayatkan oleh ‘Alî ibn Abî Thâlib RA dan ia menambahkan:
    “Al-‘Abbâs RA kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, mengapa engkau memalingkan leher sepupumu?” Rasulullah SAW menjawab, “Karena aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan setan.” Dari hadits terserbut jelaslah bahwa Rasulullah SAW memalingkan wajah al-Fadhl dari memandang wanita dari Bani Khats’am itu. Sebaliknya, Rasul SAW tidak memerintahkan wanita itu agar menutupi wajahnya, padahal wajah itu jelas tampak bagi beliau. Seandainya fitnah itu diharamkan atas orang yang menjadi asal fitnah, maka Rasulullah SAW pasti telah memerintahkan wanita dari bani Khats’am itu untuk menutupi wajahnya setelah terjadinya pandangan al-Fadhl terhadapnya dengan pandangan yang menyebabkan fitnah. Namun, beliau tidak menyuruh wanita dari bani Khats’am itu untuk menutupi wajahnya. Sebaliknya Beliau malah memalingkan wajah Fadhl. Hal itu menunjukkan bahwa pengharaman tersebut ditujukan
    bagi orang yang memandang (pria), bukan bagi orang yang dipandang (wanita). Atas dasar ini, pengharaman munculnya fitnah karena (memandang) wanita, sebetulnya tidak terdapat satu nash pun yang mengharamkannya atas wanita yang menimbulkan fitnah. Bahkan, terdapat nash yang justru menunjukkan tidak adanya pengharaman fitnah tersebut atas wanita, sehingga apa yang dapat menimbulkan fitnah itu tidaklah haram. Hanya saja, negara –sebagai bagian dari aktivitas ri’ayah asy-syu’un– boleh menjauhkan seseorang tertentu dari pandangan orangorang yang terfitnah karena memandang seseorang itu. Hal itu sebagai upaya untuk mewujudkan penghalang antara seseorang yang dapat menyebabkan terjadinya fitnah dengan masyarakat jika fitnah yang muncul karena seseorang itu menimpa masyarakat secara umum. Aktivitas itu sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah ‘Umar ibn al-Khaththâb terhadap Nashr ibn Hajjaj. Yaitu ketika Umar mengasingkannya ke Bashrah karena banyak wanita terfitnah (tergoda) oleh ketampanannya. Hal semacam itu bersifat umum bisa terjadi baik pada pria maupun wanita. Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa haram bagi wanita menampakkan wajah karena khawatir akan terjadi fitnah. Karena hal itu tidak tercakup dalam (sesuai dengan) kaidah al-washîlah ilâ al-harâm muharramah (sarana yang dapat mengantarkan pada suatu keharaman maka hukumnya adalah haram).

    • Sunandika berkata:

      Kalau dilihat dalam Q.S. Al-Ahzab : 59, dalam Quran yang ada terjemahannya, pada kata “jalabibihinna” (jilbab2 mereka) ada catatan kakinya. Catatan kaki tersebut adalah :
      Jilbab adalah sejenis pakaian kurung yang dapat menutupi KEPALA, WAJAH, dan DADA.
      Kira2, jilbab menurut kita apa ya…???

    • Sunandika berkata:

      Kalau dilihat dalam Q.S. Al-Ahzab : 59, dalam Quran yang ada terjemahannya, pada kata “jalabibihinna” (jilbab2 mereka) ada catatan kakinya. Catatan kaki tersebut adalah :
      Jilbab adalah sejenis pakaian kurung yang dapat menutupi KEPALA, WAJAH, dan DADA.
      Dan kalaupun memang membuka wajah itu tidak ada madharatnya, pastilah bila TIDAK ADA FITNAH.
      Zaman sekarang adalah zaman yang penuh fitnah. Jadi, wanita yang memakai jilbab, dan terbuka wajahnya yang lebih sering terkena fitnah.
      BERHATI-HATILAH DAN WASPADALAH-WASPADALAH….!!!!

  31. mantan pembunuh berkata:

    @ Ridwan Akbar,

    copas dari mana? Pendapat ulama tentang kebaikan cadar kok dibilang pendapat bathil? Keluarga terdekat mu sebagian besar masih berpakaian tapi telanjang ya?

    • manusia bodoh berkata:

      Karena bagi ustadz ridwan, laki2 takkan tergoda dengan muka wanita karena bagi ustadz ridwan muka mpok nori (maaf…) dengan luna maya sama saja hehehe…

      Kalo mpok nori pake tanktop dan rok mini ketat terus jalannya goal geol baru bisa jadi fitnah buat ustadz ridwan hehehe…(maaf banget ya mpok…semoga ALLAH merahmatimu)

      Afwan ya buat semuanya hehehe…

  32. Ade Asyfa berkata:

    Assalamualykum, smga rahmat Allah dan hidayanya kita semua dapat istiqamah dlam ujian ini, termasuk pakayan yang kita pakai, ukhti doa kan keistiqomahan kami,pakaiyan ini diamalkan dan motivasi perbaikan iman, kami, zakakaallah kasiroh, mohon kirim emailnya ana mau silaturhim lebih jauh,

  33. humairo berkata:

    ustadz Rojulu adalah teman baik suami saya. Beberapa waktu lalu kita sempat ‘reuni’ saat acara zord masturoh di Bengkulu. Sampaikan salam saya buat ahl Rojulu, juga kak Ayu (satu jemaah waktu itu).
    Salam buat sha’ dan semua keluarga, salam ukhuwah..

  34. fit berkata:

    subhanallah saya berharap bisa teguh pendirian juga untuk menjalankan apa yang semestinya

  35. aji suro berkata:

    assalamu alaikum, izin save ya akhi..

  36. vie_ z berkata:

    subhanallah…..sy pengen bnget pny imam yg bs mbwa q ke jln dakwah biar sy pny kekuatan tuk mem-burqo-i diri & ht.
    wlpun skrg lom di pantaskan ma Allah mohon tambah do’anya ya akhi/ukhti,,,salam ukhuwah

  37. domtheoos berkata:

    cerita yang inspiratif. aku selau respect kepada perempuan yang menggunakan cadar 🙂

    Selai

  38. Niezha berkata:

    masya Allah cerita yg menyentuh. mohon doanya ana baru berhijrah menggunakan cadar. semoga di kampus di perbolehkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: