“Sang Pelakon”

April 4, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       

Almarhum Suami Sha di ruang ICU

         Dunia ini layaknya sebuah panggung yang besar dimana setiap kita adalah pemeran yang berkewajiban memerankan peran sebaik mungkin dari sang “Sutradara”. Terkadang ada rasa kejenuhan ketika harus memerankan “karakter” yang sama berulang kali dalam setiap peran yang harus di “pentaskan”, tapi sekali lagi kita hanyalah wayang-wayang yang sangat bergantung pada arahan “Sang Dalang”, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus menjalani sesuatu yang memang sudah seharusnya kita jalanin tanpa banyak protes , dibutuhkan kerja keras untuk bisa membuahkan kepasrahan yang tinggi untuk menyerahkan secara total hidup kita kepada “Sang Sutradara”, layaknya seekor kijang yang hanya tertunduk tanpa perlawanan dalam terkaman harimau untuk menyambut sang keabadian. Karena akan teramat lucu ketika sang tokoh dalam sebuah cerita memprotes sang penulis yang menciptakan tokoh tersebut.

        Sama lucunya ketika Sha mencoba “mengugat “ Sang Sutradara ( baca : Allah swt ) atas ketidak adilan “peran” yang harus dia bawakan dalam hidupnya, “peran” yang lagi dan lagi harus dia mainkan, seakan mengunakan pendekatan drama runut dengan tempo lambat yang lumayan menyiksa terlebih harus membawakan “peran” tersebut secara slow motion dan berulang-ulang

Gw gak tahu apa maunya Allah seakan gw gak di beri nafas sedikit pun, baru sebulan gw kehilangan suami (21/01/12) , sekarang mertua gw (22/2/12) yang meninggal dan hari ini Bunda sakit, ditambah Azzura harus ngulang kelas 1 tahun ajaran baru nanti”

        Saya hanya tersenyum menyaksikan “protes” adik saya tercinta teringat sayapun pernah melakukan hal yang sama setahun yang lalu, bukan pada protes yang extreme melainkan hanya mempertanyakan dan berharap diberikan sedikit jedah untuk menarik napas sebelum kembali memerankan”peran” yang sama. Karena akan menjadi sebuah ironi manakala kita berada dalam situasi dimana pilihan menjadi amat terbatas atau bahkan tidak ada samasekali.

         Tahun 2011 bukanlah tahun yang menyenangkan menurut kacamata saya karena ditahun tersebut saya seakan dipaksa untuk”memerankan” karakter yang sesungguhnya bukan diri saya, tetapi karena sikaf kepasrahan dan kepercayaan total kepada “Sang Sutradra” yang membuat saya dapat bertahan melewati semua masalah hingga detik ini, ibarat aktor yang memiliki kemampuan biasa tetapi di dukung oleh “Sutradara” yang hebat, kru dan para pemain pendukung yang luar biasa ditambah narasi yang terdefinisikan dengan baik diperkuat dengan music scoring layaknya orchestra maka sukseslah saya dalam melewati saat-saat mencekam tersebut.

         Walau saat ini pertanyaan Sha diawal tulisan ini dan pernah menjadi pertanyaan saya masih mejadi misteri yang belum terungkap tapi setidaknya kami berharap misteri tersebut sedikit demi sedikit akan terungkap seiring “narasi“ bergulir menujuh pada kesimpulan akhir

           Mungkin kuncinya ada pada kesabaran, karena kesabaran merupakan faktor yang harus dimiliki untuk menyelesaikan peran saya dalam “panggung” ini. Saya hanyalah seumpama bidak catur yang digerakkan sesuai fungsinya, jadi selama lampu “kamera” tetap menyalah dan belum ada aba-aba ‘Cut” dari sang “Sutradara” maka saya harus tetap memainkan dan memerankan “peran” sebaik dan secemerlang mungkin, bersatu dan melebur dalam setiap karakter yang diberikan merupakan keniscayaan sampai credit title bergulir dan pada saatnya kelak kita akan berdiri di “panggung” yang lebih besar dari yang sekarang kita diami untuk menerima “awards” dari “Sang Maha Sutradara”.

Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah kepada Robmu dengan Ridho dan Diridhoi.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Sekolah Untuk Azzura dan Aulia

April 1, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

         Setelah mempertimbangkan semua factor dari mulai faktor psikologis sampai ekonomi tepat seminggu setelah meninggalnya sang suami (21/01/12), Sha dan kedua anaknya memutuskan hijrah ke Jakarta (tempat orangtua saya), kepindahan Sha ke Jakarta tidak hanya berdampak bagi dirinya tapi juga kedua anaknya terutama masalah sekolah Azzura karena sebelum kepindahan ke Jakarta Azzura tercatat sebagai siswa kelas 1 SDIT dan ternyata proses pemindahannya tidak semudah yang sebelumnya dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi baik administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN | Nomor Induk Siswa Nasional dari sekolah lamanya) maupun dari diri Azzura yang sepertinya belum siap untuk bersekolah ditempat yang baru.

         Awalnya kami ingin memasukan Azzura ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT ) seperti sebelumnya terlebih Almarhum suami Sha sangat anti sekolah Negeri Karena kurangnya mata pelajaran keagamaan yang diajarkan, tapi kami harus realistis, SDIT bukan barang yang murah untuk kami saat ini terlebih Aulia anak ke dua Sha tahun ini juga harus masuk TK di tambah biaya persalinan Sha yang tinggal menunggu harinya, berkaca dari itu semua terpaksa keinginan memasukkan Azzura ke SDIT kami kubur dalam-dalam dan kami memilih untuk memasukan Azzura ke sekolah Negeri dengan penuh konsekwensi pastinya

         Karena kendala proses administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN /Nomor Induk Siswa Nasional ) dari sekolah lamanya terpaksa Azzura harus mengulang kelas 1 tahun ajaran baru berikutnya, Sempat terpikir untuk memasukkan Azzura ke Homeschooling setidaknya agar dia tidak mengulang kelas 1 dan bisa langsung masuk kelas 2 pada tahun ajaran baru di sekolah negeri, tapi ternyata tidak semua sekolah negeri bisa menerima pidahan anak Homeschooling khususnya sekolah negeri yang akan dimasuki Azurra, padahal saya sudah sempat mendatangi 2 Homeschooling (Sekolah Rumah Kamyabi dan Homeschooling Berkemas ) dan berniat mendaftarkan disalah satu tempat tersebut walau pada akhirnya niat tersebut dibatalkan.

        “Kalau di sekolah itu ( sekolah negeri ) perempuannya gak pada pake jilbab Uya ( Azzura ) juga gak mau ah pake jilbab kesekolah malu tar dikatain,pakenya kalau main dirumah aja” protes Azzura kepada kami, walau sedikit susah meyakinkan Azzura untuk tetap mengenakan Jilbab ke sekolah negeri nanti, tapi setidaknya untuk saat ini dirinya luluh juga, selain Azzura tahun ini Aulia adiknya juga masuk TK, berbeda dengan Azzura permasalah justru dari pihak sekolah dimana secara nama dan pengajaran TK tersebut TK Islam tetapi secara busana sama sebagaimana TK umum yang tidak menerapkan busana muslimah bagi siswanya.

Maaf kami memang TK Islam tapi tidak semua siswa disini mau mengenakan busana muslim jadi dari pihak sekolah tidak mewajibkan busana muslim tapi kalau dari orang tua siswa berkeinginan anaknya berbusana muslim kami pihak sekolah bersedia mempasilitasi tapi tentunya dengan biaya tambahan karena busana muslim kan berbeda dengan yang umum” ( dari sekolah itu berdiri sampai saat ini baru kami yang mengajukan busana muslim ).

        Mungkin untuk sebagian orang kami ( Saya dan Sha ) terlihat terlalu memaksakan sesuatu yang sebenarnya masih bisa di tunda penerapannya ( memakai jilbab ) terlebih medan yang mereka (Azurra dan Aulia ) tempuh tidak mudah dimana lingkungan mereka beraktifitas tidak mewajibkan hal tersebut maka dapat dipastikan aroma perbedaan terlalu kentara dan mencolok, tapi Insya Allah niat kami bukan untuk sekedar gaya-gayaan agar disebut lebih “Nyunah” melainkan semata-mata untuk menanamkan nilai-nilai agama sedini mungkin kepada mereka , sama halnya ketika orangtua kami menanamkan hal tersebut di diri saya dan Sha.

         Dulu dibenak saya betapa menyiksanya setiap sedang asik bermain tiba-tiba harus pulang kerumah mengambil sarung dan berlari ke masjid karena suara adzan sudah terdengar terlebih setiap badha magrib saya dan Sha harus sudah siap di kamar untuk belajar mengaji kepada Bunda, sedangkan anak-anak yang lain masih asik bermain, kadang ada perasaan iri terhadap anak-anak yang lain saat itu, tapi sekarang kami sangat bersyukur karena kedua orang tua kami pernah menanamkan prinsip-prinsip beragama yang kuat sedari kami kecil yang pastinya berimbas sampai kami dewasa. Bercemin dari pola pendidikan yang saya dan Sha dapat sewaktu kecil maka hal yang sama coba kami terapkan kepada anak-anak kami walau pastinya tidak sekaku ketika kedua orang tua kami mendidik kami, dimana sangat terasa aroma otoriter dari mereka. Kami tahu jalan yang kami tempuh bukan jalan yang mudah tapi kami yakin Allah akan selalu bersama kami dan semoga Allah swt meridhoi apa yang kami lakukan terhadap anak-anak kami dan semoga mereka dapat menjadi ladang amal bagi kami kelak di akhirat dan dapat membuka jalan yang mudah untuk menujuh surga-Nya amien..amien..amien….

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..