Kargozari Mudzakarah Tertib Dakwah

November 20, 2009

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du….

Kalau anda di tanya mana yang anda pilih, hanya mendengar sesuatu yang menarik perhatian atau merasakan langsung sesuatu yang menarik itu, maka pasti kita semua menginginkan merasakan langsung sesuatu yang menarik tersebut ketimbang hanya mendengarkan dari orang lain tentang hal tersebut. Untuk perkara dunia saja kita paham bahwa akan lebih menyenangkan apabila merasakan langsung ketimbang hanya mendengarkan dari orang lain sesuatu yang kita anggap menarik, maka sudah seharusnya keinginan untuk mendengarkan langsung mudzakarah yang di sampaikan orang tua kita di markaz jauh lebih menarik minat dan perhatian kita semua ketimbang hanya duduk di depan computer memperhatikan dan membaca tulisan mengenai tertib-tertib dakwah, karena dalam usaha dakwah ini sangat di tekankan pentinganya ber sub’ah dan kita akan jauh lebih paham mana kala kita duduk langsung mendengarkan arahan dari orang tua kita di markaz dakwah.

Oleh karena saya tidak mau merusak kenikmatan anda dan agar kita sendiri tidak berubah tawajuhnya pada usaha ini, terlebih lagi tertib usaha dakwah ini adalah gerak bukan tulisan dan hal-hal terkait dengan dakwah tidak dianjurkan menggunakan media internet maka saya hanya akan menulis secara garis besar saja bukan secara detail mudzakarah tertib dakwah karena untuk sesuatu yang detail tetap harus dilakukan secara mujahadah.

Sudah kali ke 3 sejak jum’at pekan lalu mudzakarah mengenai tertib dakwah yang akan menjadi panduan dakwah seluruh Indonesia diadakan dimasjid Jami Kebun Jeruk Jl. Hayam Wuruk No. 83 Taman Sari Jakarta. Mudzakarah ini baru pertama kali diadakan di Indonesia khususnya di markaz Jakarta , karena Jakarta merupakan barometer dakwah di Indonesia. Mudzakarah ini sendiri bertujuan untuk menyamakan persepsi dan sosialisasi sehingga gerak dan kerja kita sama sesuai arahan, karena apabila kerja yang kita lakukan sesuai dengan arahan-arahan maka gerak kita yang sedikit ini sudah dapat menarik pertolongan Allah swt.

Secara garis besar mudzakarah terbagi menjadi 5 point besar : 1. Kerja Maqomi, 2. Usaha atas Masturah, 3. Jamaah jalan kaki, 4.Orang lama tingkatkan pengorbanan, 5. Usaha atas orang miskin dan awam. Tapi sekali lagi saya tidak akan membahas ke lima point tersebut secara detail, saya hanya ingin menulis beberapa catatan yang saya anggap penting untuk di sharing dalam blog ini.

Betapa bahagianya para Masyech ketika menyaksikan “kesuksesan” ijtima bulan juli yang lalu sehingga untuk tahun yang akan datang Indonesia mendapat kepercayaan mengadakan 2 kali pertemuan antar kawasan , yaitu jord qudama ( orang – orang lama yang pernah keluar minimal 40 hari ) dan ijtima ( dapat di hadiri oleh semua orang baik yang sudah keluar maupun yang belum ).

Ada tanda tanya besar di kepala para masyech khususnya Maulana Saad dimana sangat mudah menemui orang / jamaah indonesia di Nizamudin bahkan rombongan dari Indonesia terbanyak di banding negara-negara lain, tapi sayangnya untuk takazah negeri jauh sangat sedikit jamaah Indonesia yang di keluarkan , oleh karena itu untuk kedepannya Indonesia di harapkan setiap tahunnya mengirimkan minimal 100 jamaah ke negeri Arab.

Dan yang juga tidak kalah pentingnya bahwa usaha dakwah ini harus benar-benar di sandarkan kepada kehidupan sahabat Nabi saw, karena Kalau kerja dakwah ini tidak di sandarkan dengan kehidupan sahabat Nabi saw maka kerja dakwah ini akan kehilangan ruh , dan yang ada gerak kita sama halnya dengan organisasi-organisasi kebanyakan yang timbul dan tenggelam, oleh karenanya penting bagi setiap pekerja dakwah diharuskan banyak membaca Hayatush Shahabah secara individu di luar taklim harian.

Baca entri selengkapnya »


Korban Waktu Untuk Maqomi

November 15, 2009

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du….


12436_1149490464128_1433604847_30419420_940246_n

Tidak semua manusia Allah swt beri harta yang sama jumlahnya , begitupun dengan hal-hal lainnya, tapi ada satu hal yang setiap kita memiliki takaran yang sama yaitu dalam hal waktu. Setiap orang mendapatkan jatah waktu 24 jam dalam sehari, lain hal kalau memang sudah ajalnya mungkin kurang dari 24 jam, tapi setidaknya waktu adalah ukuran dimana setiap orang secara garis besar mendapatkan jatah yang sama baik ia raja ataupun rakyat jelata.


Dalam usaha dakwah ini ada 2 hal yang sangat di tekankan untuk di korbankan yaitu korban harta dan waktu. Mungkin kebanyakan dari umat hari ini tidak begitu sulit untuk korban harta, tapi mana kala disuruh meluangkan waktu, kebanyakan dari kita akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali.


Waktu menjadi sesuatu yang penting untuk di korbankan baik ketika sedang melakukan amalam maqomi maupun intiqoli. Kekurangan jumlah personil di muallah sering kali dijadikan alasan para pekerja dakwah tidak menghidupkan amal maqomi, pada hal sesungguhnya keengganan mengorbankan waktu untuk muallah yang menjadai dasar mengapa amal maqomi tidak hidup. Sifat malas dan malu seringkali hinggap di hati para pekerja dakwah termasuk saya..


Dulu saya beranggapan bagaimana bisa muallah saya hidup 5 amal sedangkan saya masih seorang diri dan ditambah lagi medan yang cukup berat karena saya tinggal di lingkungan yang mayoritas dihuni oleh penduduk asli tempat tersebut, yang sudah pasti aga susah untuk memulai sesuatu yang mereka anggap “baru”. Dan untungnya saya banyak sekali menjumpai orang-orang lama yang telah buat banyak korban dalam usaha dakwah ini sehingga masukan dan saran dari mereka seringkali membuat motivasi saya terpacu.


Usaha pertama yang harus dilakukan untuk menghidupkan maqomi ketika kita masih seorang diri adalah kita harus tanyakan kepada diri kita sendiri berapa banyak kiranya waktu yang akan kita berikan untuk muallah secara istiqomah, 5 menit ,10 menit , 1 jam atau berapa??? . Setelah itu kira-kira amalan apa yang bisa kita kerjakan dengan sejumlah waktu yang kita berikan tersebut, apakah taklim masjid, 2,5 jam, atau sebagainya. Yang harus di ingat ketika kita buat amal maqomi kita niatkan untuk membuat amal maqomi sempurna walau pada kenyatannya hanya fikir harian atau taklim masjid yang baru kita bisa buat.


Dan selalu tanamkan pada hati dan pikiran kita bahwa kita sedang membuat usaha yang dahulu Nabi saw pun buat. Tetap semangat membuat taklim walau kita seorang diri, bayangkan orang-orang yang kita kasihi baik yang menentang ataupun yang belum mau ambil bagian ada di hadapan kita, walaupun pada kenyataannya secara dzahir mereka tidak ada, sama halnya ketika Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyeru manusia untuk menunaikan haji, secara dzahir tidak ada manusia pada saat itu tapi kenyataannya Allah swt sampaikan seruan Nabi Ibrahim as tersebut sampai saat ini.


Baca entri selengkapnya »


Mudzakarah Masyech

November 9, 2009

8731_1141841707884_1282708443_30359966_8292001_s

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Nahmaduhu wa nushalli ‘ala rasulihil kariim. ‘amma ba’du…

Dalam setiap kegiatan apapun tidak terlepas dengan namanya sebuah peraturan atau tertib-terib yang berlaku. Kalau dalam dunia kerja kita mengenal dengan sebutan SOP ( STANDARD OPERATING PROCEDURE ) dimana hal tersebut berfungsi Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja., Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan., Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak., Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja., Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin. Begitupun dalam usaha dakwah, kita juga mengenal yang namanya “Tertib-Terib”. Dan biasanya tertib-tertib tersebut berdasarkan musyawarah para ahli suro dengan para Masyech di Nizamudin, tertib-tertib yang berlaku dalam dakwah kurang lebih berfungsi sama sebagaimana SOP ( STANDARD OPERATING PROCEDURE ) pada perusahaan. Hanya bedanya kalau SOP di evaluasi sewaktu-waktu saja apabila diinginkan tetapi kalau tertib-tertib dakwah di evaluasi setiap hari.


Permasalah-permasalahan yang terjadi dibahas dan dievaluasi ketika kita musyawarah dimuallah masing-masing, dan apabila terjadi permasalahan yang tidak terpecahkan di tingkat muallah maka persoalan tersebut bisa di bawa pada musyawarah mingguan di halaqoh dan apabila masih tidak bisa terpecahkan maka persoalan tersebut dibawa pada musyawarah markaz baik setiap hari ataupun setiap malam selasa bada magrib dan kalau tidak terpecahkan juga maka akan di selesaikan pada musyawarah 2 tahunan Nizamudin.


Para ahli suro seringkali mengigatkan kita untuk berkerja sesuai arahan dan tertib-tertib yang berlaku karena apabila kita berkerja tidak dengan arahan atau tertib yang berlaku maka bukan hidayah yang akan Allah swt turunkan melainkan Azab yang akan turun, maka dari itu lagi dan lagi pentinganya setiap individu dakwah harus mengetahui apa saja yang telah menjadi ketentuan dan tertib yang belaku dalam usaha dakwah ini, dan untuk hal tersebut tadi malam ( 09 november 2009 ) ketika musyawarah mingguan markaz dibahas tentang akan diadakannya mudzakarah mengenai tertib-tertib terbaru sesuai dengan arahan para masyech kita yang disampaikan ketika Ijtima Juli lalu. Mudzakarah ini sendiri berfungsi untuk penyeragaman kerja dakwah di Indonesia, sehingga setiap pekerja dakwah dimana pun di Indonesia bekerja pada tertib yang sama yang sudah di gariskan.


Baca entri selengkapnya »