” Detik Terakhir “

Tiada kebahagiaan tertinggi bagi seorang hamba manakala diakhir hanyatnya hanya nama-Nya yang terakhir terucap,  ketika kesadaran sudah tak berbatas, ketika iblis dan bala tentaranya dengan jutaan rayuan ingin memalingkan rasa cinta itu tetapi hati dan pikiran tak bergeming, dan hanya satu nama yang selalu ada di hati dan pikiran, Allah swt, Tuhan pengenggam setiap jiwa, Raja di raja, dimana setiap kekuasaan hanya ada di tangan-Nya.

Sakaratul maut adalah puncak sekaligus ujian terakhir untuk membuktikan siapa sesungguhnya yang di cintai, Allah swt atau makhluk-Nya. Saat sakaratul maut adalah saat perang  terakhir dimana Iblis mengerahkan ribuan jin untuk menggoyahkan keimanan. Dan tak sedikit orang yang gagal pada saat itu, hanya orang-orang yang di kasihi-Nya lah dengan mudah mengucapkan nama-Nya. Rasa menyatu dengan-Nya yang menggerakkan bibir dan hati seorang hamba melebur menjadi satu kesatuan dengan keagungan-Nya, sehingga pada puncaknya, saat Ruh keluar dari jasad hanya nama-Nya lah yang  terucap, ALLAH….

Tahun ini adalah tahun ke 4 almarhumah nenek saya kembali kepada-Nya. Banyak hal hebat yang almarhumah tinggalkan untuk kami keturunannya. Bukan harta benda yang beliau tinggalkan , melainkan “pertunjukan” terakhir yang sangat mengesan kan , yang takan bosan di ceritakan dari masa kemasa untuk sekedar di jadikan pelajaran bagi kami yang pastinya juga akan mengikuti “jejaknya”. Kembali kepada Sang Pencipta, Allah swt.

Setelah lebih dari seminggu di rawat di salah satu rumah sakit di daerah Jakarta Selatan, akhirnya pihak rumah sakit mengangkat tangan tanda menyerah dan tak sanggup untuk mengobati kedua ginjal nenek saya yang sudah tidak berfungsi baik, dan cuci darah menjadi alternative terakhir, walau kami sadar hal tersebut tidak bisa mendatang kesembuhan padanya tapi setidaknya meringankan kondisinya.

“U’wo ( nenek ) mau pulang aja, mau dirumah aja, gak mau pake selang lagi pintanya berkali-kali, saya tak pernah berani melihat kondisinya di rumah sakit, karena seluruh tubuhnya sudah berselang, alat kemaluanya, tangannya, hidungnya, bahkan untuk makan saja bukan lagi dari mulut melainkan dari hidung yang sudah di taruh selang.

Hanya 3 hari almarhumah dapat bertahan untuk tetap bersama kami di rumah sekembalinya dari rumah sakit dan untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan panjang  bertemu Sang Kekasih, Allah swt. Almarhumah pergi dengan sangat tenang, setelah sebelumnya dengan di bantu paman dan bunda saya  mengucapkan istiqhfar, dan di lanjutkan dengan mengucap Allah…..yang begitu lirih.

Ruh-nya pergi menghadap sang Pencipta, diiringian dzikir dan bacaan yasin anak dan cucunya. Pemandangan yang baru pertama kali terjadi di keluaga besar kami. Menyaksikan detik-detik perjuangan yang sangat mencekam, beberapa kali nenek saya hampir gagal, karena seperti biasa Iblis dengan bala tentaranya berusaha menampilkan wujud sebagaimana orang-orang kita cinta agar kalimat yang terakhir di ucapkan bukan lagi Allah melainkan orang-orang tersebut.

“Umi..umi….” ucap nenek saya, karena dia melihat sosok almarhumah ibunya berada diatara kami, lantas bunda saya berkata , “lawan Mak, itu bukan umi itu setan, nyebut Mak nyebut”.

Tidak ada satupun dari kami ( 25 orang ) yang berada dikamar itu berhenti membacakan alquran dan dzikir, kami tak ingin almarhumah kalah  dalam pertarungan terakhirnya, dan akhirnya, pertarungan itu dimenangkan oleh nenek kami, Almarhumah pergi begitu tenang layaknya sang juara, dengan sebuah senyuman. Andai setiap kematian seindah kematiannya.

Semasa hidupnya almarhumah hanyalah wanita biasa, lahir di lingkungan pesantren, surat Al-Khafi menjadi bacaan favoritnya, dan itupun yang selalu di pesankan kepada kami semasa hidupnya. Huruf gundul dan kitab kuning menjadi santapannya. Silaturahmi menjadi keseharian baginya. Sering kali dirinya mengumpulkan kami tanpa ada hal yang penting, dirinya selalu ingin berada di tengah anak dan cucunya. Walau terkadang kami suka marah-marah, “kirain ada apa disuruh kumpul” begitu kurang lebih gumam kami waktu itu, tapi sekarang silaturahmi merupakan hal yang sulit sekali terwujud diantara kami, hanya setahun sekali, itu pun saat lebaran kami berkumpul , padahal dulu ketika almarhumah masih hidup, hampir setiap minggu kami atau dirinya yang saling berkunjung.

Bulan ini tepat 4 tahun dirinya meninggalkan kami, dan sampai detik ini masih ada sesuatu yang hangat meluncur di pipi kami ketika harus kembali mengenang sosoknya. Almarhumah selalu tersenyum ketika melihat tingkah saya yang seperti anak kecil dan almahumah juga paham kesukaan setiap cucunya. Banyak kenangan indah bersamanya. Dulu rumahnya sering kali menjadi tempat kami lari dari pesoalan, kalau kami ribut dengan orang tua kami, atau ketika kami butuh perlindungan maka rumahnya sering kami jadikan pesinggahan.

Salah satu yang merubah pandangan saya tentang wanita adalah nenek saya, Di tengah kerusakan yang terjadi di kalangan wanita seakan sosok-nya memberikan motivasi tersendiri di diri saya, Nenek saya adalah sosok wanita yang kuat, ia memiliki karisma tersendiri di tengah-tengah kami.

“U’wo orang baik, pasti Allah jaga dia”, ucap paman saya ketika melihat saya terguncang atas kematiannya. Ya nenek saya orang baik, bahkan teramat baik, saya kangen dengan kiriman kue-kue manisnya, saya kangen untuk pergi ke pasar kebayoran lama yang becek sekedar membeli sirih dan bako untuk dirinya.

Pasti Allah swt jaga nenek saya sekarang , karena saya teramat yakin dengan hadist Nabi saw yang kurang lebih berbunyi “ Barang siapa yang di akhir hayatnya dapat mengucap kalimat Thayibah maka di jamin masuk surga “.

Ya sudah, saya mau ke kuburan almarhumah dulu , selamat hari kamis , semoga Allah swt selalu menjaga kita di setiap harinya.

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

sultan , nurussadad , tren di bandung , Mufti AM , Alex , Abdullah , tren di bandung , Cabe Rawit , adikhresna

Iklan

9 Responses to ” Detik Terakhir “

  1. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    Allahummaghfirlaha warhamha wa’a’afiha wa’fu’anha

  2. sultan berkata:

    Allahummaghfirlaha warhamha wa’a’afiha wa’fu’anha

  3. ulan berkata:

    *nggak bisa ngomong*

  4. Cabe Rawit berkata:

    Ikut berduka cita bang… seferti yang laen, ane turut mendoakan almarhumah semoga diterima sisi Allah SWT.

  5. ashardi berkata:

    “lawan Mak, itu bukan umi itu setan, nyebut Mak nyebut”.

    ini bagian yang paling penting 🙂

  6. Pakde berkata:

    Semoga…!! Thanks sudah mengingatkan

  7. parvian berkata:

    semua yang datang dariNya pasti kembali kepadaNya

  8. nurussadad berkata:

    Yupp, di Rumah Sakit memang membosankan…
    kemarin berkesempatan Ngincipin Rumah Sakit…
    Pingin2 cepet2 Balik….

    But Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un..

  9. ina berkata:

    Saya pernah merasakan merawat pasien seorang Nenek yang terpasang selang ditiap lubang yang terbuka (terkecuali telinga)..
    Rasanya disitu Allah memperlihatkan saya betapa lemahnya manusia. Dulunya masih segar bugar sehat jasmani.. lalu dengan seketika Allah memberikan penyakit.. hilang segala apa yg pernah dibanggakan..

    Semoga almarhumah mendapatkan cahaya dari kebaikan2 yang pernah dilakukan. Amin ya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: