” Taubat, TKI, dan Dakwah “

74097420

Dalam buku Pintu-Pintu Kesalehan karya Othman Shibab terbitan Hikmah ditulis sedikitnya ada 5 tingkatan yang harus di lalui bagi seorang sufi untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, yakni : Tobat, Zuhud, Sabar, Syukur dan Cinta-mahabbah.

Maqam pertama untuk meraih cinta Allah swt adalah Taubat. Taubat diibaratkan tangga pertama menuju kesalehan jiwa dan kesalehan sosial. Tanpa jalan dan tangga itu, mustahil seseorang dapat mencapai tujuan yang hendak dicapainya. Taubat merupakan syarat mutlak untuk meraih cinta-Nya , karena seakan menjadi sifat dasar manusia yang selalu lupa dan cenderung memperturutkan hawa nafsu membuat ia seringkali tergelincir pada apa yang dilarang Allah swt, sehingga Taubat merupakan sesuatu yang sudah seharusnya di lakukan oleh setiap manusia hatta Nabi dan Rasul sekalipun.

77311777

Bicara tentang taubat saya jadi teringat dengan kiriman email dari seorang teman beberapa waktu yang lalu berisikan tentang laporan beberapa teman yang sedang “belajar berdakwah” di negara Korea tepatnya di Busan ( provinsi selatan dekat laut ). Dimana teman tersebut menceritakan nasib para pekerja Indonesia yang menetap disana, dan ternyata kenyataan tidak seindah apa yang dibayangkan dan sayangnya hal-hal itu luput dari sorotan kita, berbeda sekali apabila hal-hal tersebut terjadi dengan saudara-saudara kita yang mengalami hal serupa di negeri Timur Tengah , berita akan terus bergulir tentang penderitaan dan kekerasan yang dialami mereka sedangkan kalau terjadi di negara-negara non muslim maka seolah-olah berusaha untuk di tutup-tutupi.

Macam-macam penderitaan TKI ( Tenaga Kerja Indonesia ) di sini ( Korea ), Ada yang keracunan bahan kimia, terkena mesin, terbakar, bahkan tidak sedikit yg mati di laut karena berusahan kabur dari kapal. Mereka rata-rata mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk bisa berkerja di Korea ada yang 65 juta sampai 70 juta, itupun mereka dapatkan dengan cara mengutang sana-sini, dan ketika tiba di Korea belum tentu mendapatkan pekerjaan yang enak, banyak yang menderita. Apalagi di Busan ini dekat laut, sehingga banyak diantara TKI yang berkerja di kapal-kapal nelayan, jangankan buat shalat, tidur pun susah. Akhirnya banyak yang kabur berenang ke darat, sebagian sampai sebagian hilang. Tapi, beritanya tidak pernah sampai di tanah air. Berbeda apabila hal tersebut menimpa saudara-saudara kita di Saudi, pemberitaan media akan terus menyoroti sedangkan kalau penderitaan di negeri Non Muslim seakan berusaha di tutup serapat mungkin.

Mereka betul-betul seperti hidup dalam lubang, selama bertahun-tahun kerja di pabrik sebagai pekerja ilegal, tinggal di container-container, bersembunyi, karena takut tertangkap imigrasi.

Memang ada juga yang berhasil jadi kaya di kampungnya, tapi mereka harus berpisah dengan anak dan istri sampai 9 th, 10 th, 13 th. Sangat menyedihkan demi suatu yang tidak seberapa harus terpaksa meninggalkan pengajaran agama kepada anak dan istri selama bertahun–tahun. Saya jadi teringat pembicaraan saya dengan Mas hanafi kemarin, “ Lan, Ane dah merantau ke luar daerah hampir 10 tahun dan ternyata rezeki ane gak jauh dari depan pintu rumah, bahkan sebentar lagi ane mau menikah” . Memang benar sesungguhnya rezeki yang berkah itu dekat, tidak lama dan mudah.

Dalam perjalanan dakwahnya teman saya tersebut menengok pekerja Indonesia yang dirawat di rumah sakit. Ada seorang pekerja asal SulSel, korban ledakan di kapal tangker. Cukup parah. patah tulang di tangan, kaki, dan rusuk. plus luka bakar. dirawat di RS Maryknoll. sudah sebulan. Dan alhamdulillah beliau sudah sadar, bisa diajak bicara, ditarghib( diberi semangat ), tasykil ( diajak untuk mengamalkan agama ), dan do’a. Terakhir orang tersebut menangis, katanya sudah bertahun-tahun kerja di kapal ingin sekali bisa sujud di masjid di korea ini, tapi belum kesampaian dan dirinya berjanji bila sembuh kelak Insya Allah mau ke masjid dulu sebelum kemana-mana.

Dan pekerja Indonesia lainnya yang kebetulan mengalamai nasib yang hampir sama bernama Tino dari Kendal, putus tangan karena masuk mesin roll kawat. Dirinya dirawat di RS Busan University. Sakitnya parah sekali, karena keracunan zat anti karat semua jari-jarinya membusuk, akhirnya jari kaki habis dibuang, jari tangan yang kiri juga dipotong 1-2 buku. Masya Allah. Setelah diberikan penjelasan tentang agama dan pentingnya mengamalkan agama dirinya minta diajari shalat sambil tidur.

Masih banyak Saudara-saudara kita baik yang mencoba mencari penghidupan di Korea maupun negara-negara lainnya sangat rindu berjumpa dengan orang-orang yang mengingatkan mereka tentang agama, tentang sebuah bentuk penghambaan dan pentingnya bertaubat. Dan sangat di sayangkan jarang sekali orang yang menyentuh dan mendatangi mereka, kalau pun ada hanya beberapa orang dan itu hanya pada kisaran memberikan ceramah dalam waktu tertentu, dan tempat tertentu yang kemungkinan hanya dapat di hadiri oleh segelintir orang, sedangkan orang-orang yang mau memberi waktu , fikir dan risau terhadap nasib agama mereka dan mendatangi tempat kerja mereka atau mess untuk membawa agama ke pintu-pintu tempat tinggal mereka sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya dulu melakukannya sangatlah sedikit. Ini dikarenakan sebagian besar dari kita masih beranggapan masalah perut dan di bawah perut masih lebih penting dari pada sekedar urusan mengigatkan orang tentang apa itu agama dan pentingnya untuk amal agama. Padahal Allah swt berfirman bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik dari perkataan mengajak manusia taat kepada Allah swt.

Kita semua pasti kenal burung Hud-Hud pada jaman Nabi Sulaiman as, burung tersebut sampai Allah swt abadikan di dalam alqur’an yang akan terus di baca sampai hari kiamat. Ditulisnya burung Hud-Hud dalam alqur’an bukan karena amal ibadahnya melainkan karena fikir yang ada di diri burung Hud-Hud atas nasib agama pada diri penduduk dimana ratu Balqiz berkuasa. Bayangkan seekor burung yang hanya memiliki fikir seperti itu saja Allah swt begitu muliakan, apalagi kita yang tidak hanya memikirkan tetapi ikut bergerak menyampaikan agama kepada anggota keluarga kita, tetangga kita dan seluruh alam, pasti dan pasti Allah swt lebih muliakan kita ketimbang apa yang Allah swt lakukan terhadap diri burung Hud-Hud.

“Sesungguhnya kebaikan itu ibarat gudang-gudang peyimpanan , dan gudang-gudang penyimpanan itu ada kuncinya. Maka beruntunglah seorang hamba yang di jadikan Allah sebagai kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan celakalah seorang hamba yang di jadikan Allah swt sebagai pembuka keburukan dan penutup kebaikan.” ( H.r. Ibnu Majah )

Semoga Allah swt jadikan kita seperti orang yang pertama , dan semoga Allah jadian kita orang-orang yang bersegera dalam bertaubat. amien

Bahan bacaan : Muntakhab Hadist karya Maulana Yusuf al- kandalawi, Pintu-Pintu Kesalehan karya Othman Shibab

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

Agus Taufiq Hidayat , sultan , ulan , Cabe Rawit , ashardi, Pakde , parvian , nurussadad , ina

3 Balasan ke ” Taubat, TKI, dan Dakwah “

  1. Agus Taufiq Hidayat mengatakan:

    Dunia emang penjara bagi yang beriman……

  2. Pakde mengatakan:

    Kasian ya…padahal TKi kan sebetulnya Pahlawan Devisa. Sabar lah….

  3. Dwi Ahmad Ali Syafei mengatakan:

    Kita sama2 niat kan dalam diri kita untk KELUAR DI JALAN ALLAH KE NEGERI JAUH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: