Penilaian Tanpa Keadilan

 

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Pastinya menjadi sesuatu yang biasa ketika anda menyaksikan seorang anak menangis dan merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya, karena hal yang seperti itu puluhan bahkan ratusan terjadi setiap hari dipermukaan bumi, tetapi menjadi sesuatu yang tidak biasa manakala hal tersebut menimpa keluarga para pekerja dakwah, terlebih ketika kejadian tersebut Ayah/suami mereka sedang khuruj, maka sudah bisa dipastikan ocehan-ocehan yang menjurus kepada fitnah keluar dari para penentang usaha dakwah dan tabligh,

       “Khuruj melentarkan keluarga lah” dan masih banyak ucapan-ucapan fitnah lainnya. Saya jadi teringat dengan tulisan Almarhum La-Rose disalah satu bukunya, beliau menceritakan fenomena orang yang tidak adil dalam melakukan penilaian dimana ada seseorang yang sedang menyantap hidangan dimeja makan dengan beberapa orang tamunya, ketika seorang anak yang bertubuh subur dan dari latar belakang orang berada mulai mengambil beberapa makanan yang dihidangkan dan dengan cepatnya menyantap seluruh makanan tersebut maka si empunya rumah hanya berkata yang bernada memuji apa yang dilakukan anak orang kaya tersebut, betapa si anak sehat dan pintar karena tanpa malu-malu memakan hampir seluruh makanan yang dihidangkan, tetapi penilaian berbalik 180 derajat mana kala anak dari keluarga miskin mulai mengambil beberapa makan yang dihidangkan,dan menyantap dengan begitu nikmatnya, mulai dari mengatakan anak orang miskin itu tidak beradab sampai mengatakan anak miskin itu begitu rakusnya.

       Melakukan penilaian tanpa keadilan mungkin tanpa disadari sering pula kita lakukan padahal seperti yang pernah dikatakan Kh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym saat sesi wawancara dalam salah satu acara di MetroTV;

“Bisakan menilai sebuah buku dengan melihat sebentar jilidnya ??? Jelas tidak bisa, untuk memahami sebuah buku harus dibaca dan itu tidak bisa global harus selembar demi selembar, begitulah untuk membaca sebuah kejadian harus memiliki kejernihan hati dan kesungguhan untuk menelaah”.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman menghubungi saya dan memberitahukan bahwa keluarga teman yang sedang ditinggal khuruj mengalami musibah, rumah tempat tinggalnya rusak akibat terkena angin kencang yang disertai hujan lebat yang menimpa Jakarta belum lama ini, mengakibatkan kerusakan bukan saja rumah teman yang kebetulan suaminya sedang khuruj tetapi beberapa rumah disekitarnya. Seperti bisa diduga sebelumnya orang-orang yang tidak suka dengan usaha dakwah ini bukannya sibuk membantu saudaranya yang terkena musibah malahan sibuk membuat fitnah-fitnah baru, banyak berita-berita yang kurang sedap untuk didengar terucap dari mulut-mulut mereka, Tapi ajibnya ucapan mereka sama sekali tidak berpengaruh kepada istri teman tersebut.

 “Ya saya mah sudah biasa denger hal yang seperti itu, lagian ada atau tidak suami saya kalau Allah swt telah tetapkan hari dan detik ini rumah saya amruk ya amruk juga, lantas apa kalau ada suami saya rumah ini gak jadi amruk, mungkin asbab suami saya khuruj yang amruk cuma dapur saja dan syukurnya saat kejadian saya dan anak-anak sedang berada dikamar jadi tidak jatuh korban”

       Untuk perkara ini saya jadi teringat salah satu bayan di Masjid Jami Kebun Jeruk bahwa ada perbedaan yang nyata antara orang yang beriman dengan orang yang tak beriman?, Orang yang tak beriman apabila mengalami keadaan yang tak sesuai dengan apa yang diinginkan ( nafsunya ) maka yang pertama kali dipikirkan adalah bagaimana merubah keadaan tersebut sehingga menjadi sesuai dengan yang dia inginkan ( nafsunya ), sedangkan orang yang beriman setiap kali menghadapi sesuatu baik yang sesuai dengan nafsunya atau bertentangan dengan nafsunya maka yang pertama kali dia lihat, apa perintah Allah swt untuknya saat itu, semisal ketika kita mengalami musibah maka orang yang beriman akan berfikir, apa yang Allah swt kehendaki pada dirinya dengan musibah tersebut. Karena pada dasarnya selesai atau tidak selesainya sesuatu permasalahan yang datang pada diri kita bukanlah suatu maksud, tetapi apakah dengan datangnya permasalahan tersebut kita semakin dekat dan bergantung kepada Allah swt atau tidak bukan pada selesai atau tidak selesainya permasalahan kita.

       Melalui tulisan ini saya hanya ingin menghimbau kepada kita semua, bukannya Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk saling tolong menolong apabila ada saudara muslim kita yang butuh pertolongan, kalaupun tidak menolong mbok jangan menambah beban kepada orang tersebut dengan membuat fitnah-fitnah atau saling ghibah yang kita sama-sama tahu bahayanya dalam pandangan Allah swt. Bahkan kepada orang kafir sekalipun kita harus berlaku adil dalam segala hal terlebih kepada saudara kita yang muslim. Tapi ini semua kembali kepada individu masing-masing, Karena penyakit hati itu ibarat kita memeluk buah durian , semakin erat dipeluk semakin membuat kita terluka dan sakit.

      Untuk menutup tulisan ini , kembali saya mengutip kata-kata Kh Abdullah Gymnastiar sebagai penguat bagi kita-kita yang sedang mengalami masa-masa sulit menghadapi orang-orang yang berpenyakit hati;

“Kenapa kita harus terluka dengan kata-kata orang lain. Karena saya sudah punya komitmen pada diri saya bahwa hidup saya tidak mau diatur oleh kelakuan orang lain. Orang mau ngomong jelek itu urusan mulut dia kenapa saya harus ikutan ngomong jelek , orang mau melotot itu mata dia kenapa saya harus ikutan melototkan mata saya , kalau hidup saya hanya niru keburukan orang, saya diatur orang,
lalu apa artinya sekolah lama , belajar agama lama, dakwah lama kalau hidupnya hanya niru keburukan orang kan rendah sekali kita ini, saya hanya mau diatur Allah saja , karena yang menciptakan saya Allah , yang ngasih pahala Allah yang punya sorga juga Allah yang ngampuni dosa saya Allah kenapa saya harus menderita oleh mulut orang ??

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

2 Balasan ke Penilaian Tanpa Keadilan

  1. mr black mengatakan:

    Allah mencintai hamba Nya yg sabar,.

  2. domtheoos mengatakan:

    tapi waktu aku kecil dlu, aku menangis dan merengek untuk di belikan mainan tapi orang tuaku tetap tidak akan membelikannya. dia sudah benera mendidiku sampai sekarang, tidak harus menuruti permintaaan untuk kemauan.

    Pest Control

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: