****Saat Jagoan belajar tentang hidup****

Juni 25, 2013

423186_341710809199874_248637781_n

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Selepas makan siang hari ini anak saya menelpon dan mengabari bahwa dirinya tidak diterima di 3 sekolah SMK negeri pilihannya padahal tadi pagi sebelum saya berangkat ke kantor namanya masih bertengger diurutan 19 di sekolah pertama dari tiga sekolah yang dia berhak pilih. Rasa kecewa jelas terdengar dinada pembicaraannya, takut mungkin tepatnya, karena menurutnya, dirinya gagal membuat saya bangga. Saya mencoba menenangkan dirinya dan memberitahu bahwa saya bangga walaupun dirinya tidak dapat diterima di sekolah negeri karena bagi saya tidak diterima disekolah negeri bukan berarti dunia hancur, karena setidaknya putra saya ini sudah berjuang dengan maximal untuk bisa mendapat nilai seperti sekarang walau dengan nilai tersebut belum bisa menghantarkannya kebangku sekolah negeri pilihannya.

Bagi saya putra saya ini sudah menjadi juara tersendiri. Jauh sebelum ujian kemarin berlangsung, rekan-rekannya disekolah sudah ribut akan kunci jawaban, tetapi putra saya tidak bergeming dan tidak ingin memiliki kunci jawaban yang mungkin bisa membawa dirinya diterima disekolah favorit seperti beberapa teman disekolahnya yang dengan beberapa lembar rupiah berhasil mendapatkan kunci jawaban soal tersebut sehingga menghantarkan mereka mendapatkan “nilai baik” (HP boleh masuk ruang ujian , pengawas yang longgar dan sebagainya dan saya rasa ini tidak hanya terjadi disekolah anak saya saja ). Nilai yang diterima anak saya tidak jelek 32.05 dari 4 mata pelajaran dengan kata lain dia lulus dengan nilai rata-rata 8.

Sampai detik ini dia masih kecewa karena merasa dunia memperlakukannya dengan tidak adil, walau dia tidak pernah menyesali dengan keputusannya berlaku jujur saat ujian. Sebagai orang tua saya merasa bangga karena memiliki anak yang jujur. Mendapatkan sekolah negeri itu suatu hal yang baik tapi jujur itu jauh lebih baik ketimbang kita merasa bangga dengan hasil yang sesungguhnya bukan jerih payah kita.

Sudah pandang saya dalam mendidik anak sudah jauh berbeda, tepatnya sejak saya bergabung dengan komunitas  Ayah Eddy baik mendengarkan siaran beliau maupun membaca buku karya beliau serta membaca buku-buku tentang parenting lainnya. Saya tidak lagi menilai anak-anak benar dan salah dari satu “kaca mata”, saya tidak lagi melihat anak harus melakukan “apa yang terbaik” menurut orangtua mereka. Karena Setiap anak merupakan pribadi yang unik, setiap anak adalah hebat, setiap anak pintar, setiap anak adalah juara.

Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk anak saya belajar tentang hidup, bahwa dalam hidup tidak semua apa yang kita mau akan terlaksana, dalam hidup adakalahnya menjadi orang jujur itu tidak mengenakan tapi itu baik dan harus tetap dilakukan. Rasanya Tuhan sedang mendewasakan anak saya dengan cara-Nya, cara yang mungkin tidak bisa dirinya dapat andai saat ini dia diterima di sekolah negeri.

Satu hal yang saya ingin mereka tahu bahwa saya akan selalu ada disamping mereka, bukan didepan mereka, bukan pula dibelakang mereka, tapi disamping mereka, yang selalu memberi kekuatan akan jalan hidup yang mereka pilih, hidup mereka milik mereka bukan milik saya. Kejujuran adalah harga mati, kejujuran adalah sikap , kejujuran adalah jalan hidup dan BERANI JUJUR HEBAT.

Hari ini anak saya boleh tertunduk dan menangis karena kejujuran itu pahit baginya, tapi kelak dia akan mengangkat kepala-nya dan bangga karena memilih untuk jujur disaat kesempatan untuk tidak jujur terbuka dan dianggap suatu “kebenaran” oleh sebuah system.

Wassalam.


“Anak Panah”

Februari 1, 2013

68613_107899489385454_1973711419_n

           Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

          Dalam hidup adakalanya Iman ini melesat tinggi seperti anak panas lepas dari busurnya dan adakalanya Iman seperti berjalan ditempat layaknya anak panah yang diam ditabung-Nya.

        Saya mengenal dirinya hampir 10 tahun yang lalu, saat kami untuk pertama kalinya dipertemukan Allah swt disuatu masjid dalam rangka islah diri. Sejak saat itu kami menjadi orang yang begitu dekat,  saya teramat kagum dengan perubahan yang terjadi pada dirinya , dari seseorang yang biasa menjadi orang yang sangat luar biasa, layaknya anak panah yang melesat jauh meninggalkan busurnya.

        Loncatan yang dilakukan dalam “usaha atas iman” begitu fantastis, keyakinan yang begitu kuat untuk selalu memperbaiki diri menghantarkannya untuk beberapa kali khuruj 4 bulan ke beberapa daerah di Indonesia bahkan sampai ke India, Pakistan dan Bangladesh, sesuatu yang  bagi saya masih menjadi sebuah cita-cita dikarenakan ketidak sungguhan saya dalam memperbaiki diri.

         Tetapi beberapa tahun belakangan ini ada yang berubah dari dirinya baik dari tampilan fisik maupun pola pikirnya, baju gamis yang selalu dia kenakan untuk beraktifitas sudah tidak tampak lagi, begitupun dengan janggut panjang yang menjadi ciri khas dirinya sudah berubah menjadi  sejumput rambut yang masih dia biarkan tumbuh liar didagunya.

        “Dakwah itu harus fleksibel jangan merasa eksklusif“ dirinya mencoba memberi argument atas pertanyaan saya beberapa tahun yang lalu. Dan sejak itu saya merasakan ada jarak diantara kami, jarak yang tak kasat mata tapi begitu kentara, sosok yang dahulu seakan hilang berubah menjadi sesuatu yang asing dan tidak saya kenal walau sudah sekuat tenaga untuk mencoba. Dirinya dekat tetapi sangat sulit untuk di jangkau.

           Dan untuk pertama kalinya setelah hampir 3 tahun kami bertemu kembali

“Apakabarnya bro, ini anak elo?” ucapnya  saat kami bertemu di salah satu mall ketika saya beserta istri sedang belanja bulanan. Saya hampir tak mengenali dirinya dengan penampilannya yang sekarang.

 “ Elo sendiri aja?” Tanya saya,

“Enggak ama istri gw, tuh dia lagi nemenin anak gw mandi bola” ucapnya datar. Ada haru dan jutaan pertanyaan yang tak bisa terucapkan di diri mengenai sosok sahabat saya ini. Tanpa sadar “jarak itu” semakin jauh dan saya sangat kehilangan sosoknya  yang dahulu,

 “Dunia ini cuma tipuan  bro jangan sibuk-sibuk, masa masih daftari nisab 3 harinya”

“Kapan nih nisab tahunannya tar keburu mati loe”

“Ke markaz ga, jangan sibuk dunia mulu”

“Cepet nikah biar kita bisa bareng keluar masturah , biar ga sebelah sayap”

           Saya rindu kata-kata itu , kata-kata yang meluncur mulus di bibirnya beberapa tahun lalu saat kebersamaan kami begitu erat.

“Boleh gw minta no telpon loe, nomor yang lama dah gak aktif ya?” Tanya saya seolah mencairkan kekakuan diantara kami. Alangkah terkejutnya saya ketika meliat bola matanya berkaca-kaca.

“Gw kangen markaz bro, kangen kaya dulu lagi” ucapnya lirih bahkan nyaris tak terdengar karena suasana mall yang begitu bising.

“Kenapa ga kesana kalau kangen” jawab saya.

“Gw malu, gw berasa dah jauh banget”  jawabnya singkat sambil menundukan pandangan ke lantai

“Kenapa malu, sejatinya gak ada alasan buat elo malu untuk kemarkaz dan melakukan hal yang seperti dulu elo lakukan”.

“Gw berasa ga pantes aja, udah terlalu kotor kayanya diri gw”. Ucapnya lirih.

“Elo tahu ga , Almarhum ustadz Jailani pernah kasih targib, selemah-lemahnya orang yang pernah keluar 4 bulan dan tidak aktif lagi, pasti didalam hatinya ada kerinduan untuk kembali lagi, kalaupun mereka belum kembali saat ini bukan karena mereka tidak mau melainkan mereka bingung dari mana mereka harus memulai kembali.” Ucap saya dan sahabat saya hanya terdiam

“Bukannya gw sok pinter karena gw tahu elo jauh lebih pinter dari gw, tapi menurut gw tidak selamanya anak panah diletakan dibusurnya bukan!, adakalahnya dia diletakan ditabungnya, bukan berarti anak panah itu tidak berguna, Anak panah tersebut hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali diletakan dibusurnya, ditarik jauh-jauh ke belakang agar saat dilepaskan memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran, mungkin saat ini elo lagi “ditaruh ditabung” tapi bukan berarti elo gak akan digunakan lagi, hanya menunggu waktu yang tepat barangkali, tapi yang pasti harus elo ingat hanya “Anak panah  yang terbaik” yang kelak akan digunakan-Nya, jadi kenapa harus malu kemarkaz lagi” ucap saya sok bijak.

           Sebuah senyum tersungging diwajah sahabat saya, ah…. rasanya saya mengenali senyuman itu, senyuman yang begitu amat saya rindukan karena sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi terlihat diwajahnya, senyuman tulus dari seorang sahabat untuk sahabatnya.

“Dah masuk nomor gw?” ucapnya

“Udah, gw save ya.” Ucap saya dengan antusias

            Panggilan miss call di hp saya mengakhiri perjumpaan kami siang itu, tapi saya yakin akan ada perjumpaan-perjumpaan lagi dengan dirinya setelahnya, mungkin saat ini dirinya butuh “beristirahat” untuk sekedar memulihkan penat, sebelum akhirnya  melesat layaknya sebuah anak panah yang semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang maka makin cepat pula anak panah itu melesat.

              Sebagai sahabat saya hanya bisa menyertakan dirinya dalam doa-doa saya agar Allah swt tetap gunakan dirinya dan saya untuk usaha atas agama, amien.

…Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…


“You don’t know what love is“

November 30, 2012

inay

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Setiap orang pastinya punya definisi tersendiri tentang apa itu cinta, dalam salah satu adegan film “Bila” yang diproduksi oleh Maxima Pictures dan Unlimited Production seorang anak bertanya kepada ibunya apa itu cinta , sang ibu yang baru saja berpisah karena memergoki sang suami berselingkuh menjawab bahwa cinta itu seperti sekotak coklat yang tidak semua rasanya manis. Sejatinya cinta memang sesuatu yang sangat kompleks tapi bukan berarti tidak bisa menjadi sesederhana kalimat cinta itu sendiri karena hal tersebut tidak lebih dari bagaimana masing-masing kita menjalaninya.

Pastinya Sha ( adik saya ) tidak akan pernah bisa menjawab apa itu cinta ketika kelak anak wanitanya bertanya kepada dirinya, tapi bukan berarti Sha tidak mengerti apa itu cinta, ketika hampir setiap orang masih bicara diranah retorika tentang apa itu cinta, seorang Sha sudah melampau batasan itu, dia telah menghujudkannya dalam bentuk nyata dan sederhana, sampai-sampai saya merasa begitu kecil dihadapan dirinya.

Mungkin betul apa yang dikatakan seorang Nina Simone, legenda musik Jazz dunia yang dalam salah satu syairnya mengatakan kita tidak akan pernah tahu apa artinya cinta sampai bibir kita merasakan air mata, ucapan yang sangat dalam dan penuh makna.

Berumah tangga hingga beranjak tua pastinya menjadi dambaan setiap orang, tidak terkecuali Sha, tapi adakalanya takdir berkehendak lain. Tidak setiap orang ditakdirkan untuk bersama hingga usia tua seperti Georges dan Anne dalam film AMOUR, Sha salah satunya, tanpa ingin menyalahkan takdir kebersamaan Sha dan almarhum suami hanya berumur 8 tahun, tapi saya tahu sesungguhnya cinta mereka melebihi tahun-tahun kebersamaan mereka.

Sebagian besar kita menyangka ujian cinta itu datang mana kala ada masalah-masalah dalam kebersamaan dengan pasangan, entah ketidaksetian dan lain sebagianya , tapi susungguhnya ujian cinta terbesar yang sesungguhnya terjadi manakala salah satu dari pasangan kita sudah tidak lagi bersama ( meninggal dunia). Saya ingat betul ketika Sha menangis diujung telpon ketika takdir membawanya pada keadaan bahwa suaminya mengalami komplikasi yang amat serius, tidak ada uang , tidak ada ruang ICU dirumah sakit Jantung yang menerima , tidak ada teman berbagi disampingnya , dan masih harus mengurus mertua yang stroke yang terbaring di rumah serta masih harus merawat kedua anaknya yang masih 4 dan 6  tahun serta calon bayi di dalam perutnya yang memasuki usia 6 bulan. Dan saya masih ingat juga tentunya ketika jumat pagi saya menemuinya di lobby rumah sakit untuk berganti shift dengan dirinya menjaga sang suami yang berada di ruang ICU, cadar yang menutupi wajahnya basah oleh air mata.  “Gw masih belum bisa iklas kalau dia harus pergi, gimana nasib gw dan anak-anak, Kalau sampai dia pergi berarti anak gw lahir tanpa kenal bapaknya” ucap Sha dengan wajah tertunduk.Mungkin hanya Allah yang tahu betapa berusaha sekuat tenaganya saya menahan air mata ini agar tidak tumpah dan berusaha untuk tegar walau hati sakit melihat keadaan adik tercinta “ Sha… masih ada Allah, DIA gak pernah salah, dia tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, anak elo masih punya Abi , ada gw”Sha yang pada awalnya bersikeras untuk berada dirumah sakit menjaga sang suami akhirnya bersedia untuk pulang setelah saya ingatkan tentang anak yang ada di dalam kandungannya.

Baca entri selengkapnya »


“Mencoba Berubah”

Agustus 21, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

Life has no ‘BACKSPACE’, but always ready for ‘CTRL N’

Rasanya saya kembali diingatkan satu hal ketika seseorang menulis kalimat tersebut pada komen postingan Life Must Go On Sha.  Saya seakan dipaksa untuk mengangguk setuju terhadap ucapan tersebut dan ini bukan kali pertama saya berada pada situasi dimana saya diingatkan akan banyak hal dalam hidup ini. Seakan mendapatkan pencerahan setelah mengalami “cobaan” hidup selama 2 tahun belakangan ini walau saya teramat paham masa pemulihan atau recovery setelah mengalami cobaan hidup adalah kondisi yang paling berat, bahkan katanya masa recovery justru 10 kali lebih berat dibandingkan saat masalah itu datang. tapi satu hal yang saya pahami bahwa didunia ini tidak ada kebahagiaan yang abadi, dan tidak ada kekecewaan yang abadi. Memang adakalanya kita begitu takut untuk menghadapi hal-hal yang belum tentu terjadi terlebih ketika masalah datang tanpa henti seperti hujan yang disertai badai dan angin kencang, padahal apa yang kita takutkan seringkali tak pernah terjadi dan terbukti.

Apa berarti saya sudah terlepas dari problem-problem hidup ??? Pastinya tidak karena sudah menjadi suatu ketetapan bahwa selama kita hidup problem-problem hidup akan terus menghampiri, tetapi rasanya sekarang ada perbedaan yang kentara dalam menyikapi setiap masalah yang datang dibanding sebelumnya yang lebih menegaskan kompleksitas sudut pandang orang dewasa yang kerapkali berlebihan dalam memandang segala sesuatunya. Saya harus berani jujur bahwa masalah hidup ini tidak berkurang, tapi ia cenderung lebih sebentar hinggap. Tidak lagi terlalu membelit dan mengikat hati yang terkadang merenggut sebagian intisari kehidupan yang menyisakan perasaan hati yang campur aduk dan tak bisa diterjemahkan yang hanya tergambar mulai dari marah, kecewa, putus asa dsb.

Harus diakui bangkit dari keterpurukan yang tiada berujung bukan suatu yang mudah tetapi harus dimulai dengan kata “mencoba”. Karena tidak seorangpun bisa memutar waktu untuk mulai awal yang baru tapi pastinya setiap orang bisa membuat akhir yang sama sekali Baru. Ya…Saya , Sha dan kedua anaknya serta keluarga besar saya sedang belajar untuk “mencoba”, mencoba dan terus mencoba menjadi lebih baik untuk belajar iklas menerima setiap ketentuan dari-Nya, bukankah seorang bijak pernah mengatakan “Anda tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, tetapi Anda harus mulai untuk menjadi hebat.” Dan detik ini kami sedang mencoba belajar untuk hal tersebut. Dewi“dee”Lestari pernah menulis dalam salah satu tulisannya “bahwa Perubahan tak pernah terjadi oleh hal lain di luar kita, meski faktor eksternal bisa jadi pemicunya. Yang mampu menggerakkan perubahan sejati hanyalah kita sendiri”.  Ya…walau untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan hati dan kesabaran karena sesungguhnya tak sulit memprediksi kemana arah kehidupan kita berjalan di setiap segmennya.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya” (QS Ath Thalaaq : 2-3)

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


“Sang Pelakon”

April 4, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       

Almarhum Suami Sha di ruang ICU

         Dunia ini layaknya sebuah panggung yang besar dimana setiap kita adalah pemeran yang berkewajiban memerankan peran sebaik mungkin dari sang “Sutradara”. Terkadang ada rasa kejenuhan ketika harus memerankan “karakter” yang sama berulang kali dalam setiap peran yang harus di “pentaskan”, tapi sekali lagi kita hanyalah wayang-wayang yang sangat bergantung pada arahan “Sang Dalang”, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus menjalani sesuatu yang memang sudah seharusnya kita jalanin tanpa banyak protes , dibutuhkan kerja keras untuk bisa membuahkan kepasrahan yang tinggi untuk menyerahkan secara total hidup kita kepada “Sang Sutradara”, layaknya seekor kijang yang hanya tertunduk tanpa perlawanan dalam terkaman harimau untuk menyambut sang keabadian. Karena akan teramat lucu ketika sang tokoh dalam sebuah cerita memprotes sang penulis yang menciptakan tokoh tersebut.

        Sama lucunya ketika Sha mencoba “mengugat “ Sang Sutradara ( baca : Allah swt ) atas ketidak adilan “peran” yang harus dia bawakan dalam hidupnya, “peran” yang lagi dan lagi harus dia mainkan, seakan mengunakan pendekatan drama runut dengan tempo lambat yang lumayan menyiksa terlebih harus membawakan “peran” tersebut secara slow motion dan berulang-ulang

Gw gak tahu apa maunya Allah seakan gw gak di beri nafas sedikit pun, baru sebulan gw kehilangan suami (21/01/12) , sekarang mertua gw (22/2/12) yang meninggal dan hari ini Bunda sakit, ditambah Azzura harus ngulang kelas 1 tahun ajaran baru nanti”

        Saya hanya tersenyum menyaksikan “protes” adik saya tercinta teringat sayapun pernah melakukan hal yang sama setahun yang lalu, bukan pada protes yang extreme melainkan hanya mempertanyakan dan berharap diberikan sedikit jedah untuk menarik napas sebelum kembali memerankan”peran” yang sama. Karena akan menjadi sebuah ironi manakala kita berada dalam situasi dimana pilihan menjadi amat terbatas atau bahkan tidak ada samasekali.

         Tahun 2011 bukanlah tahun yang menyenangkan menurut kacamata saya karena ditahun tersebut saya seakan dipaksa untuk”memerankan” karakter yang sesungguhnya bukan diri saya, tetapi karena sikaf kepasrahan dan kepercayaan total kepada “Sang Sutradra” yang membuat saya dapat bertahan melewati semua masalah hingga detik ini, ibarat aktor yang memiliki kemampuan biasa tetapi di dukung oleh “Sutradara” yang hebat, kru dan para pemain pendukung yang luar biasa ditambah narasi yang terdefinisikan dengan baik diperkuat dengan music scoring layaknya orchestra maka sukseslah saya dalam melewati saat-saat mencekam tersebut.

         Walau saat ini pertanyaan Sha diawal tulisan ini dan pernah menjadi pertanyaan saya masih mejadi misteri yang belum terungkap tapi setidaknya kami berharap misteri tersebut sedikit demi sedikit akan terungkap seiring “narasi“ bergulir menujuh pada kesimpulan akhir

           Mungkin kuncinya ada pada kesabaran, karena kesabaran merupakan faktor yang harus dimiliki untuk menyelesaikan peran saya dalam “panggung” ini. Saya hanyalah seumpama bidak catur yang digerakkan sesuai fungsinya, jadi selama lampu “kamera” tetap menyalah dan belum ada aba-aba ‘Cut” dari sang “Sutradara” maka saya harus tetap memainkan dan memerankan “peran” sebaik dan secemerlang mungkin, bersatu dan melebur dalam setiap karakter yang diberikan merupakan keniscayaan sampai credit title bergulir dan pada saatnya kelak kita akan berdiri di “panggung” yang lebih besar dari yang sekarang kita diami untuk menerima “awards” dari “Sang Maha Sutradara”.

Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah kepada Robmu dengan Ridho dan Diridhoi.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Sekolah Untuk Azzura dan Aulia

April 1, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

         Setelah mempertimbangkan semua factor dari mulai faktor psikologis sampai ekonomi tepat seminggu setelah meninggalnya sang suami (21/01/12), Sha dan kedua anaknya memutuskan hijrah ke Jakarta (tempat orangtua saya), kepindahan Sha ke Jakarta tidak hanya berdampak bagi dirinya tapi juga kedua anaknya terutama masalah sekolah Azzura karena sebelum kepindahan ke Jakarta Azzura tercatat sebagai siswa kelas 1 SDIT dan ternyata proses pemindahannya tidak semudah yang sebelumnya dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi baik administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN | Nomor Induk Siswa Nasional dari sekolah lamanya) maupun dari diri Azzura yang sepertinya belum siap untuk bersekolah ditempat yang baru.

         Awalnya kami ingin memasukan Azzura ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT ) seperti sebelumnya terlebih Almarhum suami Sha sangat anti sekolah Negeri Karena kurangnya mata pelajaran keagamaan yang diajarkan, tapi kami harus realistis, SDIT bukan barang yang murah untuk kami saat ini terlebih Aulia anak ke dua Sha tahun ini juga harus masuk TK di tambah biaya persalinan Sha yang tinggal menunggu harinya, berkaca dari itu semua terpaksa keinginan memasukkan Azzura ke SDIT kami kubur dalam-dalam dan kami memilih untuk memasukan Azzura ke sekolah Negeri dengan penuh konsekwensi pastinya

         Karena kendala proses administrasi ( Azzura belum memiliki Nomor NISN /Nomor Induk Siswa Nasional ) dari sekolah lamanya terpaksa Azzura harus mengulang kelas 1 tahun ajaran baru berikutnya, Sempat terpikir untuk memasukkan Azzura ke Homeschooling setidaknya agar dia tidak mengulang kelas 1 dan bisa langsung masuk kelas 2 pada tahun ajaran baru di sekolah negeri, tapi ternyata tidak semua sekolah negeri bisa menerima pidahan anak Homeschooling khususnya sekolah negeri yang akan dimasuki Azurra, padahal saya sudah sempat mendatangi 2 Homeschooling (Sekolah Rumah Kamyabi dan Homeschooling Berkemas ) dan berniat mendaftarkan disalah satu tempat tersebut walau pada akhirnya niat tersebut dibatalkan.

        “Kalau di sekolah itu ( sekolah negeri ) perempuannya gak pada pake jilbab Uya ( Azzura ) juga gak mau ah pake jilbab kesekolah malu tar dikatain,pakenya kalau main dirumah aja” protes Azzura kepada kami, walau sedikit susah meyakinkan Azzura untuk tetap mengenakan Jilbab ke sekolah negeri nanti, tapi setidaknya untuk saat ini dirinya luluh juga, selain Azzura tahun ini Aulia adiknya juga masuk TK, berbeda dengan Azzura permasalah justru dari pihak sekolah dimana secara nama dan pengajaran TK tersebut TK Islam tetapi secara busana sama sebagaimana TK umum yang tidak menerapkan busana muslimah bagi siswanya.

Maaf kami memang TK Islam tapi tidak semua siswa disini mau mengenakan busana muslim jadi dari pihak sekolah tidak mewajibkan busana muslim tapi kalau dari orang tua siswa berkeinginan anaknya berbusana muslim kami pihak sekolah bersedia mempasilitasi tapi tentunya dengan biaya tambahan karena busana muslim kan berbeda dengan yang umum” ( dari sekolah itu berdiri sampai saat ini baru kami yang mengajukan busana muslim ).

        Mungkin untuk sebagian orang kami ( Saya dan Sha ) terlihat terlalu memaksakan sesuatu yang sebenarnya masih bisa di tunda penerapannya ( memakai jilbab ) terlebih medan yang mereka (Azurra dan Aulia ) tempuh tidak mudah dimana lingkungan mereka beraktifitas tidak mewajibkan hal tersebut maka dapat dipastikan aroma perbedaan terlalu kentara dan mencolok, tapi Insya Allah niat kami bukan untuk sekedar gaya-gayaan agar disebut lebih “Nyunah” melainkan semata-mata untuk menanamkan nilai-nilai agama sedini mungkin kepada mereka , sama halnya ketika orangtua kami menanamkan hal tersebut di diri saya dan Sha.

         Dulu dibenak saya betapa menyiksanya setiap sedang asik bermain tiba-tiba harus pulang kerumah mengambil sarung dan berlari ke masjid karena suara adzan sudah terdengar terlebih setiap badha magrib saya dan Sha harus sudah siap di kamar untuk belajar mengaji kepada Bunda, sedangkan anak-anak yang lain masih asik bermain, kadang ada perasaan iri terhadap anak-anak yang lain saat itu, tapi sekarang kami sangat bersyukur karena kedua orang tua kami pernah menanamkan prinsip-prinsip beragama yang kuat sedari kami kecil yang pastinya berimbas sampai kami dewasa. Bercemin dari pola pendidikan yang saya dan Sha dapat sewaktu kecil maka hal yang sama coba kami terapkan kepada anak-anak kami walau pastinya tidak sekaku ketika kedua orang tua kami mendidik kami, dimana sangat terasa aroma otoriter dari mereka. Kami tahu jalan yang kami tempuh bukan jalan yang mudah tapi kami yakin Allah akan selalu bersama kami dan semoga Allah swt meridhoi apa yang kami lakukan terhadap anak-anak kami dan semoga mereka dapat menjadi ladang amal bagi kami kelak di akhirat dan dapat membuka jalan yang mudah untuk menujuh surga-Nya amien..amien..amien….

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Life Must Go On Sha

Februari 15, 2012

   

   Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

        Siapapun orangnya yang namanya kematian akan selalu menyisakan guncangan mental bagi orang yang ditinggalkan karena pada dasarnya ketika individu kehilangan seseorang yang dicintainya maka individu tersebut biasanya merasakan sakit yang begitu dalam, rasa frustasi dan kehilangan yang mungkin baru akan hilang setelah melalui waktu yang cukup lama lepas apakah dia seorang pria atau wanita. Bahkan seorang Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan sebutan B.J. Habibie yang tidak lain seorang pria dengan jabatan mantan Presiden RI ke-3 yang memiliki julukan si genius saja memerlukan waktu lama untuk akhirnya menyadari bahwa sang istri telah benar-benar meninggalkan dirinya ( meninggal dunia ), bahkan menurut Adrie Subono yang tidak lain adalah keponakannya meski hampir dua tahun ditinggal sang belahan hati, rasa kehilangan belum juga sirna dari hati presiden RI tersebut “ Sampai sekarang saya masih sering melihat Om menangis sendirian mungkin terkenang ibu ( Ainun ).”

       Apalagi hanya seorang Sha yang notabene hanyalah seorang Ibu rumah tangga dengan 2 orang anak wanita 6.5 tahun dan 4.5 tahun ditambah dirinya sedang menggandung anak ke-3 ( 7 bulan ) pastinya sangat wajar apalagi sedikit terpukul dengan meninggalnya sang suami yang mendadak 3 minggu lalu.

Gw masih suka berharap ini cuma mimpi, dan ketika gw bangun semuanya masih sama kaya dulu lagi”

Kalau malam pas orang-orang sudah pada tidur gw masih suka berasa dia ada”

Dia masih suka datang dalam mimpi-mimpi gw”

Mungkin ada benarnya ketika sebagian orang berkata pasangan hidup kita adalah belahan jiwa , nafas dan kekuatan kita sebagaimana yang diungkapkan BJ Habibie dalam sebuah kesempatan saat peluncuran buku Habibie dan Ainun. “Kebersamaan bersama ibu ( Ainun, Red ) terasa terlalu singkat bagi saya. Almarhumah adalah gula yang membuat hidup saya manis,” dan rasa yang sama juga dirasakan Sha

“Sekuat apapun , tetap saja gw hanya seorang wanita yang berasal dari tulang yang bengkok sehingga memerlukan suami untuk meluruskan”

Kehilangan orang yang dicintai secara mendadak acapkali membuat cita-cita, harapan dan imajinasi kita terberai.

“Gw gak pernah memimpikan dan meminta yang macam-macam ketika menikah, gw cuma ingin membuat keluarga yang sakinah yang bisa mencetak keturunan alim, hafiz, dai dan sholeh. Gw gak tahu kenapa Allah ambil dia sehingga gw gak yakin apa bisa merealisasikan cita-cita gw ma dia karena gw sekarang sendiri membesarkan anak-anak”

       Tapi apa mau dikata takdir tidak bisa kita hindari, Allah adalah pemiliki mutlak makhluk di bumi, dia berhak mengambil siapa yang lebih dicintai, mungkin satu hal yang harus kita pahami bahwa takdir Allah selalu baik. Selalu ada hikmah yang menyertai setiap ujian dalam kehidupan. Walau hidup Sha saat ini tidak seindah lagu pada musik okestra dimana nada, ritme dan syairnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga selalu harmonis tapi hidup tetap harus berjalan bukan! Life must go on.

       Diluar hal-hal yang berkaitan dengan perasaan ada hal yang lebih penting yakni mempersiapkan bagaimana anak-anak tetap bisa melanjutkan hidup, karena jika terus menerus berkutat pada hal-hal yang mengharu biru maka dapat dipastikan kita tidak dapat berpikir rasional dan proporsional. Sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan mungkin menjadi salah satu kuncinya mengingat bahwa Allah lah yang memberi ujian, maka Allah pula yang akan menyelesaikan ujian tersebut sesuai dengan ikhtiar kita dalam menjaga dan memelihara keimanan.

       Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 398 pengikut lainnya