Stiqma Pada Anak

inay-blog

Entah sadar atau tidak, kita sebagai orang dewasa sering kali melakukan pelabelan pada anak-anak kita dan gampang sekali memberi penilaian yang tidak adil. Dan itu tidak hanya dilakukan oleh orang tua bahkan seorang pendidik/guru sekalipun.

Ada kejadian menarik dengan salah satu anak saya Inay.

Saat masih PAUD hampir setiap hari gurunya mengeluh Abang Inay tidur dikelas bahkan yang lebih ekstreamnya lagi hal tersebut ditulis di buku raport si abang.

“ …..Jangan lupa tidak boleh ngantuk saat belajar ya….”

Tapi anehnya si Abang secara akademis cukup pandai, bahkan mendapat pringkat ke-dua, lantas dimana salahnya?, apakah anak saya yang bermasalah atau ada factor lain yang memicu timbulnya masalah?

Awalnya saya merasa heran karena sering istri saya melaporkan Inay tidur dikelas terlebih lagi dengan bukti beberapa dokumentasi. Saya merasa cukup mengenal anak saya, dan saya bukan tipikal orang tua JAMAN BATU yang selalu menelan bulat-bulat informasi yang didapat tanpa menganalisa kebenaran informasi tersebut.

“Pasti ada penyebab kenapa Inay kalau di sekolah tidur” batin saya,

Saya coba menggali dan mengamati langsung baik dari si anak maupun lingkungan sekolahnya, bahkan sempat berkonsultasi kepada teman yang kesehariannya bekerja sebagai praktisi dalam membantu tumbuh kembang anak. Akhirnya saya mendapati benang merah kenapa anak saya sering tidur di sekolah.

Inay termasuk anak yang mudah menerima pelajaran dan secara kognitif dia cukup baik, tapi sayangnya abang Inay termasuk tipikal yang bosanan , ketika dia sudah menguasai suatu hal, apapun itu maka dia akan bosan untuk melakukan hal yang sama berulang kali, sehingga lebih memilih tidur sebagai solusinya.

Dia tertantang untuk selalu melakukan hal-hal yang baru. Dan sayangnya hal tersebut tidak cukup baik ditangkap oleh guru Paudnya. Mungkin terlalu banyak murid yang diajar atau barang kali metode pengajaran yang diterapkan sang guru terlalu umum tidak bersifat personal.

Karena saya tidak mau hal yang sama terjadi pada saat Abang Inay masuk TK, maka saya kembali mengamati guru-guru yang mengajar anak-anak TK disekolah tersebut, akhirnya saya berpendapat salah satu guru sepertinya cocok untuk mengajar Inay, dan saat pendaftaran siswa baru, saya sendiri yang menghadap dan berbicara langsung ke kepala sekolahnya tentang permasalahan Inay, saya berharap Inay di ajar oleh salah satu guru tersebut dan syukurnya kepala sekolah mengijinkan.

Ketika tahun ajaran baru dimulai, kembali saya sendiri ( istri saya hanya menemani ) yang berbicara langsung kepada guru TKnya tentang permasalah yang terjadi dengan Inay dan target atau harapan yang saya ingin Inay dapatkan di TK tersebut.

Alhamdulillah Guru TKnya cukup kooperatif, sehingga sangat mudah untuk diajak berkerja sama. Dan yang menyenangkannya guru tersebut menerapkan metode pengajaran yang sifatnya personal dimana dalam hal-hal tertentu ( khususnya calistung ) setiap anak dibedakan, dan untuk Inay sendiri buku yang dipakainya buku kelas 1 dan TEMATIK pula ( untuk kendala kurikulum yang satu ini akan saya tulis dikesempatan yang lain ).

Ketika anak-anak yang lain masih belajar mengenal hurup dan angka, abang Inay sudah belajar pengurangan dan penambahan ( kebawah dan kesamping ), belajar DIKTE, belajar membaca cerita , mengisi soal nalariah, belajar menulis bergaris, dan Alhamdulillahnya Inay tidak mengalami kendala.

Lantas apakah sifat ngantuknya Inay hilang ???, secara garis besar Inay sudah tidak pernah ada laporan tidur dikelas, tapi kalau mengantuk masih suka, dan kalau sudah ada tanda-tanda Inay mengantuk, biasanya, Guru kelas akan menyuruh Abang Inay cuci muka atau mengganti aktifitas, semisal dia sedang menulis dan kelihatan mengantuk maka menulisnya distop dulu dilanjut mewarnai atau sebaliknya.

Saya tidak bisa membayangkan kalau kita sebagai orang dewasa terlalu cepat menstiqma dengan memberikan label anak kita pemalas, tukang tidur dan lain sebagainya, tanpa mau mengkaji dan menggali lebih jauh akar permasalahan yang sebenarnya, berapa banyak anak-anak yang seharusnya menjadi PEMENANG justru secara tidak langsung kita bentuk mental mereka menjadi PECUNDANG.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: