KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA

September 22, 2010

Krismansyah Rahadi / Chrisye (1949-2007):

KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA

(Taufiq Ismail)

Tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, ”
Bang, saya punya sebuah lagu, Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi
saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka
lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa.

Saya tanyakan kapan mesti selesai, dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya
yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya,
berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik
berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye
menginginkan puisi relijius. Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali.
Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga.
Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah.

Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik
jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan
telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya,
macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat
65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu
‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu
yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut
mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan
bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah.

Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa! Saya hidupkan lagi
pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi
tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan
bisa masuk pas ke dalamnya.

Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu
selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah
selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul
inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar
menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis
lagi, berkali-kali. Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah,
Chrisye Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:

Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang
karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya.

Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar
benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu
itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan
lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis
lagi.

Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap
sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika
Tangan dan Kaki Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya
dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir
tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan
menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat
Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat
menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali
tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap
saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan
gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila!
Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal
seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri! Butuh kekuatan untuk bisa
menyanyikan lagu itu.

Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam
itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak
bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia , saya lalu mengajak
Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan
saya.

Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.
Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak
sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,
itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!
Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya
ingin berlari! Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan
lagu yang pernah saya nyanyikan.

Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah
pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan
saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian
mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat
kelak.

Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin
Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin
biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan
menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif
dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* *
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran
album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser
untuk lagu tersebut.

Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya
jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan
Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya
tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan?
Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya,
tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.
“Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau
Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan
Maha Pengampun ‘ kan ?” Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga.
Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan
berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun
senang.
* *

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris
Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk
rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan
adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan
empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album
sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan
pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang
amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga
terbuka lebar baginya. Amin.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Lirik : Taufiq Ismail

Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina

1997

(Diambil dari artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah
sastra HORISON oleh Taufiq Ismail)

Iklan

Puisi Terakhir W.S Rendra

September 21, 2010

Renungan Indah – W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang RS)


Duduk Dalam Musyawarah

September 13, 2010

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

“Duduk!!!”, “Ya duduk saja nanti Allah yang kasih paham “ begitu yang teman saya katakan ketika diawal-awal saya ikut ambil bagian dalam usaha dakwah ini. Teman saya sangat menekankan pentingnya untuk kita selalu duduk dalam musyawarah agama, karena banyak sekali keutamaan yang akan kita dapatkan ketika kita berusaha mendudukan diri kita dalam setiap musyawarah agama ,baik di muallah , halaqoh maupun markaz. Dan hal tersebut yang sampai detik ini berusaha sekuat mungkin saya lakukan. Selalu ada kekuatan yang baru dalam mengamalkan setiap perintah Allah  ketika kita selesai menghadiri musyawarah agama karena memang tujuan utama musyawarah agama adalah bagaimana kita menyatuhkan fikir yang berbuah akan timbulnya rasa kasih sayang antara peserta musyawarah itu sendiri.

Dulu ketika diawal-awal ikut usaha dakwah saya masih bisa hadir musyawarah pagi bersama Suro dan orang tua kita dimarkaz, tapi karena lemahnya iman dan sibuk mengurus dunia, sekarang saya hanya bisa hadir musyawarah mingguan setiap hari senin badha magrib dimarkaz. Ada perasaan senang ketika duduk bersama orang-orang yang memiliki fikir yang tinggi untuk perkara agama, mengetahu pergerakan jamaah baik dalam maupun luar negeri, mengetahui takazah-takazah apa saja yang harus ditunaikan, terlebih melihat semangat orang-orang yang akan keluar untuk belajar agama. Ada perasaan yang tidak bisa dilukiskan dan dituliskan dengan kata-kata, serasa ada yang kurang kalau sekali saja tidak menghadiri musyawarah tersebut.

Saya tidak tahu apakah anda sekalian merasakan apa yang saya rasakan, tapi setidaknya sudah seharusnya kita semua berusaha untuk mendudukan diri kita dalam setiap musyawarah agama terutama musyawarah harian muallah dan mingguan di halaqoh, syukur-syukur bisa hadir setiap pagi hari dan setiap hari senin malam di markaz untuk duduk bersama orang tua kita, melihat dan menyaksikan sendiri kabar-kabar terbaru tentang usaha dakwah di belahan dunia, belajar langsung bagaimana para suro dan orang tua kita memutuskan perkara-perkara agama, belajar sabar dan iklas dalam menerima keputusan musyawarah yang pada akhirnya saya hanya berharap semoga kita semua di kekalkan dan matikan dalam usaha dakwah ini, amien..amein..amienm

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Tunaikan Dulu Kewajiban Baru Menuntut Hak

September 11, 2010

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Siapa yang tidak mau memiliki istri yang taat dan selalu memberikan pelayanan terbaik ( Khadimah ) kepada suaminya serta selalu hidup sederhana (Zahidah) tidak bermewah-mewah dan menumpuk harta dunia sebagaimana yang dicontohkan para sahabiyah pada jaman Rasulullah saw, pastinya setiap suami menginginkan istri yang seperti itu, tapi sayangnya, hal tersebut hanya sebatas keinginan belaka.

Seorang istri yang menjadi Zahidah dan Khadimah adalah buah dari usaha dan kerja keras suami yang sebelumnya menjadikan istrinya  memenuhi 4 hal : 1. Daiyah ( Mengajak manusia untuk selalu ta`at kepada Allah swt dan kepada Rasulullah saw dengan menanamkan iman yakin kepada kampung akhirat, dll.), 2. Alimah (wanita yang berilmu dengan menjaga ta`lim secara istiqamah) 3. Murobiyah (Sebagai guru yang mendidik anak – anak secara Islam sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw ), 4. Abidah (Ahli ibadah, menjaga shalat di awal waktu, dzikir pagi petang, semua pekerjaan rumah selalu diiringi dengan dzikir, istiqamah baca Al-Qur`an dan berusaha untuk selalu mengkhatamkannya, shalat-shalat sunat,puasa wajib dan puasa sunat serta gemar bersedeqah ) tanpa ke 4 hal tersebut maka sangat sulit seorang istri bisa menjadi Khadimah dan menjalankan hidup sebagai Zahidah, kalaupun ada istri yang bisa menjadi Khadimah tanpa terpenuhinya 4 kriteria tersebut ketaatannya tidak lain seperti ketaatan seorang budak terhadap majikannya dimana dibelakang majikannya sang budak selalu menggerutu, begitupun kalau ada istri yang bisa menjadi Zahidah tanpa memenuhi 4 hal diatas maka itu seringkali dilakukan selama sang suami masih ada disisinya, setelah suami tidak lagi ada disisinya seolah-olah dirinya merasa bebas menjalani hidup tanpa batasan.

Sayangnya jarang suami yang paham akan perkara ini, mereka menuntut ketaatan seorang istri tanpa mau berusaha agar istrinya memenuhi kriteria diatas , maka yang terjadi adalah percecokan didalam rumah tangga, Karena masing-masing kita hanya menuntut hak  tanpa mau menunaikan kewajiban masing-masing, atau dengan kata lain masing-masing baik suami dan istri salah membaca “buku” panduannya, sang suami membaca buku istri , sang istri membaca buku suami.

Lantas bagaimana agar ke-4 hal diatas tersebut dapat terpenuhi, maka sebagaimana yang orang tua kita anjurkan yaitu libatkan istri-istri kita dalam kerja masturah, Dudukkan istri kita dalam taklim rumah setiap harinya, kalau istri kita belum mau jangan pernah dipaksa, kita buat taklim sendiri dirumah, istiqomah waktu , tempat serta berusaha memenuhi adab-adabnya, kalau semua itu dilakukan dengan sebaik mungkin , pastinya akan ada perubahan yang terjadi.

Setelah istri kita mau duduk dalam taklim rumah, maka pelan-pelan kita ajak istri kita untuk ikut aktif dalam taklim muhalah atau halaqoh agar terbentuk suasana dakwah. Setelah istri kita aktif dalam 2 taklim tersebut maka pastinya dengan kesadaran sendiri istri kita minta di ajak keluar masturah, Ingat keluar masturahnya istri kita bukan karena paksaan melainkan karena kesadaran, sangat tidak dianjurkan suami memaksa istri untuk keluar masturah, karena istri yang keluar masturah karena paksaan suaminya bukan melalui kesadaran dirinya tidak akan mendatangkan hidayah untuk dirinya malahan sering kali membuat ia makin jauh dari hidayah.

Setelah istri kita mau diajak keluar 3 hari masturah, maka kita ajak dia pikir bahwa keluarnya dia 3 hari ini bukan untuk yang pertama dan terakhir melainkan berkelanjutan sampai akhir hidupnya. Mulai buat jadwal nisab 3 harinya setiap 3 bulan sekali dan keluarkan ia 15 hari setelah 3 kali 3 hari , bahkan sekarang sudah di putus boleh keluar 10 hari.

Terus istiqomah lakukan hal tersebut sambil meningkatkan pengorbanan 40 hari masturah bahkan syukur-syukur bisa 2 bln IP ( India, Pakistan ) bahkan negeri jauh, tentunya sang suami juga harus meningkatkan pengorbanannya jangan 3 hari terus setiap bulan tingkatkan menjadi 1/3 dari umur kita bahkan siap setiap saat apabila diputus musyawarah untuk sambut takazah agama.

Kalau suami-istri sudah mulai bekerja sama untuk perkara-perkara yang mendatangkan hidayah, maka pastinya Allah swt akan jadikan keluarga kita  keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. sebagaimana keluarga para sahabat Nabi saw dan pastinya akan lahir dari keturunan kita generasi-generasi  sebagaimana sahabat ra.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Tulisan diambil dari muzakarah ketika penulis keluar masturah


Keadaan Pekerja Dakwah

September 10, 2010

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Ketika kita ikut ambil bagian dalam usaha dakwah maka Allah swt akan datangkan 2 keadaan: 1. Keadaan yang berlawanan dengan nafsu kita ( ditentang, dicaci dsb ), 2. Keadaan yang sesuai dengan nafsu kita ( datangnya keduniaan, Harta, Tahta dan wanita). Apabila seorang pekerja dakwah berhasil melewati 2 keadaan tersebut maka ia akan kekal dalam dakwah dan kelak Allah swt akan bangkitkan bersama Rasulullah dan para sahabat-nya.

Usaha dakwah erat kaitanya dengan orang-orang miskin bahkan yang pertama-tama kali akan ambil bagian dari usaha dakwah ini adalah dari golongan orang-orang miskin, apabila masa itu datang dan orang-orang awal dalam dakwah tidak sedikitpun mengambil manfaat dari orang-orang miskin (tenaganya) untuk kepentingan pribadi mereka maka Allah swt akan turunkan hidayahnya lebih banyak lagi dan Allah swt akan kekalkan orang-orang lama dalam usaha dakwah.

Begitupun ketika orang-orang kaya sudah ikut ambil bagian dalam usaha dakwah dan orang-orang miskin dalam usaha dakwah ini tindak memanfaatkan keberadaan orang kaya (hartanya) tersebut untuk kepentingan pribadi mereka maka orang kaya akan Allah swt beri kepahaman kemana mereka harus membelanjakan harta mereka menurut apa yang Allah swt suka bukan menurut nafsu mereka.

Orang tua kita katakan akan datang suatu masa dimana di setiap lapisan masyarakat akan ikut ambil bagian dalam usaha dakwah , kalau saja pada masa itu keyakinan para pekerja dakwah bergeser sedikit saja bahwa masalah-masalah dalam dakwah akan selesai dengan keberadaan orang-orang tersebut maka sesungguhnya itu kemunduran dalam dakwah. Karena inti dari kerja dakwah ini bagaimana memalingkan semua keyakinan terhadap benda dan keduniaan menjadi keyakinan HANYA kepada Allah swt.

Hari ini Alhamdulillah semua lapisan pemerintahan sudah ikut ambil bagian dalam usaha dakwah, tapi anehnya mengapa masih saja ada beberapa Negara yang sulit sekali untuk mengurus visa, ini tidak lain karena ketawajuhan para pekerja dakwah bukan lagi kepada Allah swt melainkan kepada orang-orang yang berada dipemerintahan tersebut, dulu ketika jamannya para pekerja dakwah diusir dari masjid-masjid maka amir jamaah perintahkan seluruh jamaah hanya tawajuh kepada Allah swt buat amalan menangis dan doa, sekarang ketika masalah yang sama terjadi amir jamaah tidak lagi perintahan lakukan sebagaimana orang-orang lama lakukan , melainkan angkat telpon untuk menghubungi orang-orang yang mempunyai kedudukan, ketahuilah sesungguhnya ini adalah kemunduran dalam usaha dakwah. Untuk perkara ini maka kita banyak-banyak beristighfar dan berusaha untuk berjalan pada tertib kerja yang sudah digariskan oleh para orang tua kita.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Tulisan disari dari Bayan Subuh Markaz oleh Ustdz Ali.