Sha, Airmata dan Keikhlasan

Januari 28, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

        Dalam ‘Feeling the Shoulder of the Lion‘, Rumi pernah menulis bahwa seringkali Tuhan  menetapkan keinginnan yang menggairahkan dalam diri kita dan dalam hitungan detik kembali menghempaskan keinginan-keinganan itu, Dia mematahkan sayap-sayap dari satu niat yang ada di diri kita lalu memberikan sayap yang lain, dan kembali Dia patahkan lagi agar rasa ketergantungan kita menjadi besar terhadap-Nya. Adakalanya Allah swt akan datangkan lagi dan lagi ujian kepada orang beriman karena Dia hanya ingin mendengar apa yang diucapkan orang beriman ketika mendapatkan ujian tersebut, mengeluhkah???, kecewahkah??? atau sabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt. Ujian-ujian tersebut layaknya sebuah test yang akan menyaring siapakah yang benar-benar beriman diantara hamba-hamba-Nya Seperti buah kelapa yang jatuh keras kebumi, dicabutin sampe gundul, dipukuli sampai belah, dicungkil, setelah itu diparut, diperas baru keluar sari patihnya. Rasanya hal tersebut yang sekarang sedang berlaku terhadap diri Sha adik wanita saya tercinta. Setelah mengalami 2 minggu yang sangat berat dalam hidupnya akhirnya Allah swt mengambil kembali titipan-Nya ( suami tercinta ), hancur lebur seluruh harapan yang ada dihati terlebih dengan 2 orang anak wanita yang masih kecil dan bakal calon bayi yang memasuki bulan ke-6 didalam perutnya.

       Manusiawi ketika perasaan takut dan cemas tentang masa depan menghampiri dirinya.

“Kalau sampai Allah ambil dia, gimana nasib anak-anak gw yang masih pada kecil-kecil ditambah gw hamil 6 bulan masa anak gw lahir gak ada bapaknya” ucap Sha diiringin dengan isak tangisnya.

 “Tapi kalau Allah sudah berkehendak kita gak bisa apa-apakan !!!, orang yang sehat aja bisa mati, sekarang, gw tinggal menunggu mukjizat, orang ada yang sudah divonis mati aja masih bisa bertahan hidup bertahun-tahun”  ucapnya lagi seakan meralat perkataannya sebelumnya.

           Sha adalah adik wanita yang saya sangat sayangi , perbedaan usia diantara kami hanya berpaut 2 tahun, kami selalu bersama sejak kecil, saya ingat ketika kecil selepas badha magrib kami selalu kekamar Bunda untuk sama-sama belajar mengaji, dan pada saat itu saya selalu terkena pukulan rotan Bunda karena ketidak seriusan saya membaca susunan huruf-huruf hijaiyyah dan Sha selalu menjadi yang terbaik. Keadaan yang membuat kami selalu bersama-sama, dari sekolah dasar ( SD ) sampai sekolah Menengah Akhir ( SMA ) kita selalu bersekolah ditempat yang sama. Sha adalah tipe orang yang penurut dan cenderung pasrah dalam hidup sehingga jarang terdengar keluhan keluar dari mulutnya. Bahkan sejak usia 5 tahun dia sudah berpuasa Full sampai magrib dan hanya batal 2 hari itupun dia berniat menggantinya saat itu.

       Pahit getir hidup selalu menghampirinya, tapi sekali lagi Sha selalu bisa membuktikan bahwa seberat apapun beban masalah yang kita hadapi pastinya itu tak pernah melebihi batas kemampuan kita.

“Kenapa kita harus memusingkan rezeki kita esok hari bukankah Allah swt sudah menjamin untuk perkara tersebut, yang harus kita risaukan adalah bagaimana keadaan iman kita karena untuk perkara ini tidak ada jaminan dari Allah swt.” tuturnya ketika perasaan takut akan masa depan menghampiri.

       Begitu tegarnya Sha bahkan dalam keadaan kalut sekalipun dirinya masih bisa tenang ketika menjelaskan perihal yang terjadi terhadap suaminya kepada anak pertamanya.

“Uya ( Azurra, anak pertama Sha 6,5 tahun ) harus ikhlas kalau Allah swt ambil Abi dari kita seperti de Arya ( ponakan Sha yang meninggal 6 bulan yang lalu)”

“Tapi Uya mau Abi balik lagi ke rumah”

“Gak boleh gitu, seperti mainan Uya dipinjam Dede Ia ( Zaskia , anak ke dua Sha 4,5 tahun ) ketika Uya mau ambil kapan aja gak papakan, walau dede Ia nangis sekalipun”

“Uya tetep gak mau, Uya mau Abi balik kerumah”.

        Kita tidak pernah bisa mengatur takdir kita, dan entah disadari atau tidak setiap hari kita sedang berjalan menujuh tadi kita masing-masing, tak terkecuali Sha, Sabtu 21 Januari 2012 merupakan hari dimana Allah swt sebagai Pemilik Jiwa memanggil suami tercinta, tidak ada guratan kesedihan, hanya keikhlasan yang tampak di wajahnya, tenang walau saya tahu jauh didalam hatinya ada rasa kehilangan.

        Sejak sang suami dirawat di ICU, dirinya selalu dalam keadaan berwudhu dan tidak pernah jauh dari sajadah, setiap ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman dia langsung sholat dan bermunajad kepada-Nya, sampai-sampai ketika menjelang magrib saya mengabarkan kepada Sha untuk segera menujuh rumah sakit karena suaminya dalam keadaan kritis dan sepertinya ajalnya tidak lama lagi, Sha tetap tenang diatas sajadahnya, berdzikir dan selalu berdoa.

“Gw berangkat habis magrib aja, gw mau sholat magrib dulu, karena kalaupun Allah swt mau ambil dia gw bisa apa karena itu sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa di tolak, sedangkan kalau gw jalan sekarang takut macet dan sampai sana malah gak bisa sholat magrib”

       Saat dirinya didalam taksi dan saya mengabarkan bahwa suaminya sudah meninggal dunia, dirinya masih tetap tenang sambil berucap Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

“Tugas dia didunia sudah selesai, sekarang tinggal gw menata kembali hati dan masa depan bersama anak-anak melanjutkan tugas didunia untuk sama-sama nanti berkumpul di surga-Nya.”

“Gw bisa apa kalau Allah swt sudah membuat keputusan, ini bukan mau dan nafsu gw, kalau nafsu gw maunya dia sembuh dan tetep hidup  berada di sisi gw dan anak-anak, tetapi Allah yang memutuskan mengambil dia, jadi untuk apa gw sedih dan kecewa, lain hal kalau gw bercerai.”

            Allah…. Rasa tidak ada yang berubah dari diri Sha, sejak kecil sampai saat ini dia masih menjadi sosok yang mengagumkan bagi diri saya.

“Sekarang gw balik kerumah lagi, dan sekarang gw kembali menjadi tanggung jawab elo, maafin kalau kembali merepotkan elo”.

         Gak ada yang di repotin Sha,  elo akan tetap menjadi adik kesayangn gw, kita pasti bisa lewati ini semua karena Allah swt tidak akan pernah tinggalkan kita. Ya Allah hidayah, Amien..amien….amien…

Berikan kelemahanmu pada Dia yang Maha Membantu

Tangisan dan ratapan adalah sarana yang luar biasa

Ibu yang tengah menyusui,yang dilakukannya hanya menunggu panggilan anaknya

Hanya rengekan awal yang lirih saja,maka dia pun datang

Tuhan menciptakan anak itu yakni,keinginanmu agar ia menangis supaya susu menetes

Menangislah!

Jangan menahan perasahaan dan diam saja dengan sakitmu

Merataplah!

Dan biarkan susu yang Pengasih mengalir ke dalam tubuhmu.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Penilaian Tanpa Keadilan

Januari 18, 2012

 

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Pastinya menjadi sesuatu yang biasa ketika anda menyaksikan seorang anak menangis dan merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya, karena hal yang seperti itu puluhan bahkan ratusan terjadi setiap hari dipermukaan bumi, tetapi menjadi sesuatu yang tidak biasa manakala hal tersebut menimpa keluarga para pekerja dakwah, terlebih ketika kejadian tersebut Ayah/suami mereka sedang khuruj, maka sudah bisa dipastikan ocehan-ocehan yang menjurus kepada fitnah keluar dari para penentang usaha dakwah dan tabligh,

       “Khuruj melentarkan keluarga lah” dan masih banyak ucapan-ucapan fitnah lainnya. Saya jadi teringat dengan tulisan Almarhum La-Rose disalah satu bukunya, beliau menceritakan fenomena orang yang tidak adil dalam melakukan penilaian dimana ada seseorang yang sedang menyantap hidangan dimeja makan dengan beberapa orang tamunya, ketika seorang anak yang bertubuh subur dan dari latar belakang orang berada mulai mengambil beberapa makanan yang dihidangkan dan dengan cepatnya menyantap seluruh makanan tersebut maka si empunya rumah hanya berkata yang bernada memuji apa yang dilakukan anak orang kaya tersebut, betapa si anak sehat dan pintar karena tanpa malu-malu memakan hampir seluruh makanan yang dihidangkan, tetapi penilaian berbalik 180 derajat mana kala anak dari keluarga miskin mulai mengambil beberapa makan yang dihidangkan,dan menyantap dengan begitu nikmatnya, mulai dari mengatakan anak orang miskin itu tidak beradab sampai mengatakan anak miskin itu begitu rakusnya.

       Melakukan penilaian tanpa keadilan mungkin tanpa disadari sering pula kita lakukan padahal seperti yang pernah dikatakan Kh Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym saat sesi wawancara dalam salah satu acara di MetroTV;

“Bisakan menilai sebuah buku dengan melihat sebentar jilidnya ??? Jelas tidak bisa, untuk memahami sebuah buku harus dibaca dan itu tidak bisa global harus selembar demi selembar, begitulah untuk membaca sebuah kejadian harus memiliki kejernihan hati dan kesungguhan untuk menelaah”.

Baca entri selengkapnya »


Mendemontrasikan Agama Ditengah Umat

Januari 17, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Ketika anda hanya mengabiskan waktu dan pikir anda diam didepan monitor , mengetikan kata demi kata untuk mengkritik dan mencari cela kekurangan dari saudara muslim maka saya yakinkan apa yang anda lakukan tidak akan pernah menjadikan diri anda sendiri maupun orang yang anda kritik menjadi lebih baik, lain halnya ketika anda bergerak mendatangi saudara muslim  di dunia nyata semata-mata karena Allah dengan niat agar anda dan orang tersebut menjadi baik dalam pandangan Allah swt maka pasti dan pasti Allah swt  akan turunkan hidayahnya untuk anda  dan orang yang anda datangi.

       Ketika anda bersilaturahmi ke rumah saudara muslim baik dilingkungan tempat anda tinggal ataupun dimana-mana tempat diseluruh alam maka tanpa disadari anda sedang mendemontrasikan agama ditengah-tengah umat, Fikir yang anda gunakan untuk memikirkan keadaan agama didiri saudara muslim sudah bernilai pahala yang besar disisi Allah swt, niat anda untuk bersilaturahmi menjumpai saudara-sudara muslim juga bukan perkara yang sepele dalam pandangan Allah swt, langkah yang anda gerakan untuk mengunjungi rumah saudara muslim dalam rangka silaturahmi pastinya adalah langka-langkah yang Allah swt sangat sukai, terlebih salam yang anda ucapkan ketika berdiri didepan rumah saudara muslim memiliki pahala yang besar karena sesungguhnya salam merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Ketika anda mengucapkan Assalaamu’alaikum’ maka anda mendapat sepuluh pahala, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’,‘Dua puluh pahala’. ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’, maka anda mendapatkan ‘Tiga puluh pahala’ sekarang tinggal anda pilih mau yang 10, 20, 30. Ditambah lagi ada senyum tulus yang mengembang dibibir anda ketika berjumpa dengan saudara muslim yang pastinya dapat merekatkan hati-hati yang sebelumnya retak, bahkan Rasulullah Saw bersabda, “Senyum kepada saudara muslim itu sedekah.” Anda bisa bayangkan berapa banyak yang anda dapat hanya dengan senyum yang tidak memakan biaya???, Setelah itu anda  berjabat tangan dengan saudara muslim yang anda datangi sehingga menjadi pintu-pintu pahala dan penghapus dosa bagi anda dan orang tersebut. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dari dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali Allah Swt. Akan mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum keduanya berpisah”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah).  Setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan tentang agama, maka pasti dan pasti dalam pandangan Allah swt hal tersebut jauh lebih baik dari pada pembicaraan-pembicaraan yang ada di dunia ini. Rasulullah saw. bersabda: “perkataan yang baik adalah sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim) Coba bayangkan berapa banyak pahala yang anda dapat hanya dengan mengunjungi  1 rumah saudara anda yang muslim untuk bersilaturahmi,  bayangkan kalau 2, 3, 4 rumah yang anda datangi setiap harinya berapa banyak pahala kebaikan yang akan Allah swt berikan , bagaimana kalau sebulan,??? Setahun???, pastinya hanya Allah swt saja yang bisa menghitung berapa banyak pahala tersebut

       Coba bandingan apabila anda menolak hal tersebut dan lebih tertarik dengan mencari aib saudara muslim lantas tanpa keadilan menghukum saudara muslim dengan sebutan ahli bidah, penyembah kubur, bahkan tidak segan mengkafirkan, anda bisa bayangkan kerusakan yang terjadi ditengah-tengah umat bahkan tidak menutup kemungkinan kerusakan tersebut menimpa anda juga. Apalagi kalau anda melakukan hal tersebut dengan menggunakan fasiltas kantor ditengah-tengah jam kerja yang pastinya anda sendiri tahu hal tersebut  seharusnya tidak boleh dilakukan apalagi anda sebagai seoarang pekerja muslim karena sama halnya anda mengambil sesuatu yang bukan milik/hak anda ( korupsi waktu/jam kerja ), pastinya Allah swt tidak akan menyukai hal tersebut.

       Jadi mulai detik ini tidak ada salahnya kita mulai bermuhasabah dan bertafakur dengan apa yang selama ini kita lakukan karena seperti yang Kh Abdullah Gymnastiar atau A’a Gym bilang “Orang kalau tidak pernah melakukan tafakur cenderung melakukan pembenaran, cenderung tidak peka dan cenderung munafik“, maka saya mengajak diri saya dan kita semua sebelum ditutupnya pintu tobat  untuk sekuat tenaga setiap harinya bersilaturahmi dengan saudara muslim baik yang berada dilingkungan kita maupun dimana-mana tempat  demi menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Ketika Allah swt Menyeka Air Mata Kita

Januari 16, 2012

Assalamu “Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ….

       Dalam hidup terkadang masalah tidak datang satu persatu seperti  jerawat diwajah, seringkali dia datang seperti  hujan yang  deras , tapi lepas dari besar atau kecilnya masalah yang datang, hidup tetap harus dijalani karena hidup bukan episode dari Drama Queen , dimana kita terlalu melebih-lebihkan emosi dengan cara yang dramatis.

       Ada beberapa hal yang saya suka dari Ibu saya ketika beliau  menghadapi masalah dalam hidupnya, beliau selalu melakukan sebuah ritual yang sampai saat ini masih beliau lakukan, biasanya dirinya mengambil air wudhu dan langsung membaca surat Yasin atau kalau tidak beliau mengambil biji tasbih dan mulai konsentrasi berdzikir mencoba mencari sebuah kekuatan ketika sampai pada titik nadir dalam hidupnya. Saya selalu ingat kata-kata beliau sebagai penguat dikala cobaan datang menghampiri , “Allah maha tahu, jangan pernah protes sama Allah bisa kualat”, sederhana tapi cukup ampuh bagi saya terutama satu tahun belakangan ini, ketika Allah swt memposisikan emosi saya layaknya Rollercoaster naik turun tidak menentu.

     Tahun  2011 adalah waktu dimana Allah swt benar-benar menguji keyakinan saya dengan mendatangkan masalah secara bersamaan, mulai dari operasi batu ginjal ibu yang gagal akibat pendarahan dan terpaksa harus menjalani 3 kali operasi, anak yang di vonis tidak bisa bertahan hidup akibat air ketuban yang hampir habis, ditambah dengan 3 lilitan dan jantung yang tidak normal tapi nyatanya sampai detik ini berkat kuasa Allah swt anak saya baik-baik saja,  Kakak yang masuk rumah sakit akibat kelelahan menjaga ibu, Adik yang sampai saat ini masih harus rawat jalan akibat diindikasi menderita TBC Usus, Ayah yang tertipu puluhan juta oleh orang yang menjual tanah dan ternyata tanah sengeta, Nenek istri yang koma selama hampir 2 minggu dan akhirnya harus meninggal dunia dan sekarang diawal 2012 saya dihadapkan oleh 3 peristiwa yang lagi-lagi datang secara bersamaan, Pertama, hari ini tanggal 16 Januari 2012 suami dari Sha adik wanita saya masuk ruang ICU akibat komplikasi paru dan jantung dan entah apalagi karena saya belum mendapatkan kabar pastinya, lalu anak saya sudah hampir 4 hari terkena campak, dan besok 17 januari 2012 mertua saya harus menjalani operasi pengangkatan payudara akibat tumor. lengkap rasanya masalah yang saya hadapi , tapi sekali lagi seperti yang ibu saya selalu katakan bahwa  Allah swt maha tahu dan jangan pernah protes sama Allah bisa kualat dan rasanya hal tersebut yang saat ini akan saya lakukan untuk selalu bersangka baik kepada Allah swt.

     Kalau sekarang saya ditanya bagaimana perasaan saya maka saya akan menjawab sama sebagaimana  yang pernah dikatakan Ayu Dewi, “rasanya seperti kalau mau dicabut gigi, setelah disuntik maka tidak ada rasa sakit sama sekali” , seperti itu rasa yang saya rasakan kali ini, saya ingat seorang teman pernah menulis dalam status Facebooknya bahwa orang yang beriman itu memiliki ketangguhan jiwa, meskipun mendapat ujian dari Allah, justru ujian itu dapat mengantarkannya ke puncak kebaikan., apa pun yang diterima dari Allah tidak mengurangi kadar keimanannya , ibarat sebongkah tanah liat atau lempung ditangan pengrajin yang siap dibentuk apapun sekehendak hati siempunya begitupun dengan saya karena pada hakekatnya DIA lah ALLAH swt yg menciptakan seluruh suasana dan keadaan sebagai ujian bagi manusia, keadaan boleh saja sama namun rasa akan berbeda, Kemiskinan akan terasa nikmat bagi orang beriman dan akan terasa menyiksa bagi yang tidak beriman, Kekayaan akan terasa nikmat bagi orang-orang yang beriman dan menyusahkan bagi yang tidak beriman. Semoga kali Allah swt memberikan ketegaran, kesabaran dan ketabahan yang lebih kepada saya amien…amien…amien…

.Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..