“Anak Panah”

68613_107899489385454_1973711419_n

           Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

          Dalam hidup adakalanya Iman ini melesat tinggi seperti anak panas lepas dari busurnya dan adakalanya Iman seperti berjalan ditempat layaknya anak panah yang diam ditabung-Nya.

        Saya mengenal dirinya hampir 10 tahun yang lalu, saat kami untuk pertama kalinya dipertemukan Allah swt disuatu masjid dalam rangka islah diri. Sejak saat itu kami menjadi orang yang begitu dekat,  saya teramat kagum dengan perubahan yang terjadi pada dirinya , dari seseorang yang biasa menjadi orang yang sangat luar biasa, layaknya anak panah yang melesat jauh meninggalkan busurnya.

        Loncatan yang dilakukan dalam “usaha atas iman” begitu fantastis, keyakinan yang begitu kuat untuk selalu memperbaiki diri menghantarkannya untuk beberapa kali khuruj 4 bulan ke beberapa daerah di Indonesia bahkan sampai ke India, Pakistan dan Bangladesh, sesuatu yang  bagi saya masih menjadi sebuah cita-cita dikarenakan ketidak sungguhan saya dalam memperbaiki diri.

         Tetapi beberapa tahun belakangan ini ada yang berubah dari dirinya baik dari tampilan fisik maupun pola pikirnya, baju gamis yang selalu dia kenakan untuk beraktifitas sudah tidak tampak lagi, begitupun dengan janggut panjang yang menjadi ciri khas dirinya sudah berubah menjadi  sejumput rambut yang masih dia biarkan tumbuh liar didagunya.

        “Dakwah itu harus fleksibel jangan merasa eksklusif“ dirinya mencoba memberi argument atas pertanyaan saya beberapa tahun yang lalu. Dan sejak itu saya merasakan ada jarak diantara kami, jarak yang tak kasat mata tapi begitu kentara, sosok yang dahulu seakan hilang berubah menjadi sesuatu yang asing dan tidak saya kenal walau sudah sekuat tenaga untuk mencoba. Dirinya dekat tetapi sangat sulit untuk di jangkau.

           Dan untuk pertama kalinya setelah hampir 3 tahun kami bertemu kembali

“Apakabarnya bro, ini anak elo?” ucapnya  saat kami bertemu di salah satu mall ketika saya beserta istri sedang belanja bulanan. Saya hampir tak mengenali dirinya dengan penampilannya yang sekarang.

 “ Elo sendiri aja?” Tanya saya,

“Enggak ama istri gw, tuh dia lagi nemenin anak gw mandi bola” ucapnya datar. Ada haru dan jutaan pertanyaan yang tak bisa terucapkan di diri mengenai sosok sahabat saya ini. Tanpa sadar “jarak itu” semakin jauh dan saya sangat kehilangan sosoknya  yang dahulu,

 “Dunia ini cuma tipuan  bro jangan sibuk-sibuk, masa masih daftari nisab 3 harinya”

“Kapan nih nisab tahunannya tar keburu mati loe”

“Ke markaz ga, jangan sibuk dunia mulu”

“Cepet nikah biar kita bisa bareng keluar masturah , biar ga sebelah sayap”

           Saya rindu kata-kata itu , kata-kata yang meluncur mulus di bibirnya beberapa tahun lalu saat kebersamaan kami begitu erat.

“Boleh gw minta no telpon loe, nomor yang lama dah gak aktif ya?” Tanya saya seolah mencairkan kekakuan diantara kami. Alangkah terkejutnya saya ketika meliat bola matanya berkaca-kaca.

“Gw kangen markaz bro, kangen kaya dulu lagi” ucapnya lirih bahkan nyaris tak terdengar karena suasana mall yang begitu bising.

“Kenapa ga kesana kalau kangen” jawab saya.

“Gw malu, gw berasa dah jauh banget”  jawabnya singkat sambil menundukan pandangan ke lantai

“Kenapa malu, sejatinya gak ada alasan buat elo malu untuk kemarkaz dan melakukan hal yang seperti dulu elo lakukan”.

“Gw berasa ga pantes aja, udah terlalu kotor kayanya diri gw”. Ucapnya lirih.

“Elo tahu ga , Almarhum ustadz Jailani pernah kasih targib, selemah-lemahnya orang yang pernah keluar 4 bulan dan tidak aktif lagi, pasti didalam hatinya ada kerinduan untuk kembali lagi, kalaupun mereka belum kembali saat ini bukan karena mereka tidak mau melainkan mereka bingung dari mana mereka harus memulai kembali.” Ucap saya dan sahabat saya hanya terdiam

“Bukannya gw sok pinter karena gw tahu elo jauh lebih pinter dari gw, tapi menurut gw tidak selamanya anak panah diletakan dibusurnya bukan!, adakalahnya dia diletakan ditabungnya, bukan berarti anak panah itu tidak berguna, Anak panah tersebut hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali diletakan dibusurnya, ditarik jauh-jauh ke belakang agar saat dilepaskan memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran, mungkin saat ini elo lagi “ditaruh ditabung” tapi bukan berarti elo gak akan digunakan lagi, hanya menunggu waktu yang tepat barangkali, tapi yang pasti harus elo ingat hanya “Anak panah  yang terbaik” yang kelak akan digunakan-Nya, jadi kenapa harus malu kemarkaz lagi” ucap saya sok bijak.

           Sebuah senyum tersungging diwajah sahabat saya, ah…. rasanya saya mengenali senyuman itu, senyuman yang begitu amat saya rindukan karena sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi terlihat diwajahnya, senyuman tulus dari seorang sahabat untuk sahabatnya.

“Dah masuk nomor gw?” ucapnya

“Udah, gw save ya.” Ucap saya dengan antusias

            Panggilan miss call di hp saya mengakhiri perjumpaan kami siang itu, tapi saya yakin akan ada perjumpaan-perjumpaan lagi dengan dirinya setelahnya, mungkin saat ini dirinya butuh “beristirahat” untuk sekedar memulihkan penat, sebelum akhirnya  melesat layaknya sebuah anak panah yang semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang maka makin cepat pula anak panah itu melesat.

              Sebagai sahabat saya hanya bisa menyertakan dirinya dalam doa-doa saya agar Allah swt tetap gunakan dirinya dan saya untuk usaha atas agama, amien.

…Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Iklan

7 Responses to “Anak Panah”

  1. wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh..

    true story banget yak mas Lan…
    hampir banyak kejadian seperti ini dalam dunia kita…
    mengingat teman-teman kita sesama pergi ke masjid, kini…
    dahulu sama-sama berjalan berkeliling berjaulah, kini…
    orang-orang yg mentasykil dan mengenalkan kita kpd usaha da’wah yang mulia, kini…

    sedih, hanya do’a saja yang dapat kita hadiahkan kepada mereka. smoga hari-hari indah itu bisa kembali kita jalani bersama mereka…

  2. joss berkata:

    kisah pertemuan kita d mall knpe d bc disini…..haduuehhh

  3. bacaannya…. bagusss…….mas…thanks
    kunjungin blog saya ya mas thanks salam sukses buat anda

  4. Mahluk penuh dosa berkata:

    🙂

  5. Haitan Rachman berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Apa kabar? Mudah-mudahan dalam keadaan baik dan lancar semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: