“ Apa di Surga Ada Orang yang Bertatto?”

November 29, 2008

200450318-001

Kenapa Allah swt hadirkan gelap! Agar kita tahu bahwa dengan terang segalanya akan terlihat jelas, lantas kenapa Allah swt hadirkan masa lalu yang suram dalam hidup kita ! agar kita sadar bahwa hidayah itu suatu yang mahal, yang Allah swt berikan kepada siapa saja yang mau membuka hati untuk perkara hidayah. Karena setiap orang, ya setiap orang tanpa kecuali, lepas apakah dia seorang yang memiliki kepahaman agama yang tinggi atau hanya seorang ahli maksiat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh hidayah, tinggal seberapa jauh kita mau meraih dan mempertahankan hidayah tersebut.

Beberapa waktu yang lalu , Allah swt betul-betul telah “menampar” saya dalam artian yang sesungguhnya. Melalui kepergian seorang sahabat, Allah seakan ingin menunjukan bahwa hidayah dan surga bukan milik sekelompok orang, melainkan milik setiap orang yang dengan hati hancur datang kedepan pintu-Nya, berharap memperoleh kasih-Nya.

Betapa adilnya Allah dan betapa beruntungnya sahabat saya, karena Allah telah pilih dia kembali kepada-Nya dalam keadaan memperbaiki diri dirumah-Nya dalam balutan malam yang tenang, yang hanya Allah dan malaikat-Nya yang mengetahui bagaimana perjuangan almarhum sahabat saya meninggal dunia dalam pertobatannya.

Ketika pertama kali bertemu dengannya, saya memandang hanya dengan sebelah mata, iblis telah menguasai hati saya , sehingga perasaan lebih baik darinya yang waktu itu muncul, tapi keinginan untuk menjadi lebih baik yang datang dari hatinya menghantarkan dia pada pintu hidayah-Nya.

Pagi itu seperti bulan-bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman mengadakan program perbaikan diri dengan cara beritikaf dimasjid sekitar tempat tinggal untuk belajar dakwah. Dan seperti biasa pula setiap pagi diadakan taklim pagi, dimana dibacakan kisah-kisah para sahabat Nabi dan perbaikan cara membaca alqur’an.

Selama mejalani program taklim, mata saya seakan sulit diajak kompromi, begitu berat untuk di buka, bukan karena malam sebelumnya saya banyak melakukan sholat malam, melainkan begitu banyaknya dosa yang ada di diri saya sehingga dalam majelis ilmu saya masih juga mengantuk. Seperti biasa setiap taklim pagi maka di buat jaulah taklim ( berkeliling di sekitar lingkungan masjid untuk mengajak orang duduk dalam majelis taklim ). Saya dan seorang teman mendapatkan tugas jaulah taklim. Dan garis nasib menghantarkan saya bertemu dengan sekelompok pemuda yang satu diantaranya menjadi sahabat saya. Beberapa orang dari pemuda itu mencoba pergi ketika melihat saya dan teman saya mendekat , mungkin mereka fikir kami kelompok Islam garis keras yang mencoba mengganggu keasikan mereka, tinggal seorang pemuda yang tetap berada di situ. Kami mencoba memperkenalkan diri dan menerangkan maksud tujuan kami datang menemui dirinya serta kami mengajak beliau sama-sama ke masjid untuk duduk dalam majelis taklim yang baru saja di mulai. Pemuda itu hanya diam, entah apa yang ada di benaknya, apakah dia berpikir saya dan teman saya hanyalah sekelompok orang yang mengganggu kesenangan dirinya atau entahlah mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

Saya mulai aga kesal karena dirinya seperti tiada reaksi sama sekali, dia hanya tertunduk tanpa berani beradu pandang, beberapa saat sebelum kami undur diri untuk kembali ke masjid, tiba-tiba pemuda tersebut akhirnya buka suara, “ Apa boleh orang bertatto ke masjid ?“, tanyanya waktu itu, lantas saya menjawab boleh asal dalam keadaan suci dari najis, siapa saja asalkan dia muslim boleh ke masjid. Dia hanya diam, saya seperti mendapatkan angin untuk terus berusaha agar dia mau ikut ke masjid, saya mulai bercerita banyak hal tentang kisah-kisah para sahabat nabi yang ketika masa jahiliyah begitu jahil , tapi setelah mereka bertaubat mereka menjadi ahli-hali surga.

Akhirnya dirinya mau ikut ke masjid bersama kami, setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang saya pinjamkan ia duduk bersama kami mendengarkan taklim pagi, betapa gembiranya hati saya ketika akhirnya ia mau ikut ke masjid, tak ada kata-kata yang sebanding dengan perasaan saya pada waktu itu, mungkin hanya orang-orang yang pernah terjun langsung tahu bagaimana sulitnya berdakwah di tengah-tengah manusia untuk mengajak mereka kembali kepada Allah dan ketika satu diantara mereka mau kembali taat kepada Allah, rasanya dunia dan isinya tak sebanding dengan perasaan senang yang ada di diri kita.

Lepas bada zuhur, dirinya mendekati saya dan menanyakan apakah dirinya boleh bergabung dengan kami, dan tentu saja boleh karena dakwah adalah tugas setiap umat Islam tanpa kecuali, kalau hewan yang lebih rendah dari manusia boleh berdakwah bahkan di abadikan dalam alqur’an ( semut, burung hud-hud dll ) apalagi manusia yang mempunyai tugas sebagai khalifatullah di muka bumi jelas lebih boleh lagi untuk berdakwah. Dengan berdakwah Allah swt akan perbaiki diri kita seperti yang terjadi pada diri para Nabi dan sahabatnya dan hal tersebut yang juga akan terjadi pada diri setiap orang yang mengambil kerja dakwah sebagai jalan hidupnya.

Baca entri selengkapnya »


” Kemaksiatan yang tidak Disadari “

November 23, 2008

56614726

Dahulu ketika masih segelintir orang yang memeluk Islam, Rasulullah saw biasa menyampaikan khutbahnya dengan bersandar di sebatang pohon Kurma. Tapi manakala semakin banyaknya orang yang masuk Islam maka kaum Ansar dengan hormat menawarkan pada Nabi saw untuk membuatkan mimbar. Nabi saw menyetujuinya dan sebuah mimbar yang terdiri dari 3 anak tangga dibangun. Ketika Nabi saw duduk di atas mimbar ini untuk berkhutbah, tiba-tiba para Sahabat mendengar batang pohon kurma yang biasa Nabi pergunakan menangis seperti anak kecil, lalu Nabi saw mendekati pohon yang sedang menangis itu dan bertanya mengapa pohon kurma itu menangis, lantas pohon tersebut menjawab; “Bagaimana aku tidak menangis ya Rasulullah, dahulu engkau gunakan aku ketika Engkau menyampaikan risalahmu, tapi sejak mimbar itu berdiri Engkau tidak menggunakan aku lagi”. Maka Rasulullah saw menenangkan pohon kurma tersebut dan berkata, “Apakah engkau tidak menginginkan menjadi pohon di surga yang akar-akarnya sampai ke sungai-sungai surga?”. Lalu seketika itu pohon kurma tersebut menjadi tenang. Nabi kemudian berkata; “Demi jiwaku ditangan-Nya, jika aku tidak memperdulikannya, maka dia akan menangis sampai hari kiamat .”

Subhanallah, saudaraku sekarang kita bisa merenung dan berpikir, Pohon Kurma yang tidak ada artinya apa-apa, yang kelak tidak di hisab oleh Allah swt begitu sedih dan risaunya manakala tidak lagi di gunakan untuk agama, tapi kita yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang kelak akan di mintai pertanggung jawaban atas setiap perbuatan kita di dunia, pernahkan terpikir berapa banyak Allah swt telah gunakan kita untuk agama-Nya????. Pernahkah satu hari saja dalam hidup kita bertanya kepada diri sendiri, sejauh apa hidup kita ini telah memberi maanfaat untuk agama-Nya???.

Saudaraku , hari ini mana kala umat Islam menghadapi bencana, kita dengan begitu semangatnya membuat posko-posko untuk membantu mereka. Sadarkah kita bahwa yang selama ini kita lakukan baru sekedar menolong UMAT ISLAM, belum menolong ISLAM sebagai agama. Membantu korban bencana, mendirikan yayasan-yayasan sosial, tempat ibadah dan lain sebagainya memang tidak di pungkiri akan mendapatkan pahala tersendiri di sisi Allah swt, tapi sesungguhnya tidak cukup sampai di situ yang Allah swt inginkan, Allah swt inginkan agar kita menolong Agama-Nya bukan hanya dengan menolong Umat-Nya.

Hari ini umat tak ubahnya seperti seorang yang melukai tangannya dengan pisau kemudian berteriak meminta pertolongan, lantas kita datang menolong , membersihkan luka dan mengobati, tapi tak lama kemudian orang tersebut melukai dirinya di tempat yang lainnya, lantas kembali kita datang menolong , membersihkan luka dan mengobati setelah itu kembali lagi hal yang sama terulang dan kita kembali lagi melakukan hal yang sama, sesungguhnya apa yang kita lakukan adalah kesia-siaan belakan, seharusnya yang kita lakukan bagaimana kita menghentikan orang tersebut melukai dirinya baru masalah selesai. Hari ini keadaan umat sama halnya dengan orang tersebut, setiap ada bencana kita bersimpati membantu, tapi kita lupa akar permasalah dari bencana tersebut tidak kita hilangkan , yaitu kemaksiatan terhadap Allah swt. Selama manusia bermaksiat kepada Allah swt maka bencana akan terus ada dan tidak akan pernah kunjung selesai.

Hari ini sejauh mata kita memandang yang terlihat hanyalah lautan maksiat, pergaulan pria dan wanita yang begitu bebasnya sehingga perzinahan menjadi hal yang lumrah, orang tidak sholat lebih banyak dari yang sholat, para lelaki lebih suka sholat di rumah ketimbang berjamaah di masjid, wanita tidak menutup aurat, perselingkuhan terjadi dimana-mana bahkan menjadi hal yang biasa, Alqur’an di baca hanya pada saat acara kematian dan masih banyak kemaksiatan yang lainnya, lantas pantaskah kita masih bertanya kenapa Allah swt datangkan azab-Nya?

Baca entri selengkapnya »


“Tangis Rasulullah saw di Malam Perang Badar”

November 15, 2008

badar

Jibril telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata kepada beliau,”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Mereka adalah orang muslim terbaik.” Maka, Jibril berkata, “Begitu pula dengan malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka adalah termasuk muslim terbaik. “

Perang Badar merupakan perang yang sangat penting dalam sejarah Islam , perang dimana sebuah keyakinan, kecintaan dan kepatuhan di pertaruhkan. Ketika keraguan terhadap kemahakuasaan Allah swt di pertanyakan, Seakan Allah swt ingin memperlihatkan kepada kita semua, bahwa pernah hidup sekelompok manusia, yang rasa cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya bukan hanya di mulut tapi sudah dalam bentuk perbuatan, bahkan rasa cinta tersebut mengalahkan rasa cinta terhadap diri mereka sendiri.

Jumlah kekuatan kaum muslimin saat perang tersebut adalah 313 sampai 317 orang. Mereka terdiri dari kaum Muhajirin 82 atau 86 orang, Bani Aus 61 orang, dan kalangan Khazraj 170 orang. Mereka berja­lan dengan hanya membawa 2 kuda dan 70 unta. Maka, setiap dua orang atau tiga saling bergantian dalam mengendarai satu unta. Sangat berbeda jauh dengan jumlah yang di miliki oleh kaum kafir Qurais, Jumlah mereka mencapai 1.300 orang. Mereka membawa 100 tentara berkuda, 600 tentara berbaju besi, dan sejumlah unta yang sangat banyak jumlahnya. Pasukan bangsa Quraisy ini dipimpin oleh Abu Jahal.

Bila kita berfikir dengan otak kita maka sangat mustahil kaum muslimin akan bisa mengalahkan pasukan yang begitu besar dan menggunakan peralatan yang canggih pada masa itu, tapi sekali lagi keimanan dan keyakinan yang sempurna mengalahkan segala bentuk keraguan karena mereka adalah pahlawan Badar, orang-orang yang telah Allah swt pilih untuk mendampingi kekasih-Nya tercinta, Rasulullah saw.

Keimanan mereka mencapai titik sempurna, andaikan hati mereka di keluarkan dan di cacah, maka tak akan ada satu ruang-pun yang berisikan kecintaan melebihi kecintaan terhadap Allah swt dan Rasul-Nya.

Sa’ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshar-pun saat itu angkat suara Maka, ia pun segera bangkit dan berkata, “Demi Allah, Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu. Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar. Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu. Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper­temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari. Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu. Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Allah.”

Pertarungan begitu sengitnya dengan jumlah kaum muslimin yang tak seimbang. Tapi sekali lagi, apabila Allah swt telah berkehendak maka pasti akan terjadi, begitupun sebaliknya.

Kegagalan dan keberhasilan bukan ada di tangan manusia, melainkan ada atas ijin dan kuasa-Nya. Dan pertolongan-Nya akan turun seiring dengan seberapa besar rasa ketergantungan kita pada-Nya. Ketika keimanan kita melemah, kerindukan kita akan surga-pun padam, dan ketakutan kita terhadap neraka-pun menipis, tapi sebaliknya, ketika keimanan kita meningkat maka surga dan neraka bukan lagi menjadi tujuan, melainkan hanya keridhaan-Nya lah yang menjadi pengharapan.

Sesungguhnya “pohon” jihad di jalan Allah swt tidak disirami kecuali oleh air mata orang-orang yang shalat tahajud di kegelapan malam, ketika manusia-manusia sedang asik dalam buaian mimpi panjang. Para mujahid bangun dan bermunajad kepada-Nya. Mereka tidak tumbuh dan berbunga kecuali dengan ruku dan sujud dalam ke nikmatan tahajud mereka. Beginilah cara imam para mujahid, imam para panglima, utusan Tuhan semesta alam, Muhammad saw mengajarkan kepada kita.

Baca entri selengkapnya »


“ Perbedaan Malam Sahabat Nabi dan Kita “

November 13, 2008

78731124

Salman r.a, salah seorang sahabat yang masyhur, beliau berkata bahwa apabila selesai sholat Isya, maka manusia terbagi menjadi 3 golongan:

Golongan pertama adalah orang-orang yang merasa malam itu adalah suatu nikmat, suatu keberuntungan dan suatu kegembiraan. Mereka menganggap bahwa malam adalah suatu ghanimah yang besar, pada malam itu ketika orang-orang sedang nyenyak beristirahat, tetapi ia menyibukan malamnya dengan shalat dan ibadah kepada Allah swt , maka malam itu akan menjadi malam yang penuh ganjaran dan pahala baginya.

Golongan yang kedua adalah orang-orang yang pada malam tersebut manjadi adzab dan bencana baginya. Mereka adalah orang-orang yang merasa bahwa malam merupakan kesempatan dan peluang berharga untuk menyibukan diri dalam dosa-dosa. Malam itu akan menjadi malam bencana bagi mereka.

Dan golongan yang ketiga adalah yang setelah Isya langsung tidur. Maka malam itu mereka tidak memperoleh keberuntungan dan tidak pula bencana. Mereka tidak memperoleh apa-apa. ( Durrul-Mantsur ).

Sekarang kita bisa tanya kepada diri kita masing-masing, termasuk golongan yang manakah kita sebenarnya, syukur-syukur kita termasuk golongan yang pertama, yang selalu menghabiskan malam-malam kita untuk bermunajad kepada Allah swt, menangis dan menyesali dosa-dosa kita di hadapan-Nya.

Banyak yang mengaku beragama Islam, tapi kurang peduli pada ajaran-ajaran agamanya. Mereka merasa cukup dengan hanya mengerjakan ibadah-ibadah wajib, dan abai pada ibadah-ibadah sunah. Padahal ada banyak manfaat yang tersembunyi dalam ibadah-ibadah tersebut yang tidak akan di ketahui oleh seorang hamba kecuali dengan menunaikannya.

Generasi terbaik dalam kurun yang terbaik telah berlalu dari hadapan kita, banyak kisah yang mereka tinggalkan untuk kita jadikan pelajaran, bagaimana mereka menghabiskan malam mereka dengan tetesan air mata bermunajad kepada Rabb-nya. Meyesali kemaksiatan yang pernah mereka lakukan , padahal Allah swt telah ridha kepada mereka, bahkan surga sudah di janjikan untuk mereka tempati. Tetapi rasa cinta kepada-Nya seakan mengusir rasa lelah yang selalu menghinggapi mereka, bermunajad merupakan keasikan tersendiri yang tidak akan pernah bisa diganti oleh apapun, hatta dunia dan seisinya.

Sangat jauh perbedaan antara malam yang kita lalui dengan yang mereka lakukan. Saudaraku surga itu teramat mahal, ia di dapat dengan kerja keras tidak ada yang santai-santai untuk mendapatkan surga, bahkan seorang TKI pun rela meninggalan anak istri dan keluarga menentang maut di negeri orang demi sesuatu yang fana, apalagi ini mengenai surga yang tak akan pernah telihat oleh mata , tak dapat di dengar oleh telinga dan tak terlintas dalam benak manusia.

Baca entri selengkapnya »


” Teroris, Kematian dan Bekal “

November 12, 2008

ami-imam1

“ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan ( kematian ) seseorang apabila datang waktu kematiannya.” ( Qs, Al-Munafiqun : 11 )

Ketika seseorang di vonis mati oleh pengadilan maka sudah pasti kehidupan dan cara pandang dirinya terhadap dunia menjadi berubah, dia menjadi orang yang berusaha untuk mendekat kepada Allah swt sehingga dunia menjadi sesuatu yang hina dimata mereka. Padahal yang melakukan dan membuat vonis mati itu hanyalah manusia, dan pastinya orang yang mendapatkan hukuman mati masih bisa melakukan beberapa upayah hukum demi merubah keputusan tersebut.

Seminggu ini pikiran kita semua tertuju pada eksekusi kasus bom bali 1, sebagian besar kita membicarakan mereka , banyak tulisan di buat mengenai mereka , sampai-sampai seorang teman di kampus meminta saya menulis tentang hal yang sama dan jelas saja hal tersebut saya tolak.

Saya hanya merasakan keanehan terhadap apa yang terjadi dengan kebanyakan kita, kita tak ubahnya seperti hewan qurban, yang tetap santai dan tenang ketika melihat hewan yang nomornya lebih awal di sembeli, masih santai, makan dan minum seakan lupa bahwa beberapa saat kemudian giliran dirinya yang akan di sembeli.

Kita seakan lupa atau entah sengaja melupakan bahwa kita semua sesungguhnya sudah di vonis mati. Dan tidak tanggung-tangung yang memvonis mati kita bukan lagi manusia yang perkataannya terkadang bisa berubah, melainkan yang menciptakan manusia ( baca: Allah swt ) , dimana setiap keputusan-Nya adalah pasti terjadi. Kullu nafsin zaaiqotul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kematian merupakan perkara yang pasti. Kita tidak bisa menghindari kematian. Setiap yang hidup pasti akan mendapatkan giliran untuk kembali kepada Allah. Semuanya hanya persoalan waktu. Sekarang kita yang di tinggalkan, nanti kitalah yang meninggalkan. Tapi anehnya kita hari-hari terlalu disibukan mengurusi bekal” orang lain, sampai lupa mempersiapkan bekal kita sendiri.

Saudaraku, perjalanan di dunia ini hanya sebentar paling hanya 60-70 tahun setelah itu masih jauh perjalanan yang mesti kita lalui, di depan sana masih ada Kubur, Masyar, Mizan, Sirat, dan pada puncaknya hanya satu dari dua tempat yang akan kita tempati, surga atau neraka. Dan tidak sedikit orang yang gagal sehingga neraka menjadi bayarannya.

Baca entri selengkapnya »


” Taubat, TKI, dan Dakwah “

November 10, 2008

74097420

Dalam buku Pintu-Pintu Kesalehan karya Othman Shibab terbitan Hikmah ditulis sedikitnya ada 5 tingkatan yang harus di lalui bagi seorang sufi untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, yakni : Tobat, Zuhud, Sabar, Syukur dan Cinta-mahabbah.

Maqam pertama untuk meraih cinta Allah swt adalah Taubat. Taubat diibaratkan tangga pertama menuju kesalehan jiwa dan kesalehan sosial. Tanpa jalan dan tangga itu, mustahil seseorang dapat mencapai tujuan yang hendak dicapainya. Taubat merupakan syarat mutlak untuk meraih cinta-Nya , karena seakan menjadi sifat dasar manusia yang selalu lupa dan cenderung memperturutkan hawa nafsu membuat ia seringkali tergelincir pada apa yang dilarang Allah swt, sehingga Taubat merupakan sesuatu yang sudah seharusnya di lakukan oleh setiap manusia hatta Nabi dan Rasul sekalipun.

77311777

Bicara tentang taubat saya jadi teringat dengan kiriman email dari seorang teman beberapa waktu yang lalu berisikan tentang laporan beberapa teman yang sedang “belajar berdakwah” di negara Korea tepatnya di Busan ( provinsi selatan dekat laut ). Dimana teman tersebut menceritakan nasib para pekerja Indonesia yang menetap disana, dan ternyata kenyataan tidak seindah apa yang dibayangkan dan sayangnya hal-hal itu luput dari sorotan kita, berbeda sekali apabila hal-hal tersebut terjadi dengan saudara-saudara kita yang mengalami hal serupa di negeri Timur Tengah , berita akan terus bergulir tentang penderitaan dan kekerasan yang dialami mereka sedangkan kalau terjadi di negara-negara non muslim maka seolah-olah berusaha untuk di tutup-tutupi.

Macam-macam penderitaan TKI ( Tenaga Kerja Indonesia ) di sini ( Korea ), Ada yang keracunan bahan kimia, terkena mesin, terbakar, bahkan tidak sedikit yg mati di laut karena berusahan kabur dari kapal. Mereka rata-rata mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk bisa berkerja di Korea ada yang 65 juta sampai 70 juta, itupun mereka dapatkan dengan cara mengutang sana-sini, dan ketika tiba di Korea belum tentu mendapatkan pekerjaan yang enak, banyak yang menderita. Apalagi di Busan ini dekat laut, sehingga banyak diantara TKI yang berkerja di kapal-kapal nelayan, jangankan buat shalat, tidur pun susah. Akhirnya banyak yang kabur berenang ke darat, sebagian sampai sebagian hilang. Tapi, beritanya tidak pernah sampai di tanah air. Berbeda apabila hal tersebut menimpa saudara-saudara kita di Saudi, pemberitaan media akan terus menyoroti sedangkan kalau penderitaan di negeri Non Muslim seakan berusaha di tutup serapat mungkin.

Baca entri selengkapnya »