UMI MINTA TV

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du…

Bulan ini pernikahan kami memasuki bulan yang ke-6 , banyak pelajaran tentang SABAR yang saya dapati, dan dalam menjalani sebuah pernikahan memang kita tidak diperbolehkan mengedepankan sebuah EGO, terlebih lagi bagi kami yang tidak mengenal kata “pacaran”, hanya cukup 2 kali bertemu itupun dalam rangka merencanakan pernikahan sehingga dalam kurun 6 bulan ini kami masih berjuang keras mencari titik temu diantara kami atau menyatukan hati kalau meminjam kata-kata Sha adik saya.

Setiap saat kami selalu berusaha untuk saling belajar beradaptasi untuk memahami sifat dan karaktek masing-masing, dan Syukurnya Allah swt mengenalkan usaha dakwah ini jauh sebelum saya menikah begitupun dengan istri saya, sehingga jalan yang kami lalui tentunya sedikit jauh lebih mudah.

Sebelum menikah dan sampai saat ini saya selalu menekankan kepada istri saya bahwa pernikahan yang terjadi diantara kita adalah bertemunya seorang DAI dan DAIYAH bukan bertemunya Romie dan Juliet, sehingga kita harus menyiapkan diri kita untuk siap diatur oleh agama, salah satunya mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh masuk kedalam rumah. Dalam urusan rumah kami berpatokan pada standarisasi sebagaimana rumah yang dapat menerima jamaah masturah, dan sebagaimana kita sama-sama tahu dan sering kali di mudzakarahkan rumah seperti apa yang boleh menerima jamaah masturah maka seperti itulah kami berusaha mengondisikan rumah kami, sampai-sampai kami harus memasang hordeng di depan pintu rumah kami.

Memang benar iman manusia itu tidak selalu sama, kadang ada kalanya dunia begitu hina dimana kami dan ada kalanya ia begitu memikat hati kami, salah satunya media televisi, memasuki bulan ke-3 istri saya mulai aga “rewel” mengenai benda yang satu ini.

“Abi dirumah ini ga boleh ada TV ya?” Tanya Istri saya, dan saya harus menghela nafas panjang karena tidak menyangka istri saya menginginkan benda yang satu itu, “ kata siapa di rumah ga boleh ada TV???” ucap saya dengan segaris senyum sedikit dipaksakan, karena jujur saya sudah tidak tertarik dengan benda yang satu ini sejak bertahun-tahun yang lalu. “Buktinya kok dirumah ga ada TV??” Tanya istri saya lagi, hati saya bergitu hancur mengetahui istri saya berkeinginan kuat atas benda tersebut, “Umi mau TV??” Tanya saya dengan memasang mimik sedih. Dan istri saya hanya terdiam, “Kalau mau TV umi ambil wudhu sholat hajat trus baca yasin, baru kita ngomong lagi” tutur saya. “ Ah kalau pake sholat dan baca yasin lebih baik gak usah aja, udah pasti ga boleh!!!” ucap istri saya dengan wajah cemberut seperti kebiasaannya he..he..he.., dengan menarik nafas panjang karena menahan rasa kecewa, saya berusaha menjelaskan kepada dirinya tentang benda yang satu ini, karena saya pernah mendengar dari orang tua kita dalam dakwah ini, bahwa bagi suami istri yang sudah mengenal usaha dakwah sebelum menikah maka harus berusaha semaksimal mungkin mengkondisikan isi rumah mereka seperti suasana di masjid ( minimal rumah yang memenuhi syarat menerima jamaah masturah ), kecuali bagi pasangan yang mengenal usaha dakwah ini setelah menikah, maka cara untuk mengkondisikan rumah mereka seperti masjid adalah apabila “benda-benda dunia” itu rusak tidak usah di betulkan lagi apalagi untuk beli yang baru, begitupun dengan makanan sehari-hari , kita harus buat seperti layaknya kita keluar khuruj, diusahakan seringkas mungkin jangan berlebih-lebihan.

Tapi rasanya saya tidak tega juga melihat istri saya yang begitu ingin dirumah ada TV sekedar untuk menemani dirinya saat saya harus pergi ke kantor. Akhirnya saya putuskan untuk membawa masalah ini ke orang tua di halaqoh, dan tepat 5 hari sebelum lebaran ,berarti kurang lebih 3 bulan sejak istri saya pertama kali meminta benda tersebut, akhirnya sebuah TV bekas hadir juga di rumah kami ( ini bener-bener bekas , tv yang rusak di betulkan kembali, cuma modal 150 ribu dengan harapan agar TV tersebut cepet rusak kembali, gambarnya pun juga rumek gak jernih, he..he..he..).

Datangnya TV tersebut tidak serta merta begitu saja, ada perjanjian kecil yang saya dan istri saya buat, tepatnya ada sebuah syarat khusus untuk mendapatkan kotak hitam tersebut, saya meminta istri saya membuat jadwal kegiatan harian 24 jam sebagaimana kalau kita keluar masturah, dan berhubung istri saya sudah keluar masturah maka hal tersebut bukan masalah bagi dirinya, dan syarat yang kedua apabila diantara kita mau menyalahkan TV maka masing-masing harus meminta ijin terlebih dahulu. Aga sedikit ribet memang, tetapi setidaknya kami berusaha semaksimal mungkin menghujudkan apa yang sudah orang tua kita dalam dakwah ini garis kan, dan meminimalis segala bentuk ketidak patuhan terhadap tertib dalam dakwah, karena kami berharap Allah swt menerima pengorbanan kami yang sangat sedikit ini dan semoga Allah swt gunakan kami dan keturunan kami dalam dakwah dan satukan kami kelak di akhirat bersama Rasulullah saw dan para sahabatnya, Amein..amein..amien..

Ya Allah jadikan rumah tangga kami sebagaimana rumah tangga Rasulullah dan para sahabat, jadikan istri-istri kami sebagai mana istri-istri para sahabat, dan jadikan anak keturunan kami sebagaimana anak keturunan para sahabat dan jadikan lingkungan kampung kami sebagaimana lingkungan para sahabat, Ya Allah gunakan kami dalam dakwah jangan lemparkan kami dari usaha dakwah ini amien..amien..amien…

Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’
Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakathan lil alamin…

Iklan

10 Responses to UMI MINTA TV

  1. Agus Taufiq Hidayat berkata:

    TV ane koq blom rusak-rusak ya… tp Alhamdulillah warna ama gambarnya udah mulai ga karuan…

  2. namaku ina berkata:

    assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh

    Emang pak..TV itu ‘menyeramkan’, apalagi kl penontonnya adalah laki2..hii..

    jauh2 dari sinetron dan gosip pak..nontonnya si unyil aja 😀

    pak landy..salam untuk ahlia-nya ya, dari ina ^____^

  3. subhanallah, keren mas Landy ni.
    untung saya blum punya istri, jadi nggak ada yg nagih.
    tetap istiqamah dan saling mendo’akan ya mas…

  4. sultan berkata:

    Alhamdulillah istri ga minta tv, btw ane mau dikasih ma ortu tv 29 inci ane tolak :D,

  5. Achmad Al Aziz berkata:

    Akhi…. Ana agak sedikit dibuat bingung, kita sdh sepakat untuk tdk membawa kotak “Dunia dalam Berita” dan kita usahakan ada kisah “Akhirat dalam berita” di rumah kita.. tapi lagi-lagi kalo ana buka Laptop net, dunia terus beritanya. Sami mawon dong

  6. taufik16ma berkata:

    semoga Allah tunjukan kita pada jalannya Rasuullah dan para sahabat r,hum

  7. ummu fathimah berkata:

    akhi sultan,sm niy..keluarga udah banyk yg nawarin tv buat dirumah, alhamdulillah zauji istiqmah ga mau pake tv, ga baik bwt pddkan anak, insyaALLAH ana jg ga terpedaya sama tv, wasting time banget gito loh..hehehe..

  8. abaizzat berkata:

    1.5 thn pertama pernikahan, rumah kami gak ada tv. Emang zauji bkn jenis org yg suka nongkrong dpn tv, jd gak pernah ngomong2 soal tv, apalagi minta dibeliin tv. Tp pas waktu anak pertama lahir, keluarga dari kampung pd berdatangan nginep di rumah, terpaksa deh sy beliin tv mini buatan Cina, kecil banget (lebih kecil dari muka org dewasa), layarnya cuma 8 inchi dan item-putih.. he he. Baru 5 hari pake, tv udah rusak (gak bisa ON).. diganti sm yg jual, bbrp bln kemudian rusak lagi, dimainin sama anak sy itu, pernah jatuh bbrp kali dan antenanya udah patah. Skrg msh bisa nyala sih, tp gambarnya cuma uget-uget doang 😉

  9. Aneh berkata:

    susah banget dapat TVnya..padahal sang suami justru wara wiri bersurfing ria di internet

  10. abd wahid berkata:

    salam…memang benar mas,klu enggak ada tv itu bgus sekali…karna klu nonton satu kali mau terus nanti karna nafsu itu susah dikawal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: