Korban Waktu Untuk Maqomi

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du….


12436_1149490464128_1433604847_30419420_940246_n

Tidak semua manusia Allah swt beri harta yang sama jumlahnya , begitupun dengan hal-hal lainnya, tapi ada satu hal yang setiap kita memiliki takaran yang sama yaitu dalam hal waktu. Setiap orang mendapatkan jatah waktu 24 jam dalam sehari, lain hal kalau memang sudah ajalnya mungkin kurang dari 24 jam, tapi setidaknya waktu adalah ukuran dimana setiap orang secara garis besar mendapatkan jatah yang sama baik ia raja ataupun rakyat jelata.


Dalam usaha dakwah ini ada 2 hal yang sangat di tekankan untuk di korbankan yaitu korban harta dan waktu. Mungkin kebanyakan dari umat hari ini tidak begitu sulit untuk korban harta, tapi mana kala disuruh meluangkan waktu, kebanyakan dari kita akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali.


Waktu menjadi sesuatu yang penting untuk di korbankan baik ketika sedang melakukan amalam maqomi maupun intiqoli. Kekurangan jumlah personil di muallah sering kali dijadikan alasan para pekerja dakwah tidak menghidupkan amal maqomi, pada hal sesungguhnya keengganan mengorbankan waktu untuk muallah yang menjadai dasar mengapa amal maqomi tidak hidup. Sifat malas dan malu seringkali hinggap di hati para pekerja dakwah termasuk saya..


Dulu saya beranggapan bagaimana bisa muallah saya hidup 5 amal sedangkan saya masih seorang diri dan ditambah lagi medan yang cukup berat karena saya tinggal di lingkungan yang mayoritas dihuni oleh penduduk asli tempat tersebut, yang sudah pasti aga susah untuk memulai sesuatu yang mereka anggap “baru”. Dan untungnya saya banyak sekali menjumpai orang-orang lama yang telah buat banyak korban dalam usaha dakwah ini sehingga masukan dan saran dari mereka seringkali membuat motivasi saya terpacu.


Usaha pertama yang harus dilakukan untuk menghidupkan maqomi ketika kita masih seorang diri adalah kita harus tanyakan kepada diri kita sendiri berapa banyak kiranya waktu yang akan kita berikan untuk muallah secara istiqomah, 5 menit ,10 menit , 1 jam atau berapa??? . Setelah itu kira-kira amalan apa yang bisa kita kerjakan dengan sejumlah waktu yang kita berikan tersebut, apakah taklim masjid, 2,5 jam, atau sebagainya. Yang harus di ingat ketika kita buat amal maqomi kita niatkan untuk membuat amal maqomi sempurna walau pada kenyatannya hanya fikir harian atau taklim masjid yang baru kita bisa buat.


Dan selalu tanamkan pada hati dan pikiran kita bahwa kita sedang membuat usaha yang dahulu Nabi saw pun buat. Tetap semangat membuat taklim walau kita seorang diri, bayangkan orang-orang yang kita kasihi baik yang menentang ataupun yang belum mau ambil bagian ada di hadapan kita, walaupun pada kenyataannya secara dzahir mereka tidak ada, sama halnya ketika Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyeru manusia untuk menunaikan haji, secara dzahir tidak ada manusia pada saat itu tapi kenyataannya Allah swt sampaikan seruan Nabi Ibrahim as tersebut sampai saat ini.


Kalau kita belum berani jumpa orang untuk bicara tentang iman, buat amalan di masjid entah baca qur’an atau yang lainnya serta selalu sibukkan diri kita di masjid , jaga hubungan baik kita dengan Allah swt, jadikan Allah swt tempat pertama untuk kita mengadukan setiap permasalahan yang kita hadapi sebelum masalah tersebut kita ceritakan kepada orang lain hatta istri kita sekalipun. Focus pada kerja ini jangan focus pada masalah-masalah yang datang ketika kita membuat maqomi , karena masalah yang timbul ketika kita membuat maqomi hakekatnya hanya dua saja, yang pertama setiap masalah yang timbul bisa jadi karena apa yang kita kerjakan masih teramat jauh dari tertib yang sudah digariskan para orang tua kita sehingga masalah yang Allah swt hadirkan sesungguhnya untuk mengembalikan kita pada tertib kerja yang sesungguhnya, atau kalau kita sudah buat kerja dengan tertib tetapi masih timbul masalah bisa jadi masalah tersebut pada hakekatnya untuk menaikan derajat kita di sisi Allah swt.


Tujuan usaha dakwah ini adalah bagaimana setiap umat paham atas maksud hidup mereka dihantar ke dunia ini. Dan yang harus di pahami bahwa usaha dakwah ini bukan untuk saat ini saja tapi bagaimana bisa berlanjut sampai anak cucu kita kelak bahkan sampai manusia yang terkahir lahir di dunia.


Buat usaha dakwah ini secara istiqomah dan selalu tingkatkan pengorbanan semampu yang kita bisa, terlebih lagi Masyech kita pesan setiap pekerja dakwah harus meningkatkan pengorbanan sebelum akhir 2010 karena akan ada perubahan besar yang akan terjadi yang saya pun tidak tahu apa.


Dalam usaha dakwah ini juga sangat ditekankan pentingnya kita bersub’ah/ berkunjung kepada orang tua kita di India,Pakistan,Bangladesh, bukan untuk mengkultuskan mereka melainkan untuk secara langsung melihat bagaimana mereka membuat kerja atas dakwah ini, karena dalam usaha dakwah ini bukan hanya belajar tentang kajian-kajian saja melainkan bagaimana mengaplikasikan apa yang kita dapatkan dalam bentuk praktek nyata. Oleh karena itu sangat di tekankan sebelum akhir 2010 bagi yang belum ke IPB ( India, Pakistan, Bangladesh ) segera ke IPB dan bagi yang sudah 2 tahun lebih belum sub’ah kembali maka pentingnya kembali ke IPB segera atau negeri jauh karena kita sangat di anjurkan minimal 2 tahun sekali sub’ah kepada para masyech agar kerja kita tidak melenceng dari yang telah di gariskan. Insya Allah kita semua niat amal dan tingkatkan pengorbanan.

Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’. Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu…

Iklan

3 Responses to Korban Waktu Untuk Maqomi

  1. arifisnaeni berkata:

    mau tanya klo nampilin tanggal hijriah kayak di blog ini script code untuk widget nya apa ya? terima kasih

  2. Jannah berkata:

    Waktu yang dimaksud mungkin waktu luang. Banyak yang kalau tidak diluangkan maka tidak luang-luang.

    Orang kaya waktunya sedikit, hartanya banyak, hingga untuk korban harta lebih mudah namun korban waktu rata-rata susah.

    Orang miskin hartanya sedikit, waktunya banyak, hingga untuk korban waktu lebih mudah namun untuk korban harta rata-rata susah.

    Keadilan Allah Ta’ala, usaha da’wah menuntut berkorban harta dan waktu(diri) di jalan Allah, sehingga dapat sama-sama mujahadah.

    Ya Allah IPB ya Allah..
    😦

    Yang saya maksud disini bukan ketika kita keluar intiqoli tetapi maqomi yang tidak membutuhkan materi/uang. karena kita kerja di maqomi kita, jadi tidak ada batasan apa itu dia orang kaya atau miskin semuanya sama-sama memiliki waktu, cuma 2 hal saja yang meyebabkan maqomi tidak pernah hidup Malas dan Malu tidak ada hubungannya dengan materi, beda kalau intiqoli.

  3. dhika berkata:

    ass.wr.bw
    mau.tanya.nie……
    untuk.jadwal.musyawarah.indonesia.untuk.tahun.ini.kpny??
    info.bisa.dkirim.via.email

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: