“Sang Pelakon”

April 4, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       

Almarhum Suami Sha di ruang ICU

         Dunia ini layaknya sebuah panggung yang besar dimana setiap kita adalah pemeran yang berkewajiban memerankan peran sebaik mungkin dari sang “Sutradara”. Terkadang ada rasa kejenuhan ketika harus memerankan “karakter” yang sama berulang kali dalam setiap peran yang harus di “pentaskan”, tapi sekali lagi kita hanyalah wayang-wayang yang sangat bergantung pada arahan “Sang Dalang”, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus menjalani sesuatu yang memang sudah seharusnya kita jalanin tanpa banyak protes , dibutuhkan kerja keras untuk bisa membuahkan kepasrahan yang tinggi untuk menyerahkan secara total hidup kita kepada “Sang Sutradara”, layaknya seekor kijang yang hanya tertunduk tanpa perlawanan dalam terkaman harimau untuk menyambut sang keabadian. Karena akan teramat lucu ketika sang tokoh dalam sebuah cerita memprotes sang penulis yang menciptakan tokoh tersebut.

        Sama lucunya ketika Sha mencoba “mengugat “ Sang Sutradara ( baca : Allah swt ) atas ketidak adilan “peran” yang harus dia bawakan dalam hidupnya, “peran” yang lagi dan lagi harus dia mainkan, seakan mengunakan pendekatan drama runut dengan tempo lambat yang lumayan menyiksa terlebih harus membawakan “peran” tersebut secara slow motion dan berulang-ulang

Gw gak tahu apa maunya Allah seakan gw gak di beri nafas sedikit pun, baru sebulan gw kehilangan suami (21/01/12) , sekarang mertua gw (22/2/12) yang meninggal dan hari ini Bunda sakit, ditambah Azzura harus ngulang kelas 1 tahun ajaran baru nanti”

        Saya hanya tersenyum menyaksikan “protes” adik saya tercinta teringat sayapun pernah melakukan hal yang sama setahun yang lalu, bukan pada protes yang extreme melainkan hanya mempertanyakan dan berharap diberikan sedikit jedah untuk menarik napas sebelum kembali memerankan”peran” yang sama. Karena akan menjadi sebuah ironi manakala kita berada dalam situasi dimana pilihan menjadi amat terbatas atau bahkan tidak ada samasekali.

         Tahun 2011 bukanlah tahun yang menyenangkan menurut kacamata saya karena ditahun tersebut saya seakan dipaksa untuk”memerankan” karakter yang sesungguhnya bukan diri saya, tetapi karena sikaf kepasrahan dan kepercayaan total kepada “Sang Sutradra” yang membuat saya dapat bertahan melewati semua masalah hingga detik ini, ibarat aktor yang memiliki kemampuan biasa tetapi di dukung oleh “Sutradara” yang hebat, kru dan para pemain pendukung yang luar biasa ditambah narasi yang terdefinisikan dengan baik diperkuat dengan music scoring layaknya orchestra maka sukseslah saya dalam melewati saat-saat mencekam tersebut.

         Walau saat ini pertanyaan Sha diawal tulisan ini dan pernah menjadi pertanyaan saya masih mejadi misteri yang belum terungkap tapi setidaknya kami berharap misteri tersebut sedikit demi sedikit akan terungkap seiring “narasi“ bergulir menujuh pada kesimpulan akhir

           Mungkin kuncinya ada pada kesabaran, karena kesabaran merupakan faktor yang harus dimiliki untuk menyelesaikan peran saya dalam “panggung” ini. Saya hanyalah seumpama bidak catur yang digerakkan sesuai fungsinya, jadi selama lampu “kamera” tetap menyalah dan belum ada aba-aba ‘Cut” dari sang “Sutradara” maka saya harus tetap memainkan dan memerankan “peran” sebaik dan secemerlang mungkin, bersatu dan melebur dalam setiap karakter yang diberikan merupakan keniscayaan sampai credit title bergulir dan pada saatnya kelak kita akan berdiri di “panggung” yang lebih besar dari yang sekarang kita diami untuk menerima “awards” dari “Sang Maha Sutradara”.

Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah kepada Robmu dengan Ridho dan Diridhoi.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Iklan

Sekolah Untuk Azzura dan Aulia

April 1, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

         Setelah mempertimbangkan semua factor dari mulai faktor psikologis sampai ekonomi tepat seminggu setelah meninggalnya sang suami (21/01/12), Sha dan kedua anaknya memutuskan hijrah ke Jakarta (tempat orangtua saya), kepindahan Sha ke Jakarta tidak hanya berdampak bagi dirinya tapi juga kedua anaknya terutama masalah sekolah Azzura karena sebelum kepindahan ke Jakarta Azzura tercatat sebagai siswa kelas 1 SDIT dan ternyata proses pemindahannya tidak semudah yang sebelumnya dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi baik administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN | Nomor Induk Siswa Nasional dari sekolah lamanya) maupun dari diri Azzura yang sepertinya belum siap untuk bersekolah ditempat yang baru.

         Awalnya kami ingin memasukan Azzura ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT ) seperti sebelumnya terlebih Almarhum suami Sha sangat anti sekolah Negeri Karena kurangnya mata pelajaran keagamaan yang diajarkan, tapi kami harus realistis, SDIT bukan barang yang murah untuk kami saat ini terlebih Aulia anak ke dua Sha tahun ini juga harus masuk TK di tambah biaya persalinan Sha yang tinggal menunggu harinya, berkaca dari itu semua terpaksa keinginan memasukkan Azzura ke SDIT kami kubur dalam-dalam dan kami memilih untuk memasukan Azzura ke sekolah Negeri dengan penuh konsekwensi pastinya

         Karena kendala proses administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN /Nomor Induk Siswa Nasional ) dari sekolah lamanya terpaksa Azzura harus mengulang kelas 1 tahun ajaran baru berikutnya, Sempat terpikir untuk memasukkan Azzura ke Homeschooling setidaknya agar dia tidak mengulang kelas 1 dan bisa langsung masuk kelas 2 pada tahun ajaran baru di sekolah negeri, tapi ternyata tidak semua sekolah negeri bisa menerima pidahan anak Homeschooling khususnya sekolah negeri yang akan dimasuki Azurra, padahal saya sudah sempat mendatangi 2 Homeschooling (Sekolah Rumah Kamyabi dan Homeschooling Berkemas ) dan berniat mendaftarkan disalah satu tempat tersebut walau pada akhirnya niat tersebut dibatalkan.

        “Kalau di sekolah itu ( sekolah negeri ) perempuannya gak pada pake jilbab Uya ( Azzura ) juga gak mau ah pake jilbab kesekolah malu tar dikatain,pakenya kalau main dirumah aja” protes Azzura kepada kami, walau sedikit susah meyakinkan Azzura untuk tetap mengenakan Jilbab ke sekolah negeri nanti, tapi setidaknya untuk saat ini dirinya luluh juga, selain Azzura tahun ini Aulia adiknya juga masuk TK, berbeda dengan Azzura permasalah justru dari pihak sekolah dimana secara nama dan pengajaran TK tersebut TK Islam tetapi secara busana sama sebagaimana TK umum yang tidak menerapkan busana muslimah bagi siswanya.

Maaf kami memang TK Islam tapi tidak semua siswa disini mau mengenakan busana muslim jadi dari pihak sekolah tidak mewajibkan busana muslim tapi kalau dari orang tua siswa berkeinginan anaknya berbusana muslim kami pihak sekolah bersedia mempasilitasi tapi tentunya dengan biaya tambahan karena busana muslim kan berbeda dengan yang umum” ( dari sekolah itu berdiri sampai saat ini baru kami yang mengajukan busana muslim ).

        Mungkin untuk sebagian orang kami ( Saya dan Sha ) terlihat terlalu memaksakan sesuatu yang sebenarnya masih bisa di tunda penerapannya ( memakai jilbab ) terlebih medan yang mereka (Azurra dan Aulia ) tempuh tidak mudah dimana lingkungan mereka beraktifitas tidak mewajibkan hal tersebut maka dapat dipastikan aroma perbedaan terlalu kentara dan mencolok, tapi Insya Allah niat kami bukan untuk sekedar gaya-gayaan agar disebut lebih “Nyunah” melainkan semata-mata untuk menanamkan nilai-nilai agama sedini mungkin kepada mereka , sama halnya ketika orangtua kami menanamkan hal tersebut di diri saya dan Sha.

         Dulu dibenak saya betapa menyiksanya setiap sedang asik bermain tiba-tiba harus pulang kerumah mengambil sarung dan berlari ke masjid karena suara adzan sudah terdengar terlebih setiap badha magrib saya dan Sha harus sudah siap di kamar untuk belajar mengaji kepada Bunda, sedangkan anak-anak yang lain masih asik bermain, kadang ada perasaan iri terhadap anak-anak yang lain saat itu, tapi sekarang kami sangat bersyukur karena kedua orang tua kami pernah menanamkan prinsip-prinsip beragama yang kuat sedari kami kecil yang pastinya berimbas sampai kami dewasa. Bercemin dari pola pendidikan yang saya dan Sha dapat sewaktu kecil maka hal yang sama coba kami terapkan kepada anak-anak kami walau pastinya tidak sekaku ketika kedua orang tua kami mendidik kami, dimana sangat terasa aroma otoriter dari mereka. Kami tahu jalan yang kami tempuh bukan jalan yang mudah tapi kami yakin Allah akan selalu bersama kami dan semoga Allah swt meridhoi apa yang kami lakukan terhadap anak-anak kami dan semoga mereka dapat menjadi ladang amal bagi kami kelak di akhirat dan dapat membuka jalan yang mudah untuk menujuh surga-Nya amien..amien..amien….

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Life Must Go On Sha

Februari 15, 2012

   

   Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

        Siapapun orangnya yang namanya kematian akan selalu menyisakan guncangan mental bagi orang yang ditinggalkan karena pada dasarnya ketika individu kehilangan seseorang yang dicintainya maka individu tersebut biasanya merasakan sakit yang begitu dalam, rasa frustasi dan kehilangan yang mungkin baru akan hilang setelah melalui waktu yang cukup lama lepas apakah dia seorang pria atau wanita. Bahkan seorang Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan sebutan B.J. Habibie yang tidak lain seorang pria dengan jabatan mantan Presiden RI ke-3 yang memiliki julukan si genius saja memerlukan waktu lama untuk akhirnya menyadari bahwa sang istri telah benar-benar meninggalkan dirinya ( meninggal dunia ), bahkan menurut Adrie Subono yang tidak lain adalah keponakannya meski hampir dua tahun ditinggal sang belahan hati, rasa kehilangan belum juga sirna dari hati presiden RI tersebut “ Sampai sekarang saya masih sering melihat Om menangis sendirian mungkin terkenang ibu ( Ainun ).”

       Apalagi hanya seorang Sha yang notabene hanyalah seorang Ibu rumah tangga dengan 2 orang anak wanita 6.5 tahun dan 4.5 tahun ditambah dirinya sedang menggandung anak ke-3 ( 7 bulan ) pastinya sangat wajar apalagi sedikit terpukul dengan meninggalnya sang suami yang mendadak 3 minggu lalu.

Gw masih suka berharap ini cuma mimpi, dan ketika gw bangun semuanya masih sama kaya dulu lagi”

Kalau malam pas orang-orang sudah pada tidur gw masih suka berasa dia ada”

Dia masih suka datang dalam mimpi-mimpi gw”

Mungkin ada benarnya ketika sebagian orang berkata pasangan hidup kita adalah belahan jiwa , nafas dan kekuatan kita sebagaimana yang diungkapkan BJ Habibie dalam sebuah kesempatan saat peluncuran buku Habibie dan Ainun. “Kebersamaan bersama ibu ( Ainun, Red ) terasa terlalu singkat bagi saya. Almarhumah adalah gula yang membuat hidup saya manis,” dan rasa yang sama juga dirasakan Sha

“Sekuat apapun , tetap saja gw hanya seorang wanita yang berasal dari tulang yang bengkok sehingga memerlukan suami untuk meluruskan”

Kehilangan orang yang dicintai secara mendadak acapkali membuat cita-cita, harapan dan imajinasi kita terberai.

“Gw gak pernah memimpikan dan meminta yang macam-macam ketika menikah, gw cuma ingin membuat keluarga yang sakinah yang bisa mencetak keturunan alim, hafiz, dai dan sholeh. Gw gak tahu kenapa Allah ambil dia sehingga gw gak yakin apa bisa merealisasikan cita-cita gw ma dia karena gw sekarang sendiri membesarkan anak-anak”

       Tapi apa mau dikata takdir tidak bisa kita hindari, Allah adalah pemiliki mutlak makhluk di bumi, dia berhak mengambil siapa yang lebih dicintai, mungkin satu hal yang harus kita pahami bahwa takdir Allah selalu baik. Selalu ada hikmah yang menyertai setiap ujian dalam kehidupan. Walau hidup Sha saat ini tidak seindah lagu pada musik okestra dimana nada, ritme dan syairnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga selalu harmonis tapi hidup tetap harus berjalan bukan! Life must go on.

       Diluar hal-hal yang berkaitan dengan perasaan ada hal yang lebih penting yakni mempersiapkan bagaimana anak-anak tetap bisa melanjutkan hidup, karena jika terus menerus berkutat pada hal-hal yang mengharu biru maka dapat dipastikan kita tidak dapat berpikir rasional dan proporsional. Sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan mungkin menjadi salah satu kuncinya mengingat bahwa Allah lah yang memberi ujian, maka Allah pula yang akan menyelesaikan ujian tersebut sesuai dengan ikhtiar kita dalam menjaga dan memelihara keimanan.

       Baca entri selengkapnya »


Sha, Airmata dan Keikhlasan

Januari 28, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

        Dalam ‘Feeling the Shoulder of the Lion‘, Rumi pernah menulis bahwa seringkali Tuhan  menetapkan keinginnan yang menggairahkan dalam diri kita dan dalam hitungan detik kembali menghempaskan keinginan-keinganan itu, Dia mematahkan sayap-sayap dari satu niat yang ada di diri kita lalu memberikan sayap yang lain, dan kembali Dia patahkan lagi agar rasa ketergantungan kita menjadi besar terhadap-Nya. Adakalanya Allah swt akan datangkan lagi dan lagi ujian kepada orang beriman karena Dia hanya ingin mendengar apa yang diucapkan orang beriman ketika mendapatkan ujian tersebut, mengeluhkah???, kecewahkah??? atau sabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt. Ujian-ujian tersebut layaknya sebuah test yang akan menyaring siapakah yang benar-benar beriman diantara hamba-hamba-Nya Seperti buah kelapa yang jatuh keras kebumi, dicabutin sampe gundul, dipukuli sampai belah, dicungkil, setelah itu diparut, diperas baru keluar sari patihnya. Rasanya hal tersebut yang sekarang sedang berlaku terhadap diri Sha adik wanita saya tercinta. Setelah mengalami 2 minggu yang sangat berat dalam hidupnya akhirnya Allah swt mengambil kembali titipan-Nya ( suami tercinta ), hancur lebur seluruh harapan yang ada dihati terlebih dengan 2 orang anak wanita yang masih kecil dan bakal calon bayi yang memasuki bulan ke-6 didalam perutnya.

       Manusiawi ketika perasaan takut dan cemas tentang masa depan menghampiri dirinya.

“Kalau sampai Allah ambil dia, gimana nasib anak-anak gw yang masih pada kecil-kecil ditambah gw hamil 6 bulan masa anak gw lahir gak ada bapaknya” ucap Sha diiringin dengan isak tangisnya.

 “Tapi kalau Allah sudah berkehendak kita gak bisa apa-apakan !!!, orang yang sehat aja bisa mati, sekarang, gw tinggal menunggu mukjizat, orang ada yang sudah divonis mati aja masih bisa bertahan hidup bertahun-tahun”  ucapnya lagi seakan meralat perkataannya sebelumnya.

           Sha adalah adik wanita yang saya sangat sayangi , perbedaan usia diantara kami hanya berpaut 2 tahun, kami selalu bersama sejak kecil, saya ingat ketika kecil selepas badha magrib kami selalu kekamar Bunda untuk sama-sama belajar mengaji, dan pada saat itu saya selalu terkena pukulan rotan Bunda karena ketidak seriusan saya membaca susunan huruf-huruf hijaiyyah dan Sha selalu menjadi yang terbaik. Keadaan yang membuat kami selalu bersama-sama, dari sekolah dasar ( SD ) sampai sekolah Menengah Akhir ( SMA ) kita selalu bersekolah ditempat yang sama. Sha adalah tipe orang yang penurut dan cenderung pasrah dalam hidup sehingga jarang terdengar keluhan keluar dari mulutnya. Bahkan sejak usia 5 tahun dia sudah berpuasa Full sampai magrib dan hanya batal 2 hari itupun dia berniat menggantinya saat itu.

       Pahit getir hidup selalu menghampirinya, tapi sekali lagi Sha selalu bisa membuktikan bahwa seberat apapun beban masalah yang kita hadapi pastinya itu tak pernah melebihi batas kemampuan kita.

“Kenapa kita harus memusingkan rezeki kita esok hari bukankah Allah swt sudah menjamin untuk perkara tersebut, yang harus kita risaukan adalah bagaimana keadaan iman kita karena untuk perkara ini tidak ada jaminan dari Allah swt.” tuturnya ketika perasaan takut akan masa depan menghampiri.

       Begitu tegarnya Sha bahkan dalam keadaan kalut sekalipun dirinya masih bisa tenang ketika menjelaskan perihal yang terjadi terhadap suaminya kepada anak pertamanya.

“Uya ( Azurra, anak pertama Sha 6,5 tahun ) harus ikhlas kalau Allah swt ambil Abi dari kita seperti de Arya ( ponakan Sha yang meninggal 6 bulan yang lalu)”

“Tapi Uya mau Abi balik lagi ke rumah”

“Gak boleh gitu, seperti mainan Uya dipinjam Dede Ia ( Zaskia , anak ke dua Sha 4,5 tahun ) ketika Uya mau ambil kapan aja gak papakan, walau dede Ia nangis sekalipun”

“Uya tetep gak mau, Uya mau Abi balik kerumah”.

        Kita tidak pernah bisa mengatur takdir kita, dan entah disadari atau tidak setiap hari kita sedang berjalan menujuh tadi kita masing-masing, tak terkecuali Sha, Sabtu 21 Januari 2012 merupakan hari dimana Allah swt sebagai Pemilik Jiwa memanggil suami tercinta, tidak ada guratan kesedihan, hanya keikhlasan yang tampak di wajahnya, tenang walau saya tahu jauh didalam hatinya ada rasa kehilangan.

        Sejak sang suami dirawat di ICU, dirinya selalu dalam keadaan berwudhu dan tidak pernah jauh dari sajadah, setiap ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman dia langsung sholat dan bermunajad kepada-Nya, sampai-sampai ketika menjelang magrib saya mengabarkan kepada Sha untuk segera menujuh rumah sakit karena suaminya dalam keadaan kritis dan sepertinya ajalnya tidak lama lagi, Sha tetap tenang diatas sajadahnya, berdzikir dan selalu berdoa.

“Gw berangkat habis magrib aja, gw mau sholat magrib dulu, karena kalaupun Allah swt mau ambil dia gw bisa apa karena itu sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa di tolak, sedangkan kalau gw jalan sekarang takut macet dan sampai sana malah gak bisa sholat magrib”

       Saat dirinya didalam taksi dan saya mengabarkan bahwa suaminya sudah meninggal dunia, dirinya masih tetap tenang sambil berucap Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

“Tugas dia didunia sudah selesai, sekarang tinggal gw menata kembali hati dan masa depan bersama anak-anak melanjutkan tugas didunia untuk sama-sama nanti berkumpul di surga-Nya.”

“Gw bisa apa kalau Allah swt sudah membuat keputusan, ini bukan mau dan nafsu gw, kalau nafsu gw maunya dia sembuh dan tetep hidup  berada di sisi gw dan anak-anak, tetapi Allah yang memutuskan mengambil dia, jadi untuk apa gw sedih dan kecewa, lain hal kalau gw bercerai.”

            Allah…. Rasa tidak ada yang berubah dari diri Sha, sejak kecil sampai saat ini dia masih menjadi sosok yang mengagumkan bagi diri saya.

“Sekarang gw balik kerumah lagi, dan sekarang gw kembali menjadi tanggung jawab elo, maafin kalau kembali merepotkan elo”.

         Gak ada yang di repotin Sha,  elo akan tetap menjadi adik kesayangn gw, kita pasti bisa lewati ini semua karena Allah swt tidak akan pernah tinggalkan kita. Ya Allah hidayah, Amien..amien….amien…

Berikan kelemahanmu pada Dia yang Maha Membantu

Tangisan dan ratapan adalah sarana yang luar biasa

Ibu yang tengah menyusui,yang dilakukannya hanya menunggu panggilan anaknya

Hanya rengekan awal yang lirih saja,maka dia pun datang

Tuhan menciptakan anak itu yakni,keinginanmu agar ia menangis supaya susu menetes

Menangislah!

Jangan menahan perasahaan dan diam saja dengan sakitmu

Merataplah!

Dan biarkan susu yang Pengasih mengalir ke dalam tubuhmu.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Penilaian Tanpa Keadilan

Januari 18, 2012

 

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Pastinya menjadi sesuatu yang biasa ketika anda menyaksikan seorang anak menangis dan merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya, karena hal yang seperti itu puluhan bahkan ratusan terjadi setiap hari dipermukaan bumi, tetapi menjadi sesuatu yang tidak biasa manakala hal tersebut menimpa keluarga para pekerja dakwah, terlebih ketika kejadian tersebut Ayah/suami mereka sedang khuruj, maka sudah bisa dipastikan ocehan-ocehan yang menjurus kepada fitnah keluar dari para penentang usaha dakwah dan tabligh,

       “Khuruj melentarkan keluarga lah” dan masih banyak ucapan-ucapan fitnah lainnya. Saya jadi teringat dengan tulisan Almarhum La-Rose disalah satu bukunya, beliau menceritakan fenomena orang yang tidak adil dalam melakukan penilaian dimana ada seseorang yang sedang menyantap hidangan dimeja makan dengan beberapa orang tamunya, ketika seorang anak yang bertubuh subur dan dari latar belakang orang berada mulai mengambil beberapa makanan yang dihidangkan dan dengan cepatnya menyantap seluruh makanan tersebut maka si empunya rumah hanya berkata yang bernada memuji apa yang dilakukan anak orang kaya tersebut, betapa si anak sehat dan pintar karena tanpa malu-malu memakan hampir seluruh makanan yang dihidangkan, tetapi penilaian berbalik 180 derajat mana kala anak dari keluarga miskin mulai mengambil beberapa makan yang dihidangkan,dan menyantap dengan begitu nikmatnya, mulai dari mengatakan anak orang miskin itu tidak beradab sampai mengatakan anak miskin itu begitu rakusnya.

       Melakukan penilaian tanpa keadilan mungkin tanpa disadari sering pula kita lakukan padahal seperti yang pernah dikatakan Kh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym saat sesi wawancara dalam salah satu acara di MetroTV;

“Bisakan menilai sebuah buku dengan melihat sebentar jilidnya ??? Jelas tidak bisa, untuk memahami sebuah buku harus dibaca dan itu tidak bisa global harus selembar demi selembar, begitulah untuk membaca sebuah kejadian harus memiliki kejernihan hati dan kesungguhan untuk menelaah”.

Baca entri selengkapnya »


Mendemontrasikan Agama Ditengah Umat

Januari 17, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Ketika anda hanya mengabiskan waktu dan pikir anda diam didepan monitor , mengetikan kata demi kata untuk mengkritik dan mencari cela kekurangan dari saudara muslim maka saya yakinkan apa yang anda lakukan tidak akan pernah menjadikan diri anda sendiri maupun orang yang anda kritik menjadi lebih baik, lain halnya ketika anda bergerak mendatangi saudara muslim  di dunia nyata semata-mata karena Allah dengan niat agar anda dan orang tersebut menjadi baik dalam pandangan Allah swt maka pasti dan pasti Allah swt  akan turunkan hidayahnya untuk anda  dan orang yang anda datangi.

       Ketika anda bersilaturahmi ke rumah saudara muslim baik dilingkungan tempat anda tinggal ataupun dimana-mana tempat diseluruh alam maka tanpa disadari anda sedang mendemontrasikan agama ditengah-tengah umat, Fikir yang anda gunakan untuk memikirkan keadaan agama didiri saudara muslim sudah bernilai pahala yang besar disisi Allah swt, niat anda untuk bersilaturahmi menjumpai saudara-sudara muslim juga bukan perkara yang sepele dalam pandangan Allah swt, langkah yang anda gerakan untuk mengunjungi rumah saudara muslim dalam rangka silaturahmi pastinya adalah langka-langkah yang Allah swt sangat sukai, terlebih salam yang anda ucapkan ketika berdiri didepan rumah saudara muslim memiliki pahala yang besar karena sesungguhnya salam merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Ketika anda mengucapkan Assalaamu’alaikum’ maka anda mendapat sepuluh pahala, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’,‘Dua puluh pahala’. ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’, maka anda mendapatkan ‘Tiga puluh pahala’ sekarang tinggal anda pilih mau yang 10, 20, 30. Ditambah lagi ada senyum tulus yang mengembang dibibir anda ketika berjumpa dengan saudara muslim yang pastinya dapat merekatkan hati-hati yang sebelumnya retak, bahkan Rasulullah Saw bersabda, “Senyum kepada saudara muslim itu sedekah.” Anda bisa bayangkan berapa banyak yang anda dapat hanya dengan senyum yang tidak memakan biaya???, Setelah itu anda  berjabat tangan dengan saudara muslim yang anda datangi sehingga menjadi pintu-pintu pahala dan penghapus dosa bagi anda dan orang tersebut. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dari dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali Allah Swt. Akan mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum keduanya berpisah”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah).  Setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan tentang agama, maka pasti dan pasti dalam pandangan Allah swt hal tersebut jauh lebih baik dari pada pembicaraan-pembicaraan yang ada di dunia ini. Rasulullah saw. bersabda: “perkataan yang baik adalah sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim) Coba bayangkan berapa banyak pahala yang anda dapat hanya dengan mengunjungi  1 rumah saudara anda yang muslim untuk bersilaturahmi,  bayangkan kalau 2, 3, 4 rumah yang anda datangi setiap harinya berapa banyak pahala kebaikan yang akan Allah swt berikan , bagaimana kalau sebulan,??? Setahun???, pastinya hanya Allah swt saja yang bisa menghitung berapa banyak pahala tersebut

       Coba bandingan apabila anda menolak hal tersebut dan lebih tertarik dengan mencari aib saudara muslim lantas tanpa keadilan menghukum saudara muslim dengan sebutan ahli bidah, penyembah kubur, bahkan tidak segan mengkafirkan, anda bisa bayangkan kerusakan yang terjadi ditengah-tengah umat bahkan tidak menutup kemungkinan kerusakan tersebut menimpa anda juga. Apalagi kalau anda melakukan hal tersebut dengan menggunakan fasiltas kantor ditengah-tengah jam kerja yang pastinya anda sendiri tahu hal tersebut  seharusnya tidak boleh dilakukan apalagi anda sebagai seoarang pekerja muslim karena sama halnya anda mengambil sesuatu yang bukan milik/hak anda ( korupsi waktu/jam kerja ), pastinya Allah swt tidak akan menyukai hal tersebut.

       Jadi mulai detik ini tidak ada salahnya kita mulai bermuhasabah dan bertafakur dengan apa yang selama ini kita lakukan karena seperti yang Kh Abdullah Gymnastiar atau A’a Gym bilang “Orang kalau tidak pernah melakukan tafakur cenderung melakukan pembenaran, cenderung tidak peka dan cenderung munafik“, maka saya mengajak diri saya dan kita semua sebelum ditutupnya pintu tobat  untuk sekuat tenaga setiap harinya bersilaturahmi dengan saudara muslim baik yang berada dilingkungan kita maupun dimana-mana tempat  demi menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Melemahnya Iman

Oktober 16, 2010

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Malam jum’at yang lalu saya dan 2 rekan kantor menghadiri malam markaz di Kebon Jeruk. Salah satu dari rekan tersebut baru pertama kali menghadiri malam markaz, berkali-kali dia mengutarakan kekagumannya terhadap apa yang dia saksikan malam itu. Bahagia benar saya melihat semangat kawan saya, mungkin kita semua juga pernah mengalami hal-hal tersebut ketika kita pertama kali baru kembali selepas khuruj 3 hari, ada semangat yang besar untuk mengamalkan agama yang tumbuh di hati kita,  semangat yang muncul disertai dengan amal,. Kita yang tadinya tidak pernah sholat menjadi orang yang amat rajin sholat, bahkan 5 waktu di masjid. Kita yang tadinya bangga dengan baju-baju yang mengikuti trend sekarang bangga dengan baju gamiz sehingga kemana-mana mengenakan tutup kepala dan sorban bahkan membaca alquran 1-3 juz setiap hari terlebih sampai mengkhatamkan nya setiap bulan merupakan sesuatu yang mudah dilakukan. Tapi mengapa hal-hal tersebut menjadi sulit dan berat sekarang, bahkan sholat wajib pun seringkali dilakukan tidak lagi secara berjamaah, tepat waktu dan tempat melainkan sesempatnya di sela-sela waktu senggang.

Semua ini tidak lain karena iman kita yang semakin hari semakin merosot. Kita mulai memandang usaha dakwah ini merupakan usaha yang biasa, tidak lagi sebagai sesuatu yang menjadi prioritas utama dalam hidup, kita menjadikan usaha dakwah ini sebagai sambilan di tengah kesibukan kita mengerjar dunia. Pada hal sejak dunia diciptakan Allah swt tak pernah pandang lagi dunia, karena dunia bagi Allah swt tak lebih berharga dari selembar sayap nyamuk, tapi bukan berarti dalam usaha dakwah ini kita diharuskan meninggalkan usaha dunia , melaikan dalam usaha dakwah ini bagaimana kita dapat mentertibkan dunia sehingga kita bisa meletakan dunia di tanggan kita bukan di hati kita,

Kerja dakwah adalah usaha untuk menjadi orang kecil (‘abdi) bukan untuk menjadi orang besar. Orang yang buat kerja dakwah dengan niat untuk mengishlahkan diri sendiri maka ia akan menjadi shaleh dan orang yang shaleh akan menjadi asbab untuk orang lain menjadi shaleh juga.

Inti dari usaha dakwah ini bagaimana kita memperbaik diri dengan cara menggunakan harta, diri dan waktu kita sesuai dengan apa yang Allah swt mau bukan apa yang kita mau sehingga setiap gerak dan tingkahlaku kita mendatangkan hidayah dan keridhaan Allah swt.

Semoga Allah kekalkan dan matikan kita dalam ushaa dakwah ini, amien….amien..amien…

 

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..