“ Perbedaan Malam Sahabat Nabi dan Kita “

78731124

Salman r.a, salah seorang sahabat yang masyhur, beliau berkata bahwa apabila selesai sholat Isya, maka manusia terbagi menjadi 3 golongan:

Golongan pertama adalah orang-orang yang merasa malam itu adalah suatu nikmat, suatu keberuntungan dan suatu kegembiraan. Mereka menganggap bahwa malam adalah suatu ghanimah yang besar, pada malam itu ketika orang-orang sedang nyenyak beristirahat, tetapi ia menyibukan malamnya dengan shalat dan ibadah kepada Allah swt , maka malam itu akan menjadi malam yang penuh ganjaran dan pahala baginya.

Golongan yang kedua adalah orang-orang yang pada malam tersebut manjadi adzab dan bencana baginya. Mereka adalah orang-orang yang merasa bahwa malam merupakan kesempatan dan peluang berharga untuk menyibukan diri dalam dosa-dosa. Malam itu akan menjadi malam bencana bagi mereka.

Dan golongan yang ketiga adalah yang setelah Isya langsung tidur. Maka malam itu mereka tidak memperoleh keberuntungan dan tidak pula bencana. Mereka tidak memperoleh apa-apa. ( Durrul-Mantsur ).

Sekarang kita bisa tanya kepada diri kita masing-masing, termasuk golongan yang manakah kita sebenarnya, syukur-syukur kita termasuk golongan yang pertama, yang selalu menghabiskan malam-malam kita untuk bermunajad kepada Allah swt, menangis dan menyesali dosa-dosa kita di hadapan-Nya.

Banyak yang mengaku beragama Islam, tapi kurang peduli pada ajaran-ajaran agamanya. Mereka merasa cukup dengan hanya mengerjakan ibadah-ibadah wajib, dan abai pada ibadah-ibadah sunah. Padahal ada banyak manfaat yang tersembunyi dalam ibadah-ibadah tersebut yang tidak akan di ketahui oleh seorang hamba kecuali dengan menunaikannya.

Generasi terbaik dalam kurun yang terbaik telah berlalu dari hadapan kita, banyak kisah yang mereka tinggalkan untuk kita jadikan pelajaran, bagaimana mereka menghabiskan malam mereka dengan tetesan air mata bermunajad kepada Rabb-nya. Meyesali kemaksiatan yang pernah mereka lakukan , padahal Allah swt telah ridha kepada mereka, bahkan surga sudah di janjikan untuk mereka tempati. Tetapi rasa cinta kepada-Nya seakan mengusir rasa lelah yang selalu menghinggapi mereka, bermunajad merupakan keasikan tersendiri yang tidak akan pernah bisa diganti oleh apapun, hatta dunia dan seisinya.

Sangat jauh perbedaan antara malam yang kita lalui dengan yang mereka lakukan. Saudaraku surga itu teramat mahal, ia di dapat dengan kerja keras tidak ada yang santai-santai untuk mendapatkan surga, bahkan seorang TKI pun rela meninggalan anak istri dan keluarga menentang maut di negeri orang demi sesuatu yang fana, apalagi ini mengenai surga yang tak akan pernah telihat oleh mata , tak dapat di dengar oleh telinga dan tak terlintas dalam benak manusia.

Abbas bin Abdul Muthalib r.a berkata “ Aku adalah tetangga Umar bin Khattab r.a dan aku tidak melihat seorang pun manusia yang lebih mulia dari pada Umar. Sesungguhnya malam bagi Umar adalah sholat dan siang baginya adalah puasa dan memenuhi kebutuhan manusia.”

Para Sahabat Nabi mengorbankan diri dan hartanya demi mendapatkan surga, rela terpotong tangannya, rela menjadi yatim dan janda demi keridhaan Rabb-nya.

Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata ; Dunia adalah kiosnya orang-orang mukmin. Siang dan malam menjadi modal bagi mereka, barang dagangannya adalah amal sholeh. Keuntungannya adalah Surga dan kerugiannya adalah Neraka.

Saudaraku, Para pelaku maksiat tidak pernah mengharapkan umur panjang kecuali agar mereka bisa melakukan kemaksiatan terus menerus. Sementara para Sahabat Nabi sangat mencintai kehidupan ini bukan karena ingin membangun kerajaan, bersenang-senang atau untuk mengumpulkan harta benda. Mereka menjadikan dunia ini sebagai tempat berkalwat dan bermunajad kepada Allah swt agar kelak memperoleh hidup yang kekal di surga-Nya. Tidur mereka lebih mulia dibandingkan dengan hidup yang panjang. Begadang mereka terasa manis dibanding tidur sampai pagi. Setiap membaca surat al-qur’an dalam sholat tahajud mereka bergitu bergembira seperti Nabi Yakub menemukan pakaian Nabi Yusuf.

Sekarang bandingkan dengan malam-malam kita, lebih banyak di habisan untuk apa malam-malam kita, apakah amalan yang selama ini kita lakukan kirannya pantas untuk mendapat surga-Nya, atau malah sebaliknya karena amalan tersebut bercampur dengan sifat riya?

Berapa banyak malamkah yang kita habiskan untuk bermunajad kepada-Nya, menyesali dosa-dosa yang setiap detik kita perbuat, sudah sebandingkan dengan kemaksiatan yang kita lakukan setiap hari-nya?

Wahai saudaraku, bangunlah dikegelapan malam dan serulah, “Wahai rumah orang yang bertahajud, dimanakah penghunimu? Wahai sumur peminta ampunan, dimanakah orang-orang yang mengiginkanmu? Wahai kota orang yang bertaubat, dimanakah orang-orang yang akan mendiamimu? Wahai mata para pendosa, dimanakah air matamu?

Wahai saudaraku, bangunlah pada tengah malam! Mohonlah ampun kepada Tuhanmu dari kelalaian dan kebanyakan tidur! Tumpahkanlah air mata penyesalan. Katakan dengan lidah kehinaan dan kefakiran wahai kabut kelalaian, hilanglah dari hati! Wahai matahari ketakwaan dan keimanan terbitlah! Wahai catatan amal orang sholeh , naiklah! Wahai para mujahid, khusyuklah! Wahai kaki orang yang bertobat, sujudlah pada Tuhanmu dan rukulah! Wahai mata para pendosa, janganlah tertidur! Wahai dosa orang-orang yang bertaubat janganlah kembali! Wahai hati orang yang arif, puaslah.

Marilah kita didik anak dan istri kita untuk shalat tahajud dan puasa, serta bermunajad kepada Yang Memiliki Keluhuran Dan Kemuliaan.

Ya Allah jadikanlah kami dan anak keturunan kami orang-orang yang selalu menunaikan sholat tahajud.

Bahan bacaan : Fadilah Amal karya : Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandalawi Rah.a, Bersujud dalam Keheningan karya Abu Al-Hamidy

Ucapan terima kasih atas comment dan kunjungannya :

Iko , kweklina , Agus Taufiq Hidayat, wargacimahi

Iklan

5 Responses to “ Perbedaan Malam Sahabat Nabi dan Kita “

  1. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk bangun malam…. ya Allah kuatkanlah diri hamba untuk shalat malam….

    minta bantuannya do’anya kepada semua…..

    Amin.

  2. kweklina berkata:

    iman…doa…kepercayaan dan perbuatan mesti selaras dan seimbang.

    Dan yang tak kalah penting adalah pengendalian diri baik..mata,mulut,tangan kaki,hati,mulut telinga dll dari segla perbuatan yang tidak seharusnya.
    hidup toleransi dengan sesama dan alam.

    Salam…

  3. lintasmarketing berkata:

    Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

  4. Dwi Ahmad Ali Syafei berkata:

    Ya Allah berikan lah kekuatan untuk hamba mu untuk dapat bermunajat kepada-Mu.

    Doakan ana ya !!!!!!!!!!!

    Amien

  5. martha004 berkata:

    mari sama2 niat dan amalkan.. selain mendoakan kebutuhan kita, doa tuk turunkan hidayah keseluruh Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: