Korban Waktu

Tidak semua manusia Allah swt beri harta yang sama jumlahnya , begitupun dengan hal-hal lainnya, tapi ada satu hal yang setiap kita memiliki takaran yang sama yaitu dalam hal waktu. Setiap orang mendapatkan jatah waktu 24 jam dalam sehari, lain hal kalau memang sudah ajalnya mungkin kurang dari 24 jam, tapi setidaknya waktu adalah ukuran dimana setiap orang secara garis besar mendapatkan jatah yang sama baik ia raja ataupun rakyat jelata.

Dalam usaha dakwah ini ada 2 hal yang sangat di tekankan untuk di korbankan yaitu korban harta dan waktu. Mungkin kebanyakan dari umat hari ini tidak begitu sulit manakala disuruh korban harta, tapi mana kala disuruh meluangkan waktu, kebanyakan dari kita akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali.

Waktu menjadi sesuatu yang penting untuk di korbankan baik ketika sedang melakukan amalam maqomi maupun intiqoli. Kekurangan jumlah personil di muallah sering kali dijadikan alasan para pekerja dakwah tidak menghidupkan amal maqomi, pada hal sesungguhnya keengganan mengorbankan waktu untuk muallah yang menjadai dasar mengapa amal maqomi tidak hidup. Sifat malas dan malu seringkali hingga di hati para pekerja dakwah .

Dulu saya beranggapan bagaimana bisa muallah saya hidup 5 amal sedangkan saya masih seorang diri dan ditambah lagi medan yang cukup berat karena saya tinggal di lingkungan yang mayoritas dihuni oleh penduduk asli tempat tersebut, yang sudah pasti aga susah untuk memulai sesuatu yang mereka anggap “baru”. Dan untungnya saya banyak sekali menjumpai orang-orang lama yang telah buat banyak korban dalam usaha dakwah ini sehingga masukan dan saran dari mereka seringkali membuat motivasi saya terpacu.

Usaha yang paling pertama untuk menghidupkan maqomi ketika kita masih seorang diri adalah kita harus tanyakan kepada diri kita sendiri berapa banyak kiranya waktu yang akan kita berikan untuk muallah secara istiqomah, 5 menit ,10 menit , 1jam atau berapa??? . Setelah itu kira-kira amalan apa yang bisa kita kerjakan dengan sejumlah waktu yang kita berikan tersebut, apakah taklim masjid, 2,5 jam, atau sebagainya. Yang harus di ingat ketika kita buat amal maqomi kita niatkan untuk membuat amal maqomi sempurna walau pada kenyatannya hanya fikir harian atau taklim masjid yang baru bisa buat. Wallahualam bi shawab

 

Iklan

5 Responses to Korban Waktu

  1. ahbab berkata:

    Mungkin perlu sering-sering ada ijtima, dan sering hadir dalam amal-amal ijtima supaya kuat beramal.

  2. Fahmi Wirajaya berkata:

    semoga Allah menggugurkan dosa2 orang keluar di jalan Allah, baik dosa kecil maupun besar. selalulah berharap pada rahmat Allah. sesungguhnya manusia baru mulia dengan agama, dan tidak selainnya.

  3. iimboim berkata:

    2,5 jam dibuat dgn muhalla..2 x y sdh kuat ke muhalla yg blm hidup 5 amal, segitiga sesuai muzakarah jama’ah dari Maharasta.

  4. FidunyaWalAkhiroh berkata:

    Bismillahirrohmannirrohim

    Assalamuálaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Masih kuingat jelas, hari ketika hujan deras membasahi bumi-Mu dan dinginnya angin memeluk malam itu hingga tanah mencair dalam beku. Butirannya membasahi tubuh dan mendinginkan kelu, ia bukan hanya menggetarkan tapi juga membuat siapa pun yang beradu dengannya akan merasa kalah karena tak berdaya. Di malam itu aku belajar, bahwa BELUMLAH APA-APA yang sudah kulakukan. BELUMLAH SEBERAPA, langkah yang terlanjur kutapaki. Engkau memberiku satu titik kontemplasi yang maha dahsyat, menyengat, sampai-sampai aku tertatih-tatih di bawah pohon-pohon yang rindangnya mulai habis setelah musim gugur mulai berdatangan. Di masa itu, aku BELAJAR, banyak sekali BELAJAR. Tentang yang namanya IDEALISME, tentang IKHLAS, tentang HARAPAN, juga tentang DO’A-DO’A panjang yang sering lalai untuk kuucapkan. Di masa itu kutanamkan dalam jiwa, bahwa masih banyak PR yang harus terselesaikan, masih banyak cerita yang belum sempat kusempurnakan dan kuakhiri dengan indah. Di masa itu, Engkau bukan hanya memberiku satu momen yang paling berharga, namun juga memberiku cahaya kelapangan untuk berpikir secara jernih. Di masa itu, setidaknya aku menafsirkan kuasa-Mu yang jatuh melimpah dan mengairi gersangnya hati para penghamba.

    Masih akan ada, cerita-cerita yang lebih melelahkan yang akan tercipta, karena ia adalah bentuk cinta-Mu pada sang perindu syurga. Seperti dalam sebuah Hadits yang di riwayatkan oleh Tirmidzi “… Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah mengujinya. Maka barangsiapa Ridha dengan ujian Allah, baginya Ridha dari Allah..” Sungguh, bukan hanya sekedar pesan cinta, namun juga ujian bagi mereka yang benar-benar ridha(rela) dengan ketentuan-Mu, atau juga ia bisa menjadi azab sebagai penggugur dosa-dosamu. Begitulah Allah, selalu bersahaja setiap pesan bijak yang ia titipkan dalam episode hidup kita. Kadang kita merasa kalah karena tak mampu melangkah, tapi, Allah lebih sering memberi kita harap untuk tak kenal lelah berusaha. Karena limpahan kasih dan rahmat-Nya memang tak berbilang, tak terdefenisi.
    Dan di detik ini, aku bergetar kembali ya Rabb.. Setelah semalam kusalin dalam-dalam kisah perjalanan panjang para pejuang di bumi Palestina, kuredam diam-diam perasaan sedihku yang membuncah atas kerja-kerjaku yang tak seberapa, kupeluk erat-erat semua keresahan yang tiba-tiba hadir menggetarkan tubuh karena langkah-langkahku yang tak seindah senja. Semuanya benar-benar membangunkanku dari buaian dan kekotoran hati akan amal-amal yang belumlah seberapa. Merindui Abu Bakar, menangisi Umar bin Khathab, mencintai sosok mulia Salman Al Farisi, mencemburui kepandaian sang penghulu ilmu ALi Bin Abi Thalib, hingga menyesaki diri dengan sejuta pesona milik Ali Zainal Abidin Ibn Husain. Allahu… Mungkinkah kami, yang tak punya kontribusi dan kerja-kerja nyata ini bertemu dengan mereka ? Merasakan manisnya duduk bersama majelis Abu Bakar yang penuh kesederhanaan namun mulia, juga merambatkan getaran-getaran keberanian Umar bin Khathab yang mampu membuat takut kaum kafir hingga syetan durjana, ataukah, mampukah kami tak pernah habis kobaran-kobaran idealisme-nya seperti kuatnya karakter pemuda shalih Ali bin Abi Thalib ? Allahu.. kalaupun syurga dan derajat syuhada itu begitu jauh dengan kami. Maka berikan kami KESEMPATAN dan WAKTU untuk BELAJAR. Belajar untuk menaklukkan dunia dan mendahulukan kepentingan akhirat kami, belajar untuk memuliakan-Mu melebih semua penghuni makhluk di bumi, hingga belajar bagaimana menjadi insan-insan tangguh yang selalu berorientasi kepada penghambaan yang kokoh untuk-Mu.

    Bayang-bayang sirah mereka masih tergambar jelas. Seperti senggukan Umar karena berselisih paham dengan Abu Bakar, seperti kuatnya karakter hati Salman Al Farisi atas Abu Darda, juga kesibukan hari Ali Zainal yang malamnya di isi dengan memanggul makanan bagi orang-orang papa. Bayang-bayang mereka mengganggu dan mengusik imaji-ku siang ini. Untuk mereka ya Rabb.. Kutitip berjuta rindu tak terkira.. Kukirim salam cinta terindah.. Kalaupun kami tak layak bersama mereka, izinkanlah kami terus mencintai mereka, meneladani mereka,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: