Perkembangan Zaman

September 26, 2009

Assalamualaikum warahmatullah..
Bismillahirohmanirohim..

DSCN0322

Entah karena perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat atau karena cara berfikir saya yang terlewat kuno, kemarin ( 25 september 09 ) ketika hari pertama berkerja sang Manager di kantor membawa putrinya yang berusia 9 tahun yang saat ini duduk di kelas 4 SD ternama dan sering tampil di televisi walau hanya sebatas figuran sinetron ( he..he..he….. maaf pak ) ke gedung kantor kami, suasana kantor bergitu sepi karena baru sebagian orang yang masuk berkerja diantaranya saya dan beberapa teman, tanpa rasa malu dan canggung anak bos saya meminta ijin untuk memakai computer di samping saya yang ditinggal penghuninya cuti kekampung halamanya di solo.

DSCN0319

Dengan lincah dan gesitnya bocah berusia 9 tahun tersebut memainkan jari jemarinya di atas papan keyboard. Awalnya saya tidak tertarik untuk memperhatikan apa yang dilakukan bocah wanita berusia 9 tahun itu , dalam pikiran saya paling-paling bocah umur segitu sedang bermain game, tapi dugaan saya keliru, ternyata dirinya bukan asik bermain game melainkan asik berchating ria dengan beberapa temannya di FB ( Facebook ). Dan yang lebih mencengangkan lagi hampir 90 persen list di FB-nya adalah teman-teman sekolah dan teman les-nya yang rata-rata berusia dibawah 12 tahun bahkan ada yang berumur 7 tahun. Saya sempat bertanya berapa lama biasa waktu yang di habiskan untuk online?, dengan santainya dirinya menjawab 3-4 jam, dan ketika saya Tanya lagi biasa online dimana??? , “ Kalau di rumah pake laptop atau computer ( pc ), tapi kalau di jalan pake HP”,jawabnya. “Lantas kapan waktu belajarnya??”, tanya saya, dengan enteng dirinya menjawab “Kan ada guru yang datang kerumah , dari guru bahasa inggris, mandarin, piano dan guru-guru mata pelajaran lainnya”. Saya kembali bertanya, apa mama dan papa nya gak ikut mengajarkan pelajaran untuk dirinya, dengan ringan bocah tersebut menjawab, “Papa kan dah bayar guru untuk mengajar aku”

DSCN0323

Miris betul saya melihat apa yang terjadi dengan anak manager saya, dan mungkin hal tersebut juga terjadi di kebanyakan keluarga saat ini, dimana anak di besarkan dan dimanjakan dengan benda-benda yang pada dasarnya sang anak belum mengerti apakah dirinya betul-betul butuh terhadap benda tersebut atau tidak , dan lebih parahnya saya tidak melihat peranan dan fungsi orang tua disini selain hanya sebagai “pohon uang”.

Betapa indahnya Islam memberikan kemuliaan kepada seorang anak bahkan kemulian itu didapat jauh sebelum mereka berada dalam kandungan , sejak sang ayah mencarikan calon ibu untuk anaknya, tata cara walimah, berzima, mengandung , melahirkan , mendidik dan membesarkan serta mencarikan jodoh untuk anak-anak mereka diatur sangat baik di dalam Islam.

DSCN0320

Dan ajibnya dalam usaha dakwah ini perkara mendidik anak secara islami berulang kali di bahas dan dimudzakarahkan bahkan sesuatu yang wajib diketahui baik oleh para Rizal maupun Masturah dengan harapan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mendidik anak secara islami merupakan bagian dari 14 mudzakarah yang wajib di ketahui oleh kita semua. Jadi kalau hari ini ada masturah yang belum mengerti tata cara mendidik anak secara islami dan 14 adab mudzakarah lainnya tolong hal tersebut di tanyakan kepada suami masing-masing dan kalau suami-suami anda belum mengetahuinya juga suruh mereka duduk untuk mendengarkan mudzakarah masturah dan kargozari masturah yang biasanya diadakan pada setiap malam selasa di markaz kebon jeruk lepas sholat isya atau sering juga di ulang pada setiap musyawarah 2 bulanan DKI atau 4 bulanan Indonesia.

DSCN0325

Beribu-ribu hak anak berada di pundak-pundak orang tua, dituntut untuk ditunaikan. Dan orang tua yang bijak adalah yang menunaikan hak-hak anaknya sebelum menuntut hak dirinya sebagai orang tua, Islam memberikan perhatian khusus dalam masalah bayi dan anak, bukan dimulai sejak kemunculannya di alam dunia ini, tetapi jauh-jauh hari sebelum kemunculan yaitu sejak dipilihnya calon orangtua bagi dirinya. Orangtua yang akan mengandungnya, , melahirkannya, menyusuinya, merawatnya, mengasuhnya, dan mendidiknya hingga dewasa. Perjalanan hidupnya diukir untuk menjadi manusia yang mengenal dirinya sebagai hamba Allah, sebagai umat Nabi saw dan sebagai pengemban amanah khilafah di muka bumi ini. Untuk mencapai tujuan itu, sangat besar peranan tangan-tangan mulia yang bernama orangtua. Sebuah jabatan yang bermuatan amanah yang sungguh sangat mahal. Pangkat yang memiliki tanggung jawab serta tugas yang luar biasa besar. Tanggung jawabnya tidak terbatas oleh waktu, oleh tempat, dan oleh materi. Sangat luas dan dalam. ( hak-hak bayi anda, Abdurahman Ahmad As-Sirbung ).

Ya Allah jadikanlah kami sebagai orangtua yang dapat mengemban amanah besar ini dan mempertanggung jawabkannya kelak, serta dapat menghantarkan diri, dan keturunan kami kedepan gerbang surga-MU . Amien…amien…amien..

Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’
Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakathan lil alamin…

Iklan

UMI MINTA TV

September 23, 2009

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du…

Bulan ini pernikahan kami memasuki bulan yang ke-6 , banyak pelajaran tentang SABAR yang saya dapati, dan dalam menjalani sebuah pernikahan memang kita tidak diperbolehkan mengedepankan sebuah EGO, terlebih lagi bagi kami yang tidak mengenal kata “pacaran”, hanya cukup 2 kali bertemu itupun dalam rangka merencanakan pernikahan sehingga dalam kurun 6 bulan ini kami masih berjuang keras mencari titik temu diantara kami atau menyatukan hati kalau meminjam kata-kata Sha adik saya.

Setiap saat kami selalu berusaha untuk saling belajar beradaptasi untuk memahami sifat dan karaktek masing-masing, dan Syukurnya Allah swt mengenalkan usaha dakwah ini jauh sebelum saya menikah begitupun dengan istri saya, sehingga jalan yang kami lalui tentunya sedikit jauh lebih mudah.

Sebelum menikah dan sampai saat ini saya selalu menekankan kepada istri saya bahwa pernikahan yang terjadi diantara kita adalah bertemunya seorang DAI dan DAIYAH bukan bertemunya Romie dan Juliet, sehingga kita harus menyiapkan diri kita untuk siap diatur oleh agama, salah satunya mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh masuk kedalam rumah. Dalam urusan rumah kami berpatokan pada standarisasi sebagaimana rumah yang dapat menerima jamaah masturah, dan sebagaimana kita sama-sama tahu dan sering kali di mudzakarahkan rumah seperti apa yang boleh menerima jamaah masturah maka seperti itulah kami berusaha mengondisikan rumah kami, sampai-sampai kami harus memasang hordeng di depan pintu rumah kami.

Memang benar iman manusia itu tidak selalu sama, kadang ada kalanya dunia begitu hina dimana kami dan ada kalanya ia begitu memikat hati kami, salah satunya media televisi, memasuki bulan ke-3 istri saya mulai aga “rewel” mengenai benda yang satu ini.

“Abi dirumah ini ga boleh ada TV ya?” Tanya Istri saya, dan saya harus menghela nafas panjang karena tidak menyangka istri saya menginginkan benda yang satu itu, “ kata siapa di rumah ga boleh ada TV???” ucap saya dengan segaris senyum sedikit dipaksakan, karena jujur saya sudah tidak tertarik dengan benda yang satu ini sejak bertahun-tahun yang lalu. “Buktinya kok dirumah ga ada TV??” Tanya istri saya lagi, hati saya bergitu hancur mengetahui istri saya berkeinginan kuat atas benda tersebut, “Umi mau TV??” Tanya saya dengan memasang mimik sedih. Dan istri saya hanya terdiam, “Kalau mau TV umi ambil wudhu sholat hajat trus baca yasin, baru kita ngomong lagi” tutur saya. “ Ah kalau pake sholat dan baca yasin lebih baik gak usah aja, udah pasti ga boleh!!!” ucap istri saya dengan wajah cemberut seperti kebiasaannya he..he..he.., dengan menarik nafas panjang karena menahan rasa kecewa, saya berusaha menjelaskan kepada dirinya tentang benda yang satu ini, karena saya pernah mendengar dari orang tua kita dalam dakwah ini, bahwa bagi suami istri yang sudah mengenal usaha dakwah sebelum menikah maka harus berusaha semaksimal mungkin mengkondisikan isi rumah mereka seperti suasana di masjid ( minimal rumah yang memenuhi syarat menerima jamaah masturah ), kecuali bagi pasangan yang mengenal usaha dakwah ini setelah menikah, maka cara untuk mengkondisikan rumah mereka seperti masjid adalah apabila “benda-benda dunia” itu rusak tidak usah di betulkan lagi apalagi untuk beli yang baru, begitupun dengan makanan sehari-hari , kita harus buat seperti layaknya kita keluar khuruj, diusahakan seringkas mungkin jangan berlebih-lebihan.

Baca entri selengkapnya »


KHITMAD ISTRI

September 23, 2009

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du…

Ada perbedaan yang mencolok dengan suasana lebaran kali ini salah satunya karena lebaran kali ini saya tidak sendiri, sudah ada istri di samping saya , yang tentunya memaksa saya untuk bisa membagi jadwal waktu kunjungan untuk bersilaturahmi, yang biasanya saya sibuk di lebaran hari ke-1 ( kumpul dikeluarga besar bunda saya ) dan hari ke-2 ( ziarah kubur ) kini harus ditambah dengan kunjungan ke rumah mertua di Bogor mulai hari ke-3 sampai hari ke-4, dan karena istri saya sudah lama tidak berkumpul dengan orang tuanya di Bogor terpaksa ia harus tinggal disana selama seminggu dan saya kembali ke Jakarta untuk menjaga rumah sekaligus persiapan untuk masuk kantor pada tanggal 25 nanti , dan itu berarti kerja keras dimulai.

Pada dasarnya saya telah terbiasa mandiri, melakukan segala sesuatu sendiri dan tidak begitu rewel dengan menu makanan, tapi ada satu pekerjaan rumah tangga mungkin tiga pekerjaan tepatnya yang saya aga kesulitan untuk melakukanya, yaitu mencuci, mengosok pakaian, dan melipat pakaian, saya kurang ahli dan cenderung tidak suka dengan pekerjaan tersebut, mungkin ini disebabkan karena sejak kecil saya sangat jarang melakukan ketiga hal tersebut, dari kecil hingga saya dewasa tugas pokok saya hanyalah mencuci piring, dan kadang-kadang menyampu plus mengepel lantai.

Dalam keluarga besar kami telah terbiasa dengan pembagian-pembagian tugas rumah tangga tanpa memandang apakah itu laki-laki atau wanita, semua sama, bahkan bapak saya pun sering juga mencuci piring. Melakukan hal-hal tersebut diatas pada dasarnya bukan masalah besar bagi kami dan menurut pandangan Islam sendiri tugas-tugas rumah tangga bukan 100% mutlak menjadi tugas seorang istri melainkan tugas pokok seorang suami, dan suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan orang yang bertugas mengerjakan tugas-tugas tersebut kalau pada zaman dulu disebut budak, tetapi apabila seorang istri dengan suka rela dan tanpa paksaan bersedia melakukan tugas-tugas tersebut dengan penuh keikhlasan tentunya pahala besar menanti dirinya sebagaimana hal tersebut juga di lakukan para sahabiya pada umumnya. Bahkan Rasulullah saw pun sering berebut mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dengan istri-istri beliau.

Oleh karenanya sangat aneh dan janggal manakala hari ini ada pekerja dakwah yang masih membebankan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada istrinya tanpa mau sedikitpun membantu meringankan tugas istrinya.

Ada kargozari menarik dari mantan calon mertua, saya sebut mantan karena satu dan lain hal saya tidak jadi meminang anak gadisnya , mungkin karena tidak di takdirkan berjodoh barang kali. MCM ( mantan calon mertua ) ini selalu memberikan wejangan yang sangat menarik bagi kami-kami rizal pekerja dakwah tentang bagaimana kita bersikaf dan berkhitmad kepada istri-istri kita, salah satunya MCM mempunyai kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap akan tidur. Sebelum tidur dirinya selalu terlebih dulu mencium tangan istrinya dan meminta maaf karena tidak bisa berkhitmad dengan baik untuk istrinya hari ini, beliau juga sering kali mengingatkan bahwa istri-istri kita telah banyak melakukan tugas-tugas rumah tangga yang menurut syariat bukan menjadi tugas mereka, tetapi mereka dengan tulus dan ikhlas melakukan tugas-tugas tersebut tanpa mengeluh sedikitpun kepada kita, oleh karenanya sudah selayaknya mereka di beri”upah” terhadap apa yang telah mereka lakukan untuk kita,“upah” tersebut bukan berarti kita memberikannya dalam bentuk rupiah , melainkan melalui sikaf dan perhatian kepada istri kita, terlebih lagi dan ini merupakan hal terberat menurut saya he..he..he.., dirinya berpesan bahwa untuk menyempurnakan per-khitmad-an kepada istri, jangan pernah kita melayang pandangan syahwat kepada wanita yang bukan menjadi hak kita, berat bukan…tetapi bukan berarti kita tidak bisa melakukannya karena menjaga pandangan juga merupakan bagian dari perintah Allah swt.

Insya Allah kita semua pasang niat untuk dapat berkhitmad membahagiakan istri kita dan melibatkan dirinya dan keluarga kita dalam usaha dakwah ini, insya Allah kita semua niat amal.

Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’
Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakathan lil alamin…


GARIS TAQWA DAN FATWA

September 22, 2009

Assalamualaikum warahmatullah..

Bismillahirohmanirohim..

Akhirnya dengan sangat terpaksa saya membuka account di FB ( facebook ) itupun karena paksaan senior di kantor, entah mengapa sejak dulu saya kurang tertarik dengan yang namanya FB maupun FS, lain halnya dengan webblog, walau tentunya masing-masing kita memiliki alasan sendiri-sendiri  mengenai hal tersebut. Dan kali ini saya tidak ingin menulis dan berlama-lama berbicara tentang alasan-alasan tersebut, saya hanya ingin menggaris bawahi percakapan saya , istri saya dan Sha adik saya, ketika  lebaran kemarin saat saya memperlihatkan beberapa alamat teman-teman pekerja dakwah di facebook saya.

“Ini foto karkun??? ( baca : pekerja dakwah  )”, Tanya Sha keheranan ketika melihat poto seorang teman dan istrinya di salah satu FB,

Apa mereka ga malu istrinya di-pertonton-kan ke orang lain???, Apa mereka ga ngerti bahwa wanita itu aurat??? Tanya Sha  dan diamini oleh istri saya.

“orang bercadar pada FB-an juga?? “, Tanya Sha lagi. Saya hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari dua wanita yang saya sayangi itu. Dalam hati ada perasaan senang bahwa ternyata Sha dan istri saya cukup paham tentang garis taqwa ( mencontoh langsung kehidupan istri-istri nabi dan para sahabiyah ) yang memang harus mereka jalani sebagai seorang masturah seperti yang diinginkan orangtua kita dalam dakwah,  bahwa wanita harus mengambil garis taqwa sedangkan kaum pria masih boleh dengan garis fatwa.

Mungkin pertanyaan yang Sha dan istri saya ajukan pernah juga terlintas di hati saya, dan kembali saya harus menerangkan kepada Sha dan istri saya bahwa para pekerja dakwah adalah manusia yang sedang belajar untuk menyempurnakan agama pada diri mereka, mereka bukan orang yang sempurna melainkan orang yang sedang belajar untuk sempurna, dan dalam memandang para pekerja dakwah ini kita layaknya seperti lebah bukan seperti lalat, dimana lebah apabila ingin mencari manisan, dia akan pergi ke setiap bunga baik bunga itu wangi atau berbau busuk, lebah tetap akan mengambil manisan dari bunga tersebut dan akhirnya manisan dapat terkumpul dalam sarang dan jadilah MADU, yang dapat digunakan sebagai syifak (obat).dan jangan kita mejadi seperti lalat, karena lalat hanya pergi ketempat yang kotor untuk mengumpulkan kuman dan kotoran yang pada akhirnya kotoran tersebut melekat pada dirinya SENDIRI”.

Begitulah seharusnya kita hanya melihat kebaikan pada diri setiap orang dan muliakan mereka karena mereka UMMAT Nabi. Maka ..insyaALLAH, ALLAH akan pelihara hati-hati kita dan satukan kita di atas jalan nubuwwah (kerja kenabian yang ditinggalkan oleh Khatamu Nabi-Muhammad s.a.w). dan jangan kita contoh lalat…lihat keburukan orang lain sehingga hati kotor dan tidak merasakan nikmat dan lezatnya beribadah kepada pada ALLAH.

Mengenai garis taqwa dan fatwa pada masturah saya pernah ‘bermudzakarah” dengan salah seorang teman, kurang lebih teman saya tersebut menanyakan , mengapa dalam usaha dakwah ini seakan-akan ingin sekali mengembalikan wanita kepada “kemunduran” berbeda dengan gerakan dakwah yang lain dimana menempatkan wanita digaris terdepan, dimana wanita dilibatkan dalam aksi-aksi jalanan terlebih lagi dalam usaha dakwah ini seakan mengharuskan wanita memakai cadar.

Pada awalnya saya kurang begitu mengerti apa yang dimaksud oleh teman saya dengan “kemunduran”, tetapi setelah di jelaskan oleh dirinya saya sedikit paham, lantas saya mengajukan pertanyaan yang sifatnya standar kepada dirinya,

Baca entri selengkapnya »