Sang Pemimpi

Desember 24, 2009

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du….


Ketika mas Riri Riza ditanya apa kesan yang hendak dibawa oleh para penonton sepulangnya menonton Sang Pemimpi, secara diplomatis Riri Riza menjawab “Sudah seharusnya setiap anak kembali untuk menghormati orangtua mereka dan sudah seharusnya pula anak-anak sekarang kembali mencium tangan bapaknya!”, ehmmm…. Nice.


Kapan ya kira-kira kita terakhir mencium tangan orangtua kita?? sebulan yang lalu…setahun yang lalu atau bahkan tidak pernah sama sekali???.


Saya dulu hampir tidak pernah mencium tangan bapak saya, setidaknya saya hanya mencium tangan beliau setahun sekali ketika hari raya Idul Fitri, tapi semenjak saya menikah hampir tak pernah saya tidak mencium tangan bapak saya ketika kami bertemu, bahkan hubungan yang terjalin diantara kami semakin baik, pada hal dulunya hubungan kami tidak berjalan mulus bahkan nyaris putus, layaknya hubungan Almarhum penyair Rendra dengan ayah beliau seperti yang digambarkan Emha Ainun Najib saat memberi kata sambutan ketika kematian Almarhum Rendra. Bahwa Rendra adalah orang yang sangat mencintai ibunya dan menjadi seorang pembangkang dengan ayahnya.


Hubungan seorang anak dengan orangtua kadang kala tidak semulus apa yang di harapkan, banyak faktor yang menyebabkan terjadi kerenggaan tersebut, saya sangat bersyukur Allah swt perkenalkan saya dengan usaha dakwah ini sehingga saya menyadari apa yang seharusnya menjadi kewajiban dan tanggung jawab seorang anak terhadap orangtuanya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya andai Allah swt tidak perkenalkan saya dengan usaha dakwah ini, mungkin akan ada Maling Kundang versi Modernnya.


Kalau boleh jujur saya sangat iri ketika ijtima 2007 di Ancol beberapa waktu yang lalu saat ayah mas Hanafi ikut hadir disana, begitupun saat ijtima 2008 di Serpong seorang teman datang bersama mertua dan anaknya padahal mertuanya tersebut orang yang keras dan sangat menentang usaha dakwah ini, dan rasa iri saya makin bertambah ketika ijtima serpong 2009 saat Rio membawa ayahnya untuk hadir dan berpoto bersama saya.


Baca entri selengkapnya »

Iklan

Musyawarah Indonesia ( 3,4,5 Desember 09 )

Desember 10, 2009

Musyawarah Indonesia ( 3,4,5 Desember 09 ) telah usai, takazah-takazah baik antar daerah maupun negeri jauh telah dibentangkan itu berarti  tidak ada kata istirahat bagi kita selain memenuhi takazah-takazah tersebut. Setiap pekerja dakwah sudah selayaknya harus kembali mengambil perhatian yang besar untuk membuat kerja di muallah masing-masing , karena keberhasilan kerja dakwah bermula dari muallah, muallah yang kuat akan membuat kuat juga halaqoh dan halaqoh yang kuat akan menguatkan markaz dan markaz yang kuat akan menguatkan markaz dunia, begitu pun sebaliknya kemunduran kerja ini bermula dari muallah, jadi tidak ada kata lain selain kita bersungguh-sungguh buat kerja atas muallah ( Kerja atas 5 amal maqomi , Kerja atas Ulama, Kerja atas Masturah, Kerja atas Orang Lama yang sudah tidak aktif, Kerja atas Pemuda, Pelajar dan Santri , Kerja atas orang Miskin, Kerja atas Orang Awam)

Setiap kita harus berusaha menghidupkan maqomi dengan sungguh-sungguh, karena kerja dakwah ini bukan kerja atas bayan ( ceramah-ceramah ) bukan pula kerja atas mudzakarah dan kajian-kajian melainkan kerja atas usaha bagaimana amal agama hidup dalam diri umat diseluruh alam dan hal tersebut harus di mulai dari diri kita. Hal yang sungguh mencengangkan adalah masih banyak pekerja dakwah yang belum menghidupkan taklim rumah, ini merupakan suatu musibah besar dan teramat besar karena sebagaimana kita sama-sama tahu taklim rumah adalah pintu masuknya agama ke dalam rumah kita, bagaimana anak dan istri kita mau paham terhadap agama kalau pintu masuknya tidak pernah kita buka, bagaimana mereka mau amal agama kalau kita selaku kepala keluarga tidak pernah mau duduk dalam taklim rumah. Yang harus dicamkan bahwa keberhasilan kerja atas masturah bukan dilihat dari banyaknya jumlah wanita yang pernah keluar masturah atau pun yang mengenakan purdah, melainkan banyaknya jumlah taklim rumah yang hidup dikawasan tersebut. Jadi untuk perkara taklim rumah kita harus ambil fikir dan risau atas perkara ini.

Orang tua kita dalam dakwah telah merumuskan usul-usul dakwah ini bukan berdasarkan pikir yang tinggi-tinggi, melainkan berdasarkan pengalaman mereka dalam berdakwah, oleh karenanya apa yang pernah mereka buat pastinya bisa juga kita buat. Beberapa hal yang juga ditekankan dalam musyawarah tersebut adalah bagaimana kita membuat kerja atas orang-orang miskin, karena orang-orang yang secara ekonomi kurang mudah sekali untuk dibentuk dan sebagian besar dari mereka memiliki sifat taat yang tinggi, bahkan ketika Maulana Yusuf rah.a membuka Eropa dan Asia maka dirinya mengirim jamaah-jamaah yang secara ekonomi tergolong miskin karena orang-orang tersebut memiliki asbab keduniaan yang sedikit tetapi ketergantungan terhadap Allah swt tinggi,bahkan sebagian besar orang yang pernah khuruj keliling dunia berlatar belakang dari orang-orang yang dari segi asbabnya tidak nampak. Dan yang harus menjadi catatan penting mengapa alim ulama baik di Pakistan , India dan Bangladesh banyak yang ambil bagian dalam usaha ini tidak bukan karena para pekerja dakwah disana bersungguh-sungguh menggarap orang-orang miskin, karena sebagaimana nasehat orangtua kita kalau ada 40 orang miskin yang ikut ambil bagian dalam usaha dakwah ini dan mereka buat kerja dengan sungguh-sungguh maka Allah swt akan hadirkan 1 orang ulama untuk ambil bagian dalam usaha dakwah ini.

Baca entri selengkapnya »