Kerja Masturah

Januari 27, 2009

foto068Assalammu’alaykum wr. wb.

Usaha dakwah adalah tanggung jawab kita baik laki-laki maupun wanita tanpa kecuali. Dalam kerja dakwah mutlak kita harus melibatkan istri-istri dan wanita-wanita kita. Dalam kerja dakwah tidak cukup dengan anggapan yang penting istri kita sudah memperbolehkan kita ikut usaha dakwah saja, atau yang penting istri kita sudah senang dengan usaha dakwah , karena yang sesungguhnya diharapkan dari kita para pria adalah bagaimana kita membawa istri-istri dan wanita-wanita ahli keluarga kita supayah terlibat dan terjun langsung didalam usaha dakwah ini.

Seperti kita sering dengar begitu pentingnya wanita-wanita dilibatkan dalam usaha dakwah karena kalau kita mau melihat pada kenyataan yang ada jumlah wanita lebih banyak dari jumlah laki-laki mungkin bisa satu kali lipat atau dua kali lipat jadi kalau hanya laki-laki saja yang ambil bagian dalam usaha dakwah ini artinya baru 25% usaha kita untuk mencapai keberhasilan dalam dakwah , tetapi kalau wanita-wanita dan istri-istri ikut terlibat dalam usaha dakwah ini maka keberhasilan bisa betul-betul mencapai 100%.

Kita juga dapat melihat bahwasanya anak-anak fitrahnya lebih dekat kepada ibu, karena memang sehari-hari waktu mereka habiskan dengan ibu-ibu mereka, sedangkan bapak-bapak mereka sibuk di luar rumah, baik untuk bekerja maupun untuk yang lainnya, sehingga anak-anak kita ini selama 24 jam waktunya akan di habiskan untuk berkumpul bersama ibunya.

Kalau wanita-wanita ambil bagian dalam dakwah maka gerak dakwah akan lebih leluasa, sering kita dengar kalau hanya laki-laki saja yang berdakwah agama hanya sampai keruang tamu, karena kita tidak bisa langsung berdakwah kepada wanita, tapi kalau wanita sudah ikut ambil bagian dalam usaha dakwah ini maka agama akan betul-betul masuk kedalam rumah bahkan sampai ke dapur , sampai ke sumur dan yang dasyatnya akan sampai “kekasur”.

Allah swt tidak pernah mengutus Rasul dari kalangan wanita, tapi apabila Allah hendak menurunkan hidayah pada suatu negeri maka Allah akan lihat sejauh mana wanita-wanita ambil bagian dalam kerja-kerja dakwah , sehingga kalau kita lihat Nabi-nabi yg istri-istri mereka ikut ambil bagian dalam kerja dakwah hidayah akan tercurah-curah ( Nabi Ibrahim as, Rasulullah saw ) , begitu sebaliknya Nabi Nuh as berdakwah 950 tahun hanya 83 orang saja karena istri beliau tidak mendukung dalam kerja dakwah, kalau hanya suami saja yang aktif dalam usaha dakwah tanpa di dukung oleh istrinya seperti burung hanya dengan 1 sayang .

Sekiranya istri kita tidak mendukung dalam usaha dakwah maka akan berakibat kita menjadi lemah dalam usaha dakwah, walau pun orang sekampung menolak kita tapi istri kita mendukung maka hati akan menjadi tenang , tapi sebaliknya walau pun orang sekampung mendukung tapi istri menetang maka suasana hati dan rumah kita menjadi panas , maka bisa kita lihat banyak pekerja dakwah yang lemah karena istri-istri mereka tidak mendukung dalam kerja dakwah.

Oleh karenanya penting sekali wanita di libatkan dalam usaha dakwah , karena wanita memiliki potensi dan kekuatan diantaranya :

1. Didalam memengang prinsip dan keyakinan wanita jauh lebih hebat di banding pria, karena kalau wanita sudah mendapatkan dan menyakini suatu prinsip maka dia akan bersungguh-sungguh memegang prinsip dan keyakinannya tersebut. Kita bisa lihat ketika Rasulullah saw meninggal dunia dan diawal-awal Abu Bakar menjadi khalifah yang ketika itu banyak kaum muslim menjadi murtad tetapi Ajibnya tak satu pun wanita yang murtad, dan kita juga bisa lihat manusia yang pertama kali habis-habisan untuk usaha agama adalah wanita yaitu Khadijah r.ha

2. Wanita memiliki kekuatan untuk menyebarkan sesuatu, kalau kemampuannya itu digunakan untuk menyebarkan kebatilan maka kebatilan akan cepat tersebar begitupun kalau kemampuannya itu di gunakan untuk perkara agama maka agamapun akan mudah tersebar. Oleh karena itu bagaimana kita berusaha sekuat tenaga untuk kita membawa istri dan para wanita di keluarga kita agar terlibat dalam usaha dakwah ini.

Maksud kerja agama di kalangan wanita adalah agar wujudnya agama yang sempurna di rumah kita , sehingga kebahagiaan yang sempurna akan datang kepada kita sehingga kita dapat menjadikan rumah kita sebagai surgaku dengan terwujud agama yang sempurna .

Target jangaka pendek kerja di kalangan wanita.

1. Menjadikan istri kita sebagai `Alimah ( berilmu ) sehingga senantiasa istri kita duduk dalam taklim secara istiqomah karena nantinya istri kita yang akan bertanggung jawab dengan taklim di rumah. Taklim di rumah adalah usaha awal kerja agama dikalangan wanita, apabila kita telah membuat dan menghidupkan taklim di rumah maka ini seolah-olah kita telah mempersilahkan agama masuk kerumah kita. Apabila di rumah kita ada taklim yakni dibacakan firmah Allah swt dan sabda Rasulullah saw maka ini seolah-olah istri dan anak-anak kita setiap harinya mendapatkan nasehat langsung dari Allah swt dan Rasul-Nya. Sehingga ahli keluarga kita akan lembut dan ada kegairahan beramal serta ada kerinduan terhadap kampung akhirat dan bahkan ahli keluarga kita ada semangat untuk berjuang dan berkorban untuk agama Allah swt.

2. Supayah istri kita menjadi Murabbiyah ( pendidik ), sehingga dapat mendidik anak-anak kita secara islami. Kalau kita melihat generasi sahabat, maka pada saat umur 18 tahun sampai 20 tahun seperti Usama bin zahid , Thariq bin Ziyad mereka sudah sanggup membawa pasukan yang jumlahnya puluhan ribu untuk menyebarkan agama keluar negeri, tapi kalau kita melihat keadaan hari ini sangat berbeda jauh sekali anak-anak kita umur 20 tahun hanya bisa kongko-kongko menghabiskan harta orang tuanya, bahkan yang terparah mereka sudah tak mengetahui lagi maksud hidup mereka, bahkan sudah tak mempunyai cita-cita untuk menyebarkan agamanya. Maka disinilah peran istri kita untuk mendidik dan membina anak-anak kita supayah menjadi generasi-generasi pilihan; Alim-Alimah , Hafiz-Hafizah , Sholeh-Sholehah, Dai-Daiyah

3. Supayah istri kita menjadi `Abidah ( ahli ibadah ), maksudnya agar istri kita rajin menjaga ibadahnya sehingga istri-istri kita selalu menjaga sholatnya tepat pada waktunya, bahkan mereka juga menjaga sholat-sholat sunah ( Dhuha, Tahajud, hajad, dll ), Istri kita menjadi rajin membaca alquran minimal 1 juz setiap hari, menjaga dzikir pagi petang, bahkan rajin membaca doa-doa masnunah sehingga istri kita dapat membantu kita menarik pertolongan Allah swt , bahkan nanti sampai pada tahapan istri kita selalu menyelesaikan setiap masalah langsung kepada Allah swt melalui amalan.

4. Supayah istri kita menjadi Zahidah ( sederhana ), sehingga kehidupan istri-istri kita meneladani sahabiyah-sahabiyah ra. Kehidupan dan rumah para sahabiyah sangat sederhana, bahkan seumur hidupnya Rasulullah saw tidak pernah memakan tepung yang halus dan Aisyah rha selama menjadi istri Rasulullah saw hanya mempunyai pakaian baru cuma dua kali saja. Para sahabiyah dan istri-istri Nabi saw melakukan segala perkerjaan rumah tangga sendiri sampai-sampai Fatimah anak dari jungjungan kita Rasulullah saw selalu dalam keadaan yang sangat memprihatinkan padahal dia adalah putri kesayangan Rasulullah saw, oleh karena itu melalu usaha dakwah ini kita mengharapkan istri-istri kita mencontoh kehidupan para sahabiyah.

5. Istri kita menjadi Khaddimah ( berkhidmad ), yakni membantu melayani dan mendorong suami keluar dijalan allah , untuk kerja-kerja agama.

6. Istri kita supayah menjadi seorang Da`iyah ( penda`wah wanita ), dia ada fikir dan risau atas keadaan umat, karena pada dasarnya istri-istri sering kali berfikir atas hal-hal yang menyusahkan dirinya ( beras belum habis sudah pusing mikirin beras untuk besok ) , mudah menangis ( anak yang sakit dia yang menangis ), maka kalau mereka gunakan tangisan dan risau dia maka hal tersebut sangat kuat untuk menarik pertolongan Allah swt , dengan kekuatan itu dia akan membujuk wanita-wanita yang datang kerumah kita untuk ambil bagian dalam usaha atas agama

Maka bagaimana pun pentingnya usaha atas masturah, usaha tersebut harus di buat dengan sangat-sangat hati-hati, perlu diperhatikan tertib-tertibnya dan usul-usulnya , maka sering kita dengar kalau jamaah rizal ( laki-laki ) yang penting keluar untuk berdakwah dulu tertib nomor 2 sedangkan untuk jamaah masturah (wanita) sebaliknya. Masturah dikeluarkan harus dengan tertib kalau tidak memenuhi tertib dan usul-usulnya maka masturah tidak boleh di keluarkan.

Tertib-tertib masturah secara Umum :

1. Dikontrol oleh markaz

2. Tidak boleh bawa anak

3. Muhrim hakiki ( suami )

4. Harus diketahui kemana tujuannya

5. Garis taqwa Masturah ini harus keluar dengan hijab sempurna ( Purdah bukan Cadar, jaga suara )

Tertib-tertib masturah secara Khusus :

Untuk jamaah 3 hari :

1. Laki-lakinya harus sudah keluar 3 hari , masturahnya harus sudah pernah duduk dalam taklim masturah,

2.Istri kita harus siap memakai purdah ,

3.Harus dari keinginan istri kita sendiri, jgn sampai suami main paksa,

4.Jumlah jamaahnya antara 4 – 7 pasang

Untuk 15 hari :

Sama seperti tertib 3 hari tapi untuk laki-lakinya pernah keluar 40 hari , dan masturahnya pernah keluar 3 kali 3 kali.

Untuk jamaah 40 hari :

Sama seperti tertib 15 hari hanya saja masturahnya pernah keluar 15 hari

Untuk jamaah 2 bulan IP ( India, Pakistan )

Sama seperti tertib 40 hari tetapi Laki-lakinya sudah pernah ke IP , masturahnya minimal pernah keluar 15 hari dan ini sepenuhnya di tafakut oleh markaz Jakarta.

Kalau misalnya istri kita sudah dilibatkan dalam kerja masturah , maka sangat-sangat di anjurkan tetapi ini bukan nisab karena untuk masturah tidak ada nisab hanya saja ini sangat di tekankan supayah istri kita keluar setiap 3-4 bulan selama 3 hari, dan untuk tahunannya 15 hari dan 3 tahun sekali 40 hari. Kalau istri sudah siap keluar masturah maka di berikan mudzakarah untuk mempersiapkan apa-apa yang harus di persiapan sebelum keluar.

Walaupun istri kita sudah keluar masturah IP ( India, Pakistan ) tapi tidak melakukan hal-hal yang diatas ( 3 hari setiap 3-4 bulan, 15 hari setiap tahun dan 3 tahun sekali 40 hari ) maka fikir keduniaan istri kita akan kuat dan fikir akhiratnya akan melemah. Maka pentingnya istri kita melakukan hal-hal tersebut diatas dan yang tidak kalah pentingnya bagaimana istri-istri kita libatkan dalam usaha maqomi.

MAQOMI MASTURAH

1. Ta`lim Rumah

Taklim rumah ini harus dan wajib dibuat , baik kepada istri-istri yang belum mengambil kerja masturah maupun yang sudah, orang tua kita katakan walaupun amalan laki-lakinya sudah menyerupai Hasan Basri rah.a, dan amalan istrinya seperti Rabiah al Adawiyah maka tetap taklim rumah harus di buat secara istiqomah di tempat dan waktu yang sama minimal 30 menit plus mudzaarah 6 sifat. Dan ada hari-hari tertentu kita buat mudzakarah adab-adab sehari-hari dan masail.

2. Ta`lim Muhallah.

Penting sekali agar istri-istri kita di libatkan ikut serta dalam taklim mualah mingguan di muallah, dan tertib-tertib taklim muallah diantaranya beberapa wanita bisa menjalankan program, program dimusyawarahkan oleh kaum lelaki , dan taklim muallah harus di ketahui dan di setujui oleh markaz.

Kalau istri kita tak mendukung / menentang usaha dakwah maka hal-hal yang harus kita lakukan diantaranya :

1. Kita harus tetap tunaikan hak-hak istri kita walaupun dia menentang dan tidak setuju dengan usaha dakwah ini, kasih sayang kita jangan lah berkurang sedikitpun kepada dia , jangan main ancam-ancam untuk melakukan poligami kalau istri kita menolak dakwah, jangan pernah punya pikiran seperti itu, kita harus tetap  tunaikan keperluan dan hak dia.

2. Kita jangan menuntut hak kita di tunaikan, kalau sekiranya istri kita tidak mau mencucikan baju kita ya kita cuci sendiri, kalau istri kita tidak mau masak yang masak sendiri bahkan kalau istri kita tidak mau di ajak ”tidur” ya kita tidur sendiri. Intinya kita jangan menuntut hak kita.

3. Tetap lakukan dakwah secara istiqomah, waktunya nisab kita tetap berangkat walau istri tidak setuju, kalau kita pulang istri kita marah, maka kita diam saja dengan tetap jaga kasih sayang, jangan pernah lupa hak istri walau dia mati-matian menentang dakwah. Insya Allah kita semua niat amal.

Subhanallahi wabihamdika ashadu ala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’..

Wassalamuaikum.wr.wb,

Iklan

Dakwah Sebagai Solusi

Januari 12, 2009

1_856972755m

Ketika Allah swt kumpulan seluruh manusia di alam ruh dari manusia yang pertama lahir kedunia sampai bayi yang terakhir lahir pada hari kiamat nanti maka Allah swt bertanya kepada seluruh ruh “ Alastu birobbikum “ Bukankah AKU TUHANmu” maka seluruh ruh baik ruh orang-orang kafir dan beriman, baik ruhnya Fir’aun maupun ruh Baginda Rasulullah saw berkata BALA SAHIDNA “benar ya ALLAH, engkau adalah TUHANku”. Seluruh ruh satu suara, tidak ada yang mendustakan bahwa Allah swt Tuhan mereka, tapi kelak ketika pertanyaan yang sama diajukan di alam kubur, maka hanya sedikit orang yang bersaksi bahwa Allah swt adalah Tuhan mereka, mengapa????

Ulama bagi tahu hal ini terjadi karena ketika di dunia Allah swt uji manusia dengan asbab-asbab baik asbab berupa istri dan anak, berupa kekayaan maupun kemiskinan, pangkat dan jabatan maupun asbab-asbab yang lain, sehingga manusia merasa manfaat dan kemudharatan bukan datang dari Allah swt melainkan datang dari asbab-asbab tersebut.

Orang kaya merasa bahwa hartanyalah yang mendatang manfaat untuk dirinya, begitupun dengan orang miskin, mereka merasa asbab kemiskinanlah mereka mendapatkan kemudharatan-kemudharatan, mereka lupa manfaat dan mundharat sesungguhnya datang dari Allah swt bukan datang asbab mereka kaya atau miskin, karena kehinaan dan kemuliaan hanya ada di tanggan Allah swt, Allah swt bisa hinakan suatu kaum dan Allah swt bisa muliakan suatu kaum. Laailahaillallah

Allah swt menginginkan kelak ketika kita kembali menghadap-Nya keyakinan seperti ini yang harus ada di hati kita, keyakinan bahwa; Allah swt AL-KHALIK (Yang Maha Pencipta ), Allah swt AL-MALIK ( Yang Maha Memelihara ), Allah swt AR-ROZZAQ (Yang Memberi Rezeki). Allah swt zat yang menghidupkan dan mematikan, segala kekuasaan ada dalam genggaman-Nya hatta debu yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain atas ijin dan kuasa Allah swt.

Allah swt hantar ribuan Nabi dan Rasul hanya untuk perkara ini saja, bagaimana umat merubah yakin terhadap makhluk menjadi yakin terhadap Allah swt, dari yakin terhadap Mal ( harta ) kepada yakin terhadap Amal.

Nabi dan rasul hanya punya satu tugas saja ketika mereka di utus kedunia yaitu bagaimana Nabi dan Rasul buat dakwah, karena dakwah adalah kunci dan solusi dari setiap permasalan umat sampai akhir jaman.

Ketika penjajahan dan kekejaman merajalela, semua bayi berjenis kelamin laki-laki dibunuh, maka Allah swt tidak utus ribuan malaikatnya untuk hancurkan Fir’aun kala itu, tapi Allah swt cukup utus Musa as, untuk apa???? Bukan untuk membuat tentara tandingan, bukan untuk buat senjata yang lebih canggih agar dapat menandingi Fir’aun melainkan Allah swt utus Musa as untuk buat dakwah kepada Fir’aun.

Ketika penyimpangan seksual merajalela, kemaksiatan sudah terjadi di mana-mana , maka Allah swt tidak buat Undang-Undang Pornografi & Pornoaksi, Melainkan Allah swt hantar Nabi Luth as untuk buat dakwah ditengah kaumnya, begitupun ketika seluruh kemaksiatan , seluruh kedzaliman, seluruh bentuk penentangan terhadap hukum-hukum Allah terjadi pada kaum kafir Quraisy maka Allah swt tidak utus bala tentaranya untuk hancurkan kaum kafir Quraisy walaupun Allah swt mampu untuk lakukan itu, melainkan Allah swt cukup utus Rasulullah saw dan para Sahabatnya untuk buat dakwah di tengah-tengah kaumnya.

Baca entri selengkapnya »


Orang Yang Berada Dalam Dakwah

Januari 8, 2009

1_826659065l

Assalammu’alaykum wr. wb.

“ Banyak orang yang merasa dalam dakwah tetapi sebenarnya ia tidak dalam dakwah “

Dakwah adalah sarana tarbiyah umat untuk mencapai sifat-sifat yang di kehendaki Allah swt secara bertahap-tahap. Jadi sudah seharusnya semakin kita banyak dan sering berdakwah maka akan tumbuh dihati kita sifat-sifat yang dikehendaki Allah swt.

Keberhasilan seorang da’i bukan diukur dari banyaknya yang ikut dengan dakwah mereka, pandai bayan / ceramah , pandai mudzakarah atau pandai memimpin musyawarah melainkan sejauh mana rasa ketergantungan da’i tersebut kepada Allah swt, sebagaimana Ibrahim as ketika dalam kobaran bara api Nambrut.

Dakwah ini diumpamakan seperti anak tangga, semakin sering kita berdakwah maka akan membawa kita ketingkat kemuliaan yang tinggi, tapi kalau kita buat dakwah tidak dengan tertib dan usul yang telah di gariskan, maka tidak akan ada peningkatan dalam diri kita walau kita habiskan seluruh umur kita untuk dakwah, malahan keberadaan kita dalam dakwah akan menjadi fitnah bagi dakwah itu sendiri. Nauzubilah.

Usaha dakwah adalah usaha bagaimana kita menarik pertolongan Allah swt bukan hanya untuk diri kita dan keluarga kita sendiri, melainkan juga untuk seluruh umat. Oleh karenanya agar dakwah kita berkesan maka para pelaku dakwah harus menjadi orang-orang yang pertama kali berhenti dari melakukan kemaksiatan kepada Allah swt.

Iman seseorang berbanding lurus dengan kerja dakwah. Abu Sa’id Al-Khudry ra., berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kamu sekalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan kekuasaannya, kalau tidak mampu maka dengan tegurannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang terakhir adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Iman apabila wujud didiri seseorang maka dimanapun ia berada ia akan menjadi orang yang sholeh , Apabila ia menjadi orang yang miskin maka ia akan menjadi orang miskin yang baik, apabila ia menjadi orang kaya maka ia akan menjadi orang kaya yang baik. Apabila iman sudah menghujam di hati maka ia akan tersebar melalui mata, kaki, pekerjaan dan dimanapun ia berada.

Apabila kita sungguh-sungguh dalam dakwah dan menjadikan dakwah maksud hidup kita maka Allah akan tanamkan dihati rasa cinta kepada Allah swt dan perintah-perintahnya, kita akan mudah untuk mengamalkan seluruh perintah Allah swt dan sunah Baginda Saw, Allah swt akan tanamkan rasa kasih sayang terhadap ummat di hati kita sebagaimana rasa kasih sayang Nabi saw kepada penduduk Thaif, Allah akan muliakan kita bukan karena harta dan jabatan melainkan karena sifat yang Allah swt tumbuhkan pada diri kita. Dan yang terpenting dari semua itu adalah Allah swt akan bersama-sama kita. Dan kalau Allah swt sudah bersama hamba-Nya maka apalagi yang kurang dalam hidup kita.

Baca entri selengkapnya »


Satu Hati

Januari 6, 2009

1_609062389l

Kita sering dengar orang-orang tua kita dalam usaha dakwah ini bagi targib bahwa antara para pekerja dakwah sangat penting untuk menjaga kesatuan hati, karena pertolongan Allah swt bersama kesatuan hati para pekerja dakwah itu sendiri, kalau tiap-tiap pekerja dakwah berjalan pada tertib yang telah di gariskan para orang tua kita di markaz pastinya perpecahan dan perselisihan sesama pekerja dakwah bisa diatasi.

Kesalahan yang sering terjadi pada para pekerja dakwah adalah ketidak sungguhan dalam dakwah itu sendiri, kita masih belum menjadikan dakwah sebagai maksud hidup melainkan hanya pekerjaan dikala waktu senggang kita, sehingga permasalahan-permasalahan Allah swt timbulkan diantara pekerja dakwah itu sendiri, satu sama lain saling lempar kewajiban dan tanggung jawab serta saling melihat kekurangan orang lain dan yang terparah setiap diri merasa sudah berbuat banyak untuk dakwah astagfirullah.

Saudaraku…. jangan pernah kotori dakwah dengan pikiran-pikiran semacam itu, usaha dakwah ini terlalu mulia untuk di kotori oleh hal-hal seperti itu. Pebedaan pendapat dikalangan pekerja dakwah merupakan perkara biasa, dikalangan orang politik dan orang lain pun biasa. Karena kita hanya manusia memiliki fikiran dan pendirian yang berbeda-beda, Tapi akan menjadi tidak biasa mana kala setiap perbedaan dan permasalahan tersebut tidak di letakan dalam musyawarah.

Kita pastinya sering dengar arahan orang-orang tua kita agar setiap pekerja dakwah harus merasa bahwa dakwah ini kerja saya sedangkan orang lain hanya membantu saja. Jadi berapapun waktu, tenaga dan fikiran yang orang lain beri dalam kerja dakwah ini sudah selayaknya kita terima , karena namanya juga membantu maka kewajiban dakwah ini ada pada orang yang di bantu yaitu diri kita sendiri, oleh karena itu pentingnya lagi dan lagi kita luruskan niat dalam kerja dakwah ini, jangan campuri kerja dakwah ini dengan niat untuk mendapatkan dunia melainkan kita niat untuk islah diri, agar diri kita menjadi baik dan umat di seluruh alam juga menjadi baik, dan agar Allah swt kekalkan hidayah pada diri kita dan seluruh alam.

Usaha dakwah ini dibangun diatas tertib yang sangat halus. Tertib tersebut sangat mudah dilaksanakan bagi orang yang ingin memperbaiki diri sendiri, namun akan sulit bagi orang-orang yang hanya ingin memperbaiki orang lain saja. Dalam salah satu suratnya Maulana Said Akhmad Khan Shaheb menulis :

Hendaknya selalu beranggapan bahwa usaha dan pengorbanan yang telah anda lakukan baru sedikit. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa anda telah melakukan usaha dan pengorbanan yang besar. Bahkan jangan sekali-kali terlintas dalam pikiran anda bahwa anda telah menghabiskan sebagian dari kekayaan dan hidup anda dalam usaha ini,

Jangan merendahkan siapa saja meskipun orang tersebut buta huruf atau miskin. Jangan mengutamakan orang kaya atas orang miskin. Bahkan hendaknya lebih bergairah dan bergembira ketika menghadapi orang miskin,

Baca entri selengkapnya »


Rumah yang Memancarkan Hidayah

Januari 5, 2009

200487365-001

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Ummu Salamah, hal terburuk bagi seorang Muslim dalam membelanjakan uangnya adalah untuk bangunan.”

Tempat yang terbaik di permukaan bumi adalah masjid dan tempat yang terburuk adalah pasar, karena masjid merupakan tempat untuk meproduksi hidayah, sedangkan pasar tempat dimana banyak terjadi kelalaian dalam agama. maka sudah seharusnya setiap umat Islam bercita-cita menjadikan rumah-rumah mereka layaknya Masjid-Nya. Dimana didalam rumah kita hidup amal-amal agama sebagaimana rumah Baginda saw dan Sahabat, setiap harinya anggota keluarga berkumpul untuk melaksanakan taklim harian di rumah, bacaan Alqur’an terdengar setiap harinya, para ahli rumah di biasakan selalu melaksanakan dakwah kepada anggota keluarga dan kepada siapapun tamu yang berkunjung, dzikir selalu menghiasi pagi & petang, perbanyak sholat-sholat sunah di rumah dan selalu terbiasa hidup dengan sederhana.

Rumah Rasulullah saw dan para Sahabat ketika itu jauh dari kesan mewah tapi dari rumah-rumah mereka lahir para Da’i-Da’iyah, Alim-Alimah, Hafiz-Hafizah yang siap menyebarkan agama dan membawa hidayah keseluruh alam. Bahkan rumah istri-istri Rasulullah saw hanya beratapkan pelepah-pelepah kurma. lmran bin Abi Anas berkata, “Di antara rumah-rumah istri Rasulullah saw ada empat buah rumah yang terbuat dari bata dengan kamar-kamar dari pohon kurma. Ada lima rumah dari batang pohon kurma dilapisi lumpur tanpa bata. Aku mengukur gordennya dan mendapati ukurannya tiga kali satu cubit, dan areanya itu sedemikian, lebih atau kurang.”

Sangat menyedihkan kalau melihat umat Islam hari ini dimana sebagian besar hari-harinya di sibukan untuk menyempurnakan bagunan fisik rumah mereka, seakan-akan mereka merasa akan hidup selama-lamanya di dunia sehingga mereka melupakan untuk membangun rumah di akhirat.

Hampir seluruh rumah umat Islam sudah jauh dari apa yang di inginkan Allah swt dan Rasul-Nya, rumah-rumah umat islam hari ini tak ada beda dengan rumah-rumah non muslim , sangat sulit sekali untuk membedakannya, bahkan rumah-rumah umat Islam hari ini sebagian besar sudah tak layak untuk menerima jamaah-jamaah dakwah ( jamaah masturah ) karena tidak ada amalan agama di dalamnya.

Kemarin malam ( 5/1/2009 ) ketika pembentangan takazah pada saat musyawarah mingguan markaz, maka di beritahukan bahwa ada jamaah masturah ( rombongan dakwah suami berserta Istri ) dari Banjar akan tiba di Jakarta dan memerlukan beberapa rumah, maka halaqoh kami menyambut takazah tersebut ( 8-9 januari 09 ), karena ini bentuknya takazah maka ketika memutuskan untuk menyambut belum di musyawarakan di halaqoh kami, lepas musyawarah markaz, seorang teman mendekati saya dan bertanya kira-kira rumah siapa yang siap menyambut takazah tersebut, yang sangat menyedihkan di halaqoh kami yang lahan garapannya ( medan dakwahnya ) kurang lebih dari wilayah petukangan utara-selatan, Swadarma Raya sampai Cipulir yang kalau di total ada sekitar ribuan rumah hanya baru ada 3 rumah saja yang layak di gunakan untuk menerimah jamaah masturah. Ribuan rumah-rumah yang lainnya sangat tidak layak bahkan jauh dari kata layak untuk memenuhi persyaratan tersebut. Ini yang menjadi kerisauan kami dan beberapa rekan sehingga saya mencoba menuangkan kerisauan tersebut dalam tulisan ini. Walau saya yakin memang pada dasarnya tidak semua Rumah dipilih Allah untuk dapat menerima “TAMU”nya, Karena cuma RUMAH yang Hidup AMAL AGAMA secara ISTIQOMAH biasanya yang dipilih Allah, Tapi setidaknya melalui tulisan ini kita semua mencoba mengingat kembali apa-apa yang sering kita mudzakarahkan dan kira-kira sudah sejauh mana apa-apa yang sering di mudzakarahkan tersebut kita amalkan. Di bawah ini kembali saya tuliskan rumah-rumah seperti apa yang kiranya bisa didatangi jamaah masturah dan bagaimana adab-adab menerima jamaah masturah.

Baca entri selengkapnya »


Cukup Allah swt Sebagai Bayaran

Januari 3, 2009

2007-413b055

Saudaraku… tidak ada kerja yang Allah swt senangi melebihi kerja dakwah, kerja dimana diri kita berusaha untuk paham tentang perkara agama dan mau amal agama, dan bagaimana kita berusaha agar orang lain juga paham agama dan mau amal agama.

Kalau kita lihat jumlah umat islam saat ini pastinya jauh lebih banyak dari zaman Sahabat ra, jumlah orang yang pergi haji saat ini jauh lebih banyak dari zaman sahabat ra, orang yang puasa dan berdzikir pun jauh lebih banyak ketimbang pada masa sahabat Nabi saw, lantas mengapa pertolongan Allah swt rasanya teramat jauh dengan ummat sekarang ini, berbeda dengan masa sahabat Nabi saw dulu!!!

Ulama bagi tahu hal ini bisa terjadi karena amal kita di banding sahabat seperti langit dan bumi, amal kita tidak ada ruh-nya sehingga tidak bisa menarik nusroh Allah swt, ini karena dakwah ala minhajin Nubuwwah di tinggalkan, sehingga hal ini yang menjadi penyebab umat Islam terpuruh dimana-mana, di bantai, di olok-olok dan sebagainya.

Saudaraku…. Dakwah itu bukan bagaimana orang mau menusuk partai kita, bukan bagaimana orang mau membeli buku dan vcd kita, bukan bagaimana membuat orang terpesona dengan kita dan memajang poster dan poto kita di rumah-rumah mereka. Bahkan dakwah itu bukan bagaimana orang mau mengamalkan agama pada saat itu , tapi bagaimana menumbuhkan kesadaran beragama hingga orang tersebut mengamalkan agama seumur hidupnya dan memberikan kesadaran agar orang tersebut juga mau melakukan apa yang kita lakukan ( berdakwah ).

Saudaraku… jangan pernah tukar akhiratmu dengan sesuatu yang sedikit, karena sejak Allah swt ciptakan dunia maka Allah swt tak pandang lagi itu dunia, bahkan ketika di akhirat kelak ketika semua manusia datang menghadap Allah swt maka dunia pun tak Allah pandang karena dimata Allah swt dunia tak lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk

Saudaraku… Rasulullah saw tak pernah ajarkan kita untuk menukar akhirat dengan dunia , Rasulullah saw tak pernah ajarkan kita untuk mengambil dunia melalui dakwah, bahkan Rasulullah saw dan para sahabat-nya habis-habisan untuk dakwah.

Dalam salah satu bayannya Maulana Zurkarnain menangis karena tak kuat mana kala harus bercerita bagaimana Rasulullah saw , Siti Khadijah dan Abu Bakar serta sahabat nabi lainnya berkorban habis-habisan untuk dakwah. Terkadang pagi hari Rasulullah saw keluar dari rumah dengan pakaian yang bersih tapi sering kali ketika tiba di rumah sore harinya, tubuhnya sudah di penuhi oleh darah bahkan kotoran hewan.

Baihaqi memberitakan dari Abdullah bin Ja’far ra. katanya: Apabila Abu Thalib telah meninggal dunia, mulailah Nabi SAW diganggu dan ditentang secara terang-terangan. Satu peristiwa, beliau telah dihadang di jalanan oleh salah seorang pemuda jahat Quraisy, diraupnya tanah dan dilemparkan ke muka beliau, namun beliau tidak membalas apa pun. Apabila beliau tiba di rumah, datang salah seorang puterinya, lalu membersihkan muka beliau dari tanah itu sambil menangis sedih melihat ayahnya diperlakukan orang seperti itu. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada puterinya itu: ‘Wahai puteriku! Jangan engkau menangis begitu, Allah akan melindungi ayahmu!’ beliau membujuk puterinya itu. Beliau pernah berkata: Sebelum ini memang kaum Quraisy tidak berani membuat sesuatu seperti ini kepadaku, sehinggalah selepas Abu Thalib meninggal dunia, mulailah mereka menggangguku dan mengacau ketentramanku. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata kepadanya karena menyesali perbuatan jahat kaum Quraisy itu: Wahai paman! Alangkah segeranya mereka menggangguku sesudah engkau hilang dari mataku! (Hilyatul Auliya 8:308; Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:134)

Dalam riwayat yang sama dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: ‘Wahai manusia sekalian Ucapkanlah ‘Laa llaaha lliallaah!’ nanti kamu akan terselamat!’ beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari. Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh … ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orang-orang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik. (Majma’uz Zawa’id 6:21).

Baca entri selengkapnya »