“Sang Pelakon”

April 4, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       

Almarhum Suami Sha di ruang ICU

         Dunia ini layaknya sebuah panggung yang besar dimana setiap kita adalah pemeran yang berkewajiban memerankan peran sebaik mungkin dari sang “Sutradara”. Terkadang ada rasa kejenuhan ketika harus memerankan “karakter” yang sama berulang kali dalam setiap peran yang harus di “pentaskan”, tapi sekali lagi kita hanyalah wayang-wayang yang sangat bergantung pada arahan “Sang Dalang”, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus menjalani sesuatu yang memang sudah seharusnya kita jalanin tanpa banyak protes , dibutuhkan kerja keras untuk bisa membuahkan kepasrahan yang tinggi untuk menyerahkan secara total hidup kita kepada “Sang Sutradara”, layaknya seekor kijang yang hanya tertunduk tanpa perlawanan dalam terkaman harimau untuk menyambut sang keabadian. Karena akan teramat lucu ketika sang tokoh dalam sebuah cerita memprotes sang penulis yang menciptakan tokoh tersebut.

        Sama lucunya ketika Sha mencoba “mengugat “ Sang Sutradara ( baca : Allah swt ) atas ketidak adilan “peran” yang harus dia bawakan dalam hidupnya, “peran” yang lagi dan lagi harus dia mainkan, seakan mengunakan pendekatan drama runut dengan tempo lambat yang lumayan menyiksa terlebih harus membawakan “peran” tersebut secara slow motion dan berulang-ulang

Gw gak tahu apa maunya Allah seakan gw gak di beri nafas sedikit pun, baru sebulan gw kehilangan suami (21/01/12) , sekarang mertua gw (22/2/12) yang meninggal dan hari ini Bunda sakit, ditambah Azzura harus ngulang kelas 1 tahun ajaran baru nanti”

        Saya hanya tersenyum menyaksikan “protes” adik saya tercinta teringat sayapun pernah melakukan hal yang sama setahun yang lalu, bukan pada protes yang extreme melainkan hanya mempertanyakan dan berharap diberikan sedikit jedah untuk menarik napas sebelum kembali memerankan”peran” yang sama. Karena akan menjadi sebuah ironi manakala kita berada dalam situasi dimana pilihan menjadi amat terbatas atau bahkan tidak ada samasekali.

         Tahun 2011 bukanlah tahun yang menyenangkan menurut kacamata saya karena ditahun tersebut saya seakan dipaksa untuk”memerankan” karakter yang sesungguhnya bukan diri saya, tetapi karena sikaf kepasrahan dan kepercayaan total kepada “Sang Sutradra” yang membuat saya dapat bertahan melewati semua masalah hingga detik ini, ibarat aktor yang memiliki kemampuan biasa tetapi di dukung oleh “Sutradara” yang hebat, kru dan para pemain pendukung yang luar biasa ditambah narasi yang terdefinisikan dengan baik diperkuat dengan music scoring layaknya orchestra maka sukseslah saya dalam melewati saat-saat mencekam tersebut.

         Walau saat ini pertanyaan Sha diawal tulisan ini dan pernah menjadi pertanyaan saya masih mejadi misteri yang belum terungkap tapi setidaknya kami berharap misteri tersebut sedikit demi sedikit akan terungkap seiring “narasi“ bergulir menujuh pada kesimpulan akhir

           Mungkin kuncinya ada pada kesabaran, karena kesabaran merupakan faktor yang harus dimiliki untuk menyelesaikan peran saya dalam “panggung” ini. Saya hanyalah seumpama bidak catur yang digerakkan sesuai fungsinya, jadi selama lampu “kamera” tetap menyalah dan belum ada aba-aba ‘Cut” dari sang “Sutradara” maka saya harus tetap memainkan dan memerankan “peran” sebaik dan secemerlang mungkin, bersatu dan melebur dalam setiap karakter yang diberikan merupakan keniscayaan sampai credit title bergulir dan pada saatnya kelak kita akan berdiri di “panggung” yang lebih besar dari yang sekarang kita diami untuk menerima “awards” dari “Sang Maha Sutradara”.

Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah kepada Robmu dengan Ridho dan Diridhoi.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Iklan

Sekolah Untuk Azzura dan Aulia

April 1, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

         Setelah mempertimbangkan semua factor dari mulai faktor psikologis sampai ekonomi tepat seminggu setelah meninggalnya sang suami (21/01/12), Sha dan kedua anaknya memutuskan hijrah ke Jakarta (tempat orangtua saya), kepindahan Sha ke Jakarta tidak hanya berdampak bagi dirinya tapi juga kedua anaknya terutama masalah sekolah Azzura karena sebelum kepindahan ke Jakarta Azzura tercatat sebagai siswa kelas 1 SDIT dan ternyata proses pemindahannya tidak semudah yang sebelumnya dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi baik administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN | Nomor Induk Siswa Nasional dari sekolah lamanya) maupun dari diri Azzura yang sepertinya belum siap untuk bersekolah ditempat yang baru.

         Awalnya kami ingin memasukan Azzura ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT ) seperti sebelumnya terlebih Almarhum suami Sha sangat anti sekolah Negeri Karena kurangnya mata pelajaran keagamaan yang diajarkan, tapi kami harus realistis, SDIT bukan barang yang murah untuk kami saat ini terlebih Aulia anak ke dua Sha tahun ini juga harus masuk TK di tambah biaya persalinan Sha yang tinggal menunggu harinya, berkaca dari itu semua terpaksa keinginan memasukkan Azzura ke SDIT kami kubur dalam-dalam dan kami memilih untuk memasukan Azzura ke sekolah Negeri dengan penuh konsekwensi pastinya

         Karena kendala proses administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN /Nomor Induk Siswa Nasional ) dari sekolah lamanya terpaksa Azzura harus mengulang kelas 1 tahun ajaran baru berikutnya, Sempat terpikir untuk memasukkan Azzura ke Homeschooling setidaknya agar dia tidak mengulang kelas 1 dan bisa langsung masuk kelas 2 pada tahun ajaran baru di sekolah negeri, tapi ternyata tidak semua sekolah negeri bisa menerima pidahan anak Homeschooling khususnya sekolah negeri yang akan dimasuki Azurra, padahal saya sudah sempat mendatangi 2 Homeschooling (Sekolah Rumah Kamyabi dan Homeschooling Berkemas ) dan berniat mendaftarkan disalah satu tempat tersebut walau pada akhirnya niat tersebut dibatalkan.

        “Kalau di sekolah itu ( sekolah negeri ) perempuannya gak pada pake jilbab Uya ( Azzura ) juga gak mau ah pake jilbab kesekolah malu tar dikatain,pakenya kalau main dirumah aja” protes Azzura kepada kami, walau sedikit susah meyakinkan Azzura untuk tetap mengenakan Jilbab ke sekolah negeri nanti, tapi setidaknya untuk saat ini dirinya luluh juga, selain Azzura tahun ini Aulia adiknya juga masuk TK, berbeda dengan Azzura permasalah justru dari pihak sekolah dimana secara nama dan pengajaran TK tersebut TK Islam tetapi secara busana sama sebagaimana TK umum yang tidak menerapkan busana muslimah bagi siswanya.

Maaf kami memang TK Islam tapi tidak semua siswa disini mau mengenakan busana muslim jadi dari pihak sekolah tidak mewajibkan busana muslim tapi kalau dari orang tua siswa berkeinginan anaknya berbusana muslim kami pihak sekolah bersedia mempasilitasi tapi tentunya dengan biaya tambahan karena busana muslim kan berbeda dengan yang umum” ( dari sekolah itu berdiri sampai saat ini baru kami yang mengajukan busana muslim ).

        Mungkin untuk sebagian orang kami ( Saya dan Sha ) terlihat terlalu memaksakan sesuatu yang sebenarnya masih bisa di tunda penerapannya ( memakai jilbab ) terlebih medan yang mereka (Azurra dan Aulia ) tempuh tidak mudah dimana lingkungan mereka beraktifitas tidak mewajibkan hal tersebut maka dapat dipastikan aroma perbedaan terlalu kentara dan mencolok, tapi Insya Allah niat kami bukan untuk sekedar gaya-gayaan agar disebut lebih “Nyunah” melainkan semata-mata untuk menanamkan nilai-nilai agama sedini mungkin kepada mereka , sama halnya ketika orangtua kami menanamkan hal tersebut di diri saya dan Sha.

         Dulu dibenak saya betapa menyiksanya setiap sedang asik bermain tiba-tiba harus pulang kerumah mengambil sarung dan berlari ke masjid karena suara adzan sudah terdengar terlebih setiap badha magrib saya dan Sha harus sudah siap di kamar untuk belajar mengaji kepada Bunda, sedangkan anak-anak yang lain masih asik bermain, kadang ada perasaan iri terhadap anak-anak yang lain saat itu, tapi sekarang kami sangat bersyukur karena kedua orang tua kami pernah menanamkan prinsip-prinsip beragama yang kuat sedari kami kecil yang pastinya berimbas sampai kami dewasa. Bercemin dari pola pendidikan yang saya dan Sha dapat sewaktu kecil maka hal yang sama coba kami terapkan kepada anak-anak kami walau pastinya tidak sekaku ketika kedua orang tua kami mendidik kami, dimana sangat terasa aroma otoriter dari mereka. Kami tahu jalan yang kami tempuh bukan jalan yang mudah tapi kami yakin Allah akan selalu bersama kami dan semoga Allah swt meridhoi apa yang kami lakukan terhadap anak-anak kami dan semoga mereka dapat menjadi ladang amal bagi kami kelak di akhirat dan dapat membuka jalan yang mudah untuk menujuh surga-Nya amien..amien..amien….

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Life Must Go On Sha

Februari 15, 2012

   

   Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

        Siapapun orangnya yang namanya kematian akan selalu menyisakan guncangan mental bagi orang yang ditinggalkan karena pada dasarnya ketika individu kehilangan seseorang yang dicintainya maka individu tersebut biasanya merasakan sakit yang begitu dalam, rasa frustasi dan kehilangan yang mungkin baru akan hilang setelah melalui waktu yang cukup lama lepas apakah dia seorang pria atau wanita. Bahkan seorang Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan sebutan B.J. Habibie yang tidak lain seorang pria dengan jabatan mantan Presiden RI ke-3 yang memiliki julukan si genius saja memerlukan waktu lama untuk akhirnya menyadari bahwa sang istri telah benar-benar meninggalkan dirinya ( meninggal dunia ), bahkan menurut Adrie Subono yang tidak lain adalah keponakannya meski hampir dua tahun ditinggal sang belahan hati, rasa kehilangan belum juga sirna dari hati presiden RI tersebut “ Sampai sekarang saya masih sering melihat Om menangis sendirian mungkin terkenang ibu ( Ainun ).”

       Apalagi hanya seorang Sha yang notabene hanyalah seorang Ibu rumah tangga dengan 2 orang anak wanita 6.5 tahun dan 4.5 tahun ditambah dirinya sedang menggandung anak ke-3 ( 7 bulan ) pastinya sangat wajar apalagi sedikit terpukul dengan meninggalnya sang suami yang mendadak 3 minggu lalu.

Gw masih suka berharap ini cuma mimpi, dan ketika gw bangun semuanya masih sama kaya dulu lagi”

Kalau malam pas orang-orang sudah pada tidur gw masih suka berasa dia ada”

Dia masih suka datang dalam mimpi-mimpi gw”

Mungkin ada benarnya ketika sebagian orang berkata pasangan hidup kita adalah belahan jiwa , nafas dan kekuatan kita sebagaimana yang diungkapkan BJ Habibie dalam sebuah kesempatan saat peluncuran buku Habibie dan Ainun. “Kebersamaan bersama ibu ( Ainun, Red ) terasa terlalu singkat bagi saya. Almarhumah adalah gula yang membuat hidup saya manis,” dan rasa yang sama juga dirasakan Sha

“Sekuat apapun , tetap saja gw hanya seorang wanita yang berasal dari tulang yang bengkok sehingga memerlukan suami untuk meluruskan”

Kehilangan orang yang dicintai secara mendadak acapkali membuat cita-cita, harapan dan imajinasi kita terberai.

“Gw gak pernah memimpikan dan meminta yang macam-macam ketika menikah, gw cuma ingin membuat keluarga yang sakinah yang bisa mencetak keturunan alim, hafiz, dai dan sholeh. Gw gak tahu kenapa Allah ambil dia sehingga gw gak yakin apa bisa merealisasikan cita-cita gw ma dia karena gw sekarang sendiri membesarkan anak-anak”

       Tapi apa mau dikata takdir tidak bisa kita hindari, Allah adalah pemiliki mutlak makhluk di bumi, dia berhak mengambil siapa yang lebih dicintai, mungkin satu hal yang harus kita pahami bahwa takdir Allah selalu baik. Selalu ada hikmah yang menyertai setiap ujian dalam kehidupan. Walau hidup Sha saat ini tidak seindah lagu pada musik okestra dimana nada, ritme dan syairnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga selalu harmonis tapi hidup tetap harus berjalan bukan! Life must go on.

       Diluar hal-hal yang berkaitan dengan perasaan ada hal yang lebih penting yakni mempersiapkan bagaimana anak-anak tetap bisa melanjutkan hidup, karena jika terus menerus berkutat pada hal-hal yang mengharu biru maka dapat dipastikan kita tidak dapat berpikir rasional dan proporsional. Sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan mungkin menjadi salah satu kuncinya mengingat bahwa Allah lah yang memberi ujian, maka Allah pula yang akan menyelesaikan ujian tersebut sesuai dengan ikhtiar kita dalam menjaga dan memelihara keimanan.

       Baca entri selengkapnya »


Penilaian Tanpa Keadilan

Januari 18, 2012

 

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Pastinya menjadi sesuatu yang biasa ketika anda menyaksikan seorang anak menangis dan merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya, karena hal yang seperti itu puluhan bahkan ratusan terjadi setiap hari dipermukaan bumi, tetapi menjadi sesuatu yang tidak biasa manakala hal tersebut menimpa keluarga para pekerja dakwah, terlebih ketika kejadian tersebut Ayah/suami mereka sedang khuruj, maka sudah bisa dipastikan ocehan-ocehan yang menjurus kepada fitnah keluar dari para penentang usaha dakwah dan tabligh,

       “Khuruj melentarkan keluarga lah” dan masih banyak ucapan-ucapan fitnah lainnya. Saya jadi teringat dengan tulisan Almarhum La-Rose disalah satu bukunya, beliau menceritakan fenomena orang yang tidak adil dalam melakukan penilaian dimana ada seseorang yang sedang menyantap hidangan dimeja makan dengan beberapa orang tamunya, ketika seorang anak yang bertubuh subur dan dari latar belakang orang berada mulai mengambil beberapa makanan yang dihidangkan dan dengan cepatnya menyantap seluruh makanan tersebut maka si empunya rumah hanya berkata yang bernada memuji apa yang dilakukan anak orang kaya tersebut, betapa si anak sehat dan pintar karena tanpa malu-malu memakan hampir seluruh makanan yang dihidangkan, tetapi penilaian berbalik 180 derajat mana kala anak dari keluarga miskin mulai mengambil beberapa makan yang dihidangkan,dan menyantap dengan begitu nikmatnya, mulai dari mengatakan anak orang miskin itu tidak beradab sampai mengatakan anak miskin itu begitu rakusnya.

       Melakukan penilaian tanpa keadilan mungkin tanpa disadari sering pula kita lakukan padahal seperti yang pernah dikatakan Kh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym saat sesi wawancara dalam salah satu acara di MetroTV;

“Bisakan menilai sebuah buku dengan melihat sebentar jilidnya ??? Jelas tidak bisa, untuk memahami sebuah buku harus dibaca dan itu tidak bisa global harus selembar demi selembar, begitulah untuk membaca sebuah kejadian harus memiliki kejernihan hati dan kesungguhan untuk menelaah”.

Baca entri selengkapnya »


Mendemontrasikan Agama Ditengah Umat

Januari 17, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Ketika anda hanya mengabiskan waktu dan pikir anda diam didepan monitor , mengetikan kata demi kata untuk mengkritik dan mencari cela kekurangan dari saudara muslim maka saya yakinkan apa yang anda lakukan tidak akan pernah menjadikan diri anda sendiri maupun orang yang anda kritik menjadi lebih baik, lain halnya ketika anda bergerak mendatangi saudara muslim  di dunia nyata semata-mata karena Allah dengan niat agar anda dan orang tersebut menjadi baik dalam pandangan Allah swt maka pasti dan pasti Allah swt  akan turunkan hidayahnya untuk anda  dan orang yang anda datangi.

       Ketika anda bersilaturahmi ke rumah saudara muslim baik dilingkungan tempat anda tinggal ataupun dimana-mana tempat diseluruh alam maka tanpa disadari anda sedang mendemontrasikan agama ditengah-tengah umat, Fikir yang anda gunakan untuk memikirkan keadaan agama didiri saudara muslim sudah bernilai pahala yang besar disisi Allah swt, niat anda untuk bersilaturahmi menjumpai saudara-sudara muslim juga bukan perkara yang sepele dalam pandangan Allah swt, langkah yang anda gerakan untuk mengunjungi rumah saudara muslim dalam rangka silaturahmi pastinya adalah langka-langkah yang Allah swt sangat sukai, terlebih salam yang anda ucapkan ketika berdiri didepan rumah saudara muslim memiliki pahala yang besar karena sesungguhnya salam merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Ketika anda mengucapkan Assalaamu’alaikum’ maka anda mendapat sepuluh pahala, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’,‘Dua puluh pahala’. ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’, maka anda mendapatkan ‘Tiga puluh pahala’ sekarang tinggal anda pilih mau yang 10, 20, 30. Ditambah lagi ada senyum tulus yang mengembang dibibir anda ketika berjumpa dengan saudara muslim yang pastinya dapat merekatkan hati-hati yang sebelumnya retak, bahkan Rasulullah Saw bersabda, “Senyum kepada saudara muslim itu sedekah.” Anda bisa bayangkan berapa banyak yang anda dapat hanya dengan senyum yang tidak memakan biaya???, Setelah itu anda  berjabat tangan dengan saudara muslim yang anda datangi sehingga menjadi pintu-pintu pahala dan penghapus dosa bagi anda dan orang tersebut. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dari dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali Allah Swt. Akan mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum keduanya berpisah”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah).  Setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan tentang agama, maka pasti dan pasti dalam pandangan Allah swt hal tersebut jauh lebih baik dari pada pembicaraan-pembicaraan yang ada di dunia ini. Rasulullah saw. bersabda: “perkataan yang baik adalah sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim) Coba bayangkan berapa banyak pahala yang anda dapat hanya dengan mengunjungi  1 rumah saudara anda yang muslim untuk bersilaturahmi,  bayangkan kalau 2, 3, 4 rumah yang anda datangi setiap harinya berapa banyak pahala kebaikan yang akan Allah swt berikan , bagaimana kalau sebulan,??? Setahun???, pastinya hanya Allah swt saja yang bisa menghitung berapa banyak pahala tersebut

       Coba bandingan apabila anda menolak hal tersebut dan lebih tertarik dengan mencari aib saudara muslim lantas tanpa keadilan menghukum saudara muslim dengan sebutan ahli bidah, penyembah kubur, bahkan tidak segan mengkafirkan, anda bisa bayangkan kerusakan yang terjadi ditengah-tengah umat bahkan tidak menutup kemungkinan kerusakan tersebut menimpa anda juga. Apalagi kalau anda melakukan hal tersebut dengan menggunakan fasiltas kantor ditengah-tengah jam kerja yang pastinya anda sendiri tahu hal tersebut  seharusnya tidak boleh dilakukan apalagi anda sebagai seoarang pekerja muslim karena sama halnya anda mengambil sesuatu yang bukan milik/hak anda ( korupsi waktu/jam kerja ), pastinya Allah swt tidak akan menyukai hal tersebut.

       Jadi mulai detik ini tidak ada salahnya kita mulai bermuhasabah dan bertafakur dengan apa yang selama ini kita lakukan karena seperti yang Kh Abdullah Gymnastiar atau A’a Gym bilang “Orang kalau tidak pernah melakukan tafakur cenderung melakukan pembenaran, cenderung tidak peka dan cenderung munafik“, maka saya mengajak diri saya dan kita semua sebelum ditutupnya pintu tobat  untuk sekuat tenaga setiap harinya bersilaturahmi dengan saudara muslim baik yang berada dilingkungan kita maupun dimana-mana tempat  demi menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Keluar Masturah Perdana

November 28, 2011


Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

      Begitu baiknya Allah swt kepada saya sehingga dia kenalkan saya dengan usaha masturah jauh sebelum saya menikah, tepatnya bulan Oktober minggu ke-3 tahun 2000, dan untungnya lagi ( dasar orang Indonesia selalu untung he..he..he.. ) saat itu belum keluar tertib baru dimana syarat keluar masturah 3 hari harus dengan mukrim hakiki ( istri ) jadi saya masih boleh keluar dengan Adik wanita saya.

      Ketika awal-awal keluar rada bingung juga apa yang harus dipersiapakan, terlebih lagi ini keluar perdana, ditambah waktu itu mudzakarah keluar masturah dimarkaz lebih seperti bayan hidayah bukan kepada apa yang harus dipersiapkan menjelang keluar seperti yang sekarang ini berlaku, untungnya (untung lagi he..he..he..) orang lama yang kebetulan keluar bersama bilang “Kamu datang saja ketempat bayan hidayah nanti semua perlengkapan sudah disiapkan istri saya”, Wow…. ajib….

     Satu permasalahan selesai bukan berarti semua berjalan mulus, karena sudah menjadi ketetapan Allah swt bahwa jalan dakwah itu tidak mudah, permasalahan sekarang bagaimana saya dan adik saya bisa meyakinkan orang rumah ( khususnya Ayah saya ) untuk mendapatkan ijin, karena mendapatkan restu Ayah jauh lebih sulit ketimbang mendapatkan ijin cuti dikantor ( saat itu saya dan adik saya masih bekerja ). Dan untuk permasalah yang satu ini orang lama di Halaqoh memberikan tips, saya dan adik saya harus 100% tawajuh kepada Allah swt biar Allah swt yang selesaikan dengan cara-Nya, sambil berusaha menarik simpati Ayah saya, karena barang siapa yang memperbaiki hubungan dia dengan Pencipta-Nya ( baca Allah swt ) maka Allah swt akan memperbaiki hubungan dia dengan makluk-Nya., Dan Allah swt itu memang Ajib, semuanya Allah swt lancarkan dan rasanya saya tidak harus menuliskan apa yang Allah swt lakukan terhadap hidup saya cukup saya dan Allah yang tahu.

      Baca entri selengkapnya »


Mudzakarah Masturah Semalam

Desember 13, 2010

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Semalam lepas musyawarah mingguan Jakarta, Mufti Luthfi al Banjari memberikan mudzakarah untuk Jamaah masturah yang akan keluar minggu ini , ada beberapa point penting yang menurut saya perlu menjadi perenungan, beberapa diantaranya :

– Alasan menggapa kita mengajak istri kita untuk keluar masturah adalah :1. Agar istri kita paham bahwa dirinya adalah istri seorang da’i dimana dirinya dituntut untuk berkorban sebagaimana pengorbanan para sahabiyah pada jaman Rasulullah saw, dengan kepahamanya tersebut diharapkan dirinya membantu kerja-kerja agama suaminya. Sebagaimana hari ini istri seorang Polisi , Dokter, dan Presiden tahu kedudukannya begitupun diharapkan istri-istri seorang perkerja agama. 2. Agar wanita paham kepada kodratnya untuk kembali ke rumah, karena bukan sebuah keberhasilan manakalah selepas keluar masturah seorang wanita masih berkeliaran diluar rumah dengan mengenakan cadarnya , walaupun itu mengunjungi rumah sesama masturah. Sangat tidak dibenerkan ketika suaminya sering melibatkan istrinya diluar rumah untuk perkara-perkara agama semisal untuk khususi-khususi karena tugas wanita adalah dirumah, menghidupkan agama di rumah sendiri. Dan Sangat tidak beradab ketika suami bercerita kepada suami yang lain tentang kelemahan istrinya dalam usaha dakwah ini agar bisa dikunjungi masturah lain untuk dikhususi, cara yang benar adalah agar suaminya paham dulu terhadap usaha dakwah nanti Allah swt akan pahamkan usaha ini keatas istrinya, kalau menceritakan ketidak pahaman istri terhadap orang lain sama saja merendahkan istrinya dihadapan orang.

– Pentingnya seorang wanita untuk mengetahui target apa yang diharapkan dari dia keluar masturah,

1. Agar wanita menjadi seorang Daiyah dimana setiap wanita yang berkunjung ke rumahnya tidak satupun yang pergi meninggalkan rumahnya selain telah didakwahkan tentang pentingnya agama.

2. Menjadi Murobiyah / pendidik dimana keberhasilan seorang wanita dalam hal mendidik anak bukan dengan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Islam yang bertarif tinggi untuk mendapatkan pengajaran agama melainkan dengan tangannya sendiri wanita tersebut mendidik anak-anak mereka menjadi ahli-ahli agama sebagaimana para sahabiyah.

-Jangan pernah mengajarkan kekufuran kepada anak-anak dengan cara menakut-nakuti ada hantu , atau hewan seperti ular dll, melainkan ajak dan didik anak-anak kita untuk takut hanya kepada Allah dengan mengatakan jangan berbuat begini atau begitu karena Allah swt maha melihat dan maha mendengar.  Dan jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada seorang anak tanpa berniat memenuhinya karena kalau kita tidak berniat memenuhi janji kita itu sama saja secara tidak lansung kita mengajarkan kemunafikan terhadap anak kita.

Sebenarnya masih banyak hal-hal penting lainnya tapi berhubung kelemahan daya ingat dan iman saya maka sangat sedikit yang bisa saya tuangkan dalam tulisan ini, semoga Allah pilih kita menjadi da’i-da’inya dan matikan kita dalam dakwah.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..