Mudzakarah Masturah Semalam

Desember 13, 2010

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Semalam lepas musyawarah mingguan Jakarta, Mufti Luthfi al Banjari memberikan mudzakarah untuk Jamaah masturah yang akan keluar minggu ini , ada beberapa point penting yang menurut saya perlu menjadi perenungan, beberapa diantaranya :

– Alasan menggapa kita mengajak istri kita untuk keluar masturah adalah :1. Agar istri kita paham bahwa dirinya adalah istri seorang da’i dimana dirinya dituntut untuk berkorban sebagaimana pengorbanan para sahabiyah pada jaman Rasulullah saw, dengan kepahamanya tersebut diharapkan dirinya membantu kerja-kerja agama suaminya. Sebagaimana hari ini istri seorang Polisi , Dokter, dan Presiden tahu kedudukannya begitupun diharapkan istri-istri seorang perkerja agama. 2. Agar wanita paham kepada kodratnya untuk kembali ke rumah, karena bukan sebuah keberhasilan manakalah selepas keluar masturah seorang wanita masih berkeliaran diluar rumah dengan mengenakan cadarnya , walaupun itu mengunjungi rumah sesama masturah. Sangat tidak dibenerkan ketika suaminya sering melibatkan istrinya diluar rumah untuk perkara-perkara agama semisal untuk khususi-khususi karena tugas wanita adalah dirumah, menghidupkan agama di rumah sendiri. Dan Sangat tidak beradab ketika suami bercerita kepada suami yang lain tentang kelemahan istrinya dalam usaha dakwah ini agar bisa dikunjungi masturah lain untuk dikhususi, cara yang benar adalah agar suaminya paham dulu terhadap usaha dakwah nanti Allah swt akan pahamkan usaha ini keatas istrinya, kalau menceritakan ketidak pahaman istri terhadap orang lain sama saja merendahkan istrinya dihadapan orang.

– Pentingnya seorang wanita untuk mengetahui target apa yang diharapkan dari dia keluar masturah,

1. Agar wanita menjadi seorang Daiyah dimana setiap wanita yang berkunjung ke rumahnya tidak satupun yang pergi meninggalkan rumahnya selain telah didakwahkan tentang pentingnya agama.

2. Menjadi Murobiyah / pendidik dimana keberhasilan seorang wanita dalam hal mendidik anak bukan dengan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Islam yang bertarif tinggi untuk mendapatkan pengajaran agama melainkan dengan tangannya sendiri wanita tersebut mendidik anak-anak mereka menjadi ahli-ahli agama sebagaimana para sahabiyah.

-Jangan pernah mengajarkan kekufuran kepada anak-anak dengan cara menakut-nakuti ada hantu , atau hewan seperti ular dll, melainkan ajak dan didik anak-anak kita untuk takut hanya kepada Allah dengan mengatakan jangan berbuat begini atau begitu karena Allah swt maha melihat dan maha mendengar.  Dan jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada seorang anak tanpa berniat memenuhinya karena kalau kita tidak berniat memenuhi janji kita itu sama saja secara tidak lansung kita mengajarkan kemunafikan terhadap anak kita.

Sebenarnya masih banyak hal-hal penting lainnya tapi berhubung kelemahan daya ingat dan iman saya maka sangat sedikit yang bisa saya tuangkan dalam tulisan ini, semoga Allah pilih kita menjadi da’i-da’inya dan matikan kita dalam dakwah.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

     

     



Iklan

Korban Waktu

Desember 6, 2010

Tidak semua manusia Allah swt beri harta yang sama jumlahnya , begitupun dengan hal-hal lainnya, tapi ada satu hal yang setiap kita memiliki takaran yang sama yaitu dalam hal waktu. Setiap orang mendapatkan jatah waktu 24 jam dalam sehari, lain hal kalau memang sudah ajalnya mungkin kurang dari 24 jam, tapi setidaknya waktu adalah ukuran dimana setiap orang secara garis besar mendapatkan jatah yang sama baik ia raja ataupun rakyat jelata.

Dalam usaha dakwah ini ada 2 hal yang sangat di tekankan untuk di korbankan yaitu korban harta dan waktu. Mungkin kebanyakan dari umat hari ini tidak begitu sulit manakala disuruh korban harta, tapi mana kala disuruh meluangkan waktu, kebanyakan dari kita akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali.

Waktu menjadi sesuatu yang penting untuk di korbankan baik ketika sedang melakukan amalam maqomi maupun intiqoli. Kekurangan jumlah personil di muallah sering kali dijadikan alasan para pekerja dakwah tidak menghidupkan amal maqomi, pada hal sesungguhnya keengganan mengorbankan waktu untuk muallah yang menjadai dasar mengapa amal maqomi tidak hidup. Sifat malas dan malu seringkali hingga di hati para pekerja dakwah .

Dulu saya beranggapan bagaimana bisa muallah saya hidup 5 amal sedangkan saya masih seorang diri dan ditambah lagi medan yang cukup berat karena saya tinggal di lingkungan yang mayoritas dihuni oleh penduduk asli tempat tersebut, yang sudah pasti aga susah untuk memulai sesuatu yang mereka anggap “baru”. Dan untungnya saya banyak sekali menjumpai orang-orang lama yang telah buat banyak korban dalam usaha dakwah ini sehingga masukan dan saran dari mereka seringkali membuat motivasi saya terpacu.

Usaha yang paling pertama untuk menghidupkan maqomi ketika kita masih seorang diri adalah kita harus tanyakan kepada diri kita sendiri berapa banyak kiranya waktu yang akan kita berikan untuk muallah secara istiqomah, 5 menit ,10 menit , 1jam atau berapa??? . Setelah itu kira-kira amalan apa yang bisa kita kerjakan dengan sejumlah waktu yang kita berikan tersebut, apakah taklim masjid, 2,5 jam, atau sebagainya. Yang harus di ingat ketika kita buat amal maqomi kita niatkan untuk membuat amal maqomi sempurna walau pada kenyatannya hanya fikir harian atau taklim masjid yang baru bisa buat. Wallahualam bi shawab